Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Mia berdiri mematung di ambang pintu rumah orang tuanya di Magelang, menyeret tas pakaiannya yang kumal dengan wajah yang sangat pucat.
Bapak, Ibu, dan Mbak Sari—kakaknya—yang sedang duduk di ruang tamu langsung menatap keberadaan Mia dengan dahi berkerut heran.
"Kamu kenapa? Kok pulang bawa tas begini? Mana Narendra?" tanya Ibu bertubi-tubi dengan nada cemas, sebab keluarga besar di Magelang memang belum tahu jika pernikahan Mia dan Naren sudah di ujung tanduk, apalagi soal perceraian mereka.
Mia menunduk dalam-dalam, tak sanggup menatap mata ketiga anggota keluarganya.
Dengan suara gemetar, ia akhirnya berucap, "Aku, sudah bercerai dengan Mas Narendra."
"APA?! APA ALASANNYA?! PASTI NARENDRA SELINGKUH!" teriak Ibu seketika berdiri dari kursinya, wajahnya memerah menahan amarah karena mengira menantunya yang kaya dan mapan itu telah menyakiti putrinya.
Mia menggelengkan kepalanya pelan, air matanya mulai menetes deras.
"Bukan karena Mas Narendra. Tapi aku yang berselingkuh dengan Gio, suami Tiyas."
"APA??" jerit Ibu dan Mbak Sari bersamaan, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja meluncur dari bibir Mia.
"Dek, kamu sudah gila?!" protes Sari dengan suara melengking, menatap adiknya dengan tatapan tidak percaya sekaligus murka.
"Tiyas itu saudara sepupu kita! Dia putri Pakde Joni! Kok bisa-bisanya kamu tega mengkhianati sepupu kamu sendiri dan merusak rumah tangga orang?!"
Rumah sederhana di Magelang itu seketika menjadi panas.
Ibu terduduk lemas di sofa, memegangi dadanya yang terasa sesak karena menanggung malu dan syok yang luar biasa.
Sementara itu, Pak Karno—ayah Mia—hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan raut wajah amat kecewa dan marah.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Mia, Pak Karno langsung mengambil ponselnya di atas meja dan mencari kontak Pakde Joni, kakak kandungnya.
Tangannya yang gemetar segera menekan tombol panggil untuk menghubungi kakaknya yang saat ini sedang berada di Yogyakarta.
Papa Joni, yang kebetulan sedang bersiap-siap untuk pulang ke Magelang, merogoh saku celananya dan mengangkat ponselnya.
Di kamar atas bersama istrinya, beliau menempelkan ponsel itu di telinga.
"Iya, Kar, ada apa?"
"Mas, maaf. Aku baru tahu tentang Mia dan Gio," ujar Pak Karno dari seberang telepon dengan suara bergetar menanggung malu.
Papa Joni menghela napas panjang. Amarah yang sempat membumbung kini berganti menjadi kelelahan mendalam atas kelakuan keponakannya itu.
"Nanti kita bahas kalau aku sudah pulang ke Magelang. Aku masih di Yogyakarta. Tiyas sakit," ucap Papa Joni tenang namun tegas, memberikan penekanan bahwa fokus utamanya saat ini adalah sang putri.
Tanpa menunggu balasan lebih lanjut dari adiknya, Papa Joni mematikan teleponnya.
Beliau memasukkan kembali ponsel ke dalam saku, lalu menatap istrinya yang sedang merapikan tas pakaian di atas tempat tidur.
"Ayo kita pamitan dulu sama Tiyas dan Narendra," ajak Papa Joni lembut.
Ibu menganggukkan kepalanya setuju, mengerti benar bahwa suaminya ingin menyelesaikan masalah keluarga ini dengan kepala dingin di Magelang nanti.
Kedua orang tua Tiyas melangkah keluar dari kamar samping, menyusuri lorong menuju kamar depan tempat Tiyas dan Narendra berada.
Langkah kaki mereka mantap, siap memberikan restu penuh sebelum kembali ke kampung halaman.
Tok, tok, tok!
Papa Joni mengetuk pintu kamar putrinya perlahan, lalu mendorong pintu hingga terbuka lebar.
Melihat kedua orang tuanya berdiri di ambang pintu lengkap dengan tas di tangan, Tiyas duduk di tempat tidur dengan kening berkerut heran.
"Lho, Bapak sama Ibu mau ke mana?"
