Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29
****
Selama beberapa hari terakhir, benak Lyn dibelit oleh gelombang kecemasan yang seolah tak bertepi. Logikanya terus berputar mencari jalan keluar dari labirin dosa yang kian menyempit. Ia tahu betul posisinya sepenuhnya salah—menjadi wanita rahasia dari ayah sahabatnya sendiri adalah sebuah noda yang tak termaafkan. Namun, janin yang kini tumbuh di dalam rahimnya sama sekali tidak ternoda. Janin itu tidak berdosa.
Lyn tidak ingin membiarkan buah hatinya tumbuh di balik dinding kebohongan sangkar emas Wiliam, apalagi sampai meremukkan hati Clara yang begitu mengagumi sosok ayahnya. Lyn merasa memiliki tabungan yang cukup untuk hidup sederhana di kampung halaman almarhumah neneknya. Ia bertekad membesarkan anak ini seorang diri, jauh dari jangkauan dunia kekayaan yang mencekik.
Malam itu, di bawah curahan hujan deras yang mengguyur Jakarta tanpa ampun, Lyn membulatkan tekad. Dengan mantel tebal yang membalut tubuhnya yang kian ringkih dan satu koper kecil di tangan, Lyn melangkah terburu-buru menyusuri pelataran luar stasiun kereta api. Gemuruh petir menyambar di langit malam, beradu dengan deru air hujan yang menghantam lantai semen yang licin.
Napas Lyn memburu kencang. Setitik harapan mengembang di dadanya saat papan penunjuk arah menuju peron keberangkatan mulai terlihat di balik tirai hujan.
Namun, harapan itu hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan detik.
BZZT—!
Deretan sorot lampu tembak berwarna putih menyilaukan mendadak menyala serentak dari arah pelataran parkir peron. Tiga unit SUV hitam berukuran raksasa memotong jalan, mengurung langkah Lyn dari segala sisi. Suara derit rem yang tajam beradu dengan gemuruh hujan.
Pintu-pintu mobil tersebut terbuka serentak. Lebih dari delapan orang pengawal berseragam hitam dengan tubuh tegap melangkah keluar, membentuk barikade manusia yang rapat dan tak tertembus di sekeliling Lyn. Air hujan memantul di pundak kaku para pengawal yang berdiri bagaikan benteng besi.
Lyn menghentikan langkahnya seketika. Koper kecil di genggamannya perlahan meluncur jatuh menumbuk lantai basah. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena dinginnya guyuran air hujan yang membasahi gaun dan rambutnya, tetapi karena rasa putus asa yang seketika melumpuhkan seluruh persendiannya.
Pintu penumpang bagian belakang dari sedan mewah paling depan terbuka perlahan.
Sesosok pria tinggi tegap melangkah keluar. Sebuah payung hitam berukuran besar mengembang di atas kepalanya, dinaungi oleh seorang pengawal pribadi. Wiliam melangkah tenang membelah barikade pengawal. Jas tiga potong berwarna abu-abu gelap yang melekat di tubuhnya tampak tak tersentuh oleh cipratan air. Pria paruh baya itu berjalan dengan ketenangan yang luar biasa—sebuah ketenangan mematikan dari seorang penguasa yang tahu betul bahwa mangsanya tak akan pernah bisa lepas.
Sepatu kulit mewahnya berhenti tepat satu meter di hadapan Lyn. Mata sehitam jelaga milik Wiliam menatap lurus wajah Lyn yang basah kuyup dan pucat pasrah.
"Mau pergi ke mana, Little Lady?" suara berat Wiliam bergaung tenang, hampir tenggelam di antara deru hujan, namun memancarkan dominasi yang amat nyata.
Mata Lyn bergenang air mata yang seketika menyatu dengan sapuan air hujan di pipinya. Ia menatap Wiliam dengan pandangan hancur dan bibir yang gemetar menahan dingin.
"Lepaskan saya, Wiliam..." bisik Lyn dengan suara parau dan melengking pilu. "Biarkan saya pergi... Saya mohon, biarkan saya membesarkan anak ini sendirian... Saya punya uang, saya bisa hidup tanpa Anda!"
Wiliam tidak menunjukkan amarah sedikit pun. Wajah mewahnya tetap datar, namun pendar mata sehitam jelaga itu mengeras kaku oleh keposesifan yang tak tergoyahkan. Pria tua itu melangkah satu tapak lebih dekat, memajukan payung hitamnya untuk menaungi kepala Lyn dari gempuran air hujan.
