Indonesia
NovelToon NovelToon
Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Wanita perkasa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:8
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.

Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.

Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.

Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.

Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.

Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 — Hancur

Ekaterina

Dia mencengkeram lenganku kuat-kuat.

"Ikut."

Aku bahkan tak sempat bereaksi.

Dia menyeretku.

Tanpa memberiku pilihan.

Tanpa peduli siapa yang melihat.

Jantungku berpacu, ketakutan menjalar naik ke tenggorokanku sementara aku berusaha mengimbangi langkahnya agar tak terjatuh.

Kami baru berhenti setibanya di tempat parkir, jauh dari musik, dari kembang api, dari orang-orang.

Dia melepaskanku.

Dan aku merasakannya.

Tatapan itu.

Berat.

Turun.

Berhenti.

Di perutku.

Yang hamil.

Naluriku ingin melindungi, tapi aku membeku.

Dia mengabaikannya.

Atau berpura-pura mengabaikannya.

Lalu mengembalikan pandangannya ke wajahku.

"Sedang apa kau di sini, sialan?"

Suaranya keras.

Lebih keras dari yang kuingat.

Aku menundukkan pandangan sesaat, berusaha menjaga kendali.

"Aku sedang bekerja."

Sederhana.

Karena itulah kenyataannya.

Tapi aku tahu itu tak cukup baginya.

Dia melepaskan tawa tanpa geli.

"Bagus..." katanya, sinis. "Setidaknya kau menemukan cara menghasilkan uang tanpa menjual tubuhmu."

Kata-katanya menghantamku.

Keras.

Tapi aku tak langsung menjawab.

Aku hanya menatapnya.

Dan kali ini...

aku tak menunduk.

Karena aku sudah lelah.

"Kau tak tahu apa-apa," kataku, pelan.

Setiap kata terukur.

Menahan segala yang bisa kuucapkan.

"Aku tahu cukup banyak," dia membalas.

"Mana bisa aku menebak pesta siapa ini."

Suaraku keluar lebih tegas dari yang kuduga.

Karena aku memang tak tahu.

Kalau tahu...

aku takkan pernah datang.

Dia mengusap wajahnya, jengkel, seolah semua ini hanyalah gangguan baginya.

Tapi bagiku...

ini hidupku.

Anakku.

Sebelum apa pun berlanjut, kudengar langkah kaki.

Dan sebuah suara.

"Dari mana kau mengenalnya, Viktor?"

Aku langsung mengenalinya.

Ibunya.

Aku terpaku.

Dia tertawa datar, mengusap wajahnya.

"Ini kisah yang panjang."

Aku tak menunggu.

Tak bisa.

Aku berusaha pergi.

Menyingkir.

Menghilang.

Tapi, seperti tadi...

dia menahanku lagi.

Lebih kuat.

"Tunggu dulu."

"Viktor, lepaskan gadis itu," ibunya memerintah.

Aku menahan napas.

Tapi dia tak melepasku.

Sampai sebuah suara lain muncul.

Lebih berat.

Lebih berwibawa.

"Ibumu menyuruhmu melepaskannya."

Kurasakan tubuh Viktor menegang.

Ketika dia menoleh, aku sudah tahu siapa itu.

Ayahnya.

"Dia gadis yang di bar itu," Viktor menambahkan.

Aku menundukkan kepala.

Bukan karena malu.

Tapi karena aku tak ingin menatap mereka.

Tak ingin mengulang kembali kejadian itu.

Ibunya bergerak.

Berdiri di depanku.

Melindungiku.

Itu membuatku bingung.

Melucuti pertahananku.

Lalu dia menatap langsung ke arah Viktor.

"Viktor... kau ayah dari bayi ini?"

Keheningan terasa berat.

Lalu dia tergelak.

Keras.

Dingin.

"Anak itu bukan anakku."

Dadaku sesak.

Tapi aku tetap tegar.

"Bisa jadi anak siapa saja."

Kata-katanya mengiris.

Tapi tak menghancurkanku.

Tidak lagi.

Aku mengangkat wajah.

Mataku memanas.

