Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.
Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.
Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA GILA DAN TATAPAN YANG TERTANGKAP
Gagasan gila yang diucapkan Karin di telepon malam itu terus bergema di dalam kepalaku bagaikan dentang lonceng kematian.
Goda pria itu.
Rebut dia dari Ibumu.
Kata-kata itu terdengar sangat liar, tidak bermoral, dan berbahaya.
Namun, ketika aku memejamkan mata, yang terbayang di dalam kegelapan hanyalah wajah pias Ayah yang dipenuhi peluh, jemari kasarnya yang kapalan saat mengikat kantong snack di samping roda kursi roda, dan tangisannya yang tak bersuara menahan hinaan Ibu.
Rasa sakit itu bertransformasi menjadi jelaga hitam yang mematikan seluruh nuraniku.
"Lu beneran mau ngelakuin ide gila gue semalam, Ris?" suara Karin memecah lamunanku saat kami berdua duduk di bangku taman kampus keesokan harinya.
Karin menatapku dengan mata terpaku, setengah tak percaya bahwa aku benar-benar mempertimbangkan saran ekstremnya.
Aku menatap lurus ke depan, merapikan gaun terusan ketat berwarna merah maroon yang membalut indah tubuhku yang tinggi semampai.
"Ibu merebut semua kebahagiaan dan harga diri Ayah demi kemewahan pria itu, Rin.
Ibu tertawa di atas tanah kuburan Ayah yang belum kering.
Jadi, kenapa aku harus ragu untuk merebut pria itu dari tangannya?"
Karin menelan ludah kasar, menatap profil wajahku dari samping.
"Tapi pria itu Raymond Perkasa, Ris!
Dia bukan om-om gampang digoda yang langsung berlutut cuma karena paha mulus.
Dia taipan tambang emas paling dingin di industri ini.
Kalau lu salah langkah, lu bisa hancur sendiri."
"Aku tidak peduli," jawabku dingin tanpa ragu sedikit pun.
"Toh, sejak awal aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan."
Karin menghela napas panjang, lalu tersenyum miring—sifat bar-bar-nya yang memicu bahaya kembali muncul.
"Oke, kalau itu keputusan lu, gue bakal bantu.
Langkah pertama: pelajari kebiasaan dia di mansion itu.
Pria dingin seperti dia pasti punya pola hidup yang sangat teratur.
Cari celah di mana ibu lu tidak ada di dekatnya."
*CELAH YANG TERBUKA*
Aku kembali ke mansion sore itu saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan warna jingga keemasan yang menimpa dinding-dinding kaca bangunan megah tersebut.
Mansion terasa sangat sepi.
Ketika aku melangkah masuk ke ruang tengah, seorang pelayan senior berseragam rapi menghampiriku dan membungkuk hormat.
"Selamat sore, Nona Clarissa.
Ibu Siska sedang pergi ke salon dan spa langganannya di kawasan Senopati, kemungkinan baru kembali nanti malam," lapor pelayan itu dengan sopan.
Sebuah senyuman tipis yang sangat dingin terukir di sudut bibirku.
Peluang pertama sudah terbuka.
Ibu selalu lebih mementingkan perawatan wajah dan gaya hidup sosialitanya ketimbang melayani suami barunya.
"Lalu... di mana Tuan Raymond?" tanyaku dengan nada seacuh mungkin.
"Tuan Raymond baru saja selesai berenang di kolam belakang dan sekarang sedang bersiap-siap di ruang kerjanya di lantai dua, Nona."
Aku mengangguk pelan, membiarkan pelayan itu berlalu.
Aku melangkah menuju kamarku di lantai dua, melepaskan tas, lalu berdiri di depan cermin besar.
Aku membuka kancing teratas gaun merahku, memperlihatkan garis tulang selangka yang tegas serta leher jenjangku yang mulus.
Aku membiarkan rambut hitam panjangku yang bergelombang terurai bebas hingga menutupi sebagian punggung dan dadaku.
Dengan langkah perlahan dan tanpa suara, aku berjalan menelusuri koridor lantai dua menuju ruang kerja Raymond.
Pintu kayu jati berukir rapi itu sedikit terbuka, memancarkan pendar cahaya kekuningan yang hangat dari dalam ruangan.
