Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Dimas yang gencar meyakinkan Tira membuat pertahanannya akhirnya rubuh. Saat itu Tira percaya. Ia percaya karena Dimas masih muda, tetapi berbicara tentang masa depan. Ia percaya karena Dimas tidak pernah mengatakan bahwa hubungan mereka hanya untuk bersenang-senang. Ia percaya karena ketika ditanya kapan menikah, Dimas selalu menjawab, “Kalau kita sudah lulus dan aku sudah punya pekerjaan, aku datang.” Jawaban itu terdengar sangat masuk akal ketika mereka masih berusia delapan belas tahun. Tidak mungkin seorang mahasiswa datang melamar dengan tangan kosong. Tidak mungkin mereka menikah sementara tugas kuliah masih menumpuk dan uang saku bahkan kadang habis sebelum akhir bulan.
Maka Tira menunggu. Mereka menjalani hubungan itu seperti pasangan muda pada umumnya. Ada tawa, ada pertengkaran, ada rasa cemburu, ada hari-hari ketika mereka saling diam, lalu kembali berbicara seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Dimas merasa semuanya baik-baik saja. Bahkan terlalu baik. Ia tidak sadar bahwa rasa nyaman bisa menjadi jebakan paling halus dalam sebuah hubungan. Setelah lulus, ia berkata belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Tira menunggu. Setelah mendapat pekerjaan, ia berkata ingin mengumpulkan uang terlebih dahulu. Tira menunggu. Ketika tabungannya mulai ada, ia berkata ingin membantu keluarganya lebih dulu. Tira kembali menunggu. Setiap alasan Dimas selalu terdengar masuk akal. Tidak ada yang benar-benar salah.
Itulah yang membuat semuanya semakin sulit. Kalau Dimas seorang lelaki jahat, mungkin Tira sudah pergi sejak lama. Kalau Dimas pernah menyakitinya dengan perempuan lain, mungkin Tira bisa membencinya. Tetapi Dimas tidak melakukan semua itu. Ia mencintai Tira. Ia setia. Ia selalu ada. Ia hanya tidak kunjung mengambil keputusan. Dan karena Tira mencintainya, perempuan itu terus memberikan kesempatan.
Satu tahun berubah menjadi dua tahun. Dua menjadi empat. Empat menjadi enam. Sampai akhirnya mereka mencapai tahun kedelapan. Dimas masih merasa mereka baik-baik saja. Baginya, Tira adalah perempuan yang akan selalu ada. Bukankah sejak kuliah ia sudah bersamanya? Bukankah mereka sudah melewati begitu banyak hal? Bukankah Tira selalu memaafkannya? Bukankah setiap kali Tira bertanya tentang pernikahan, Dimas selalu menjawab bahwa ia sedang berusaha? Ia tidak pernah menyangka bahwa kata “berusaha” suatu hari akan kehilangan makna bagi Tira.
Dimas membuka mata. Ia menatap kursi kosong di hadapannya. Tadi Tira duduk di sana. Delapan tahun lalu ia mengejar perempuan itu karena takut ada lelaki lain yang mendapatkannya. Lucunya, setelah berhasil mendapatkannya, Dimas justru terlalu yakin perempuan itu tidak akan pernah pergi. Ia pikir selama Tira mencintainya, ia masih punya waktu. Selama Tira masih menjawab teleponnya, ia masih punya waktu. Selama Tira masih mengatakan “aku sayang kamu”, ia masih punya waktu.
Ternyata waktu tidak pernah berjanji akan menunggu. Dimas meraih ponselnya. Jarum jam sudah hampir menunjukkan malam. Ia membuka ruang percakapan dengan Tira. Pesan terakhirnya masih ada di sana. Aku sudah memilih. Dimas membaca kalimat itu berkali-kali. Kemudian ia mengetik, “Tir, kamu serius?” Ia menghapusnya. Mengetik lagi, “Kita harus bicara.” Menghapusnya lagi. Sampai akhirnya ia hanya menatap layar kosong. Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, Dimas tidak tahu harus berkata apa kepada perempuan yang selama ini selalu ia anggap akan menjadi miliknya.
