Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISYARAT YANG TERPISAH JARAK
Seminggu telah berlalu sejak malam di mana napasku hampir terenggut oleh dinginnya udara dan sesaknya dada. Seminggu itu pula, duniaku seperti berjalan dalam dua ritme yang bergerak berlawanan arah.
Di satu sisi, Haruto hadir dengan begitu melimpah. Pria itu menepati setiap janji untuk menjaga dan memperhatikan setiap detail kecil dalam hidupku. Ia tak pernah lagi membiarkanku berjalan sendirian di area kampus yang berangin, selalu memastikan tasku berisi botol termos berisi air hangat, dan tak henti-hentinya memamerkan senyum manis yang hangat. Haruto berusaha teramat keras untuk menjadi kekasih yang perhatian, seolah ingin membayar rasa bersalah dan kepanikannya di malam itu.
Namun di sisi lain, ada sebuah keheningan raksasa yang mendadak membentang luas di sekelilingku.
Kaito mendadak menjadi sosok yang teramat sulit dijangkau. Lorong-lorong fakultas yang biasanya menjadi tempat kami bersilangan jalan, kini terasa begitu lengang. Kedai kopi kecil di ujung perpustakaan tempat ia biasa duduk menyendiri sambil membaca buku tebalnya, kini selalu kosong. Katanya, Kaito sedang disibukkan oleh jadwal kuliah yang teramat padat, beberapa proyek penelitian dosen, serta tugas-tugas akhir semester yang menumpuk tanpa ampun.
Aku tahu Kaito sibuk. Namun, di dalam hati kecilku yang paling dalam, aku tahu ada alasan lain di balik kesibukannya itu. Kaito sedang menarik diri. Ia sedang memberiku ruang, melangkah mundur perlahan-lahan agar aku bisa membangun duniaku yang baru bersama Haruto persis seperti yang ia janjikan lewat isyarat tangannya di hari itu.
Siang itu, cuaca di luar gedung fakultas tampak agak mendung. Awan abu-abu berarak rendah, menutupi pendar sinar matahari dan menyisakan bayang-bayang temaram di sepanjang koridor. Angin dingin berhembus pelan menembus celah jendela yang terbuka sedikit, membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering yang mulai meluruh dari dahan.
Aku sedang berada di dalam sebuah ruang serbaguna di lantai dua gedung kemahasiswaan. Ruangan itu cukup luas, berdinding cat krem yang mulai memudar, dengan barisan meja kayu dan kursi-kursi yang tersusun agak berantakan. Suasana di dalam ruangan relatif sepi, hanya ada beberapa mahasiswa lain yang duduk berjauhan sambil berbisik-bisik menyelesaikan tugas kelompok mereka.
Di sampingku, Haruto duduk menemani. Ia mengenakan jaket denim kesayangannya, dengan aroma parfum maskulin berseri citrus yang selalu segar. Haruto sedang sibuk membantu merapikan catatan kuliahku dan menyodorkan secangkir teh hangat yang baru saja ia belikan dari kantin.
"Hana, minumlah tehnya selagi hangat," ujar Haruto pelan dengan senyum penuh perhatian. Ia meletakkan cangkir kertas itu di dekat tanganku. "Nanti sore setelah kelas selesai, aku antar kamu pulang sampai depan rumah, ya. Agar kamu tidak kena angin malam lagi."
Aku menatap cangkir teh hangat itu, lalu berpaling menatap wajah Haruto yang menanti jawabanku dengan binar kepedulian. Aku menyunggingkan senyum tipis, mengangkat jemariku untuk membalasnya lewat ketikan di ponselku: [Terima kasih banyak, Haruto. Kamu selalu baik sekali.]
Haruto tersenyum senang membaca pesan singkat itu. "Tentu saja, aku kan harus menjagamu dengan baik."
Aku mengangguk pelan. Namun, perhatianku tak sepenuhnya berada di ruangan itu. Ada rasa hampa yang terus mengikis dadaku secara perlahan, sebuah perasaan asing yang membuatku merasa cemas tanpa alasan yang jelas.
Di luar ruangan, suara langkah kaki yang teratur menapak halus di atas ubin koridor.
Kaito berjalan melintasi lorong lantai dua itu. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak longgar berbalut sweter rajut abu-abu yang agak kusam di bagian lengannya, dengan tas ransel hitam yang tampak terisi sangat penuh menjuntai di bahunya. Di tangannya, ia memegang tumpukan folder berkas dan beberapa buku tebal bertema arsitektur.
Wajahnya tampak agak lelah. Garis-garis keletihan tercetak jelas di bawah kelopak matanya yang tertutup kacamata berbingkai tipis. Kaito baru saja menyelesaikan kelas maraton sejak pagi hari dan hendak menuju ke laboratorium di ujung koridor.
Saat melintasi pintu kaca ruang serbaguna yang terbuka separuh, mata Kaito bergerak secara alami ke dalam ruangan.
Dan di sanalah ia melihatku.
Langkah kaki Kaito terhenti seketika. Binar matanya yang redup oleh rasa lelah mendadak sedikit bergetar. Kaito menatapku dari balik kaca pintu. Ada keraguan yang sangat jelas terpancar dari pergerakan tubuhnya. Jemarinya yang memeluk tumpukan buku mengerat pelan.
Kaito menggeser kakinya, berniat untuk memutar arah dan melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia ingin menghampiriku, ingin menyapaku sekadar menanyakan kabarku setelah seminggu tidak saling bertukar kabar secara langsung. Ia merindukanku sebuah kerinduan sunyi yang selalu ia simpan rapat-rapat di dalam dadanya.
