Indonesia
NovelToon NovelToon
Rama Dan Kemungkinan Kecil

Rama Dan Kemungkinan Kecil

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:324
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Pada suatu malam minggu yang gerimis, hubungan asmara antara Rama dan Ratna resmi berakhir di sebuah kedai kopi yang sunyi. Ratna mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan mereka karena menyadari adanya standar hidup dan perbedaan kelas sosial yang tidak mampu dipenuhi oleh Rama. Meski hancur, Rama menerima keputusan tersebut dengan ketegaran yang dipaksakan. Perpisahan itu menjadi semakin kontras dan menyakitkan ketika Ratna dijemput oleh sebuah sedan Eropa putih mewah yang merepresentasikan dunia barunya yang penuh kenyamanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pilihan sulit

Malam yang dinanti akhirnya tiba, membawa atmosfer yang jauh lebih sunyi dan menegangkan di dalam koridor utama kediaman Antasena. Ruangan tempat seleksi akhir ini dirancang sangat minimalis namun elegan, hanya menyisakan sebuah meja kayu jati besar dan beberapa kursi. Di balik meja itu, Nyonya Antasena duduk dengan anggun, ditemani oleh putrinya yang berwajah dingin yang mengamati dari sudut ruangan yang agak temaram.

"no 3 silahkan masuk..."

Suara dari alat (interkom) di luar pintu memecah keheningan ruang tunggu. Si no 3 tadi pun masuk dan duduk dengan sikap sesempurna mungkin, mencoba menutupi rasa gugup yang membuat tangannya sedikit dingin. Begitu posisi duduknya dirasa siap, nyonya antasena langsung bertanya tanpa ada basa-basi atau perkenalan ulang. Pertanyaan yang meluncur dari bibirnya terdengar sangat klasik, namun memiliki bobot psikologis yang sangat berat.

"jika ibu dan istrimu tertimpa masalah manakah yg akan kamu tolong terlebih dahulu...???"

Kandidat nomor tiga tampak tertegun sejenak. Dahinya berkerut, mencoba memikirkan jawaban paling diplomatis dan politis yang sekiranya ingin didengar oleh seorang ibu berkuasa seperti Nyonya Antasena. Belum sempat ia menuntaskan argumen jawabannya yang panjang lebar, Nyonya Antasena langsung memotong dengan tes akhir yg nyonya itu bilang sejak awal. Sebuah ujian realita yang sesungguhnya.

Nyonya Antasena menggeser selembar kertas berharga di atas meja kayu jati tersebut. "ini ada cek 1M. kamu bisa ambil dan mundur, atau kau mau lanjut bersaing."

Suasana di dalam ruangan itu mendadak terasa begitu pekat. Tentu saja pilihan itu sangat sulit.. Bagi pria mana pun yang datang dari kelas pekerja, melihat angka sembilan digit tertulis nyata di atas selembar cek adalah sebuah guncangan mental yang luar biasa. Memilih cek 1M sudah pasti dapat merubah hidup dalam sekejap; ia bisa membeli rumah mewah, membuka usaha besar, dan melupakan semua yg lainnya. Tapi status langsung gugur dari daftar calon menantu Keluarga Antasena.

Sebaliknya, jika ia memilih melanjutkan, ia tapi pasti masih bersaing dengan kandidat lain yang tersisa, termasuk Rama. Dan yang paling krusial, kemungkinan menang juga belum tentu karena kriteria penilaian akhir sepenuhnya berada di tangan sang nyonya yang tak terbaca. Jika kalah di tahap berikutnya, ia akan pulang dengan tangan hampa tanpa membawa sepeser pun uang satu miliar tersebut. Sebuah perjudian nasib yang sangat kejam.

Keheningan malam itu terasa mencekik selama beberapa menit. Keringat dingin mulai tampak di pelipis kandidat nomor tiga saat matanya terus terkunci pada angka satu miliar di atas meja. Serakah, takut, dan realistis bercampur aduk menjadi satu di dalam kepalanya. Akhirnya dengan tangan bergetar, pertahanan mentalnya runtuh di hadapan tumpukan uang nyata. Dia ambil cek itu.

"terima kasih nyonya besar," kata si no 3 dengan suara yang agak serak, menundukkan kepalanya dalam-dalam sebelum buru-buru melangkah keluar dari ruangan, memilih mengamankan kekayaan instan daripada mengejar ketidakpastian bersama sang putri yang berwajah dingin.

Nyonya hanya tersenyum melihat kepergian pria tersebut. Sebuah senyuman penuh arti yang menandakan bahwa dugaannya lagi-lagi terbukti tepat; pria itu memiliki harga yang bisa dibeli dengan mudah. Ia mencoret nomor tiga dari lembar penilaian, lalu menoleh ke arah pintu luar dengan tatapan yang kembali tajam Dan berkata, "selanjutnya."

Di luar ruangan, Rama yang memegang nomor urut sembilan melirik ke arah kandidat nomor tiga yang baru saja keluar dengan wajah yang tampak tegang sekaligus lega sambil menggenggam selembar kertas. Pintu besar itu kembali terbuka sedikit, mengisyaratkan bahwa giliran berikutnya telah tiba.

1
sakura
.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!