Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PULANG KAMPUNG
Tiga hari setelah pulang paksa dari RS, Alya bilang mau pulang kampung. Bukan rumah mereka di Makassar yang ada taman bunga kuning layu, tapi rumah Pak Pramono dan Bu Ratna di desa, 4 jam dari Makassar.
"Ngapain ke kampung, Nak? Di Makassar dekat RS," kata Bu Ratna.
"Di kampung udaranya bagus, Bu. Nggak ada bau obat," jawab Alya.
Arga tau, Alya mau pulang kampung karena tau di Makassar setiap hari alarm RS, bau infus, dan hitungan uang transplant masih ada di kepala Arga.
Mereka berangkat pagi jam 6 pakai mobil. Alya di belakang, tiduran, pakai bantal, pakai masker. Trombositnya terakhir 24 ribu kemarin, sudah transfusi lagi sebelum pulang, naik jadi 38 ribu, tapi dokter bilang itu hanya bertahan 2 hari.
Di perjalanan 4 jam, Alya muntah 2 kali karena efek obat. Bukan mabuk mobil.
Sampai kampung jam 10 siang. Rumah panggung kayu, halaman luas, ada pohon mangga besar yang dulu Alya panjat waktu SD. Tidak ada taman bunga kuning, hanya ada kebun pisang.
Tetangga datang, lihat Alya kurus, pakai masker, duduk di kursi roda. Mereka bisik-bisik: "Sakit apa, Ratna? Kok kurus sekali."
Bu Ratna jawab: "Sakit darah."
Di kampung, tidak ada alarm jam 5.30 siram bunga. Adanya azan subuh, ayam berkokok, dan suara panci Mbok Sari versi kampung: Mbok Yah.
Malam pertama di kampung, Alya tidur di kamar masa kecilnya. Dindingnya masih ada stiker bintang-bintang yang ia tempel waktu SMP. Buku biru muda ikut dibawa.
Arga gelar kasur di lantai, samping ranjang Alya. Tidak ada laptop WFH lagi. Arga sudah resign total minggu lalu, bukan pindah cabang, tapi resign beneran, karena habis uang dan habis cuti.
"Mas, kerjaan gimana?" tanya Alya jam 10 malam.
"Udah resign, Al. Nggak apa-apa."
"Terus uang?"
"Ada tabungan 2 bulan. Cukup."
Alya diam. Ia tau tabungan 2 bulan itu bohong. Uang 80 juta pinjaman untuk cari donor sudah habis untuk pencarian yang gagal.
Hari kedua di kampung, Alya mimisan. Pagi jam 7, darah keluar dari hidung kanan, tidak berhenti 20 menit. Bu Ratna panik, ambil es batu, tekan hidung.
Darah berhenti setelah 30 menit, dengan tisu penuh darah.
"Al, ke puskesmas ya?" kata Arga.
"Nggak usah, Mas. Di puskesmas juga cuma kasih kapas. Trombositku 24 ribu, kapas nggak ngaruh."
Itu kalimat paling jujur dari Alya selama sakit.
Siang, Pak Pramono potong ayam kampung, masak sop bening, bukan sop saring RS. Alya makan 4 suap, muntah lagi.
Sore, Alya minta keluar, duduk di bawah pohon mangga. Arga bawa kursi roda ke bawah pohon.
"Aku dulu sering di sini, Mas, waktu SD, nunggu Bapak pulang dari sawah," kata Alya, suara pelan karena Hb 7,9.
Arga duduk di akar pohon, dengar.
"Dulu aku cita-cita jadi guru, udah kesampean. Cita-cita punya rumah dengan taman bunga kuning, udah kesampean juga, meski layu. Cita-cita punya anak..." Alya berhenti.
Arga lihat Alya, tau lanjutan kalimatnya: dengan aplastik anemia, dokter bilang jangan hamil dulu, trombosit rendah bisa perdarahan saat hamil.
"Cita-cita punya anak belum kesampean ya, Mas?" tanya Alya, dengan senyum yang dipaksa.
Arga tidak jawab. Ia lihat daun mangga jatuh.
Malam ketiga, Alya demam lagi. 39,1. Leukositnya pasti di bawah 1,0 sekarang. Tidak ada lab di kampung untuk cek.
Bu Ratna kompres dengan air hangat, bukan alkohol. Pak Pramono baca doa di samping ranjang.
Arga telpon dokter hematologi di Makassar jam 11 malam.
"Dok, istri saya demam 39,1 di kampung, mimisan pagi tadi, trombosit terakhir 24 ribu."
"Pak Arga, bawa balik ke Makassar sekarang. Itu butuh transfusi dan antibiotik IV. Kalau di kampung, bisa sepsis."
"Kalau dibawa balik, ada donor, Dok?"
Dokter diam. "Tidak ada, Pak. Tapi kita bisa tahan dengan transfusi."
"Tahan sampai kapan, Dok?" tanya Arga, suara pecah.
Dokter tidak jawab.
Alya yang dengar dari ranjang, panggil Arga.
"Mas, matiin telponnya."
Arga matiin.
"Mas sini," panggil Alya.
Arga duduk di tepi ranjang.
"Mas masih inget janji taman bunga kuning di Bab 24?" tanya Alya, dengan demam 39,1.
"Inget."
"Waktu itu Mas bilang sampai 48 ribu jadi 150 ribu. Sekarang 24 ribu lagi. Janjinya selesai ya?"
Arga geleng kencang. "Nggak selesai. Sampai penuh."
"Mas, pabrikku nggak bisa penuh lagi. Donor nggak ada. Aku capek."
Itu malam pertama Alya bilang pabriknya tidak bisa penuh lagi, bukan karena sedih, tapi karena menerima.
Alya buka buku biru muda, tulis dengan tangan gemetar karena demam:
Hari ini di kampung, di bawah pohon mangga. Mimisan 30 menit.
Mas Arga udah resign. Uang tinggal 2 bulan.
Aku nggak mau balik ke Makassar. Aku mau di sini.
Kalau 28 ribu dulu aku masih mau berjuang, sekarang 24 ribu aku mau istirahat.
Bunga kuning di Makassar biar layu aja, nggak apa-apa.
Arga baca tulisan itu, lalu untuk pertama kalinya selama 28 bab, Arga tidak tulis balasan di bawahnya. Ia hanya peluk Alya dari samping, dengan Alya yang demam 39,1.
Di luar, ayam berkokok jam 3 pagi, bukan alarm siram bunga jam 5.30. Alarm itu sudah dimatikan sejak Bab 27.
Dan di Makassar, 4 jam dari kampung, 5 kuntum bunga kuning sisa di belakang rumah layu total karena tidak ada yang siram 3 hari.