Indonesia
NovelToon NovelToon
Salman Prakarsa

Salman Prakarsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."

Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

takluknya bunga desa

Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh siang ketika Ningsih perlahan mulai membuka matanya. Sinar matahari yang menerobos masuk lewat celah gorden jendela kamar terasa begitu menyengat. Begitu kesadarannya terkumpul, Ningsih sedikit meringis mendapati kondisi tubuhnya yang berada di balik selimut tanpa sehelai benang pun.

Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Ningsih mencoba untuk bangkit dan berdiri dari ranjang. Namun, baru saja kakinya menapak lantai, ada rasa mengganjal dan kaku yang teramat sangat di tubuhnya. Ia mencoba memaksakan diri untuk melangkah, tetapi dari mulutnya justru terdengar desisan halus yang tertahan, tanda bahwa anggota tubuh bagian bawahnya masih merasa sangat perih akibat perlakuan brutal semalam.

Belum sempat Ningsih melangkah menuju kamar mandi, sebuah tangan kekar mendadak terulur dengan cepat. Joni kembali menarik tangan Ningsih dengan sentakan kuat, memaksanya kembali ke atas kasur.

"Mas... aku mau mandi dulu," ucap Ningsih lirih, suaranya terdengar sangat parau dan lelah.

Joni yang sudah terjaga sejak tadi hanya tersenyum miring, menatap istrinya dengan pandangan yang penuh kuasa.

"Airnya masih sangat dingin Sayang... Sini dulu,"

sahut Joni dengan nada manja yang terdengar mengerikan di telinga Ningsih.

Ningsih menatap suaminya dengan tatapan memelas. "Mas... apa tadi malam masih kurang?"

tanya Ningsih...

mencoba mengetuk sisi kemanusiaan Joni.

"Kalau enak, mana mungkin cukup,"

jawab Joni enteng disertai tawa kecil yang sinis.

"Mas... tapi ini masih perih banget,"

keluh Ningsih lagi dan dia jujur mengakui rasa sakit fisik yang sedang dideritanya.

Joni mengusap pipi Ningsih dengan kasar.

"Gak apa-apa, Sayangku... Nanti juga terbiasa kok."

Ningsih memejamkan mata rapat-rapat. Dadanya bergemuruh oleh rasa perih yang bercampur aduk dengan keputusasaan. Ia tahu betul, di dalam kamar yang kedap suara ini, menolak dengan cara apa pun tidak akan pernah bisa menyelamatkannya.

Joni memiliki kendali penuh atas dirinya.

Akhirnya, dengan berat hati dan air mata yang menggenang di sudut kelopak mata, Ningsih menyerah pada keadaan. Ia membiarkan dirinya kembali ditarik ke dalam pelukan Joni yang dingin.

"Mas... pelan aja ya? Jangan kayak tadi malam," bisik Ningsih penuh permohonan, mencoba bernegosiasi demi mengurangi rasa sakitnya.

Joni tertawa renyah, sebuah tawa kemenangan yang menggema di dalam kamar sunyi itu.

"Hahaha... kamu nikmati saja Sayangku,"

balas Joni tanpa memedulikan permohonan istrinya.

Ningsih hanya bisa menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang kembali kosong, membiarkan dirinya kembali ditelan oleh takdir kelam yang harus ia jalani.

Jika di sudut desa utara sana atmosfer sedang dipenuhi kemeriahan palsu dari kamar pengantin Ningsih dan Joni,

maka di sudut workshop kota besar ini, atmosfer seru yang nyata sedang melanda ketiga montirnya. Hari yang paling dinanti oleh setiap perantau

akhirnya tiba: hari gajian.

Salman berdiri di ambang pintu kantor administrasi setelah namanya dipanggil oleh Anita. Di tangannya, sebuah amplop cokelat tebal terasa mantap. Begitu melangkah agak jauh ke sudut mes dan membuka isinya untuk menghitung lembaran uang di dalamnya, mata Salman seketika membelalak kaget.

Angka totalnya menembus 6 juta rupiah. Dan itu adalah angka bersih yang sudah dipotong kasbon rokok beberapa hari lalu.

Salman menarik napas dalam-dalam, teringat pesan berbisik dari Anita saat menyerahkan amplop itu tadi di dalam ruangan: "Man, ini gaji kamu bulan ini. Sengaja saya kasih di atas standar karena hasil kerjaan sasis truk kemarin benar-benar memuaskan dan hemat material. Tapi tolong, sesuai kesepakatan, jangan sampai Jono atau Agus tahu nominal ini. Biar bengkel tetap kondusif."

Sebagai anak baru yang tahu cara menempatkan diri, Salman mematuhi protokol rahasia tersebut dengan ketat. Ia melipat amplopnya rapi-rapi ke dalam saku wearpack. Di area luar bengkel, Jono dan Agus tampak sedang bersorak gembira menghitung jatah mereka masing-masing yang berada di angka 4,5 juta rupiah, nominal standar mekanik yang belum dipotong oleh catatan kasbon bulanan mereka.

Salman berjalan mendekat, mencoba mencairkan suasana agar tidak terlihat kontras. "Eh, Jon," panggil Salman sambil menyulut sebatang rokok barunya. "Anak-anak perempuan di pabrik sebelah itu... apa ada sistem cutinya juga?"

Jono yang sedang asyik memasukkan lembaran uang ke dompetnya mendongak.

"Ada dong, Man. Jelas ada."

"Kapan biasanya?" tanya Salman lagi, menyelidik dengan nada santai.

"Paling sekitar tiga bulan sekali. Mereka dapat jatah cuti penuh selama satu minggu," jawab Jono dengan detail. Ia menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap Salman dengan senyum jenaka. "Lagian... tumben-tumbenan kamu nanyain itu?

Ngapain, Man?"

Agus yang duduk di sebelah Jono langsung ikut menyenggol lengan Salman sambil tertawa kecil. "Wah, kamu mau ngajak jalan ya, Man? Kena tipu nih kita kemarin, katanya pusing minum sesloki, tahunya langsung pasang strategi.

Salman terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya melihat pikiran mesum kedua rekannya. "Hehe... iya, rencananya kita jalan semua nanti biar ramai," jawab Salman, mencoba meluruskan niatnya yang murni ingin membalas budi atas kebaikan anak-anak mes kemarin.

"Ah... kirain ada satu nama yang khusus," goda Agus lagi, mencoba memancing jawaban tentang Siska.

"Hahaha, gak lah... semua kan teman di sini," sahut Salman taktis, menepis godaan itu dengan kepala dingin.

Jono menepuk pundak Salman dengan tulus. "Aku sih gak tahu ya gimana ke depannya, Man. Tapi lagian... kalau misal nanti di antara kalian ada yang sama-sama suka, aku sih sebagai teman bakal ngedukung penuh aja. Iya kan, Gus?"

"Pasti! Kuizinkan lahir batin!" timpal Agus bersemangat yang langsung disambut tawa renyah dari mereka bertiga.

Salman hanya tersenyum tipis, mengembuskan asap rokoknya ke udara bebas bengkel.

"Hahaha... jangan mikir kejauhan dulu lah," pungkas Salman menutup obrolan sore itu, memilih untuk tetap menyimpan fokusnya pada pekerjaan dan adaptasi hidup di kota besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!