Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.7
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28 - Perempuan Dari Dunia Arga

Undangan itu datang lewat Nenek Suryani.

Lebih tepatnya, lewat panggilan video yang masuk saat Safira sedang mengecek jahitan bagian lengan baju Bu Laras. Arga baru selesai memasang lampu sorot kecil di ruang fitting. Begitu nama Nenek muncul, Safira dan Arga saling pandang.

"Angkat," kata Safira.

"Kamu yakin?"

"Kalau tidak, Nenek akan meneleponku."

Benar saja. Begitu panggilan diangkat, Nenek Suryani langsung berkata, "Arga, jangan sembunyikan Safira. Nenek mau bicara dengan cucu menantu."

Arga menyerahkan ponsel.

Safira tersenyum. "Assalamualaikum, Nek."

"Waalaikumsalam, Nak. Kamu makin cantik saja. Arga kasih makan benar, kan?"

"Insya Allah benar."

"Kalau dia pelit, bilang Nenek."

Arga dari samping berkata, "Nek."

"Diam. Nenek bicara dengan istrimu."

Safira tertawa.

Nenek lalu menyampaikan undangan. Ada acara amal yayasan pendidikan di Jakarta akhir pekan itu. Bu Laras ternyata salah satu panitia, dan Nenek Suryani ingin Safira datang sebagai tamunya.

"Sekalian kamu lihat dunia yang sering dihindari Arga," kata Nenek.

Safira menatap Arga.

Arga tampak tidak senang.

"Nek, Safa sedang sibuk."

"Justru karena sibuk, dia perlu tahu calon klien dan lingkungan yang bisa menghargai karyanya. Kamu jangan egois."

Safira menahan senyum.

Arga kalah lagi.

Setelah panggilan berakhir, Safira memegang ponsel beberapa detik.

"Kamu tidak mau aku datang?"

"Bukan begitu."

"Lalu?"

"Acara itu penuh orang yang suka bertanya tanpa benar-benar ingin tahu."

"Seperti keluarga Santoso?"

"Versi lebih mahal."

Safira tertawa. "Aku sudah latihan."

Arga menatapnya. "Mereka akan membicarakanmu."

"Mereka sudah."

"Mereka akan membicarakan saya juga."

"Itu justru yang menarik."

Arga menghela napas.

Safira meletakkan ponsel. "Mas Arga, aku tidak bisa selamanya hanya melihat potongan hidupmu dari story Nenek, panggilan Bima, dan wajah panik manajer hotel."

Arga diam.

"Aku tidak memaksa kamu membuka semuanya hari ini. Tapi kalau aku istrimu, aku tidak mau selalu berada di luar pintu."

Kalimat itu membuat Arga tidak bisa menolak.

Sabtu sore, mereka berangkat ke Jakarta.

Safira memakai kebaya modern warna hijau gelap buatannya sendiri, dipadukan rok lurus hitam dan hijab satin sederhana. Tidak terlalu mencolok, tetapi potongannya membuat tubuhnya terlihat anggun. Arga memakai jas gelap tanpa dasi. Ia terlihat terlalu cocok dengan mobil hitam yang menjemput mereka di Bandung.

Safira berhenti di depan mobil itu.

"Ini mobil siapa?"

"Pinjaman."

"Dari?"

"Keluarga."

"Keluarga yang mana?"

"Kusuma."

Safira menatapnya lama, lalu masuk.

"Baik. Hari ini aku kumpulkan data."

Arga duduk di sampingnya. "Kamu terdengar seperti investigator."

"Aku istri yang kurang informasi."

Arga tidak membantah.

Acara amal diadakan di ballroom hotel Jakarta. Lampu hangat, meja bundar, bunga putih, layar besar berisi profil yayasan, dan tamu-tamu berpakaian rapi. Safira mengenali beberapa wajah dari majalah bisnis dan akun Instagram sosialita.

Begitu mereka masuk, beberapa kepala menoleh.

Bukan kepada Safira saja.

Kepada Arga.

Bisik-bisik muncul seperti kain halus yang digesek.

"Itu Arga?"

"Dia datang?"

"Dengan istrinya?"

Safira mendengar.

Arga juga.

Tangannya menyentuh ringan punggung Safira, bukan mendorong, hanya memberi tanda bahwa ia ada.

Nenek Suryani menyambut mereka di depan. Wajahnya berseri.

"Akhirnya! Sini, Nenek lihat."

Safira menunduk mencium tangan Nenek. Nenek memegang kedua pipinya.

