Indonesia
NovelToon NovelToon
His Royal Vow

His Royal Vow

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Penyesalan Keluarga
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.

Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.

Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.

Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#29

Lonceng besar di menara tengah Istana Buckingham baru saja menggelegar satu kali, menandakan pukul satu dini hari. Keheningan malam yang pekat kembali merayap, menyelimuti lorong-lorong batu tua usai Perjamuan Diplomatik di Aula Kristal resmi berakhir.

Di dalam kamar utama sayap utara, Baxeena baru saja melepaskan gaun zamrudnya dan menggantinya dengan gaun tidur sutra tipis berwarna putih gading.

Rambut panjangnya yang semula ditata rapi kini terurai bebas di atas bahunya. Ia melangkah menuju meja rias untuk membersihkan sisa riasan di wajahnya, namun langkahnya terhenti saat ponsel pribadinya yang diletakkan di atas bantalan beludru bergetar nyaring.

Layar ponsel membiaskan nama yang seketika membuat sudut bibir Baxeena terangkat—Alistair.

Dengan gerakan cepat namun anggun, Baxeena menggeser tombol hijau dan menempelkan benda tipis itu ke telinganya.

"Alistair..." bisik Baxeena lembut, menyandarkan panggulnya pada tepi meja rias.

Dari seberang sambungan telepon—di dalam tenda komando taktis yang sepi di tengah hembusan angin gurun Timur Tengah—suara bariton Alistair mengalun rendah, dalam, dan dipenuhi getar kerinduan yang teramat berat.

"Amore..." panggil Alistair parau.

Suara napasnya yang berat dan memburu terdengar begitu jelas di telinga Baxeena, seakan pria tegap itu sedang berada tepat di belakangnya, membisikkan kata itu di ceruk lehernya. "Kau baru saja kembali dari perjamuan?"

"Emm... baru sepuluh menit yang lalu aku masuk ke kamar," jawab Baxeena, memejamkan mata sejenak untuk menikmati vokal suaminya yang selalu berhasil menenangkan jiwanya.

Di seberang sana, Alistair terdengar menghela napas panjang. Pria itu menyandarkan punggung tegapnya pada kursi lapangan, melonggarkan kancing teratas seragam militernya yang basah oleh keringat malam.

"Bagaimana proses perjamuan makan malam pertamamu tanpa aku, Sayang?" tanya Alistair, intonasi suaranya berubah penuh perhatian dan selidik. "Apa kau merasa sungkan? Atau ada orang-orang tua berdarah murni di sana yang mencoba membuatmu tidak nyaman?"

Baxeena terkekeh pelan—sebuah tawa halus yang mengalun manis di tengah keheningan kamar. "Tidak ada yang berani membuatku tidak nyaman, Alistair. Kau lupa siapa istri yang kau nikahi ini?"

"Tentu saja aku tidak lupa," sahut Alistair, dan Baxeena bisa membayangkan bagaimana bibir tegas suaminya itu kini sedang menyunggingkan senyum bangga. "Tapi aku tetap mengkhawatirkanmu, Xeena. Ini pertama kalinya kau menghadiri perjamuan resmi–tanpa ada aku yang menggenggam tanganmu di sana. Aku berharap kau perlahan bisa terbiasa dengan jamuan-jamuan kaku itu..."

"Aku mengatasinya dengan sangat baik, Pangeran," potong Baxeena manja, melangkah pelan menuju tempat tidur berkanopi megah dan merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang terhampar luas. "Aku hanya merindukanmu... itu saja yang membuat perjamuan tadi terasa sedikit membosankan."

Kata "merindukanmu" yang keluar dari bibir Baxeena seketika merubah atmosfer percakapan di antara mereka. Keheningan merayap sejenak melalui sambungan satelit, menyisakan deru napas Alistair yang mendadak memberat.

"Hanya merindukanku, hm?" gumam Alistair, suaranya kini meliuk lebih rendah, amat parau, dan dipenuhi nuansa intim yang menggoda. "Karena jujur saja, Baxeena... aku di sini sedang gila membayangkanmu. Aku sangat merindukan–bagian itu..."