Tapi aku menahannya.

"Anak ini hanya milikku."

Suaraku bergetar.

Tapi tak tersendat.

Karena itulah satu-satunya hal yang kuyakini.

Aku tak tinggal untuk mendengar apa pun lagi.

Aku melewati mereka.

Tanpa menoleh ke belakang.

Tanpa mengharap apa-apa.

Karena sekarang...

apa pun yang dia katakan tak penting lagi.

Aku sudah mengerti.

Aku sendirian dalam hal ini.

Dan tak apa-apa.

Karena aku akan menemukan jalan.

Seperti yang selalu kulakukan.

Aku melangkah cepat.

Terlalu cepat.

Seolah dengan lari aku bisa menghapus apa yang baru saja terjadi.

Tapi tak bisa.

Tak ada yang bisa menghapusnya.

Kata-katanya masih bergema di dalam diriku, seakan tertancap di kulitku.

"Bisa jadi anak siapa saja."

Dadaku sesak begitu kuat.

Napasku sesak.

Dan simpul di tenggorokanku membesar sampai terasa nyeri.

Aku membiarkan beberapa tetes air mata jatuh.

Aku tak mampu menahannya.

Aku hanya perlu pergi dari sini.

Hanya itu.

"Ekaterina!"

Suaranya menjangkauku.

Aku memejamkan mata sesaat... lalu berhenti.

Dia sampai di dekatku.

Ibu Viktor.

"Bisa kita bicara?"

Aku menggeleng, berusaha mempertahankan sisa kendali yang kupunya.

"Tidak... aku hanya perlu pergi..."

Suaraku tersendat.

Aku tak sanggup menatapnya.

Tidak setelah semuanya.

Dia memegang lenganku... tapi tak dengan kuat.

Berbeda.

Hati-hati.

"Tak apa," katanya, lebih lembut. "Tapi kau takkan pergi dari sini sendirian."

Aku menelan ludah.

Itu meruntuhkanku dengan cara yang tak kuduga.

Karena aku sudah siap menghadapi lebih banyak penghinaan.

Lebih banyak penghakiman.

Tapi tidak untuk yang ini.

"Sopirku akan mengantarmu."

Aku tak punya tenaga untuk membantah.

Aku hanya mengangguk.

Dia memanggil seorang pria, mobil datang dengan cepat. Pintunya dibuka... dan dia sendiri yang memegangnya untukku.

Aku ragu sesaat.

"Terima kasih..." bisikku, nyaris tanpa suara.

Aku masuk.

Dan ketika pintu tertutup...

aku menyerahkan alamatnya kepada sopir.

Lalu aku runtuh.

Air mata datang deras, berat, tak terkendali.

Sunyi.

Tapi ganas.

Aku langsung membawa tangan ke perutku, seakan bisa melindungimu.

"Jangan hiraukan... " bisikku, dengan suara patah. "Kau tak bersalah atas apa pun..."

Tapi aku merasakannya.

Semuanya.

Perih penolakan itu.

Karena aku pernah ditolak sebelumnya.

Pernah direndahkan.

Pernah diperlakukan seperti bukan apa-apa.

Tapi kau...

Kau bahkan belum lahir.

Dan sudah disangkal.

Hatiku hancur dengan cara yang tak kusangka mungkin.

Dan bersama rasa perih itu...

datang ketakutan.

Mentah.

Nyata.

Aku pergi dari sana tanpa dibayar.

Tanpa satu sen pun.

Lalu bagaimana sekarang?

Bagaimana aku membeli makanan?

Bagaimana aku memberi makan Lis?

Bagaimana aku merawatmu?

Dan ketika obat-obat Lis habis?

Perutku mencengkeram, kosong.

Kepalaku berputar.

Kenyataan terasa lebih berat dari kata-kata apa pun.

Tapi meski begitu...

suaranyalah yang paling menyakitkan.

"Bisa jadi anak siapa saja."

Aku memejamkan mata kuat-kuat, berusaha mengusirnya.

"Tidak..." bisikku. "Jangan dengarkan itu..."

Tanganku membelai perutku, hati-hati.

