Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Di lantai tertinggi gedung perkantoran megah itu, suasana sedang riuh rendah. Semua karyawan bergerak terburu-buru, berkas-berkas ditumpuk rapi, lantai dipel bersih hingga memantulkan bayangan langit-langit, dan wajah setiap orang tampak tegang seakan sedang menunggu kedatangan sosok yang bisa menentukan masa depan karir mereka.
"Kamu yakin Pak Arfan benar-benar akan datang meninjau kantor cabang kita hari ini?" tanya seorang staf sambil merapikan tumpukan laporan di meja.
"Pasti! Dia adalah pemilik utama grup perusahaan ini. Kalau sampai ada yang berantakan atau terlihat tidak profesional, bisa-bisa kita semua kena damprat!" jawab rekannya dengan suara berbisik namun penuh kekhawatiran.
Sementara seluruh kantor sibuk bersiap sebaik mungkin, di dalam ruangan kerja Askar yang tertutup rapat, suasana benar-benar berbeda. Tidak ada ketegangan karena kunjungan penting, yang ada hanya napas memburu, bisikan manja, dan tawa renyah yang sesekali terdengar.
"Askar...aah pelan pelan, sayang..." bisik Rara, tangannya melingkar erat di leher pria itu, sementara tubuh mereka masih saling melekat, hangat dan liar di balik meja kerja yang seharusnya penuh dengan dokumen resmi.
"Kenapa harus pelan? Kamu kan sudah jadi milikku, sepenuhnya..." jawab Askar rendah, matanya menatap tajam dan penuh nafsu ke arah wanita di pelukannya. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun di hatinya, tidak ada bayangan wajah Miska yang setiap hari menunggunya di rumah. Baginya, saat ini hanya ada dia dan Rara—wanita yang ia anggap jauh lebih cantik, lebih cerdas, dan lebih mengerti dirinya dibanding istrinya sendiri.
"Ih.. aah.. Maas... enak sekali mas.. aaaah... yeeaaaa.. ssshhtt aaaahhhh! "
Plok plok plok plok kckckckkckckckc suara perpaduan antara kedua kulit
"rara ouugghhhh.. milikmu nikmat sekali bikin aku kecanduan.. huuufff aaaaaahhhh benar-benar menghisap milikku!! "
"teruskan mas,,, ini enak sekali... aku seperti nya sudah mau sampai mas. aaaahhh kuatkan mas... aaaahh oohhhh uuuh yaaah oohhh... uuuh... huuu huuu enak sekali mas... "
"ceplokkk"
"aaarrhggggg"
"oouughhhhhh"
keduanya keluar bersama saat itu juga
Mereka berdua larut dalam kebersamaan itu, melupakan waktu, melupakan tugas, dan melupakan bahwa sebentar lagi sosok paling berpengaruh di perusahaan ini akan tiba. Ketika semuanya selesai, Rara merapikan pakaiannya sambil tersenyum puas, lalu duduk di tepi meja kerja Askar.
"Kamu itu... benar-benar membuatku tidak bisa berpikir jernih setiap kali ada di dekatmu," ucap Rara sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Askar terkekeh, lalu meraih dasinya dan mulai memasangnya kembali dengan terburu-buru. "Itu tandanya kamu juga mencintaiku, sama seperti aku mencintaimu. Sudah, duduklah di mejamu dulu. Kalau ada yang masuk dan melihat kita seperti ini, repot jadinya."
"Siapa yang berani masuk ke ruangan Kepala Bagian Keuangan tanpa izin? Lagian pintunya saja kamu kunci rapat-rapat," canda Rara, namun ia tetap beranjak menuju pintu, memastikan tidak ada yang mencurigakan sebelum keluar.
Askar mulai memeriksa berkas-berkas yang akan dibawanya ke ruang rapat sebentar lagi. Ia membolak-balik tumpukan laporan itu dengan wajah mulai cemas. Satu perkas—laporan keuangan kuartal yang paling penting—tidak ada di sana. Ia mencoba membuka laci, mencari di setiap sudut meja, bahkan memeriksa di bawah meja, namun berkas itu seakan lenyap.