Baxeena menyusupkan jemarinya ke bawah bantal, menggigit bibir bawahnya saat merasakan desiran hangat merayapi dadanya. Namun, ia memilih bermain-main.

"Bagian apa?" tanya Baxeena berpura-pura polos, suaranya sengaja dibuat sehalus mungkin.

Di seberang sana, Alistair terkekeh parau—sebuah tawa rendah yang terdengar amat berbahaya dan sensual.

"Kau tahu betul maksudku, Amore..." desis Alistair, suaranya bagai sentuhan fisik yang mengelus kulit Baxeena. "Aku merindukan bagaimana kau mendesah memanggil namaku di bawah tubuhku... Aku merindukan bagaimana ketat dan hangatnya kau saat aku bergerak di dalam dirimu. Demi Tuhan, Xeena... membayangkan tubuhmu malam ini membuat seluruh pikiranku berantakan."

Wajah Baxeena merona hebat. Desir hangat yang menjalar di perut bagian bawahnya membuat napasnya ikut memburu. Suami Pangerannya itu jika sudah menunjukkan sisi liarnya memang selalu sanggup meruntuhkan seluruh pertahanan dinginnya dalam hitungan detik.

"Alistair... kau sedang di markas militer," bisik Baxeena tertahan, mencoba mengingatkan walau suaranya sendiri sudah bergetar penuh gairah.

"Aku tidak peduli," pangkas Alistair cepat, suaranya makin serak dan posesif. "Di luar sana boleh saja ada helikopter dan tembakan, tapi di dalam kepalaku... hanya ada kau, Baxeena. Boleh bantu aku melepaskan rindu ini, Sayang? Biarkan aku mendengar suaramu..."

"Bagaimana caranya, Pangeran Mesum?" bisik Baxeena, memiringkan tubuhnya di atas sprei sutra, memeluk bantal yang biasanya dipakai Alistair untuk meresap aroma kayu cendana khas suaminya.

"Tutup matamu..." perintah Alistair dengan nada suara yang begitu lembut namun mengintimidasi, menguasai seluruh kesadaran Baxeena dari jarak ribuan mil. "Bayangkan aku sedang berada di atasmu saat ini, Xeena... Bayangkan tanganku yang besar sedang merayap naik, menyingkap gaun tidur sutramu..."

Baxeena memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menghembuskan napas halus saat imajinasi itu berputar sempurna di dalam benaknya.

"Alistair..."

"Ya, Sayang... bayangkan bibirku sedang merayap di lehermu," lanjut Alistair dengan bisikan yang amat dalam dan berat. "Aku menggigit kecil kulit halusmu di sana... lalu turun ke dadamu, menyapu puncak hangatmu dengan lidahku sampai kau meremas rambutku..."

"Ahh... Alistair..." desahan samar lolos begitu saja dari celah bibir Baxeena. Ia meremas sprei sutra di bawah tubuhnya, merasakan gelombang kehangatan yang meluap dari bayangan sentuhan suaminya.

"Mendesahlah lagi untukku, Amore..." pangkas Alistair memohon dengan suara yang kian parau dan memburu di seberang sana. "Sebut namaku lagi... Biarkan aku merasakan seolah-olah aku sedang memacumu malam ini. Kau milik siapa, Xeena? Katakan padaku..."

"Aku milikmu..." bisik Baxeena bergetar, napasnya naik turun terengah-engah di balik kegelapan kamar. "Aku hanya milikmu, Alistair... milik Pangeranku..."

"Gadis pintar..." desis Alistair, hembusan napasnya di telepon terdengar begitu berat dan nikmat, seakan pria itu sendiri sedang berjuang menahan gejolak gairah yang membakar fisiknya di tengah tenda militer. "Ingat rasa ini, Sayang. Ingat bagaimana tubuhmu selalu menyambutku. Enam bulan ini akan terasa sangat menyiksa, tapi saat aku pulang nanti... aku bersumpah tidak akan melepaskanmu dari tempat tidur itu selama berhari-hari."

Baxeena tersenyum pasrah di balik napasnya yang masih memburu. Kehangatan cinta dan gairah murni yang disalurkan Alistair melalui sambungan telepon itu berhasil menyapu bersih seluruh sisa racun dan kelelahan dari konfrontasi politiknya dengan sang Ratu tadi siang.

