Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

04. Sudah Waktunya Menghilang

Raina membeku ketika ingatan tentang beberapa jam terakhir berhamburan kembali ke kepalanya. Malam yang seharusnya menjadi malam terakhir mereka sebagai sepasang suami istri. Malam yang seharusnya hanya menjadi akhir dari sebuah pernikahan yang sudah lama kehilangan maknanya. Namun, justru menjadi sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.

Pipi Raina terasa panas. "Astaga... aku benar-benar gila. Gila… gila!"

Ia segera menutup wajah dengan kedua tangannya. Ide gila itu… benar-benar ide paling bodoh yang pernah muncul dalam hidupnya. Kemarin malam, dalam keadaan emosi yang kacau, ia berpikir bahwa mungkin satu malam saja bersama Sion akan membuat perpisahan mereka terasa lebih mudah. Ia mengira dirinya bisa menganggap malam itu sebagai kenangan terakhir sebelum mereka benar-benar menjadi dua orang asing.

Ternyata ia salah… sangat salah. Raina menurunkan tangannya dan melirik Sion sekali lagi. Pria itu bahkan tidak tahu bahwa perempuan di sampingnya sedang hampir mati karena malu.

"Kenapa aku melakukan itu..." bisiknya. “Kenapa ide gila ini muncul saat aku sudah bercerai? Kenapa tidak dari awal saja aku melakukannya? Sial, dia benar-benar pria perkasa.”

Ia terus mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Dari semua hal yang bisa dilakukan sebelum meninggalkan rumah ini, mengapa justru itu? Bukankah mereka sudah sepakat? Perceraian mereka telah resmi.

Pagi ini, Raina harus pergi. Tidak ada lagi alasan untuk tinggal. Tidak ada lagi status sebagai istri Sion. Tidak ada lagi kewajiban untuk berbagi rumah, kamar, atau kehidupan dengan pria itu.

“Sudahlah, lebih baik aku kabur dulu dari sini sebelum pria Es ini bangun dan membalas dendam semalam,” ujar Raina.

Malam tadi seharusnya menjadi penutup. Dan Raina bertekad menjadikannya benar-benar penutup. Ia menyingkirkan selimut dengan hati-hati, lalu turun dari ranjang. Kakinya hampir kehilangan keseimbangan ketika menyentuh lantai.

Raina lalu meringis. "Ya ampun... semalam dia beringas sekali. Sepertinya dia sudah sangat menahannya selama tiga tahun ini."

Ia menahan napas, takut suara sekecil apa pun membangunkan Sion. Namun pria itu hanya bergeser sedikit dalam tidurnya. Raina langsung mengambil pakaian yang tergeletak di dekat ranjang. Dengan gerakan terburu-buru, ia merapikan dirinya lalu mengambil semua barang miliknya dari ruangan tersebut.

“Ya… sekarang sudah waktunya untukku menghilang,” lirihnya.

Ia tidak berani menoleh lagi. Jika menoleh, ia takut keberaniannya akan runtuh. Pintu kamar dibuka perlahan. Sebelum keluar, Raina sempat berhenti.

Tangannya masih menggenggam gagang pintu. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan kepada pria yang tertidur di belakangnya. Tentang penyesalan. Tentang perasaan yang seharusnya sudah ia kubur. Tentang malam tadi yang seharusnya tidak pernah terjadi. Namun, pada akhirnya, tidak satu pun kata keluar dari bibirnya.

"Selamat tinggal, Sion." Bisikan itu begitu lirih hingga bahkan dirinya sendiri hampir tidak mendengarnya.

Raina menutup pintu. Begitu berada di luar kamar, ia mengembuskan napas panjang. Tidak boleh menangis, tidak boleh menyesal. Bukankah ini yang ia inginkan? Ia menyeret koper menuju kamarnya sendiri dan mulai memasukkan pakaian, dokumen, serta barang-barang pribadi ke dalam tas. Tangannya bergerak cepat, hampir seperti sedang berlomba dengan waktu.

Semakin cepat ia pergi, semakin baik. Sebelum Sion terbangun, sebelum pria itu mengatakan sesuatu yang membuatnya berubah pikiran atau bahkan balas dendam. Dan sebelum hatinya kembali melakukan kebodohan yang sama.

Pagi itu, Raina meninggalkan rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat tinggalnya. Bukan lagi sebagai istri. Bukan pula sebagai seseorang yang menunggu Sion mencintainya. Melainkan sebagai seorang perempuan yang akhirnya harus belajar hidup tanpa pria itu. Ia menggenggam koper lebih erat. Perceraian mereka telah resmi. Dan kali ini, Raina tahu, tidak ada jalan untuk kembali.

...****************...

Sion terbangun ketika cahaya pagi mulai menyusup melalui celah tirai. Kepalanya terasa berat. Untuk beberapa saat, ia hanya berbaring tanpa bergerak. Ingatannya perlahan kembali, satu demi satu, hingga kejadian semalam membuat tatapannya berubah.

“Raina!”

Sion menoleh ke samping. Kosong… tangannya secara refleks meraba seprai yang sudah dingin. Tidak ada siapa-siapa. Alisnya berkerut, lantas Ia bangkit dan menyapu pandangan ke seluruh kamar. Pakaian Raina yang semalam masih tergeletak di beberapa tempat juga telah menghilang.

