Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senjata Makantuan
Malam di kota Rotterdam tidak pernah benar-benar tidur. Di saat penthouse megah Victor Thorne diselimuti oleh kehangatan dan pelukan penuh cinta antara sang konglomerat dan Freya, suasana yang jauh berbeda justru terjadi di sebuah unit apartemen mewah berdesain minimalis modern di distrik utara kota yang sama.
Annelise Van Der Bilt mondar-mandir di dalam kamarnya dengan napas yang memburu tidak beraturan. Setelah insiden memalukan di kamar suite hotel ketika Markuz menyerbu masuk dan menyeret Victor pergi, amarah Annelise tidak hanya membakar akal sehatnya, tetapi juga memicu gelombang frustrasi yang luar biasa hebat. Ia merasa dikhianati, dipermalukan, dan dicurangi oleh keadaan.
Namun, di balik rasa murka itu, ada hal lain yang mulai merayap masuk ke dalam tubuhnya secara perlahan.
Tanpa disadari oleh Annelise, ketika Markuz dan anak buahnya menyelinap masuk ke kamar suite hotel sebelumnya, kepala pengawal tepercaya keluarga Thorne itu tidak hanya datang untuk menyelamatkan sang bos. Sebagai seorang profesional berdarah dingin yang sangat memperhitungkan setiap langkah, Markuz sempat melepaskan sebuah kapsul mikro aerosol berisi feromon sintetis berkonsentrasi tinggi di dekat sistem ventilasi ruangan tersebut—sebuah parfum kimiawi rahasia kelas militer yang dirancang khusus untuk memicu dan membangkitkan gairah liar siapa pun yang menghirupnya dalam durasi tertentu.
Annelise, yang berada di dalam ruangan itu lebih lama dan sempat menghirup partikel mikro tersebut, kini mulai merasakan efek sampingnya.
Kulitnya terasa panas membakar. Suhu tubuhnya melonjak drastis, membuat pembuluh darah di sekujur tubuhnya berdenyut cepat. Napasnya mulai tersengal-sengal, dan rasa gelisah yang aneh mendadak menguasai sekujur sarafnya. Dengan tangan gemetar, ia buru-buru memadamkan lampu utama kamarnya, menyisakan pendar lampu tidur temaram berwarna merah keunguan yang menciptakan suasana redup dan misterius.
Di luar unit apartemen mewah tersebut, di dalam sebuah mobil sedan hitam bergeming, Markuz duduk di kursi pengemudi sambil memegang sebuah gawai pengendali digital. Ia tersenyum tipis, menatap layar monitor kecil yang menunjukkan akses masuk kode digital pintu kamar apartemen Annelise.
Bagi Markuz, membiarkan wanita licik seperti Annelise lepas begitu saja tanpa balasan setimpal adalah sebuah kesalahan besar. Karena itu, ia tidak hanya memberikan pelajaran mental, tetapi juga menyiapkan sebuah kejutan mematikan yang dirancang sangat rapi.
Beberapa menit sebelumnya, Markuz telah menghubungi salah satu kenalannya—seorang pengusaha properti dan tokoh elit terkemuka berdarah Belanda yang terkenal memiliki reputasi liar di dunia malam Rotterdam: Winston.
Winston, seorang pria paruh baya bertubuh tegap, kaya raya, namun sangat mudah disetir oleh ambisi duniawi dan wanita, kebetulan sedang berada di sebuah bar eksklusif tidak jauh dari sana ketika Markuz mengirimkan pesan singkat berisikan kode akses kamar dan janji manis tentang seorang wanita cantik bergaun merah yang sedang menunggunya dalam keadaan mabuk kepayang di apartemen sudut distrik utara.
Tergiur oleh tawaran menggiurkan dan pengaruh alkohol yang sudah masuk ke dalam sistem tubuhnya, Winston langsung meluncur ke lokasi menggunakan mobil pribadinya. Sesampainya di depan pintu kamar apartemen Annelise, ia mendapati pintu tersebut tidak terkunci rapat—hasil pengaturan jarak jauh dari sistem digital yang diretas oleh anak buah Markuz.