Seperti sebuah permohonan.

Seperti sebuah janji.

Karena, meski hancur...

aku yakin akan satu hal.

Aku tak boleh jatuh.

Tak boleh menyerah.

"Aku akan menemukan jalan..." kataku, di sela air mata. "Aku selalu bisa..."

Dan kali ini...

aku akan menemukannya lagi.

Demi kau.

Demi Lis.

Demi kita.

Meski sendirian.

Meski tanpa apa-apa.

Meski seluruh dunia berusaha meyakinkanku sebaliknya...

aku takkan membiarkanmu tumbuh dengan anggapan bahwa kau tak diinginkan.

Karena boleh saja kau tak diinginkan olehnya...

tapi olehku...

kau sudah menjadi segalanya.

Aku berhenti menangis.

Bukan karena perihnya sudah reda.

Tapi karena aku harus.

Kuseka wajahku dengan tanganku sendiri, menarik napas dalam-dalam beberapa kali, berusaha menyembunyikan segala jejak dari apa yang terjadi.

Aku tak boleh pulang dalam keadaan begitu.

Tidak di depan Lis.

Ketika mobil berhenti, kuucapkan terima kasih pelan lalu turun cepat-cepat. Langkahku membawaku nyaris otomatis ke rumah Bu Severina.

Dia membuka pintu.

"Terima kasih... untuk hari ini," kataku, tulus.

Dia hanya mengangguk, dengan tatapan orang yang memahami lebih dari yang kuucapkan.

Lalu—

"Kaaaathy!"

Lis datang berlari.

Mungil.

Ringan.

Penuh kehidupan.

Dia memelukku begitu erat sampai, untuk sesaat... semuanya berhenti.

Aku membungkuk dan balas memeluknya, menyembunyikan wajah di rambutnya.

Di sana.

Aku bernapas.

"Kau pulang cepat!" katanya, riang.

Aku memaksakan senyum.

"Hari ini lebih cepat..."

Sebuah dalih sederhana.

Dia menerimanya.

Selalu menerimanya.

Kugenggam tangannya dan kami melangkah pulang.

Dunia kecil kami.

Kepunyaan kami yang tak seberapa... tapi milik kami.

Sebelum masuk, aku merasakannya.

Sensasi itu.

Seakan ada seseorang yang sedang mengawasi.

Kupalingkan wajah, menatap ke jalan.

Kosong.

Tak ada siapa-siapa.

Hanya keheningan.

Aku tetap masuk.

"Aku mau mandi sebentar, ya?" kataku, berusaha tampak normal.

"Baik!"

Aku masuk ke kamar mandi, kututup pintunya... dan sejenak aku bersandar ke dinding.

Menarik napas dalam-dalam.

Menahannya.

Menelan semuanya sekali lagi.

Lalu kubasuh wajahku, mandi cepat, berusaha membersihkan bukan hanya lelah... tapi beban hari ini.

Ketika aku keluar...

Lis sedang di depan kulkas.

Mencari-cari.

Menunggu.

"Kita makan apa malam ini?" tanyanya, polos.

Hatiku mencelos.

Tapi aku tersenyum.

"Hari ini kau boleh pilih... sereal atau mi."

Dia berpikir sejenak.

Lalu tersenyum.

"Mi!"

Sederhana.

Bahagia.

"Dan simpan serealnya untuk sarapan."

Aku mengangguk, merasakan simpul di tenggorokanku kembali menguat.

"Baiklah..."

Dia tak pernah mengeluh.

Tak pernah meminta lebih.

Tak pernah mempertanyakan.

Dan itu...

itu lebih menyakitkan daripada apa pun.

Aku berbalik untuk mengambil panci, tapi mataku kembali memanas.

Maka kutarik napas dalam-dalam.

Karena dia ada di sana.

Dan selama dia masih tersenyum seperti itu...

aku akan terus menemukan jalan.

Meski dengan sedikit.

Meski dengan rasa perih.

Meski segalanya runtuh di dalam diriku...

aku akan menjaga ini tetap tegak.

Demi dia.

Demi kita.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!