Sion terdiam hingga kemudian pandangannya jatuh pada pintu kamar yang sedikit terbuka.

"Raina?" Tidak ada jawaban.

Ia segera turun dari ranjang. Langkahnya cepat ketika membuka pintu kamar mandi, tapi kosong. Ia juga memeriksa ruang ganti, hasilnya tetap kosong. Sion berjalan keluar kamar dengan rahang mengeras. Seorang pelayan yang kebetulan melintas langsung menundukkan kepala ketika melihat ekspresi majikannya.

"Di mana Raina?"

Pelayan itu tampak terkejut. "Nyonya Raina sudah pergi sejak pagi, Tuan."

Sion berhenti. "Pergi?"

"Beliau membawa beberapa koper. Katanya..." Pelayan itu menelan ludah. "Katanya beliau harus meninggalkan mansion sesuai kesepakatan semalam."

Kesepakatan? Sion terdiam untuk sesaat. Dan benar, semalam mereka telah menandatangani surat perceraian. Tidak ada lagi ikatan di antara mereka. Raina memang berhak pergi. Seharusnya Sion tidak memiliki alasan untuk menghentikannya. Seharusnya… namun entah mengapa, ketika mendengar bahwa perempuan itu benar-benar pergi, ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa seperti dihantam keras.

"Siapa yang mengantarnya?"

"Beliau pergi sendiri, Tuan."

Sion menatap kosong ke depan. Pergi sendiri? Tanpa mengatakan apa pun. Tanpa meninggalkan pesan. Tanpa menunggunya bangun seolah-olah malam tadi hanyalah sebuah kesalahan yang ingin Raina kubur sedalam mungkin.

Sion mengepalkan tangannya. "Siapkan mobil."

Pelayan itu terkejut. "Tuan?"

"Dan hubungi semua orang."

Nada suaranya membuat suasana mansion seketika berubah. Dalam hitungan menit, orang-orang Sion mulai bergerak. Telepon berdering di berbagai sudut rumah. Para anak buahnya menerima perintah satu demi satu. Kamera pengawas diperiksa. Jalur keluar-masuk mansion ditelusuri. Rekaman kendaraan di sekitar kawasan diperiksa.

"Temukan dia." Sion berdiri di tengah ruang utama dengan wajah dingin. "Bagaimanapun caranya."

Perintah itu menyebar seperti gelombang. Tidak ada yang berani bertanya mengapa. Namun kabar tersebut akhirnya sampai kepada keluarganya. Calista datang tidak lama kemudian, begitu pula beberapa anggota keluarga yang masih berada di mansion.

"Untuk apa semua orang dikerahkan?" tanya Calista dengan nada ketus. Namun, Sion tidak menjawab. Ia masih menatap layar ponselnya, menunggu laporan terbaru.

"Sion."

Pria itu akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya sangat dingin melebihi biasanya. Bahkan Calista sampai dibuat sedikit merinding hanya untuk menatapnya beberapa saat. Jujur saja, ia tidak mengerti mengapa anak tirinya itu membuat keributan di pagi hari.

"Aku bertanya untuk apa kau mengerahkan begitu banyak orang?"

"Untuk mencari Raina." Jawaban Sion membuat suasana langsung sunyi.

Calista mengerutkan dahi. "Raina?"

"Dia pergi."

"Memangnya kenapa?" sela salah satu anggota keluarganya. "Bukankah kalian sudah bercerai?"

Bersambung ….

1
Budhe Satryo
rayna jngan terkena jebakan kamu harus bisa nglawan Calista ma anak"nya
Sri Yatun
kalo tau rencana mau menyingkirkan dan membunuhnya bakal kamu yg d usir kemungkinan besar kamu yg mati duluan ibu tiri dan saudara tiri
Budhe Satryo
makin seruuu crtanya
Budhe Satryo
misi perang dimulai rayna
Budhe Satryo
keluarga bahagia❤️❤️❤️
Budhe Satryo
adiknya yg selama ini menjadi pendukung setia rayna
Budhe Satryo
gpp salah paham dulu biar makin cinta
Budhe Satryo
misi Lum dimulai lho ...dah panas az Calista ni
Budhe Satryo
good rayna biar papah si kembar ush Dewe 😄😄😄
Budhe Satryo
moga rayna TDK mudah dijebak
Budhe Satryo
waspada rayna musuh dpn mata
Budhe Satryo
wah bisa jadi kerja sama dngn Calista tu sih laura
Budhe Satryo
akhirnya Sion bisa takluk dngn si kembar 😍😍😍
Budhe Satryo
y ampun pemilik dianggap gelandangan 🤣🤣🤣
Budhe Satryo
misi dimulai si kembar 😄😄😄
Budhe Satryo
mungkin Calista dan lea yg JD musuh dlm selimut
Budhe Satryo
bibit mafia emang g ad obat 🤣
Budhe Satryo
duo s JD pembela mamanya donk
Budhe Satryo
mulai seruuu ni 😊😊😊😍😍😍
Budhe Satryo
moga tidak JD menikah dngn laura
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!