Tanpa menaruh curiga sedikit pun, Winston mendorong pintu kamar itu pelan-pelakan dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang gelap gulita.
Di dalam kamar yang remang-remang, Annelise yang tengah terduduk di atas tepi ranjang besar dengan keringat membasahi pelipisnya mendapati bayangan seorang pria tinggi besar melangkah masuk menghampirinya. Pengaruh feromon sintetis yang membakar tubuhnya membuat kesadaran Annelise kabur; pikirannya yang dikuasai oleh obsesi gila langsung menyimpulkan satu hal: Victor akhirnya kembali padanya.
"Victor..." desis Annelise lemah, suaranya terdengar serak penuh permohonan, merentangkan kedua tangannya menyambut sosok pria tersebut. "Kau... kau akhirnya datang kembali kepadaku... aku tahu kau tidak akan membiarkan wanita murahan itu merebutmu dariku..."
Winston, yang mendengar sapaan itu dan mendapati seorang wanita cantik bergaun merah beludru menyambutnya dengan tangan terbuka di dalam kamar yang gelap, tersenyum lebar. Ia mengira wanita itu adalah wanita panggilan eksklusif kelas atas yang sengaja disiapkan untuknya malam ini.
Tanpa membuang waktu dan didorong oleh hasrat liar yang mendadak tersulut, Winston langsung menyambar tubuh Annelise.
"Tentu saja, sayangku..." bisik Winston dengan suara berat bernada rendah, langsung mendaratkan ciuman panas dan menuntut di bibir Annelise.
Annelise, yang mengira itu adalah bibir Victor, membalas ciuman tersebut dengan sama bernafsunya. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher sang pria, membiarkan dirinya tenggelam dalam pusaran panas yang membakar sekujur tubuhnya tanpa menyadari sedikit pun identitas asli orang yang sedang memeluknya.
Di luar jendela kamar, angin malam Rotterdam berembus dingin, sementara di dalam ruangan yang terkunci rapat itu, intrik kotor dan kesalahpahaman maut resmi dimulai.
Suasana di dalam kamar semakin memanas dalam hitungan detik. Winston, yang bertubuh kekar dan berpengalaman dalam dunia malam, langsung mengambil alih kendali penuh atas situasi tersebut. Dengan gerakan cepat dan tergesa-gesa, ia mulai melepaskan pakaiannya sendiri satu per satu hingga tubuh bagian atasnya terekspos di dalam temaram lampu kamar.
Annelise, yang tubuhnya sudah sepenuhnya dikuasai oleh efek obat feromon dan suhu panas yang membakar, sama sekali tidak mempedulikan detail fisik pria di hadapannya. Ia merasa sekujur kulitnya tersengat oleh kenikmatan semu yang begitu kuat.
Winston membungkuk, mulai menikmati tubuh Annelise secara perlahan dari atas sampai ke bawah. Ciuman-ciuman liar mendarat di leher jenjang sang wanita, membuat desahan tertahan lolos dari bibir Annelise.
"Ahh... Victor... pelan-pelan..." rintih Annelise di sela desahannya, jemarinya mencengkeram erat seprai ranjang sementara tangan Winston meraba lekuk tubuhnya dengan penuh dominasi.
Winston terus melanjutkan aksinya tanpa henti. Sentuhan-sentuhan tangan pria itu terasa kasar namun memicu gelombang sensasi nikmat yang membuat Annelise melengkungkan punggungnya, menyerahkan seluruh kesadarannya dalam kabut kepuasan buatan.
Namun, di tengah jalannya pergumulan panas tersebut, saat kesadaran Annelise mulai sedikit menjernih akibat intensitas sentuhan yang begitu intens, ia mulai merasakan ada yang janggal. Aroma tubuh pria di hadapannya terasa berbeda; postur tubuhnya lebih besar, dan suara bisikan yang keluar dari mulut pria itu sama sekali bukan suara bariton dingin milik Victor Thorne.
Annelise mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba menatap siluet wajah pria yang sedang menindihnya di dalam remang-remang cahaya lampu tidur.
