Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Zar dan Ratu Skalpel

Sang Zar dan Ratu Skalpel

Status: tamat
Genre:Mafia / CEO / Wanita perkasa / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Dokter / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Naibelys Perez

Di ruang operasi, tangannya menentukan hidup dan mati tanpa pernah gemetar. Di rumah, ia dipaksa menunduk.

Elena Valdés, dokter bedah saraf paling disegani di negeri ini, sudah lama muak menjadi hiasan berkilau dalam pernikahannya dengan Mauricio—suami korup yang gemar mempermalukannya di depan umum. Malam ketika ia akhirnya melawan balik, sepasang mata dingin mengamatinya dari tiga meja jauhnya.

Damián Montenegro. Sang Zar. Pria yang menggerakkan sebuah imperium kejahatan dari balik bayang, yang seluruh dunia takuti namanya. Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ada seorang perempuan yang membuatnya penasaran.

Ketika hidup Elena mulai runtuh dan bahaya mengintai putra kecilnya, Damián melakukan satu-satunya hal yang ia kuasai: membakar habis siapa pun yang berani menyakiti perempuan itu. Tapi Elena bukan gadis rapuh yang butuh diselamatkan. Ia tak mau menjadi milik siapa pun—bahkan milik pria paling berbahaya di negeri ini.

Yang ia inginkan bukan pelindung. Yang ia inginkan adalah setara.

Di antara pisau bedah dan pistol, gala mewah dan baku tembak di pelabuhan, dua penguasa dari dua dunia yang berlawanan saling tarik-menarik dalam permainan berbahaya tentang kuasa, gairah, dan kepemilikan. Damián terbiasa menagih setiap utang. Tapi kali ini, taruhannya adalah hatinya sendiri—dan seorang ratu yang menolak menundukkan kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naibelys Perez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Abu Masa Lalu dan Bangkitnya Badai

Cahaya kelabu fajar mulai menerobos malu-malu lewat jendela-jendela berpolarisasi apartemen Damián. Kota, jauh di bawah sana, mulai hidup dengan dengung tumpul lalu lintas pagi, sama sekali tak acuh pada intensitas malam yang baru saja berlalu.

Di atas ranjang besar yang berantakan, terbungkus seprai gelap yang masih menyimpan kehangatan badai gairah, Elena berbaring dengan kepala bersandar mantap di dada Damián. Irama detak jantung pria itu yang lambat dan dalam berfungsi sebagai jangkar yang ganjil. Salah satu tangan Damián yang besar dan kasar menggambar lingkaran-lingkaran lambat nan posesif di punggung telanjang Elena, sementara tangan yang lain menggenggam sebatang rokok yang tak menyala, mempermainkannya di antara jari-jari, kebiasaan lama dari masa-masa ketika persoalan menuntut ketenangan yang berlebihan.

"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Damián dengan suara serak khas pagi hari, memecah keheningan kamar tanpa mengalihkan pandangan dari langit-langit.

Elena mengembuskan desahan lembut, merasakan sebuah kedamaian yang tak pernah ia ingat pernah ia alami dalam pernikahannya sebelumnya. Bersama Mauricio, pagi-pagi selalu berbau penghakiman, tuntutan, dan kewajiban mempertahankan topeng yang sempurna. Bersama Damián, udara terasa pekat, berbahaya, tapi begitu jujur.

"Aku memikirkan betapa absurdnya semua ini," jawab Elena dengan senyum tipis, sedikit mengangkat wajah untuk menatap matanya. "Seminggu yang lalu aku terperangkap dalam sangkar kaca, berpura-pura menjadi istri sempurna bagi pria yang menyedihkan, dan sekarang aku ada di sini, di ranjang mafioso paling ditakuti di negeri ini, setelah membakar habis kehidupan lamaku sampai ke fondasinya."

Damián menghentikan gerakan tangannya, menurunkan pandangan ke arah Elena, dan sepercik kegembiraan serta kebanggaan melintas di mata gelapnya. Ia memiringkan kepala dan menempatkan sebuah ciuman yang lembut sekaligus mantap di keningnya.

"Kamu tidak membakar apa pun yang layak dipertahankan, Elena," gumamnya dengan keyakinan mutlak. "Yang kamu lakukan hanyalah berhenti memikul sampah. Dan soal gelarku sebagai 'mafioso paling ditakuti'... katakanlah aku hanya sangat pandai menjaga apa yang menjadi milikku."

Elena menyipitkan mata dengan kilat tantangan yang jenaka, mencubit pelan dada pria itu.

"Aku bukan properti milikmu, Damián Montenegro. Sebaiknya jangan pernah kamu lupakan itu, atau skalpel berikutnya yang melayang bukan untuk menyelamatkan siapa-siapa."

Damián melepaskan tawa serak, dengan cepat memutar tubuh Elena ke bawahnya untuk menjeratnya dalam ciuman lapar yang mengancam menyalakan kembali api itu, ketika bunyi kering nan melengking sebuah ponsel merobek suasana. Damián mengernyitkan dahi dengan kesal. Ia menjulur ke meja samping ranjang, mengambil perangkat terenkripsinya, dan membaca pesan di layar. Ekspresinya, yang baru sedetik lalu santai, seketika berubah menjadi topeng batu yang dingin, penuh perhitungan, dan mematikan.

"Ada apa?" tanya Elena, langsung menegakkan tubuh begitu menyadari perubahan drastis dalam suasana.

"Sisa-sisa organisasi yang beroperasi bersama Mauricio di utara mencoba bernegosiasi sendiri, mengira kejatuhannya membuatku rentan," jawab Damián sembari bangkit dari ranjang dengan kegesitan bak kucing, mulai berpakaian dengan cepat. "Dan yang lebih parah... mereka mulai mengajukan pertanyaan tentangmu dan tentang anak itu di sekolahnya."

Nama putranya, Mateo, menghantam Elena bagai seember air es. Seluruh sensualitas dini hari itu lenyap di udara, seketika digantikan oleh naluri melindungi yang buas dari seorang ibu. Ia melompat berdiri, menutupi tubuhnya dengan jubah mandi dan menatap Damián dengan mata yang menyala oleh amarah.

"Sentuh anakku dan aku bersumpah tak akan ada tempat persembunyian di negeri ini tempat kamu bisa selamat dariku, Damián," semburnya dengan suara sedingin dan setajam es.

Damián berhenti di hadapannya, mengancingkan kemeja hitamnya. Alih-alih tersinggung oleh ancaman itu, tatapan penuh kekaguman yang dalam berpendar di matanya. Ia mengambil wajah Elena di antara kedua tangannya, memaksanya menahan tatapan itu.

"Tak akan ada yang menyentuh Mateo. Tak seorang pun," janji Damián dengan nada suara yang begitu dalam dan mutlak hingga membuat tanah bergetar di bawah kaki mereka. "Justru karena itulah perang dimulai hari ini. Néstor sudah menerima perintah untuk menyapu mereka dari peta. Bersiaplah, Elena... karena dunia dalam bayang-bayang baru saja diberi tahu bahwa kamu tak tersentuh."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!