"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Dinding kamar kontrakan sederhana itu menjadi saksi bisu runtuhnya pertahanan seorang Adskhania Nayara Malik. Semalaman, hembusan angin dingin yang menerobos lewat sela jendela tak sanggup mendinginkan dada yang terbakar hebat. Air mata yang selama satu tahun ini ditahan rapi di balik topeng kepasrahan, akhirnya tumpah tak tersisa. Naya menangisi waktunya yang terbuang, cita-cita spesialisasi psikiatri yang sempat ia matikan demi menjaga kehormatan seorang pria yang ternyata hanya memujanya di atas kertas, serta kepedihan terdalam atas penolakan batin yang dibayar dengan pengkhianatan.
Namun, ketika tirai fajar menyingkap kegelapan lereng Gunung Welirang dan aroma embun membasahi dedaunan cemara, Naya menyapu sisa-sisa duka dari wajahnya. Ia melangkah ke kamar mandi, membasuh mukanya dengan air dingin yang meresap hingga ke pori-pori.
Saat Naya menatap pantulan dirinya di cermin, tak ada lagi bayangan wanita yang meratapi nasib. Manik matanya yang jernih kembali memancarkan binar kecerdasan dan keteguhan prinsip.
Ia bangun pagi ini bukan lagi sebagai istri yang mengharap belas kasih, melainkan sebagai seorang akademisi dan Ustadzah yang bertindak rasional. Naya paham betul bahwa ia tak boleh bertindak impulsif. Sebelum orang tuanya tiba dari Jombang untuk mendampinginya mengurus gugatan cerai secara resmi di Pengadilan Agama Mojokerto, ia harus membereskan seluruh amanat yang dipangkunya di Pesantren Al-Anwar. Naya menolak pergi meninggalkan jejak yang cacat atau kekacauan administrasi. Ia ingin melangkah keluar dengan kepala tegak, membiarkan kebaikannya tetap menjadi monumen yang tak ternilai di hati semua orang.
Langkah kaki Naya menapak kembali di pelataran ndalem utama saat matahari pagi menyapu kabut tipis Pacet. Suasana pesantren terasa jauh lebih tenang dari kemarin, meski atmosfer hening yang mencekam masih tersisa di udara.
Di teras ndalem, Kyai Ahmad sedang duduk mengamati hamparan santri yang beraktivitas di halaman. Di sampingnya, Bu Nyai Khadijah baru saja meletakkan cangkir teh hangat. Kedua sesepuh pesantren itu tampak jauh lebih tua hanya dalam semalam; garis-garis duka dan rasa bersalah terpatri jelas pada raut wajah mereka.
Naya mendekat dengan langkah anggun yang tertata, menunduk santun lalu mencium punggung tangan kedua mertuanya dengan khidmat.
"Assalamu’alaikum, Abi, Umi," sapa Naya dengan suara halus yang tidak gemetar sedikit pun.
Bu Nyai Khadijah langsung merengkuh jemari Naya, matanya kembali berkaca-kaca melihat ketenangan menantunya. "Wa’alaikumussalam, Naya... Nak, kamu sehat? Kenapa pagi-pagi sekali sudah ke sini?"
Naya tersenyum tulus—senyuman anggun yang memancarkan kedewasaan jiwa. "Naya sehat, Umi. Kedatangan Naya pagi ini untuk meminta izin kepada Abi dan Umi. Naya ingin menyelesaikan seluruh tugas dan tanggung jawab Naya di madrasah dan pondok putri. Naya ingin merapikan berkas administrasi dan melimpahkan struktur kepengurusan sebelum... sebelum Naya benar-benar pamit."
Kyai Ahmad menghela napas panjang. Ada rasa bangga yang amat dalam berbaur dengan kepedihan mendalam di dadanya. Pria sepuh itu menatap Naya dengan binar kehormatan.
"Subhanallah, Naya..." suara Kyai Ahmad berat dan serak. "Di tengah ujian setebal ini, kamu masih memikirkan kebaikan santri-santri Abi. Sungguh, kesalahan anakku Reyhan adalah kekhilafan terbodoh yang pernah ada di ndalem ini. Lakukan apa yang menurutmu terbaik, Nak. Seluruh pengurus dan ustadzah akan tunduk pada keputusanmu."
"Terima kasih banyak, Abi, Umi," tutur Naya penuh rasa hormat. "Naya mohon doa agar semuanya berjalan lancar."
Setelah berpamitan, Naya membalikkan badan dan melangkah mantap menuju kompleks pondok putri Al-Anwar yang terletak di sebelah barat ndalem utama.
Begitu Naya melintasi pintu gerbang berukir pondok putri, beberapa santriwati yang sedang menyapu halaman seketika menghentikan kegiatannya. Mereka menunduk khidmat, memberikan penghormatan mendalam pada sosok Ning yang selama ini menjadi panutan utama mereka. Meski desas-desus mengenai ketegangan di ndalem utama dan absennya Naya beberapa hari terakhir telah merebak halus, tak ada satu pun yang berani menatap Naya dengan tidak sopan.
Naya melangkah menuju gedung sekretariat utama pondok putri. Ia memasuki ruang rapat berpanel kayu jati yang dingin. Di atas meja besar, ia membeberkan beberapa map tebal berisi berkas evaluasi, jadwal kurikulum, serta skema manajemen operasional yang telah ia susun dengan cermat sejak semalam di rumah kontrakannya.
