Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deklarasi Darah Sang Penguasa Petir
Fajar menyingsing dengan lambat di atas Gunung Petir. Kabut pagi yang tebal menyelimuti puncak gunung, namun tidak mampu menutupi aura suram dan berat yang memancar dari Aula Utama Sekte Pedang Petir.
Lei Tianba duduk mematung di singgasananya, jubah peraknya tampak kusut. Lingkaran hitam tebal terlihat di bawah matanya. Semalaman suntuk, ia terjaga menanti kabar dari Tetua Ketiga dan Keempat. Di sampingnya, seorang tabib sekte sedang mengoleskan salep berbau menyengat ke lengan Lei Kuang yang buntung dan kulitnya yang hangus, mencoba mempertahankan nyawa sang pewaris.
Tiba-tiba, suara langkah kaki panik terdengar berlari di sepanjang lorong aula.
Seorang penjaga aula yang bertugas menjaga Aula Lentera Jiwa—tempat menyimpan pelita yang terhubung dengan nyawa para elit sekte—masuk dengan wajah sepucat mayat. Ia tersandung di anak tangga terakhir dan jatuh berlutut, napasnya terengah-engah dan seluruh tubuhnya gemetar hebat.
"K-Ketua Sekte!" jerit penjaga itu, suaranya pecah karena kepanikan yang ekstrem. "B-berita buruk! Lentera Jiwa... Lentera Jiwa milik Tetua Ketiga dan Tetua Keempat..."
Dada Lei Tianba berdesir hebat. Firasat buruk yang sedari tadi bersarang di hatinya seakan meledak. Ia berdiri mendadak, menatap penjaga itu dengan mata terbelalak.
"Bicara yang jelas! Ada apa dengan lentera mereka?!" raung Lei Tianba.
Penjaga itu menelan ludah dengan susah payah, nyaris tak sanggup mengeluarkan suara. "Lentera Jiwa mereka... telah padam, Ketua! Keduanya padam secara bersamaan!"
Keheningan mutlak menyelimuti Aula Utama.
Bahkan tabib yang sedang merawat Lei Kuang pun menghentikan gerakannya. Semua orang di dalam ruangan itu, termasuk beberapa tetua lain yang berjaga semalaman, menahan napas dengan mata terbelalak ngeri.
Padam secara bersamaan?
Itu berarti Tetua Ketiga dan Tetua Keempat, dua orang ahli Tahap Pembentukan Fondasi awal, telah terbunuh. Dan dari kecepatan padamnya lentera, mereka dibunuh dalam waktu yang sangat berdekatan—hampir seketika!
"M-mustahil..." gumam Tetua Kedua, seorang pria tua berjenggot panjang. "Tetua Ketiga dan Keempat adalah ahli elit. Bahkan kultivator Pembentukan Fondasi tingkat menengah pun akan kesulitan membunuh mereka berdua sekaligus! Pemuda itu... Iblis Berpedang Hitam itu... monster macam apa dia sebenarnya?!"
"DIAM!"
Sebuah ledakan aura yang sangat kejam menyapu seluruh ruangan. Granit di bawah kaki Lei Tianba hancur menjadi debu halus. Tekanan spiritual dari Tahap Pembentukan Fondasi tingkat lanjut mencekik leher semua orang di aula, membuat mereka nyaris pingsan.
Wajah Lei Tianba berubah bentuk menjadi topeng iblis yang mengerikan. Urat-urat di dahinya menonjol keluar, dan matanya merah membara oleh amarah dan kebencian yang mendalam.
"Anak itu..." desis Lei Tianba, suaranya bergetar karena emosi yang meluap-luap. "Bukan saja dia melumpuhkan anakku... dia juga berani membunuh dua tetua inti sektaku! Dia benar-benar mengira Sekte Pedang Petir adalah sarang kelinci yang bisa dia injak-injak sesukanya?!"
Lei Tianba melangkah turun dari singgasana, setiap pijakannya meninggalkan jejak kaki yang amblas ke dalam lantai pualam.
