Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.
Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.
Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zivana 1
Aroma nasi goreng mentega dan wangi teh hangat menyelimuti dapur pagi itu. Suara denting sutet yang beradu dengan wajan menjadi musik pembuka hari di rumah keluarga Aidil. Zivana, dengan rambut yang dicepol asal dan celemek kain melingkar di pinggangnya, sibuk merapikan kotak bekal berwarna biru dan merah muda.
"Bunda, pita tas Amora lepas lagi!"
Sebuah teriakan mungil terdengar dari arah tangga, disusul langkah-langkah kaki kecil yang tergesa. Amora, gadis kecil berusia lima tahun itu, berlari menghampiri Zivana sambil menyodorkan tas sekolahnya dengan bibir sedikit miring.
Zivana terkekeh pelan. Ia berlutut menyamakan tingginya, mengambil tas itu, lalu mengikat pitanya dengan rapi.
"Nah, selesai. Princess Amora tidak boleh cemberut pagi-pagi, nanti cantiknya hilang. Mas Khaisar mana?"
"Mas lagi pakai sepatu di depan, Bunda. Lama banget," adu Amora penuh drama.
Dari arah pintu masuk, Khaisar yang kini berusia delapan tahun muncul sambil menggendong tas hitamnya. Wajahnya menggebu-gebu.
"Mana ada lama! Orang tali sepatunya belitan, Bunda."
"Sudah, sudah. Anak-anak Bunda tidak boleh bertengkar," ucap Zivana lembut sembari mengacak rambut Khaisar gemas.
"Ayo duduk, sarapan dulu. Hari ini Bunda buatkan nasi goreng kesukaan kalian."
Kedua anak itu bersorak girang dan langsung menduduki kursi makan. Kasih sayang Zivana selama tiga tahun ini begitu tulus hingga tak ada jarak sedikit pun antara dirinya dan kedua anak sambungnya. Bagi Khaisar dan Amora, Zivana adalah sosok ibu seutuhnya.
Langkah kaki yang lebih mantap terdengar turun dari lantai atas. Aidil muncul dengan kemeja kerja berwarna abu-abu yang sudah rapi, meski dasinya masih melingkar longgar di kerah kemejanya. Pria itu tersenyum tipis melihat kehangatan di meja makan.
"Selamat pagi, Ayah!" sapa kedua anaknya serentak.
"Selamat pagi, Jagoan. Selamat pagi, Princess ," balas Aidil seraya mencium puncak kepala Khaisar dan Amora secara bergantian.
Zivana mendongak, menyambut pandangan pria yang telah menjadi suaminya selama tiga tahun terakhir. Senyum manis terukir alami di wajahnya. "Selamat pagi, Mas."
"Pagi, Ziva," sahut Aidil ramah. Ia menarik kursi di samping Amora.
Meskipun nada suara dan sikap Aidil selalu santun dan penuh perhatian, Zivana tahu ada tembok tak kasat mata di antara mereka. Pria itu memperlakukannya dengan sangat baik, merawatnya, dan memenuhi segala kebutuhannya. Namun, tidak pernah ada binar asmara di mata itu. Selama tiga tahun bernaung di bawah atap yang sama, Aidil bahkan belum pernah menyentuhnya sebagai seorang istri. Pernikahan ini berawal dari rasa kasihan sang ibu yang ingin kedua cucunya memiliki sosok ibu dan Zivana, mantan pegawai butik mertuanya, menerima takdir itu dengan penuh cinta.
Zivana melangkah mendekati Aidil. "Mas, dasinya miring. Biar aku rapikan."
Aidil mendongak sedikit, membiarkan jemari Zivana menyentuh kerah kemejanya. Jarak mereka begitu dekat hingga Zivana bisa menghirup aroma wangi aftershave khas suaminya. Jantung Zivana selalu berdesir pelan setiap kali berdekatan seperti ini, namun Aidil tetap tenang, hanya menatapnya dengan tatapan penuh rasa terima kasih, bukan hasrat.
"Terima kasih ya, Ziva. Kamu selalu menyiapkan semuanya dengan rapi," ucap Aidil pelan ketika Zivana selesai merapikan dasinya.
"Sudah kewajibanku, Mas," jawab Zivana lembut sambil mencedokkan nasi goreng ke piring Aidil.
"Dimakan ya, nanti keburu dingin."
Suasana sarapan berlangsung hangat, diselingi celoteh Amora tentang taman kanak-kanaknya dan cerita Khaisar mengenai latihan sepak bolanya. Zivana telaten mengusap sudut bibir Amora yang berantakan, sementara Aidil sesekali menanggapi obrolan anak-anaknya dengan tawa renyah. Dari luar, mereka terlihat seperti keluarga kecil yang amat sempurna dan bahagia.