"Cantik. Kebayamu buatan sendiri?"

"Iya, Nek."

"Bagus. Nanti semua orang harus tahu."

"Nek, jangan..."

Terlambat.

Nenek sudah memanggil dua temannya.

"Ini Safira, cucu menantu saya. Desainer. Kebaya yang dia pakai buatan sendiri."

Safira tersenyum sopan. Arga berdiri di sampingnya, tampak pasrah.

Beberapa perempuan memuji. Ada yang benar-benar tertarik pada detail kebaya. Ada yang hanya ingin tahu bagaimana perempuan seperti Safira bisa muncul di samping Arga.

Lalu seorang perempuan datang.

Tinggi, cantik, berambut sebahu yang ditata halus, memakai gaun modest warna champagne. Ia tidak berhijab, tetapi berpakaian sangat sopan. Senyumnya tenang, terlalu terlatih.

"Arga."

Safira merasakan tangan Arga di punggungnya berhenti sebentar.

"Sekar," kata Arga.

Nenek Suryani tidak terlihat senang, tetapi tetap sopan. "Sekar, kamu datang."

"Tentu, Tante. Acara yayasan selalu penting."

Sekar menatap Safira. "Ini istrimu?"

"Iya," jawab Arga. "Safira."

Safira mengulurkan tangan. "Safira."

Sekar menyambut. Genggamannya lembut, tetapi matanya menilai.

"Saya Sekar. Teman lama Arga."

Teman lama.

Kalimat yang selalu terdengar sederhana tetapi sering membawa koper penuh sejarah.

"Senang bertemu," kata Safira.

"Saya juga. Saya agak terkejut saat dengar Arga menikah. Dia biasanya tidak suka keputusan mendadak."

Safira tersenyum. "Kadang hidup lebih cepat dari kebiasaan."

Nenek Suryani menahan senyum.

Sekar menatap kebaya Safira. "Karyamu?"

"Iya."

"Menarik. Sangat Bandung."

Pujian itu terdengar seperti pisau yang dibungkus kain.

Safira tetap tersenyum. "Terima kasih. Saya memang dari Bandung."

Arga berkata, "Dan karyanya bagus."

Sekar menatap Arga.

Ada sesuatu di mata perempuan itu. Bukan sekadar teman lama. Bukan juga mantan yang sudah selesai sepenuhnya.

Safira melihatnya.

Ia juga melihat bagaimana beberapa tamu mulai memperhatikan mereka.

Seorang perempuan di belakang Sekar berbisik cukup keras, "Bukannya dulu keluarga Sekar dan Arga sempat..."

Kalimat itu dipotong ketika Nenek Suryani menoleh tajam.

Safira menyimpan potongan itu.

Sempat apa?

Sekar tersenyum lagi. "Kita harus ngobrol nanti, Safira. Aku penasaran bagaimana kamu membuat Arga akhirnya mau menikah."

Safira menatapnya lurus.

"Saya tidak membuat. Dia yang mengucap akad."

Nenek Suryani tertawa kecil. "Jawaban bagus."

Arga menunduk sedikit ke arah Safira. Suaranya rendah, hanya untuknya.

"Kamu baik-baik saja?"

"Aku sedang mengumpulkan data."

"Safa."

"Nanti kita bicara."

Arga menghela napas pelan.

Malam baru dimulai, tetapi Safira sudah mengerti satu hal.

Dunia Arga bukan hanya berisi rapat, mobil hitam, dan nenek yang suka mengunggah story.

Ada perempuan bernama Sekar.

Ada bisik-bisik tentang sesuatu yang pernah hampir terjadi.

Dan ada rahasia lain yang menunggu giliran keluar dari balik pintu.

Acara makan malam dimulai. Safira duduk di meja Nenek Suryani, diapit Arga dan seorang ibu pemilik yayasan kecil dari Bogor. Pembicaraan mengalir dari pendidikan anak, donasi buku, sampai kain tradisional. Safira ikut bicara ketika topik menyentuh pelatihan keterampilan perempuan.

Bu Laras, yang duduk di meja sebelah, sempat menoleh dan tersenyum bangga.

Namun dari sudut mata, Safira melihat Sekar berbicara dengan beberapa tamu muda. Sesekali nama Arga terdengar. Tidak jelas apa yang dibicarakan, tetapi tawa kecil mereka membuat Safira tahu ia sedang menjadi bagian dari topik.

Nenek Suryani tiba-tiba berkata, "Safira, besok pagi ikut Nenek sarapan, ya. Ada beberapa teman yang ingin lihat desainmu."

