Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.
Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:
> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*
Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.
Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.
Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.
Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.
> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34
Jangan Cari Aku Lagi
Dalam perjalanan pulang dari bandara, Laras akhirnya berani mengulang gerak bibir Bram.
Cin-ta ka-mu.
Tiga suku kata. Tidak mungkin salah.
Lelaki itu sengaja mengatakannya tanpa suara di dalam pesawat, lalu tersenyum seolah sedang bercanda. Ia memberi pengakuan sambil menyisakan jalan untuk menyangkal. Licik, tetapi juga terlalu lembut untuk diabaikan.
Laras menyandarkan kepala ke kaca mobil.
Jakarta bergerak di luar dengan lalu lintas yang dikenal. Setiap kilometer menjauhkan Singapura dan mengembalikannya kepada kenyataan: Bram adalah adik kandung Radit. Keluarga mereka baru saja menjadi bahan pembicaraan nasional. Jika hubungan itu terbuka sekarang, semua orang akan menulis ulang kejadian dan menjadikan Laras perempuan yang berpindah dari satu saudara ke saudara lain.
Ia tidak mau hidupnya kembali ditentukan narasi orang.
Ada pula keluarganya. Pak Broto sedang mencoba menyelamatkan posisi Wirasena dalam Cakrawala. Bu Widuri belum mengakui kesalahan memaksanya menuju akad. Rakai masih marah setiap mendengar nama Adiwangsa. Jika Laras membawa Bram masuk sekarang, persoalan hati akan langsung berubah menjadi perang saham, harga diri, dan persaudaraan.
Bram mungkin berani menghadapi semua itu. Laras belum yakin dirinya siap menjadi alasan dua saudara saling menghancurkan. Ia juga belum yakin bisa mempercayai lelaki yang menjawab pertanyaan penting dengan ciuman, menyimpan piano dari masa lalunya, dan memiliki luka yang tidak mau disebutkan.
Cinta tidak otomatis menghapus kebutuhan akan kebenaran.
Yang terjadi di Maldives dan Singapura adalah pelepasan terakhir. Liburan sudah selesai. Hubungan gelap juga harus selesai.
Di rumah, seorang staf menerima kopernya. Laras langsung menuju ruang musik. D-274 milik keluarga terdengar berbeda dari piano Bram, tetapi bahkan suara itu sekarang mengingatkannya pada lelaki yang menyimpan satu instrumen penuh rahasia.
Ponsel berbunyi.
1001 Kekasih Gelap: Kangen.
Pesan kedua menyusul.
Nggak ada orang lain.
Kalimat yang sama seperti sebelum ia pergi. Kali ini dada Laras melunak lebih cepat. Ia membayangkan Bram tiba di rumah Pondok Indah yang kosong, membuka pintu kamar tempat tidak ada koper Laras, lalu tetap mengirim pesan seolah jarak beberapa kilometer lebih mudah daripada dua negara.
Jarinya mengetik: Saya juga.
Laras menatap dua kata itu, lalu menghapusnya.
Ia membuka profil kontak, menghilangkan tanda pin, dan mengubah nama 1001 Kekasih Gelap kembali menjadi V. Tindakan kecil itu terasa seperti menarik seseorang turun dari tempat yang diam-diam sudah dibuat khusus untuknya.
Aku tidak mau melanjutkan lagi.
Balasan Bram datang segera.
Kenapa?
Laras tidak menjawab pertanyaan itu. Kalau ia menjelaskan keluarga, waktu, dan ketakutan, Bram akan menemukan jalan untuk membantah satu per satu.
Jangan cari aku lagi.
Kamu serius?
Laras menekan blokir.
Sebelum foto itu benar-benar hilang, satu pesan sempat masuk.
Aku bisa kasih waktu. Jangan hilang.
Laras membacanya dari pratinjau, lalu tetap mengunci kontak. Ia meletakkan ponsel telungkup dan berdiri, tetapi baru tiga langkah berjalan sudah kembali untuk memastikan blokir berhasil. Tidak ada pesan baru.
Itulah yang ia minta. Ketaatan Bram justru menyakitkan.
Foto profil awan laut menghilang ke dalam daftar hitam. Layar menjadi sunyi.
Kirana menelepon lima menit kemudian. Laras menolak panggilan, maka temannya beralih ke pesan.
Kamu blokir dia lagi?
Laras: Dari mana kamu tahu?
Kirana: Dia meneleponku enam kali.