Naya memanggil seluruh ustadzah senior dan jajaran pengurus inti pondok putri melalui Mbak Zaenab. Tidak butuh waktu lama, delapan ustadzah berbusana rapi melangkah masuk ke dalam ruangan.
Suasana ruangan mendadak hening dan sarat akan kecanggungan yang tertahan. Ustadzah Fatimah, Ustadzah Salma, dan beberapa ustadzah senior lainnya menatap Naya dengan sorot mata yang penuh empati dan rasa iba yang tak terucapkan. Mereka tahu persis apa yang telah terjadi, bagaimana kepemimpinan Naya yang menakjubkan selama ini harus ternoda oleh kelakuan putra mahkota dan pengkhianatan Rani—santriwati yang justru sering dibantu oleh Naya sendiri.
Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berani melintasi batasan pribadi. Mereka menjaga etika dan penghormatan setinggi-tingginya di hadapan wanita di depan mereka.
Naya mengedarkan pandangan, menyunggingkan senyum tipis yang amat menenangkan.
"Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustazah sekalian," buka Naya dengan ritme suara yang stabil dan berwibawa.
"Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," sahut mereka serentak.
"Pertama-tama, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya karena sempat absen selama beberapa hari tanpa memberikan kabar yang jelas," lanjut Naya. "Saya menyadari hal tersebut menimbulkan sedikit hambatan pada koordinasi harian kita. Oleh karena itu, pagi ini saya mengumpulkan Panjenengan sedanten untuk menuntaskan serta merestrukturisasi seluruh tugas kepengurusan pondok putri."
Naya tidak membuang waktu. Dengan ketajaman berpikir khas seorang sarjana Psikologi dan manajerial yang matang, ia membuka map pertama.
"Saya telah merancang pembagian ulang wewenang operasional agar roda organisasi di pondok putri tetap berjalan stabil dan tidak bergantung pada satu figur," Naya menyerahkan selembar dokumen kepada Ustadzah Fatimah. "Ustadzah Fatimah, melihat pengalaman, senioritas, serta kedekatan Panjenengan dengan para santri dan Bu Nyai, saya memohon kesediaan Panjenengan untuk menggantikan posisi saya sebagai Kepala Pengasuh Pondok Putri Al-Anwar."
Ustadzah Fatimah tersentak. Tangannya yang menerima kertas itu gemetar halus. "Ning Naya... tapi ini—"
"Panjenengan sangat mumpuni, Ustadzah," pangkas Naya lembut namun tak terbantahkan. "Keputusan ini sudah mendapat restu penuh dari Kyai Ahmad dan Bu Nyai Khadijah. Saya yakin di bawah pengawasan Panjenengan, kedisiplinan dan kualitas spiritual santriwati akan semakin terjaga."
Selanjutnya, Naya mengalihkan pandangan pada Ustadzah Salma dan pengurus lainnya. Dengan sistematis, rasional, dan amat cepat, Naya membedah skema kerja baru. Ia membagi wewenang kurikulum madrasah, pengelolaan dana beasiswa santri berprestasi, hingga jadwal pengawasan asrama dengan begitu mendetail. Semua draf telah ia lengkapi dengan panduan tertulis, sehingga siapa pun yang memegang jabatan baru tersebut tidak akan mengalami kebingungan.
Kecerdasan, ketenangan, dan ketegasan Naya di tengah badai pribadi yang meliputinya membuat para ustadzah di ruangan itu merasa tertegun sekaligus takjub. Sosok di hadapan mereka bukan sekadar "istri seorang Gus", melainkan seorang pemimpin sejati yang memiliki integritas dan kelas tersendiri.
"Seluruh dokumen laporan keuangan dan inventarisasi asrama Marwah serta Khadijah sudah saya audit ulang dan saya tanda tangani," tambah Naya seraya menutup map terakhir. "Mulai hari ini, seluruh keputusan administratif tidak lagi memerlukan persetujuan saya, melainkan langsung berkoordinasi dengan Ustadzah Fatimah dan Bu Nyai Khadijah."
Ruangan rapat itu membisu. Ustadzah Salma tak sanggup menahan air matanya yang akhirnya menetes di pipi.
"Ning Naya..." tutur Ustadzah Salma dengan suara bergetar, "terima kasih atas seluruh bimbingan dan kebaikan Ning selama ini. Kami semua... kami semua sangat menghormati dan menyayangi Ning Naya. Doa kami akan selalu menyertai setiap langkah Ning."
Naya menatap wajah-wajah tulus di hadapannya. Ada kehangatan tipis yang merayap di dadanya. Ia mengangguk anggun. "Terima kasih banyak atas kerja sama dan dedikasi Panjenengan semua selama ini. Tolong jaga santri-santri kita dengan baik."
***
apalah arti perasaan anak dara liat cowok ganteng pasti ada suka..tggl cowoknya aja ngeladeni atau cuekin..🤔
dibikin ruwett nyesal akhirnya 🤭😄
sepolos"nya org pasti masih punya hati dan akan berfikir sblm mengambil keputusan yg menyangkut org lain.
kalau kamukan ...begitu dah