"Mana? Padahal kemarin malam aku taruh sini!" gerutunya kesal, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Tanpa berkas itu, ia tidak akan bisa menjelaskan apa-apa di depan pimpinan pusat.
Tiba-tiba telepon di mejanya berdering. Nama peneleponnya tertera: Miska.
Askar menghela napas kasar, berusaha menahan amarahnya. "Halo? Apa lagi, Miska? Kamu tahu kan aku sedang sibuk sekali di kantor!"
"Mas... tadi malam Mas bilang kalau sore ini ada rapat penting, kan? Berkas merah yang ada di meja belajar Mas tertinggal di laci kiri, aku takut Mas butuh. Aku sekarang ada di lobi kantor Mas..." suara Miska terdengar lembut dan tulus, sama sekali tidak menyadari badai apa yang sedang bergejolak di seberang telepon.
Hati Askar sedikit lega, namun rasa lega itu segera berganti rasa malu dan kesal. Miska datang ke sini—memakai daster sederhana, rambut diikat asal, tanpa riasan—di saat seluruh kantor sedang bersambut kedatangan orang paling penting!
"Kamu tunggu saja di bawah! Jangan naik Aku yang akan turun mengambilnya!" ketus Askar lalu mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban istrinya.
Ia bergegas menuju lobi, berharap tidak ada yang melihat. Saat pintu lobi terbuka, Miska berdiri di sana dengan senyum menyambut hangat, tangan kanannya menyodorkan map merah itu dengan hati-hati.
"Ini Mas, berkas yang ditinggal—"
Belum sempat Miska menyelesaikan kalimatnya, Askar menyambar map itu dengan kasar, lalu tangannya mendorong bahu istrinya pelan namun penuh penolakan yang jelas.
"Sudah sana pulang! Jangan lama-lama di sini, malu dilihat orang! Lihatlah penampilanmu itu, kayak apa saja kenapa datang ke kantor dengan model begini!" ucap Askar dengan nada rendah namun tajam, matanya melirik ke kiri dan kanan seakan takut ada yang mengenalinya.
Miska tertegun. Senyum di wajahnya perlahan luntur. "Mas... aku cuma mau mengantarkan berkas biar Mas tidak kesulitan..."
"Sudah kubilang, sana pergi! Pulang saja! Aku tidak butuh bantuanmu di sini!" potong Askar tegas. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik badan dan berjalan cepat kembali menuju lift, meninggalkan Miska yang berdiri kaku di tengah lobi, hati terasa diremas sakit.
Miska berdiri diam beberapa saat, menatap punggung suaminya yang menjauh. Ia tidak menyadari bahwa tepat di sebelahnya, di area resepsionis yang sedikit lebih gelap, berdiri seorang pria berpenampilan rapi dan berwibawa—Arfan. Ia baru saja tiba, dan seluruh percakapan serta dorongan bahu yang dilakukan Askar tadi telah dilihatnya dengan jelas.
Arfan menatap punggung Miska yang tampak rapuh namun tetap berdiri tegak, lalu matanya beralih ke arah pintu lift yang baru saja ditutup oleh pria yang baru saja memperlakukan istrinya demikian rendah. Alisnya terangkat, sebuah catatan penting tersimpan di benaknya—sebelum ia sempat meninjau kinerja kantor ini, ia sudah melihat satu hal yang jauh lebih berbicara daripada tumpukan laporan rapi: karakter seseorang saat berhadapan dengan orang yang seharusnya paling ia cintai.
Sementara itu, di dalam lift, Askar hanya memikirkan satu hal: berkas itu sudah ada di tangannya, dan ia sempat terbebas dari rasa malu karena penampilan istrinya. Ia sama sekali tidak tahu, bahwa satu dorongan bahu tadi telah menyaksikan seseorang yang kelak akan mengubah jalannya kisah mereka.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