Laras: Jangan beri tahu apa pun.
Kirana: Bukannya kemarin kamu bilang suka?
Laras: Untung baru sedikit. Dilepas juga mudah.
Beberapa detik kemudian, Kirana mengirim pesan suara. "Kalau kamu baik-baik saja, bersumpah saja. Bilang kamu nggak kangen, nggak mau lihat dia, dan nggak akan sakit kalau besok dia punya orang lain."
Laras mulai mengetik.
Saya bersumpah tidak...
Jarinya berhenti.
Bayangan Angela memanggil Bagas muncul lagi. Disusul Bram yang berkata tidak ada perempuan lain, tangan yang menyentuh telinganya saat kembang api, dan punggung yang menjauh di lorong pesawat.
Ia menghapus kalimat.
Kirana: Nah. Nggak bisa, kan?
Laras: Saya lelah. Besok bicara.
Ia meletakkan ponsel dan mencoba berlatih. Empat nada pertama terdengar bersih. Pada nada kelima, jemarinya berhenti karena frasa itu memiliki ritme yang sama dengan cinta kamu.
Laras menutup penutup tuts.
Malam datang. Tidak ada pesan dari V karena nomor itu diblokir. Tidak ada ketukan di pintu karena Bram kali ini mungkin memegang aturan yang pernah ia tambahkan sendiri: jangan datang tanpa penjelasan.
Keheningan yang Laras minta terasa seperti hukuman yang ia buat untuk dirinya sendiri.
Ia memeriksa ponsel sebelum tidur, meski tahu tidak akan ada apa-apa. Daftar blokir masih menyimpan wajah Bram. Satu sentuhan cukup untuk mengembalikannya, tetapi Laras mematikan layar.
Besok akan lebih mudah, pikirnya.
Hari berikutnya, ia terbangun dengan keyakinan yang sama dan rasa kosong yang lebih besar.
Seorang staf rumah memberi tahu ada kopi tanpa nama pengirim di meja. Laras memeriksa struk. Pesanannya sama dengan yang biasa dikirim Bram, tetapi pembayaran dilakukan tunai oleh kurir. Ia membiarkannya dingin karena takut satu teguk akan dianggap jawaban.
Pada siang hari, mobil hitam melewati gerbang dua kali. Laras berdiri di balik tirai, lalu menyadari kendaraan itu milik tetangga. Rasa kecewa yang datang membuatnya marah. Ia meminta penjaga tidak menerima tamu tanpa janji, padahal tak ada seorang pun yang meminta masuk.
Laras menghabiskan pagi membaca naskah Harmoni Nusantara. Ia menggarisbawahi bagian yang tidak membutuhkan koreksi, lalu mengulang halaman pertama tiga kali. Mbak Ranti mengirim jadwal pertemuan produksi dan bertanya apakah Laras siap kembali ke publik. Ia menjawab siap tanpa ragu.
Pekerjaan bisa diukur. Ada tanggal, durasi, kontrak, dan hasil. Perasaan tidak memiliki satu pun aturan yang bisa memastikan kapan harus berhenti.
Menjelang sore, ia kembali ke piano. Kali ini Laras memaksa diri menyelesaikan satu komposisi penuh. Namun saat nada terakhir berakhir, tidak ada rasa lega. Tangannya tetap di atas tuts, menunggu suara lain yang tidak akan datang.
Kirana mengirim satu baris.
Masih baik-baik saja?
Laras mengetik iya, lalu tidak mengirim.
Ia pernah berhasil meninggalkan akad, melawan kedua keluarga, dan mengubah skandal menjadi jalan keluar. Seharusnya satu lelaki tidak lebih sulit daripada semua itu.
Namun semua pertempuran sebelumnya memiliki musuh yang jelas. Radit berbohong. Orang tuanya memaksa. Tiara ingin naik. Dalam urusan Bram, orang yang harus dilawan adalah dirinya sendiri, bagian yang mulai percaya ada masa depan meski akal terus menyebutnya mustahil.
Namun cincin bisa dilepas, hadiah bisa dikembalikan, nomor bisa diblokir. Tidak ada tombol untuk menghapus cara seseorang membuatnya merasa aman.
Laras menekan layar sampai gelap dan memaksa dirinya percaya hubungan itu sudah selesai.
Di ruang musik yang sunyi, beberapa nada yang terhenti tadi tetap menggantung, dan tidak satu pun mempercayai kebohongannya.