Namun, baru saja Kaito mengambil satu tapak langkah maju, dunianya dan duniaku seolah membeku di detik yang sama.
Di dalam ruangan, Haruto yang sedang tersenyum tiba-tiba merangkul bahuku dengan lembut dari samping. Sebuah gestur perlindungan yang wajar dari seorang kekasih, menyandarkan perhatiannya padaku sembari membetulkan posisi jaket yang kukenakan agar aku tidak kedinginan.
Aku tertegun sejenak oleh sentuhan itu, tetapi hanya diam menatap meja.
Di luar pintu, Kaito menyaksikan semuanya.
Langkah kaki Kaito yang baru saja hendak menerobos pintu ruangan mendadak terhenti total di udara. Matanya tertuju lurus pada kebersamaan kami. Tidak ada kejutan yang dramatis di wajahnya, tidak ada kemarahan atau raut wajah terluka yang meledak-ledak. Yang ada hanyalah sebuah perubahan halus—sebuah kepasrahan yang teramat dingin dan dalam yang perlahan-lahan menyapu bersih binar harapan di matanya.
Kaito berdiri membeku di tengah lorong yang dingin. Ia menyadari posisinya dengan sangat jelas. Kehadirannya di sana hanyalah sebuah interupsi yang tidak dibutuhkan. Langkahnya yang ingin mendekat kini berubah menjadi sebuah keputusan yang harus ia batalkan.
Tiba-tiba, seperti ada dorongan naluri yang kuat merayap di tengkukku, aku merasa ada seseorang yang sedang memperhatikan kami dari luar.
Aku mengalihkan pandanganku, menolehkan kepala lurus ke arah pintu kaca ruangan yang terbuka.
Mataku berbenturan langsung dengan mata Kaito.
Jantungku seperti berhenti berdetak seribu kali lebih cepat. Napasku tertahan di kerongkongan. Kaito... bisik batin batinku menyebut namanya yang tak mampu terucap oleh bibirku.
Melihatku yang akhirnya menoleh dan mendapati keberadaannya, Kaito tidak panik. Ia tidak menunjukkan raut tertangkap basah. Sebaliknya, Kaito perlahan-lahan membalikkan badannya. Ia membelakangiku dan Haruto, bersiap untuk melanjutkan langkah kakinya menyusuri koridor yang sepi.
Namun, sebelum langkahnya benar-benar membawanya pergi menjauh, Kaito melakukan sesuatu yang membuat dadaku seperti dihantam remuk oleh rasa bersalah yang tak tertahankan.
Kaito memindahkan tumpukan buku tebalnya ke cengkeraman tangan kirinya. Kemudian, ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara—cukup tinggi di atas bahunya agar aku yang berada di dalam ruangan tetap bisa melihat jemarinya dengan sangat jelas dari belakang punggungnya.
Tanpa berbalik sedikit pun, jemari Kaito menari di udara malam yang dingin. Ia menggerakkan bahasa isyaratnya dengan sangat rapi, lambat, dan penuh dengan penekanan yang begitu puitis namun menyakitkan:
[Sampai... jumpa... Hana...]
Gerakan jemarinya terhenti sejenak di udara, membiarkan angin koridor menyapu sela-sela jarinya, sebelum kembali melanjutkan isyarat berikutnya:
[Nikmati... waktumu... bersama... Haruto.]
Isyarat tangan itu berdiri begitu anggun dan sunyi di udara, menjadi satu-satunya jembatan komunikasi yang tersisa di antara kami. Sebuah pesan pamit yang teramat sopan, teramat dewasa, dan teramat merelakan.
Setelah gerakan tangan terakhirnya selesai, Kaito menurunkan tangannya kembali ke samping tubuhnya. Ia menyampirkan tali ranselnya yang hampir merosot, lalu kembali melangkah maju. Punggungnya yang tegap berjalan makin jauh menelusuri panjangnya lorong lantai dua, membelakangiku tanpa pernah berbalik lagi walau hanya untuk satu kerlingan mata.
"Hana? Kamu melihat apa di luar?" suara Haruto terdengar samar di samping telingaku, menyadarkanku dari kebekuan yang melilit tubuhku. Haruto ikut menoleh ke arah pintu, tetapi koridor di luar sana sudah sepenuhnya kosong. Hanya ada helai-helai daun kering yang tertiup angin melewati ubin yang dingin.
Haruto memegang tanganku pelan. "Tidak ada siapa-siapa di sana. Cuma angin. Kamu kedinginan, ya?"
Aku tidak menjawab. Tanganku yang berada di atas pangkuan gemetar hebat.
Mataku menatap kosong ke arah lorong sepi tempat Kaito baru saja menghilang. Isyarat tangan yang ditinggalkannya di udara tadi masih terbayang sangat jelas di depan mataku—[Sampai jumpa Hana, nikmati waktumu bersama Haruto.] Setiap ketukan gerakan jarinya serasa menusuk dadaku dengan rasa penyesalan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Di dalam ruangan yang hangat ini, bersama Haruto yang berada di sampingku, aku justru merasa sangat kedinginan. Aku sadar, jarak yang membentang antara aku dan Kaito kini bukan lagi sekadar jarak fisik beberapa meter di lorong kampus.
Kaito telah benar-benar melipat kenangan dan perasaannya, melangkah keluar dari duniaku, dan membiarkanku berjalan sendirian ke arah masa depan yang tak lagi melibatkan dirinya. Dan yang paling menyakitkan dari semua ini adalah... akulah yang secara tidak langsung telah mengusirnya pergi.