"Aku akan menunggumu, Alistair..." bisik Baxeena lembut, mengelus perut ratanya yang mungkin kini menyimpan benih dari pria yang sangat dicintainya itu. "Aku dan bayi kita... akan selalu menunggumu pulang."

Di seberang sana, gerakan Alistair mendadak hening sejenak. Sebuah hembusan napas penuh haru dan pemujaan murni terdengar mengalun dari sang Pangeran.

"Aku mencintaimu, Baxeena... Lebih dari hidupku sendiri," bisik Alistair amat tulus.

"Aku juga mencintaimu, Alistair. Tidurlah... dan kembalilah padaku dengan selamat," balas Baxeena lembut sebelum akhirnya sambungan telepon malam yang penuh kehangatan itu terputus dengan indah.

1
Mei TResna Rahmatika
nunggu kebenaran tentang violet terkuak
Mei TResna Rahmatika
landon junior high school apakah yg punya landon Desmon kakek nya baxeena ?
Rosdianah 🌷: Huhu author typo itu kak, London (ibu kota inggris) 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
bagussssss
Ainun Mahya
up lagi kakak😍😍😍😍
Mita Paramita
go baxenaa 🔥 tunjukan pesona mu bikin Mak Lampir kesel 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwkw🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
nenek sihir makin panas 🤣
Rosdianah 🌷: Hahah Desmon dilawan 🤭🤣
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
sudah kuduga violet bukan anak alistair
Mei TResna Rahmatika
wahh si lizbet belum tau ntar kalo aj sama braxley tau bisa hancur itu kerajaan 🤣
Mei TResna Rahmatika
🙏ohh ini Lizzie yg dulu di tolong aj ya pas penculikan 🤣
Rosdianah 🌷: Haha iya kaa🤣
total 1 replies
Forta Wahyuni
kau mengirim anak mu ke neraka Zephyr, sblm kau nikahkan knapa tdk cari tau maksud dan tujuan pernikahan itu. suami mu pengusaha sukses, jgn bodoh lah n kau punya koneksi. mudah2 an rahim xeena tdk kering n bisa mengandung.
Mita Paramita
mertua laknat 🤣🤣🤣
untung lawan nya xeena 😝
Rosdianah 🌷: wkwkw🤣
total 1 replies
Forta Wahyuni
jd gk seru, knapa gk dipisahkan aja seenaknya dgn Ali n krg suka klu lakiknya bekas jalang dan ibu mertua mendukung. knapa malah skrg ibunya menikahkan mreka, jls2 dia tau xeena anak mantanya dulu. lagian mommy Zephyr tega membuat anaknya mnikah dgn lelaki duda seperti tdk ada lg lelaki lbh dr Ali. kluarga pengusaha koq n bkn org biasa.
Rosdianah 🌷: Ada kebenaran setelah nya kak, selamat membaca y kaa🫶
total 1 replies
Asriani Rini
Kita liat nanti diapa yg akan menag ratuelizabet atau bezena
Asriani Rini
Prrsng ternuka di mulsi antara ratu lizabet dan bezena siapakah yg nanti menang
pika shu
lanjut thor
Rosdianah 🌷: sebentar ya kak🫶
total 1 replies
Asriani Rini
Demoga biolet bisa membedakan mama yg tulus dan mana yg jahat
Rosdianah 🌷: benar kaa
total 1 replies
nayla tsaqif
Tp ttp aja,, kamu punya ank dr jalang itu pak ali,, jadinya jijik liat kamu bekas jalang,, harusnya baxee janda dulu biar bekas orang jg,, biar impas😩
Rosdianah 🌷: nah iya lagi, harusnya dibikin janda dulu ya🤣🤣🤭
total 1 replies
Adiba Azahra
Haloooo kak izin mengikuti dan nyimak yaaa dari awal hahaha 🙏😁👍 semangat terus pokok nya 😍👍
Rosdianah 🌷: okay ka🫶
total 3 replies
Mia Camelia
ehmm rencana apa sih yg di bikin violet dan katrine 🤔🤔🤔
Mia Camelia
violet baru nonggol udah pingin jitak aja🤣🤣🤣🤣
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!