Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Pagi yang dingin baru saja merayap di atas Puri Moretti ketika sirine pengawalan yang asing bergaung nyaring dari kejauhan. Bukan sirine milik unit Bravos atau armada lapis baja Gabriel, melainkan raungan sirine bergaya klasik dengan iring-iringan tiga belas mobil Rolls-Royce hitam bernomor plat khusus dinasti lama.
Di dalam kamar utama, Gabriel yang baru selesai membersihkan sisa-sisa amis darah pembantaian malam tadi seketika membeku. Pria itu berdiri di depan cermin raksasa seraya memasang kancing kemejanya saat Marco menerobos masuk tanpa mengetuk pintu sebuah pelanggaran batas yang menandakan tingkat darurat tertinggi.
"Tuan..." suara Marco bergetar hebat, raut wajahnya pucat pasi. "Nyonya Besar... Ibu Anda telah mendarat di helipad pribadi dan armada pengawalnya sudah memasuki gerbang utama."
Jemari Gabriel yang sedang mengancingkan kemejanya terhenti.
Manik mata hitam sang Don memicing tajam. Sebuah guncangan emosi yang teramat jarang terlihat dari pria itu kini merayap di garis rahangnya yang mengeras.
Nyonya Eleanor Moretti.
Ibu kandung Gabriel, wanita bertangan besi yang membantai faksi saingan saat suaminya tewas puluhan tahun lalu. Eleanor bukan sekadar seorang ibu; wanita tua itu adalah legenda berdarah yang membesarkan Gabriel dengan doktrin dingin tanpa cela. Bagi Eleanor, emosi adalah racun, dan wanita di dalam kehidupan seorang penguasa hanyalah alat politik atau pemuas nafsu sementara yang bisa dibuang kapan saja.
Beberapa hari terakhir, desas-desus mengenai Gabriel yang menelantarkan tugas dinasti demi bergelayut manja dengan seorang selir, membelikan perhiasan museum, hingga secara terang-terangan ingin menanamkan benih pewaris di rahim gadis itu, ternyata telah sampai ke telinga sang Ratu Tua di markas utama Eropa.
"Siapa yang memberi tahu ibu?" bisik Gabriel dengan suara berbariton rendah yang begitu mematikan.
"Dewan tetua yang tersisa, Tuan. Mereka merasa posisi Anda mulai goyah akibat Nona Aurora," jawab Marco dengan kepala tertunduk dalam.
Gabriel mengepalkan tangannya rapat-rapat. Pria itu tahu betul cara kerja ibunya. Jika Eleanor mengetahui bahwa anaknya yang agung telah tunduk dan bertekuk lutut oleh cinta pada seorang selir, maka Eleanor tidak akan berniat menasihati Gabriel wanita tua itu akan langsung mengeksekusi Aurora di tempat untuk mencabut 'kelemahan' anaknya sampai ke akar-akarnya.
Bagi Eleanor, memusnahkan sumber kelemahan sang Don adalah cara tercepat untuk mengembalikan sang raja ke tahtanya yang berdarah.
Rasa takut yang tak pernah Gabriel rasakan seumur hidupnya kini menghantam dadanya dengan dahsyat bukan rasa takut akan kematian dirinya sendiri, melainkan rasa takut kehilangan Aurora.
"Marco," panggil Gabriel dengan nada suara yang bergetar oleh kepanikan yang disembunyikan rapat. "Bawa Aurora sekarang juga."
"Ke mana, Tuan?"
"Ke ruang rahasia bawah tanah," tegas Gabriel mutlak. "Buka kubah baja Sanktuarium. Jangan biarkan satu orang pun pengawal ibu melihat wajahnya atau tahu keberadaannya di puri ini. Jika ibuku sampai menyentuh sehelai rambutnya... aku sendiri yang akan membumihanguskan puri ini."
---
Di dalam kamar, Aurora yang baru saja mengikat rambutnya terkejut saat pintu kamar terbanting terbuka. Gabriel melangkah masuk dengan terburu-buru. Wajah pria yang baru saja memusnahkan puluhan musuh kemarin malam itu kini memancarkan kecemasan murni.