"V... Victor...?" panggil Annelise dengan suara gemetar, mulai merasakan keraguan yang mencengkeram dadanya. "Kau... bukan Victor..."
Winston sama sekali tidak peduli. Dalam pengaruh alkohol dan gairah liar yang sedang memuncak, pria berdarah Belanda itu tertawa kecil serak di dekat telinga Annelise.
"Siapa pun aku... malam ini aku adalah milikmu, dan kau adalah milikku, cantik," bisik Winston dengan aksen asing yang sangat kentara.
Tanpa memedulikan protes atau keterkejutan yang mulai merayap di benak Annelise, Winston kembali melanjutkan aksinya dengan tempo yang semakin cepat dan menuntut.
Annelise mencoba meronta, mencoba mendorong dada bidang pria asing di atasnya. Namun, kombinasi antara efek obat feromon yang masih mengalir di dalam darahnya dan tenaga besar Winston membuat perlawanannya terasa sia-sia belaka. Tubuhnya justru merespons setiap sentuhan itu secara otomatis, terjebak dalam lingkaran kenikmatan fisik yang tidak bisa ia hentikan.
Sepanjang malam itu, kamar apartemen mewah tersebut dipenuhi oleh suara desahan, erangan, dan gesekan kain yang beradu tanpa henti. Annelise berkali-kali menyebut nama Victor di sela isak tangis frustrasinya, namun nama itu hanya menjadi angin lalu bagi Winston yang terus-menerus menenggelamkan dirinya ke dalam pusaran gairah malam.
Winston tidak mempedulikan air mata yang sempat menetes di pipi Annelise akibat keputusasaan dan rasa malu yang luar biasa. Bagi sang pengusaha Belanda itu, malam ini adalah sebuah petualangan malam yang sangat menguntungkan—sebuah hadiah tak terduga yang dikirimkan melalui perangkap cerdas tanpa ia ketahui siapa dalang sebenarnya di balik layar.
Mereka terus bergulat dalam panasnya hasrat hingga jam dinding menunjuk pukul tiga pagi, lalu pukul empat, hingga akhirnya kelelahan merenggut sisa-sisa tenaga keduanya.
Cahaya matahari pagi bulan September perlahan-lahan merayap masuk menembus celah tirai jendela kamar apartemen yang tidak tertutup rapat. Udara pagi Rotterdam terasa dingin, namun suasana di dalam kamar tersebut masih menyisakan hawa hangat sisa pergumulan semalam.
Di atas ranjang berantakan yang dipenuhi seprai kusut, Annelise Van Der Bilt terbangun dari tidurnya.
Kepalanya terasa sangat berat, pusing, dan berdenyut nyeri. Ia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan cahaya pagi yang menyengat matanya. Ketika ia menoleh ke samping, darahnya mendadak terasa berhenti mengalir.
Di sebelah berbaring telanjang dada seorang pria paruh baya bertubuh tegap berdarah Belanda—Winston—yang sedang mendengkur pelan dalam tidurnya yang pulas, tangan pria itu bahkan masih melingkar erat di atas pinggang Annelise.
Seketika itu juga, ingatan semalam berkelebat cepat di dalam kepala Annelise. Kesadaran pahit menghantam batinnya bagaikan sambaran petir di siang bolong.
Ia tidak tidur dengan Victor Thorne.
Ia telah dijebak. Ia telah menyerahkan tubuhnya kepada pria asing yang sama sekali tidak ia inginkan, tertipu oleh rencana kotor dan permainan psikologis yang jauh lebih cerdas daripada yang bisa ia bayangkan.
Annelise menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan jeritan histeris yang hampir saja keluar dari tenggorokannya. Air mata kemarahan, kehinaan, dan kebencian yang teramat dalam tumpah seketika membasahi pipinya. Di luar sana, rencana jahat yang ia bangun untuk menghancurkan hidup Freya dan merebut Victor justru berbalik menghantam dirinya sendiri tanpa ampun, menyisakan kehancuran total di balik topeng kemewahan kaum elit Netherlands.