Lalu tiba-tiba sebuah pikiran muncul. Fahri. Dimas menggertakkan rahang. Pegawai BUMN. Dua puluh tujuh tahun. Datang membawa lamaran. Lelaki yang baru muncul ketika Dimas sudah delapan tahun berada dalam hidup Tira. Tidak adil. Sama sekali tidak adil. Dimas menggerutu. Ia berdiri dan meninggalkan kafe dengan satu keyakinan yang masih ia pertahankan erat-erat, Tira mungkin mengatakan akan menikah, tetapi pernikahan itu belum terjadi. Masih ada waktu satu bulan. Dan selama belum ada akad, Dimas masih bisa melakukan sesuatu. Ia tidak tahu apa. Tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa harus berlari. Sebab mungkin selama ini ia terlalu yakin bahwa Tira akan selalu menunggu. Dan mungkin, tanpa ia sadari, hari ini adalah pertama kalinya Tira berhenti menunggu.
***
Dua pekan sebelum Tira meletakkan undangan pernikahan di atas meja, sebenarnya ia sudah memberikan kesempatan terakhir kepada Dimas. Mereka duduk di dalam mobil Dimas yang terparkir di depan sebuah restoran setelah makan malam. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada suara meninggi. Tira justru berbicara dengan sangat tenang, dan ketenangan itulah yang seharusnya membuat Dimas waspada. “Mas,” katanya sambil memandang lampu jalan di luar jendela, “kita sudah delapan tahun.”
Dimas yang sedang memainkan ponselnya mengangguk. “Aku tahu.”
“Kamu masih mau sama aku?”
“Pertanyaan macam apa itu?” Dimas tersenyum. “Ya tentu.”
Tira ikut tersenyum, tetapi senyumnya tidak sampai ke mata. “Kalau begitu, kita mau dibawa ke mana?”
Dimas terdiam. Pertanyaan itu sederhana. Bahkan terlalu sederhana untuk sebuah hubungan yang telah berlangsung selama delapan tahun. Tira tidak meminta pesta besar. Tidak meminta rumah mewah. Tidak meminta Dimas membelikannya cincin berlian. Ia hanya ingin tahu tujuan hubungan mereka.
Delapan tahun sebelumnya, ketika mereka masih mahasiswa dan Dimas mengajaknya berpacaran, lelaki itu sendiri yang mengatakan bahwa suatu hari mereka akan menikah. Tira menerima hubungan itu karena percaya pada tujuan tersebut. Sekarang mereka sudah sama-sama lulus. Sama-sama memiliki pekerjaan. Penghasilan mereka cukup. Bahkan kalau mereka memutuskan menikah sederhana, sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak melakukannya.
Dimas juga bukan anak sulung yang harus menanggung seluruh keluarganya. Ayah dan ibunya masih bekerja. Adik-adiknya sudah mandiri. Tidak ada utang besar yang sedang ia lunasi. Tidak ada usaha keluarga yang harus ia selamatkan. Tidak ada penyakit orang tua yang membuatnya harus menghabiskan seluruh penghasilannya.
Tira mengetahui semua itu karena selama delapan tahun mereka saling berbagi cerita. Maka pertanyaan yang selama ini berputar di kepala Tira semakin sulit ia hindari, kalau bukan karena uang, bukan karena pekerjaan, bukan karena keluarga, lalu apa yang membuat Dimas belum juga menikahinya?
“Aku sedang mempersiapkan semuanya,” jawab Dimas akhirnya.
Tira menoleh. “Semuanya apa? Coba presentasikan padaku, siapa tau aku bisa bantu. Ah, enggak, aku akan bantu kamu."
Dimas menghela napas. “Ya banyak hal. Aku nggak bisa menjelaskan satu-persatu”
“Contohnya?”
Dimas terdiam lagi. Tira menunggu. “Aku ingin nanti kalau kita menikah, aku bisa memberikan kehidupan yang bagus buat kamu.”
Tira menatapnya beberapa detik. “Kehidupan yang bagus itu seperti apa? Gaji kita sudah sama-sama dua digit. Sudah lebih dari cukup.”
“Ya... rumah yang bagus. Tabungan cukup. Kendaraan. Semuanya.”
“Mas, kalau aku harus menunggu sampai semuanya sempurna, kita mungkin tidak akan menikah.”
Dimas mengernyit. “Kenapa kamu bicara seperti itu?”