Tanpa menjelaskan apa-apa, Gabriel langsung menerjang mendekat, meraih pergelangan tangan Aurora dan menariknya berdiri.
"Gabriel? Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Aurora bingung, jantungnya berdegup kencang melihat ekspresi Gabriel yang tak biasa.
"Ikut aku. Sekarang!" tegas Gabriel seraya merengkuh tubuh Aurora dan membawanya setengah berlari menyusuri koridor rahasia di balik lemari buku raksasa kamar utama.
Mereka menunruni puluhan anak tangga batu melingkar yang curam dan dingin, menerobos lorong-lorong gelap di bawah fondasi puri yang tak pernah tersentuh cahaya matahari. Aurora meringis pelan mencoba mengimbangi langkah lebar Gabriel. Ini adalah jalur bawah tanah yang tak ada di dalam peta pelarian yang sempat digambarkannya di dalam kepala.
Di ujung lorong batu, berdiri sebuah pintu baja hitam tebal bernomor sandi digital khusus yang hanya diketahui oleh Gabriel sendiri. Pria itu menempelkan retina matanya ke pemindai optic, disusul oleh pemindaian sidik jari dan kode angka dua puluh digit.
BZZZZT... CKLAK!
Pintu baja raksasa itu terbuka dengan dentuman berat, memperlihatkan sebuah ruang perlindungan super megah dan kedap suara (Sanktuarium*l) yang dilengkapi dengan layar pemantau CCTV, tempat tidur sutra, pasokan oksigen independen, dan fasilitas mewah tersembunyi.
Gabriel mendorong Aurora masuk ke dalam ruangan itu secara perlahan.
"Gabriel, katakan padaku apa yang sedang terjadi!" bentak Aurora pelan, menahan lengan tegap pria itu saat Gabriel hendak berbalik.
Gabriel menatap Aurora dengan pandangan yang teramat pekat. Pria itu membingkai wajah Aurora dengan kedua tangannya yang besar dan hangat, menekan dahinya rapat-rapat ke dahi Aurora seraya menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu.
"Ibuku ada di sini, Cara mia" bisik Gabriel serak, suaranya dipenuhi oleh perlindungan yang teramat posesif dan intens. "Eleanor Moretti baru saja mendarat di puri ini."
Mendengar nama itu, tubuh Aurora seketika menegang. Nama Eleanor Moretti adalah legenda kekejaman dunia bawah yang tak kalah mengerikan dari Gabriel. Wanita tua itu dikenal tak memiliki belas kasihan pada siapa pun yang dianggap mengancam eksistensi keluarganya.
"Dia datang untuk membunuhmu, Aurora," lanjut Gabriel jujur, tanpa menutupi bahaya yang mengintai. "Dia mendapat laporan bahwa aku mencintaimu... bahwa aku menginginkan anak darimu. Bagi ibuku, kau adalah racun yang membuatku lemah."
Dada Aurora berdesir hebat. Kata-kata Gabriel barusan seperti pukulan telak yang menghantam kesadarannya. Gabriel menyembunyikannya di dalam ruang bawah tanah teraman ini bukan untuk mengurungnya sebagai tahanan, melainkan untuk melindunginya dari eksekusi mati ibunya sendiri.
Pria ini rela mempertaruhkan hubungannya dengan sang ibu legenda dinasti Moretti demi menyelamatkan nyawa seorang selir yang sebenarnya sedang merencanakan pengkhianatan padanya.
"Tetaplah di sini," perintah Gabriel mutlak, jemarinya mengelus lembut pipi Aurora sebelum turun menyusuri leher dan bertengger sejenak di perut rata wanita itu dengan elusan hangat yang sarat akan proteksi. "Jangan pernah menyentuh pintu ini dari dalam. Apapun suara yang kau dengar di luar, jangan pernah keluar sampai aku sendiri yang datang membukanya."