Aku berhenti tepat di ambang pintu yang renggang, menahan napas.
Di dalam ruangan beraroma kayu cendana dan tembakau mahal itu, Raymond sedang berdiri di depan meja kerja kayunya yang besar.
Pria itu baru saja selesai berenang; rambut hitamnya masih sedikit basah dan teracak secara alami, memberikan kesan liar yang sangat kontras dengan aura formalnya sehari-hari.
Raymond hanya mengenakan celana panjang kain berwarna hitam tanpa atasan.
Dada bidangnya yang kokoh, bahunya yang lebar, serta pahatan perut eight-pack yang sempurna terpampang jelas tanpa tertutup selembar kain pun.
Tetesan air dari ujung rambutnya perlahan menetes, melintasi dada berotnya lalu menghilang di balik garis celana yang bertengger rendah di pinggulnya.
Sosoknya benar-benar memancarkan aura dominasi maskulin yang pekat dan berbahaya.
Jantungku mendadak berdesir heboh.
Bukan karena rasa takut, melainkan karena getaran intrik yang mulai membakar keberanianku.
Aku sengaja menggeser posisi berdiriku sedikit lebih maju, membuat gaun ketatku menggesek daun pintu hingga menimbulkan suara derit yang sangat halus.
Kriiiet...
Dalam hitungan detik, refleks luar biasa dari seorang pria yang terbiasa hidup di dunia bisnis yang keras langsung bekerja.
Raymond memutar tubuhnya dengan cepat, matanya yang tajam bagai elang melayang lurus tepat ke arah selah pintu tempat aku berdiri.
Tatapan mata hazel-nya yang dingin dan pekat mengunci mataku secara mutlak.
Tidak ada kepanikan di wajah tampannya karena tertangkap basah tidak mengenakan baju, yang ada hanyalah ketenangan yang mengintimidasi.
Tatapannya perlahan bergulir turun, menyapu leher jenjangku, kancing gaunku yang sengaja kulepas, lalu menelusuri lekuk tubuhku yang membentuk gitar Spanyol secara intens.
Aku tidak berkedip, apalagi melangkah mundur.
Aku justru menegakkan bahuku, menantang tatapan panas itu dengan tatapan sayu yang penuh godaan terselubung.
"Maaf..." suaraku keluar dalam bisikan rendah yang sangat halus dan bernada serak memikat, memecah kesunyian ruangan.
"Aku pikir... tidak ada orang di dalam."
Raymond tidak langsung menjawab.
Pria 35 tahun itu meraih kemeja putih yang terlipat di atas kursi, lalu mengenakannya secara perlahan tanpa mengalihkan pandangannya dariku sedikit pun.
Ia membiarkan kemeja itu terbuka di bagian dada, memperlihatkan samar-samar pahatan ototnya.
Ia melangkah mendekat ke arah pintu, setiap hembusan langkahnya memancarkan tekanan yang membuat udara di sekitar kami mendadak terasa sangat berat dan panas.
Raymond berhenti tepat di depan pintu, hanya berjarak beberapa sentimeter dari tempatku berdiri.
Tinggi tubuhnya yang menjulang membuat shadow-nya mengurung diriku sepenuhnya.
Aroma parfum kayu maskulin bercampur kesegaran air kolam dari tubuhnya merasuk tajam ke indra penciumanku.
"Lain kali..." suara bass Raymond yang berat dan parau terdengar begitu dekat di atas kepalaku, membuat bulu kudukku berdiri seketika.
"...ketuk pintu terlebih dahulu sebelum melihat sesuatu yang tidak seharusnya kamu lihat, Clarissa."
Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajah tampannya hingga aku bisa merasakan hembusan napas hangatnya menyapu kulit pipiku.
Namun, tatapan matanya tetap seperti es yang membeku—sangat sulit ditebak, ironis, dan berbahaya.
Bukannya takut, aku justru menyunggingkan senyuman tipis yang sangat manis di bibirku.
Aku melangkah maju setengah senti, membiarkan ujung gaunku menyentuh celananya.
"Bagaimana kalau... aku memang sengaja ingin melihatnya, Raymond?" bisikku sangat pelan, menatap lurus ke dalam manik mata hazel-nya dengan keberanian liar yang membakar.