Setelah selesai sarapan, Aidil bersiap mengantarkan kedua anak mereka ke sekolah sebelum berangkat ke kantor. Di depan pintu rumah, Khaisar dan Amora mencium tangan Zivana bergantian.
"Bunda, nanti jemput Amora ya!" pinta si bungsu sambil memeluk pinggang Zivana erat.
"Pasti, Sayang. Jangan nakal di sekolah, ya." Zivana mengecup kedua pipi Amora.
Aidil menyodorkan tangannya. Zivana meraih telapak tangan suaminya dan mencium pungung tangan suaminya dengan penuh takzim. Aidil mengusap kepala Zivana pelan sebuah gestur rutinitas yang selalu ia lakukan setiap pagi.
"Aku berangkat dulu, Ziva. Kalau butuh apa-apa untuk rumah, langsung kabari aku," ujar Aidil lembut.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan siang," pesan Zivana dengan senyum yang tak pernah pudar.
Mobil sedan hitam milik Aidil perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah. Zivana berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan hingga mobil itu menghilang di belokan jalan. Senyum di wajahnya perlahan menyusut, berganti dengan helaan napas halus. Ia mencintai kehidupan ini, ia mencintai anak-anak itu, dan ia sangat mencintai Aidil. Rasanya, rasa sabarnya selama tiga tahun ini sudah cukup untuk terus menanti hari di mana hati suaminya akhirnya terbuka sepenuhnya untuknya.
Rintik hujan merayap di kaca jendela kamar utama, meninggalkan jejak-jejak air yang membiaskan cahaya remang lampu tidur. Udara dingin malam itu menembus hingga ke dalam kamar, menyisakan keheningan yang sedikit menyiksa setelah riuh tawa Khaisar dan Amora padam sejak dua jam lalu.
Zivana berdiri di depan cermin riasnya. Daster panjang berbahan katun lembut menyapu mata kakinya. Jemarinya perlahan menyisir rambut hitamnya yang terurai basah usai mandi. Melalui pantulan cermin, matanya menatap ranjang berukuran king size di belakangnya. Di sana, Aidil duduk bersandar pada kepala ranjang, fokus menatap layar laptop dengan kacamata minus bertengger di pangkal hidungnya.
Pemandangan itu bukan hal baru. Setiap malam, pola yang sama selalu berulang. Mereka berbagi ranjang yang sama, selimut yang sama, namun terpisah oleh jarak emosional yang amat jauh.
"Anak-anak sudah tidur lelap, Mas?" tanya Zivana memecah kesunyian. Suaranya halus, nyaris tenggelam oleh suara hujan di luar.
Aidil mendongak, melepas kacamatanya lalu memijat pangkal hidungnya pelan. "Sudah, Ziva. Amora sempat minta didongengkan sebentar, tapi baru setengah cerita dia sudah ketiduran. Kasihan, sepertinya cape sekali main seharian."
Zivana tersenyum, berbalik lalu berjalan mendekati sisi ranjangnya. Ia membawa secangkir teh chamomile hangat yang baru saja ia seduh dan meletakkannya di meja nakas sebelah Aidil.
"Ini untuk Mas. Udara malam ini dingin sekali, biar badannya agak hangat."
Aidil menatap cangkir yang masih mengepulkan uap tipis itu, lalu beralih menatap wajah Zivana.
"Terima kasih, Ziva. Kamu tidak usah repot-repot sebenarnya."
"Sama sekali tidak repot, Mas," sahut Zivana lembut.
Zivana kemudian naik ke atas ranjang, duduk bersila beberapa jengkal dari tempat Aidil bersandar. Ia mengamati garis-garis lelah di wajah suaminya. Ada dorongan kuat di dalam dadanya untuk menjangkau jemari Aidil, membelai pipinya, atau sekadar menyandarkan kepala di bahu tegap itu. Namun, rasa canggung yang terpelihara selama tiga tahun menahannya.
Aidil menutup laptopnya dan meletakkannya di meja samping. Ia meraih cangkir teh, menyesapnya perlahan, lalu menghela napas panjang. "Hujannya Makin deras."
"Iya," bisik Zivana. Matanya menatap jari-jarinya sendiri yang saling bertautan di atas pangkuan.
"Mas... aku boleh bicara sebentar?"
jdi laki kok banci amat😅😅😅
kl ortu berkuasa bisa memiskin kn aidil pasti bisa melindungi khaisar Dan amora.
buktinya mereka gk bisa melindungi khaisar Dan amora.
apa hati mereka gk merasakan pnderitaan cucunya ya.
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu
papa bagas yg urus tuh s pewangi ruangan stela, buka semua borok nya k publik, bayi yg d kandung jg pat bkn bayi nya aidil kan