"Gabriel..." bisik Aurora, matanya menatap raut wajah pria itu yang penuh oleh rasa cemas dan ketegangan.
"Aku akan membereskan ibuku," ujar Gabriel dingin, namun matanya memancarkan kepasrahan cinta yang begitu dalam. "Tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh milikku... bahkan wanita yang melahirkanku sekalipun."
Gabriel membungkuk, melumat bibir Aurora dalam sebuah ciuman singkat namun teramat dalam dan possesif. Setelah itu, dengan berat hati pria itu menarik dirinya mundur, melangkah keluar dari ruangan baja tersebut.
CKLAK! BZZZZT!
Pintu baja raksasa itu tertutup rapat, menyisakan suara penguncian mekanis yang mengisolasi Aurora di dalam ruang rahasia bawah tanah.
---
Di dalam ruangan kedap suara yang diterangi oleh lampu temaram tersebut, Aurora berdiri membeku di tengah ruangan.
Ia sendirian di dalam kegelapan bawah tanah. Di hadapannya, deretan layar monitor CCTV raksasa di dinding menyala secara otomatis, menampilkan sudut-sudut utama Puri Moretti yang kini telah dikuasai oleh puluhan pengawal pribadi berjas hitam dengan pin dinasti lama milik Eleanor.
Melalui salah satu layar CCTV utama yang mengarah ke aula besar puri, Aurora menyaksikan pemandangan yang menggetarkan dada.
Seorang wanita tua bertubuh tegak dengan gaun hitam elegan dan perhiasan mutiara langka melangkah masuk ke dalam aula. Wajah Eleanor Moretti begitu dingin, keriput di wajahnya tidak mengurangi sedikit pun aura pembantai yang memancar dari matanya yang setajam elang. Di sampingnya, belasan pengawal elit bersenjata laras panjang berdiri dalam formasi tempur.
Dari sudut tangga, Gabriel melangkah turun secara perlahan. Sang Don telah mengenakan jas hitam mewahnya kembali, memasang raut wajah yang sepenuhnya dingin, kaku, dan tanpa emosi—topeng kejam yang biasa ia tunjukkan pada dunia luar.
Ibu dan anak itu kini berdiri berhadapan di tengah aula batu puri yang dingin.
Melalui layar CCTV tanpa suara di dalam ruang rahasia, Aurora bisa melihat ketegangan yang membakar atmosfer di atas sana. Eleanor menatap anaknya dengan pandangan menghakimi yang teramat tajam, sementara Gabriel berdiri kaku dengan dada terangkat, menatap sang ibu tanpa sedikit pun rasa gentar atau niat untuk tunduk.
Aurora menyandarkan punggungnya di dinding baja ruang rahasia, memandangi layar monitor dengan napas terengah pelan. Tangannya tanpa sadar terangkat, mengelus perut ratanya—bekas sentuhan jemari Gabriel yang baru saja meninggalkannya beberapa menit lalu.
Guncangan emosi yang luar biasa berkecamuk hebat di dalam batin Aurora.
Pria yang dianggapnya sebagai iblis pembantai, pria yang telah meremukkan hidupnya dan mengurungnya di sangkar emas ini... kini sedang berdiri sebagai perisai tunggal di antara dirinya dan kematian yang dibawa oleh ibunya sendiri. Gabriel rela menjadi anak durhaka, menyembunyikannya di dalam tanah rahasia ini, murni agar Aurora tetap bernapas.
“Mengapa kau melakukan ini, Gabriel?”* jerit Aurora di dalam hatinya yang paling dalam, matanya menatap bayangan Gabriel di layar monitor. “Mengapa kau harus mencintaiku sejauh ini? Mengapa kau membuat rencana pelarianku terasa begitu kejam untuk dieksekusi?”
Di balik pintu baja yang terkunci rapat di bawah tanah, sang selir terduduk dalam keheningan yang menyiksa, menyaksikan pertarungan ego dan kekuasaan antara sang Don dan ibunya demi melindungi sebuah rahim yang sebenarnya bercita-cita untuk melangkah pergi.