"Kumpulkan seluruh tetua! Kerahkan lima ratus murid elit tingkat tujuh ke atas! Aktifkan Array Pelacak Darah di seluruh perbatasan kota!" perintah Lei Tianba dengan suara menggelegar. "Kali ini, aku sendiri yang akan memimpin pasukan! Aku tidak akan membiarkan Iblis Berpedang Hitam itu melihat matahari terbit esok hari!"
"T-tapi Ketua..." Tetua Kedua memberanikan diri berbicara. "Pemuda itu mampu membunuh dua tetua kita dengan mudah. Jika Ketua pergi sendiri dan terjadi sesuatu... sekte kita akan hancur."
"Kau meragukan kekuatanku?!" kilat petir menyambar dari mata Lei Tianba. "Aku berada di puncak Tahap Pembentukan Fondasi tingkat lanjut! Jika aku menggunakan senjata pusaka sekte, membunuh iblis kecil itu semudah membalikkan telapak tangan!"
Tanpa menunggu perdebatan lebih lanjut, Lei Tianba melesat keluar dari aula bagaikan sambaran petir biru, meninggalkan jejak energi yang ganas di belakangnya. Raungan kemarahannya menggema ke seluruh puncak gunung, menandakan deklarasi perang darah dari Sekte Pedang Petir.
Sementara itu, di sebuah kedai teh yang tenang di pinggiran Kota Bintang Jatuh, Ye Chen sedang duduk menyudut sambil menyesap teh paginya.
Pakaiannya telah berganti menjadi jubah hitam panjang tanpa corak, dan caping bambunya diletakkan di atas meja, memperlihatkan wajahnya yang kini tampak lebih dewasa dan memancarkan aura ketenangan yang menindas. Fosil Cakar Naga Bumi telah sepenuhnya bersatu dengan tubuhnya, membuat garis rahang dan posturnya terlihat jauh lebih kokoh dari sebelumnya.
Di dalam kedai, para pengunjung sedang bergosip dengan penuh semangat.
"Hei, kalian dengar berita dari Gunung Petir pagi ini? Kabarnya dua tetua mereka terbunuh semalam!" bisik seorang pedagang dengan mata membelalak.
"Benarkah?! Siapa yang berani mencari masalah dengan Sekte Pedang Petir? Apa mungkin faksi dari pusat benua sedang melakukan invasi?"
"Kudengar, pelakunya hanya satu orang... Mereka memanggilnya 'Iblis Berpedang Hitam'!"
Ye Chen meletakkan cangkir tehnya perlahan. Mendengar gosip itu, ia hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak memancarkan kehangatan sedikit pun.
"Hahaha! Bocah, sepertinya sarang tawon yang kau tendang semalam sudah benar-benar marah," kekeh Ao Tian dari dalam giok hitam. "Ketua Sekte Pedang Petir itu pasti sedang mencarimu dengan kekuatan penuh saat ini. Apa rencanamu? Menyembunyikan diri sampai kultivasimu menembus Pembentukan Fondasi?"
"Menyembunyikan diri?" gumam Ye Chen dalam hati, matanya memancarkan kilatan tajam. "Jika aku bersembunyi sekarang, mereka akan memburu setiap orang yang pernah berinteraksi denganku di kota ini untuk memancingku keluar. Itu bukan gayaku."
Ye Chen bangkit berdiri dan melemparkan sekeping perak ke atas meja sebagai pembayaran teh. Ia meraih caping bambunya, namun alih-alih mengenakannya kembali, ia justru menyimpannya ke dalam Cincin Penyimpanan, membiarkan wajahnya terpampang jelas.
"Mereka ingin memburuku," bisik Ye Chen sambil melangkah keluar dari kedai teh, memandang lurus ke arah Gunung Petir yang menjulang di kejauhan, terbungkus awan badai. "Maka biarkan aku yang mendatangi mereka. Hari ini, Sekte Pedang Petir akan dihapus dari peta."
Langkah Ye Chen yang tenang perlahan-lahan meninggalkan pinggiran kota. Ia tidak berjalan menjauh, melainkan melangkah dengan pasti menyusuri jalan setapak yang mengarah langsung ke gerbang utama markas Sekte Pedang Petir.