Alex hanyalah karyawan biasa—bekerja keras, sering diinjak, dan tidak pernah dianggap. Sampai suatu malam, hidupnya hancur dalam sekejap oleh orang-orang yang seharusnya dia percaya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, Alex menemukan sesuatu yang mengubah segalanya: sebuah sistem misterius yang bisa mengabulkan permintaan apa pun.
Tidak ada batas kekayaan. Tidak ada batas kekuatan. Hanya satu syarat—dia harus terus menyelesaikan misi untuk mendapatkannya.
Namun kekuatan tanpa batas punya harga yang tidak terlihat. Perlahan, pria yang dulu selalu menunduk itu mulai berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak dia kenali sendiri.
Dan orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya akan segera tahu, bahwa yang mereka injak dulu... tidak akan pernah lagi bisa mereka injak sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Ruang rapat di lantai delapan dipenuhi tujuh oleh orang yang duduk mengelilingi meja kaca panjang, masing-masing membawa map berisi catatan yang mereka susun semalaman. Bima duduk di sisi kanan Alex, sementara di ujung meja, seorang perempuan berkacamata dengan rambut diikat rapi memperkenalkan diri sebagai kepala divisi riset dan pengembangan.
"Nama saya Reina," katanya singkat, meletakkan setumpuk kertas formula di depannya. "Sebelum kita bicara produk, saya perlu tahu dulu, Pak Alex, berapa lama waktu yang Bapak berikan untuk riset?"
"Tiga puluh hari," Alex menjawab tanpa ragu, jarinya mengetuk pelan permukaan meja kaca.
Suara helaan napas terdengar dari beberapa orang di ruangan itu. Reina meletakkan penanya, menatap Alex dengan alis terangkat.
"Tiga puluh hari, Pak? Untuk riset formula, uji stabilitas, sampai izin edar BPOM saja biasanya butuh waktu berbulan-bulan. Itu belum termasuk produksi massal dan distribusi."
"Aku tahu itu tidak masuk akal," Alex menjawab tenang, matanya menatap lurus ke arah Reina tanpa sedikit pun goyah. "Tapi kita akan melakukannya."
Salah satu pria di ujung meja, yang mengenakan kemeja lengan panjang digulung sampai siku, menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan ekspresi skeptis. "Maaf, Pak. Tapi ini bukan soal semangat saja. Ini soal regulasi. Kalau kita buru-buru, produk kita bisa ditarik dari pasaran, atau lebih buruk, perusahaan kena sanksi."
Ruangan hening sejenak. Beberapa kepala menoleh bergantian antara pria itu dan Alex, menunggu reaksi yang mungkin akan menentukan suasana kerja mereka ke depannya.
Alex tidak marah. Dia justru tersenyum tipis, bersandar ke kursinya sendiri dengan santai, seolah keberatan itu sudah dia duga sejak awal.
'Mereka belum tahu apa yang bisa kulakukan.'
"Aku mengerti kekhawatiran kalian," Alex berkata pelan, "dan aku menghargai kalian yang berani bicara jujur di rapat pertama ini. Tapi percayalah, urusan perizinan dan kecepatan proses, biar itu jadi tanggung jawabku sendiri. Tugas kalian cukup satu: buat formula terbaik yang bisa kalian buat."
Reina menatap Alex lama, mencoba mencari keraguan di balik kata-katanya, tapi tidak menemukan apa-apa selain ketenangan yang aneh untuk ukuran orang yang baru saja mendirikan perusahaan kemarin sore.
"Baik, Pak," Reina akhirnya mengangguk pelan. "Kalau begitu saya usulkan produk pertama kita serum wajah dengan bahan aktif yang sedang tren, tapi dengan harga jauh di bawah kompetitor. Target pasarnya anak muda yang selama ini merasa produk perawatan bagus itu mahal."
"Setuju," Alex menjawab cepat. "Buat formulanya sebaik mungkin. Soal bahan baku, kita sudah punya banyak."
Rapat berlanjut hampir dua jam, membahas kemasan, target harga jual, hingga strategi pemasaran awal. Alex lebih banyak mendengarkan, sesekali memberi arahan singkat, membiarkan timnya berdebat dan saling melempar ide tanpa dia potong.
Setelah rapat bubar, Bima masih tinggal di ruangan, merapikan beberapa dokumen sebelum akhirnya bertanya pelan.
"Pak Alex, boleh saya tanya sesuatu?"
"Silakan."
"Bapak yakin bisa urus izin edar secepat itu? Saya sudah kerja di industri ini cukup lama, dan itu bukan hal yang bisa diselesaikan cuma pakai koneksi biasa."
Alex menatap keluar jendela sejenak, memandangi gedung-gedung tinggi lain di kejauhan, salah satunya adalah kantor pusat Hartono Group yang menaranya menjulang paling tinggi di antara semuanya.
'Aku memang gak punya kartu ajaib lagi buat sekarang. Tapi bukan berarti aku gak punya cara lain.'
"Percaya saja, Bima," Alex menjawab akhirnya, senyumnya kembali muncul, kali ini lebih tenang dari sebelumnya. "Coba cari tahu dulu, apa ada jalan lain selain bikin pabrik sendiri dari nol. Kalau ketemu sesuatu, langsung laporkan ke aku."
Bima mengangguk, meski keraguan masih terlihat samar di wajahnya saat dia berjalan keluar ruangan.
Setelah Bima pergi, Alex berjalan menuju jendela besar di ujung ruang rapat, menatap keluar ke arah kota yang mulai ramai oleh lalu lintas siang hari. Dia teringat, dulu di kantor lamanya, dia bahkan tidak pernah punya hak untuk memutuskan sesuatu sekecil apa pun tanpa persetujuan atasan. Sekarang, keputusan sebesar mendirikan lini bisnis baru ada sepenuhnya di tangannya sendiri.
'Rasanya aneh,' batinnya, 'tapi aku suka.'
Dia duduk kembali di ruang rapat yang kini kosong, menatap panel yang mengambang tiba-tiba muncul di hadapannya, seolah sistem sudah menunggu momen yang tepat untuk menyapanya kembali.
[Misi "Langkah Pertama Menuju Puncak" sedang berjalan.]
[Waktu tersisa: 29 hari.]
Alex menatap angka itu, lalu bersandar ke kursinya dengan tangan terlipat di belakang kepala.
'Dua puluh sembilan hari. Cukup.'