Indonesia
NovelToon NovelToon
ADX Florence

ADX Florence

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Perperangan
Popularitas:654
Nilai: 5
Nama Author: @_Mastura

Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.

Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.

Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.

Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAUDARI YANG TAK PERNAH BERUBAH

Di tepian danau, sebuah kapal kecil tampak mengapung tenang di atas permukaan air.

Mesinnya masih menyala pelan.

Di atas dek, seorang gadis duduk santai dengan satu kaki ditekuk. Rambut panjangnya yang berwarna merah anggur diterpa angin, beberapa helainya berantakan di wajah. Ia mengenakan pakaian serba hitam yang membuat sosoknya terlihat begitu kontras dengan birunya danau di belakangnya. Ditambah lagi matahari yang hampir menjulang, memberikan sinar terangnya ke atas gadis itu.

Gadis itu mengangkat satu tangan.

Melambaikan tangan ke arah mereka dengan senyum lebar.

"Haiii!"

Keenam orang itu berjalan mendekat, Gadis tersebut memperhatikan mereka satu per satu.

Lalu alisnya terangkat.

Senyumnya berubah menjadi seringai jahil.

"Wah..."

Ia berdiri.

"Di penjara malah sempat-sempatnya nyari jodoh."

Tatapannya berpindah dari Kael ke Alesya, kemudian kepada Dante dan Jessica, lalu Darren yang masih berdiri dekat Reana.

"Hebat juga kalian."

Dante hanya memutar mata males, jika sudah bertemu dengan gadis ini, cerewet nya minta ampun.

"Rachel...?"

Suara Alesya membuat semua orang terdiam, Gadis di atas kapal itu membeku, Senyumnya menghilang, Matanya membesar.

Kemudian...

"Alesya?"

Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling menatap. Seolah waktu belasan tahun yang memisahkan mereka mendadak menghilang begitu saja.

Kemudian Rachel melompat turun dari kapal.

Alesya juga berlari.

Dan detik berikutnya—

"BESTYYYY KUUUUU!"

Rachel langsung menghambur ke pelukan Alesya.

Tubuh mereka bertabrakan cukup keras sampai Alesya hampir kehilangan keseimbangan.

"Kangen..."

Suara Rachel berubah menjadi sangat manja.

Alesya tertawa kecil sambil membalas pelukannya.

"Aku juga kangen..."

Mereka berpelukan erat. Dua sahabat masa kecil yang pernah berjanji untuk tidak saling melupakan.

Namun hidup membawa mereka ke jalan masing-masing. Berbeda dengan Kael yang berada cukup lama di sisi Alesya.

Rachel berpisah dengan Alesya ketika berusia lima belas tahun, Karena dia dibawa oleh pamanya, saat kedua orang tuanya meninggal. Sedangkan Kael, cowok itu di asuh kakeknya yang merupakan Ketua mafia paling ditakuti kala itu.

Dan ketika itu pula, Rachel dan Kael berpisah. Namun kedua nya masi sering bertukar kabar, atau sering juga membantu cowok itu.

Dan setelah bertahun-tahun...

mereka akhirnya bertemu lagi.

Di tempat yang sama sekali tidak pernah Alesya bayangkan, Di tengah reruntuhan sebuah penjara. Kael yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya menatap dengan wajah datar.

Beberapa detik.

Kemudian—

Tangannya meraih kerah belakang pakaian Rachel.

"Eh?!"

Rachel tersentak ketika tubuhnya ditarik mundur.

Kael menjauhkannya dari Alesya begitu saja.

"Apaan sih?!"

Rachel merapikan pakaiannya dengan wajah kesal.

"Ga jelas banget!"

Kael tidak menjawab, Ia justru menarik Alesya mendekat ke sisinya. Alesya yang melihat itu hanya mengedipkan mata.

Rachel menyipitkan mata, Kemudian terkekeh.

"Masih posesif rupanya, But we're just friends"

Alesya tersenyum kecil,

Kael mengabaikannya.

"Ada yang mengikutimu?"

Nada suaranya langsung berubah serius.

Rachel memutar kedua matanya malas.

"Kalau pas butuh aja aku dihubungi."

Sindiran itu begitu jelas.

Kael menatapnya.

"Jawab."

"Yeeeee..."

Rachel memajukan bibirnya.

"Nggak ada."

Barulah Kael sedikit mengendur.

Meski ekspresinya tetap sama.

Dingin.

Acuh.

Seolah pertemuan dengan kembarannya setelah bertahun-tahun bukan sesuatu yang istimewa.

Padahal...

Tak seorang pun di sana yang tidak tahu bahwa hubungan Kael dan Rachel jauh lebih dekat daripada yang ingin mereka tunjukkan. Hanya saja keduanya terlalu gengsi untuk mengakuinya.

Dante tiba-tiba menyela.

"Kesel aku lihat wajahmu."

Rachel langsung menoleh.

"Aku juga."

Dante mendengus.

Rachel melotot.

Dante membalas tatapannya.

Darren hanya terkekeh melihat keduanya. Sudah bertahun-tahun mereka saling mengenal. Rachel adalah kembaran wanita Kael, walaupun gadis itu di asuh oleh pamanya, yang kini menjadi musuh beyutannya.

tapi Rachel tetap berpihak kepada Kael. Dan termasuk orang yang dipercaya Kael sepenuhnya. Dante dan Darren juga begitu.