"Nduk, Bapak sama Ibu mau pulang ke Magelang," ujar Papa Joni lembut seraya melangkah mendekat.
"Tadi Paklek mu Karno telepon tanya soal Mia dan Gio. Nanti malam Bapak mau rapat keluarga besar."
Tiyas terdiam sejenak, mengerti betul beban yang harus diselesaikan ayahnya di kampung halaman nanti.
"Perlu saya antar, Pak?" tanya Narendra sigap, siap menawarkan diri memegang kemudi jika calon mertuanya kelelahan.
"Tidak usah, Naren. Bapak naik mobil yang dibelikan Tiyas saja. Kamu di sini jaga Tiyas sampai sembuh," tolak Papa Joni dengan senyum hangat dan nada tegas penuh kepercayaaan.
Narendra menganggukkan kepalanya mengerti. Tanpa membuang waktu, Naren merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.
Jemarinya menari lincah di atas layar selama beberapa detik untuk melakukan transaksi kilat melalui aplikasi m-banking.
Ting! Notifikasi ponsel Papa Joni berbunyi nyaring.
"Pak, sudah saya transfer untuk beli oleh-oleh," ucap Naren sopan seraya tersenyum tipis.
Papa Joni merogoh saku kemejanya dan mengecek layar ponsel yang menyala.
Beliau membelalak kaget melihat nominal angka yang tertera di pesan masuk bank tersebut.
"Lho, apa ini, Naren?" tanya Ayah kebingungan, menatap Naren dan layar ponselnya bergantian.
"Ini, kok banyak banget cuma buat beli oleh-oleh?"
"Nggak apa-apa, Pak. Buat pegangan Bapak sama Ibu di jalan," sahut Naren tulus, menyunggingkan senyum hangat.
"Siapa tahu Bapak butuh mampir makan atau ada keperluan dadakan pas rapat keluarga nanti. Tolong diterima ya, Pak."
Papa Joni menghela napas panjang, menatap calon menantunya dengan rasa haru yang mendalam.
"Terima kasih banyak ya, Naren. Kamu ini selalu saja merepotkan diri."
"Naren nggak merasa direpotkan sama sekali, Pak," balas Naren mantap.
Ibu mendekat ke ranjang, memeluk Tiyas erat-erat lalu mengecup kening putrinya.
"Ibu sama Bapak jalan dulu ya, Nduk. Kamu nurut sama Naren, jangan makin keluyuran atau mikirin kerjaan dulu. Makan yang banyak biar cepat pulih."
"Iya, Bu. Hati-hati di jalan ya, Pak, Bu," tutur Tiyas lembut seraya menyalami tangan kedua orang tuanya bergantian.
Narendra ikut menyalami Pak Joni dan Ibu dengan penuh hormat, lalu mengantarkan mereka turun sampai ke depan pintu dan memastikan mobil yang dikendarai calon mertuanya itu melaju aman meninggalkan halaman rumah.
Setelah mobil Pak Joni menghilang di ujung gang, Naren kembali mengunci pintu depan dan melangkah naik ke lantai atas.
Begitu masuk ke kamar, ia mendapati Tiyas sedang menatapnya dengan pandangan menginterogasi namun penuh binar geli.
"Mas Naren transfer berapa ke Bapak?" bisik Tiyas sambil memicingkan mata.
Naren terkekeh pelan, melangkah santai menuju tempat tidur lalu duduk di samping Tiyas.
"Ada deh. Yang penting cukup buat Bapak borong oleh-oleh."
"Hiii, kebiasaan deh, suka berlebihan," sungut Tiyas berpura-pura kesal, tapi jemarinya bergerak menggenggam erat tangan Naren.
Naren menarik tubuh Tiyas perlahan ke dalam pelakannya, menyandarkan kepala wanita itu di dadanya.
"Bukan berlebihan, Sayang. Itu bakti aku sama orang tua kamu. Mulai sekarang, urusan kamu dan orang tua kamu itu udah jadi tanggung jawab aku juga."
Tiyas memejamkan mata, mengusapkan pipinya di dada bidang Naren yang hangat.
Di dalam hatinya, ia bersyukur luar biasa. Bayang-bayang masa lalu yang kelam bersama Gio perlahan terkikis habis, digantikan oleh rasa aman dan kasih sayang melimpah yang dibawa oleh Narendra.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