"Kamu pikir kamu bisa lari dariku hanya karena kamu punya sedikit uang di tabunganmu, Lyn?" bisik Wiliam serak, nada suaranya bergetar oleh ketegasan yang mutlak. "Seluruh jaringan transportasi di kota ini, seluruh tiket yang dipesan atas namamu, bahkan setiap jengkal tanah yang ingin kamu pijaki... berada di dalam jangkauan kekuasaanku."
Lyn menggelengkan kepalanya kuat-kuat, histeris menahan sesak di dadanya. "Anda gila, Wiliam! Ini anak saya! Saya tidak mau anak saya hidup di tengah kebohongan ini! Bagaimana dengan Clara?! Bagaimana jika Clara tahu ayahnya menahan sahabatnya sendiri dalam sangkar seperti ini?!"
"Clara adalah urusanku," potong Wiliam tanpa jeda. Tangannya yang besar dan hangat terulur dari balik lengan jasnya, meraih jemari Lyn yang membeku dingin. "Tapi kamu... dan anak di dalam rahimmu itu... adalah hidupku. Aku tidak akan pernah mengizinkanmu melangkah satu meter pun menjauh dariku."
"Saya benci Anda, Wiliam... Saya benci—"
Kalimat jeritan Lyn terputus seketika. Rasa pening yang luar biasa dahsyat mendadak menyerang kepalanya bagaikan dihantam beban berat. Hawa dingin dari air hujan yang meresap ke dalam tulang beradu dengan kelelahan fisik serta trauma emosional yang memuncak, membuat kesadarannya meloloskan diri secara drastis.
Pandangan mata Lyn mengabur. Pemandangan stasiun, barikade pengawal hitam, dan wajah tampan Wiliam mendadak berputar hebat sebelum akhirnya menjadi gelap gulita.
BRUK.
Tubuh ramping Lyn yang basah kuyup seketika ambruk, kehilangan seluruh tumpuannya.
Namun sebelum tubuh lembut itu menyentuh lantai pelataran yang basah dan dingin, lengan kokoh Wiliam bergerak dengan refleks yang amat cepat. Pria berkuasa itu menangkap tubuh Lyn, menariknya rapat ke dalam dekapan dada bidangnya yang hangat.
Payung hitam yang menaungi mereka terlepas ke tanah. Wiliam tidak peduli lagi pada guyuran hujan deras yang mulai membasahi jas mewahnya. Pria tua yang biasanya tak pernah menunjukkan kepanikan itu kini memeluk erat tubuh Lyn yang pingsan tak berdaya dalam kurungan lengannya.
"Evelyn..." bisik Wiliam parau, merapatkan tubuh wanitanya ke dadanya. Tangannya yang besar mengusap lembut wajah pucat Lyn yang terpejam pasrah.
Wiliam menyusupkan tangan kirinya ke bawah lipatan lutut Lyn, membopong tubuh ringan gadis itu ke dalam gendongannya secara anggun dan posesif. Pria paruh baya itu memutar tubuhnya, melangkah tegas menuju pintu mobil mewah yang telah dibukakan oleh pengawal pribadi dengan sikap menunduk khidmat.
"Siapkan tim medis terbaik sekarang juga," perintah Wiliam dingin dan tajam kepada pengawal senior di sampingnya sebelum melangkah masuk ke kabin mobil. "Jika sampai terjadi sesuatu pada wanitaku atau anakku... kalian semua yang akan membayar harganya."
"Baik, Tuan Besar!" sahut para pengawal serentak.
Pintu mobil sedan mewah itu dibanting tertutup rapat, mengisolasi gemuruh hujan di luar. Di dalam kabin yang hangat beraroma sandalwood, Wiliam mendudukkan Lyn di pangkuannya, merengkuh tubuh basah gadis itu rapat-rahat ke dalam pelukannya. Pria tua itu menyapukan jemarinya di sela-sela rambut lepek Lyn, menatap paras ayu yang kini terkulai pasrah tanpa perlawanan.
Di bawah naungan sang tuan yang tak pernah melepaskannya, Lyn telah kembali terkunci rapat dalam sangkar emasnya—sebuah takdir kelam nan indah yang tak akan pernah bisa ia tinggalkan.
Bersambung....
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