Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Imut

Transmigrasi Gadis Imut

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadia Utari

Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.

Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!

"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"

Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 5: Kebaikan yang Menular Tanpa Disadari

Langit pagi itu cerah sekali, biru bersih tanpa satu pun awan, seolah mencerminkan hatiku yang mulai tenang dan damai. Seminggu sudah berlalu sejak aku mulai hidup sebagai Lily yang baru, dan setiap hari terasa semakin ringan, semakin berwarna. Tatapan orang-orang di sekolah yang dulu penuh ketakutan kini perlahan berubah menjadi hormat dan keakraban, bahkan ada beberapa siswi yang dulu selalu menjauhiku kini berani menyapa dengan senyum ramah saat berpapasan di koridor. Semua itu terjadi bukan karena kekayaan atau ketampanan, melainkan karena hal-hal kecil yang sederhana—menyapa dengan tulus, menolong saat orang lain kesulitan, berbagi bekal, dan tidak pernah lagi menggunakan kekuasaan untuk menyakiti siapa pun.

Pagi itu, saat aku berjalan menuju kantin untuk membeli minuman setelah pelajaran olahraga yang melelahkan, aku melihat sekelompok siswi kelas satu sedang berkerumun di sudut ruangan dengan wajah cemas. Mereka berbisik-bisik dengan suara rendah, sesekali melirik ke arah gadis kecil yang duduk sendirian di meja paling ujung, menunduk dalam dengan bahu yang sesekali bergetar pelan. Aku mengenalnya—namanya Luna, gadis pendiam yang selalu duduk sendirian dan jarang berbicara dengan siapa pun. Dalam cerita aslinya, Lily asli sering mengejeknya karena penampilannya yang sederhana dan pakaiannya yang kadang sedikit kusut. Hatiku terasa perih membayangkan itu, dan tanpa sadar kakiku melangkah mendekat.

"Kau kenapa menangis di sini sendirian, Luna?" tanyaku pelan saat aku berdiri di samping mejanya.

Luna mendongak kaget, matanya merah dan bengkak karena menangis. Wajahnya pucat pasi, dan ia segera menyeka air matanya dengan lengan baju seolah takut ketahuan menangis di depanku. "Nona Lily… aku… tidak apa-apa. Terima kasih sudah bertanya."

"Jangan panggil Nona Lily, panggil saja Lily ya. Kita kan sama-sama siswa," ucapku lembut sambil menarik kursi di hadapannya dan duduk. "Dan kalau ada masalah, cerita saja. Siapa tahu aku bisa bantu."

Luna terdiam, menatapku dengan tatapan bingung dan tak percaya. "Tapi… katanya Nona… Lily dulu…"

"Dulu itu dulu, sekarang itu sekarang. Manusia kan bisa berubah," potongku pelan sambil tersenyum tulus. "Ayo cerita, ada apa?"

Luna menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara tertahan, "Buku catatan pelajaran Bahasa Inggrisku… hilang. Itu catatan yang aku buat selama satu semester, dan besok ada ulangan besar. Kalau tidak bisa belajar, aku pasti gagal. Dan… itu juga satu-satunya buku yang aku punya, aku tidak punya uang untuk membuat ulang." Air matanya kembali menetes di atas meja.

Aku mengernyit pelan. Bahasa Inggris adalah pelajaran yang paling aku kuasai dari kehidupan lamaku. Dan buku catatan itu—meskipun tidak ada di dalam ingatan Lily asli—aku tahu betapa pentingnya catatan yang rapi dan lengkap bagi seorang siswa.

"Jangan menangis dulu ya," ucapku lembut. "Kalau begitu, bagaimana kalau sore ini kita belajar bersama di perpustakaan? Aku punya catatan yang lengkap, dan aku bisa jelaskan bagian-bagian yang sulit. Kita bisa salin catatannya bersama-sama. Jadi besok kau tetap bisa mengikuti ulangan dengan tenang."

Luna membelalakkan matanya, tak percaya mendengar tawaran itu. "Benarkah? Kau… mau membantuku? Padahal… aku tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikanmu."

"Tidak perlu membalas," jawabku sambil tersenyum hangat. "Teman saling menolong itu hal yang wajar, kan?"

Siang itu, berita bahwa Lily mengajak Luna belajar bersama di perpustakaan menyebar ke seluruh sekolah dengan sangat cepat. Bukan karena aku sengaja memberitahu siapa pun, melainkan karena ada yang melihat kami masuk ke perpustakaan dan bercerita kepada teman-temannya. Saat aku sedang menjelaskan tata bahasa Inggris kepada Luna dengan sabar, pintu perpustakaan terbuka, dan Ethan berdiri di sana bersama Mark. Keduanya tampak terkejut melihat pemandangan di hadapan mereka—aku yang sedang duduk berhadapan dengan Luna, menjelaskan pelajaran dengan sabar dan lembut, tanpa sedikit pun terlihat sombong atau merendahkan.

Mark tersenyum tipis melihat itu, lalu berbisik pelan kepada Ethan, "Kau lihat itu? Dia benar-benar berubah. Lily yang dulu tidak akan pernah sekalipun memperhatikan orang seperti Luna, apalagi menolongnya."

Ethan tidak menjawab, tapi matanya menatapku lekat-lekat, penuh kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan. "Aku tahu," jawabnya pelan. "Itulah yang membuatnya berbeda. Dia tidak lagi menjadi orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri."

Sore itu, setelah selesai belajar, Luna pulang dengan wajah cerah dan penuh semangat, berterima kasih berkali-kali padaku sampai ia menghilang di balik gerbang sekolah. Dan saat aku hendak pulang, Ethan dan Mark berjalan menghampiriku.

"Kau tadi… baik sekali padanya," ucap Mark dengan nada lembut dan tulus. "Terima kasih, Lily."

"Itu hal kecil saja kok," jawabku sambil tersenyum polos. "Kalau bisa bikin orang lain senang, kenapa tidak?"

Ethan berdiri di samping Mark, menatapku dengan tatapan yang dalam dan hangat. "Kau selalu begitu? Selalu berpikir seperti itu?"

"Kalau semua orang saling berbuat baik, dunia ini pasti lebih enak ditinggali, kan?" jawabku santai sambil mengangkat tas di bahuku. "Yaudah, aku pulang dulu ya! Sampai ketemu besok!"

Saat aku berjalan pergi meninggalkan mereka berdua, Mark menoleh ke arah Ethan dengan senyum menggoda. "Kau jatuh cinta padanya, kan? Jangan dipungkiri, matamu sudah berkata semuanya sejak tadi."

Ethan tidak membantah, hanya menatap punggungku yang menjauh dengan senyum tipis yang tulus. "Siapa yang tidak akan jatuh cinta pada gadis seperti dia?" gumamnya pelan, cukup untuk didengar Mark. "Dia seperti cahaya yang tiba-tiba masuk ke dalam hidup yang gelap."

1
little girl
terima kasih ya sudah mampir 😍😍
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!