Mereka bertiga bahkan sudah terbiasa dengan sifat Rachel yang sulit diam. Padahal Kael sangat dingin dan datar, namun sifat itu justru tidak berlaku bagi Rachel.

Rachel kemudian menatap Alesya.

"Eh, daripada ngomongin orang-orang membosankan ini..."

Ia merangkul bahu Alesya.

"Mending nanti kita cari berondong."

Alesya langsung tertarik.

"Berondong?"

"Iya."

Rachel mengangguk serius.

"Yang kemarin udah bosen."

Alesya langsung mengangguk antusias.

"Aku juga mau."

Sunyi.

Semua orang perlahan menoleh kepada Kael, raut wajah cowok itu berubah, Kael menatap Alesya Tajam.

Sangat tajam.

Rahangnya mengeras.

Alesya pura-pura tidak melihat.

Ia justru merangkul Rachel.

"Nanti kalau kita udah pergi, kita cari bareng."

Rachel mengacungkan jempol.

"Deal!"

Kael mengepalkan tangannya.

Rachel yang melihat itu langsung mundur.

"Oke..."

Ia naik kembali ke kapal.

"Aku rasa sebelum ada yang dibunuh, mending kita pergi."

Dante mendengus geli, Jessica naik lebih dahulu.

Darren membantu Reana naik ke kapal. Sementara Alesya masih berdiri di tepi danau.

Ia menatap kapal.

Kemudian menatap air.

Wajahnya berubah sedikit pucat.

Alesya memang tidak takut pada banyak hal.

Namun ada satu hal yang selalu berhasil membuatnya tidak nyaman.

Naik kapal.

Ia menoleh kepada Kael.

Pria itu masih menatapnya.

Alesya tersenyum kaku.

"Aku bercanda."

Kael tetap diam.

"Kael..."

Alesya mengguncang lengan pria itu pelan.

Nada suaranya berubah manja.

"Jangan marah."

Kael masih diam.

Alesya kembali mengguncang lengannya.

"Kaeeeel..."

Kael akhirnya menghela napas.

"Kalo kudengar sekali lagi kau menyebut kan hal itu..." Kael diam sejenak,

Alesya menahan nafas

"Ku hamili kau sekarang "

Alesya menutup mulutnya rapat, dan mengagguk-anggukan kepalanya.

Kael memasukkan tangan ke saku pakaiannya.

Mengeluarkan sebutir obat yang sebelumnya ia ambil dari ruangan sipir. Ia tahu persis kenapa Alesya tidak kunjung naik.

Gadis itu mabuk laut.

Pusing.

Mual.

Bahkan terkadang sampai muntah.

Alesya mengernyit.

"Itu apa?"

Tanpa menjawab, Kael memasukkan obat itu ke mulut Alesya.

Alesya terkejut.

"Eh?!"

Ia buru-buru menelan obat tersebut.

"Kamu racunin aku?"

Kael menatapnya datar.

"Tidak."

"Hmm..."

Alesya masih curiga.

Namun beberapa detik kemudian, pandangannya mulai terasa berat. Matanya berkedip beberapa kali.

"Kael..."

"Hm?"

"Kenapa... ngantuk?"

Kael tidak menjawab.

Tubuh Alesya mulai kehilangan tenaga, obat itu bereaksi dengan cepat. Sebelum gadis itu benar-benar terjatuh, Kael langsung menangkapnya.

Kemudian mengangkat tubuh Alesya ke dalam gendongannya.

Kepala Alesya bersandar di dadanya.

"Kael..."

Suaranya sudah sangat lemah.

"Hmm?"

"Jangan tinggalin..."

Kael terdiam.

Tatapannya turun kepada wajah Alesya yang perlahan terlelap. Untuk sesaat, wajah dinginnya berubah.

Sangat tipis.

Hampir tidak terlihat.

Tangannya mengerat sedikit pada tubuh gadis itu.

"Aku di sini."

Rachel yang sudah berada di kemudi menoleh ke belakang. Melihat pemandangan itu, ia langsung menggeleng-gelengkan kepala.

"Kambuh lagi..."

Dante mengangkat alis.

"Apa?"

Rachel terkekeh.

"Abangku itu."

Ia menatap Kael yang sedang membawa Alesya.

"Kalau sama orang lain mukanya kayak mau membunuh satu dunia."

Rachel menyeringai.

"Tapi kalau sama Alesya..."

Ia menggantung kalimatnya.

Jessica ikut melirik.

"Kenapa?"

Rachel tersenyum penuh arti.

"Kayak pengasuh anak."

"Rachel."

Suara Kael terdengar dari belakang, Rachel langsung menatap ke depan.

"Iya, iya. Diam."

Mesin kapal mulai meraung. Perlahan, kapal bergerak meninggalkan tepian danau. Namun ocehan dari mulut gadis itu tidak pernah benar-benar berhenti.

Darren duduk di samping Reana, Tangannya masih berada di pinggang gadis itu. Jessica duduk di dekat Dante.

Rachel berada di kemudi.

Sementara Kael duduk di sisi kapal, masih memangku Alesya yang tertidur. Angin danau menerpa wajah mereka.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

mereka berada di luar jeruji.

Tidak ada sipir.

Tidak ada tembok beton.

Tidak ada suara pintu besi.

Tidak ada ADX.

Hanya danau luas dan langit yang terbentang tanpa batas. Sesekali Rachel bersiul dan bersenandung kecil.

***

1
Tuan Tuan
💪😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!