Safira terkejut. "Besok pagi?"

"Iya. Arga juga ikut."

Arga baru akan menjawab, tetapi Nenek menatapnya lebih dulu.

"Tidak ada alasan."

Arga menutup mulut.

Safira hampir tertawa.

Di meja lain, Sekar melihat ke arah mereka. Senyumnya tetap rapi, tetapi matanya tidak sepenuhnya ikut tersenyum.

Safira menegakkan punggung. Kalau besok pagi ia harus duduk di dunia Arga, ia akan datang bukan sebagai perempuan yang tersesat. Ia datang sebagai Safira, istri Arga, dan desainer yang tangannya hidup.

Setelah acara selesai, Sekar sempat menghampirinya di dekat meja dessert.

"Kamu cukup tenang untuk orang baru," katanya.

Safira mengambil segelas air. "Saya banyak latihan di keluarga sendiri."

Sekar tersenyum. "Arga tidak suka keramaian seperti ini."

"Saya mulai tahu."

"Tapi dia datang karena kamu."

Safira menatap Sekar. "Mungkin karena Nenek."

"Nenek bisa memaksa Arga datang. Tapi tidak bisa memaksa Arga terus melihat ke arah seseorang."

Kalimat itu terdengar seperti pujian, tetapi mata Sekar menyimpan hal lain.

Safira menjawab tenang, "Kalau begitu saya akan anggap itu kabar baik."

Sekar tertawa pelan. "Kamu menarik."

"Terima kasih."

"Kita lihat sampai kapan."

Sekar pergi sebelum Safira menjawab. Safira menggenggam gelas lebih erat. Di dunia Arga, senyum ternyata bisa setajam gunting kain.

Arga menemukannya beberapa menit kemudian.

"Sekar bicara sesuatu?"

"Dia bilang aku menarik."

Wajah Arga tidak berubah, tetapi matanya menajam.

"Dalam bahasa Sekar, itu bisa berarti banyak."

"Aku mulai mengerti."

Safira meletakkan gelas kosong di meja. "Tenang. Aku juga bisa menarik benang kusut tanpa merusak kain."

1
Heny
Dari awal baca gk ada romantis nya msh jln di tempat
Ivan Sumampouw
setelah mencoba bertahan 59 episode ternyata memang cerita JELEK !!!
Heny
Cerita nya datar arga dan safira gk ada romantis nya
Akbar Nasution
bagus
Hariyanti
ceritanya bagus dan menyenangkan 😘😘😘 masalahnya cuma nama tokoh yg bolak-balik salah😬
Ivan Sumampouw
sdh 51 episode,,, jauh dari judul,,, kenapa bukan Safira yg rahasia 🤣
Hariyanti
kenapa jg ga pake baby sitter 🤔🤔🤔
Hariyanti
dulu sebenarnya hubungan Rayhan dan nara seperti apa sih 🤔🤔 kok kesannya Nara yg paling bersalah padahal waktu bikin berdua
Imas Karmasih
thor kurang fokus aturan Bambangan bukan dimas
Hariyanti
Jovan itu hasil hubungan tanpa status kah🤔🤔karena Rayhan dan nara seperti dua orang yang tidak pernah dekat
Hariyanti
ibunya Rayhan sebenarnya siapa sih🤔Sinta atau Laras.byk betul yg namanya laras🤔🤔pelanggan Safa, mertua Safa jg Laras
Ayu Puput
udh eps 62 padahal pusing bacanya gitu² aja ceritanya, terlalu bertelew. tapi penasaran endingnya
Ratih magani
mmsh bingung ini do bdg ato jkt sih setting tempatnya?
Imas Karmasih
setuju
Hariyanti
kalo Safira bayi yg ditukar🤔apa maksudnya ditukar🤔🤔🤔kalo bayinya sendiri meninggal tapi ternyata masih hidup🤔semoga hasil tes Maya bukan keluarga santoso
Hariyanti
bertele-tele 😏 padahal jujur aja ttg statusnya .... kalo Safira ga nyaman dgn status suaminya lebih baik bubar drpd gengsi dibantu suami yg kaya raya
Hariyanti
Dimas kan pacar Rania 🤔🤔 emang ada berapa Dimas 🤔
Imas Karmasih
cerita nya bagus engga ngebosenin
Anggraini “Beby” Lubis
bab ini lompat ya? dari jakarta terus ke bandung, terus ke jakarta lagi
Hariyanti
susah banget sih jelasin status 🤔🤔senang bikin rumit kehidupan 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!