Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hancurnya Kesombongan Di Pesta Pernikahan
Kemegahan Ballroom Hotel Grand Horizon mendadak terasa senyap, digantikan oleh ketegangan yang membeku seketika. Di atas altar pernikahan yang dihiasi ribuan bunga mawar putih, Zaskia Mulandari berdiri bersanding dengan Evan Wirya Negara. Senyum kemenangan terukir sempurna di bibir Zaskia. Di matanya, dunia malam ini bertekuk lutut di bawah kakinya. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi ketakutan. Ia merasa dirinya adalah pemenang mutlak, ratu tak terkalahkan yang berhasil menghancurkan Rafa Sasmita tanpa sisa.
Nena Apriandini, yang duduk di barisan kursi terdepan bersama para tamu undangan elit, menatap pasangan pengantin itu dengan dada membusung penuh rasa bangga. Baginya, pernikahan ini adalah simbol keperkasaan keluarga Wirya Negara. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa meruntuhkan kekuasaan dan kekayaan mereka.
Zaskia mengangkat sedikit gaun pengantinnya yang mewah, bersiap untuk mengucapkan janji suci pernikahan. Ia melirik sekilas ke arah para tamu, menikmati setiap tatapan kagum yang ditujukan kepadanya. Di dalam hatinya, ia kembali mengejek Rafa yang saat ini mungkin sedang meringkuk kedinginan di dalam sel penjara yang bau.
Kamu kalah, Rafa. Kamu selamanya hanyalah sampah, batin Zaskia penuh kepongahan yang meluap-luap.
Namun, tepat sebelum pendeta memulai prosesi pemberkatan, suara pintu utama ballroom yang berukuran besar tiba-tiba terbuka dengan bantingan keras yang memecah kesunyian.
Brak!
Semua kepala tamu undangan sontak menoleh ke arah belakang. Alunan musik orkestra berhenti seketika. Di ambang pintu, seorang pria berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang tampak sedikit longgar di tubuhnya. Wajahnya masih menyisakan pucat dan beberapa bekas luka, namun postur tubuhnya memancarkan aura ketegasan yang luar biasa dingin.
Itu adalah Sean Andrew Lee.
****
Zaskia terkesiap. Napasnya tercekat di tenggorokan. Senyum kemenangan di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh rona pucat pasi seolah ia baru saja melihat hantu di siang bolong. Di sampingnya, Evan Wirya Negara langsung mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, sementara Nena berdiri dari kursinya dengan mata melotot tidak percaya. Bukankah Sean seharusnya berada di bawah pengaruh obat penenang atau sudah dalam perjalanan pulang paksa ke Singapura oleh kedua orang tuanya? Bagaimana mungkin pria itu bisa berdiri di sini?!
Sean melangkah masuk ke dalam ballroom. Setiap langkah kakinya di atas karpet merah terdengar begitu mantap, menciptakan gema yang membuat seluruh ruangan terdiam seribu bahasa. Para pengawal hotel sempat mencoba menghalangi jalannya, namun Sean hanya menatap mereka dengan sorot mata setajam pisau, membuat para pengawal itu mundur ketakutan tanpa berani menyentuhnya.
Sean berhenti tepat di tengah ruangan, berjarak beberapa meter dari altar pernikahan. Ia mengeluarkan sebuah perangkat pemutar audio portabel dari dalam saku jasnya, lalu menatap tajam ke arah Zaskia dan Evan.
"Kalian merayakan pesta ini terlalu cepat," suara Sean menggema di seluruh penjuru ballroom dengan nada yang sangat dingin dan penuh penekanan.
Zaskia mencengkeram buket bunga di tangannya dengan sangat erat hingga kelopak-kelopak mawarnya hancur berantakan. "Sean! Apa-apaan ini?! Berani sekali kamu membuat kekacauan di hari pernikahan kami! Keamanan! Usir pria gila ini keluar!" teriak Zaskia, suaranya melengking tinggi, menyembunyikan kepanikan luar biasa di balik amarah palsunya.
Evan melangkah maju dari altar, menatap Sean dengan sorot mata penuh ancaman. "Sean, kamu sudah melewati batas! Jangan membuatku memanggil polisi untuk menyeretmu keluar dari sini!"
****
Sean justru tersenyum tipis—sebuah senyuman sinis yang membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya meremang. "Polisi? Ah, justru kehadiran polisilah yang kalian butuhkan saat ini, Evan."
Sean menekan tombol play pada perangkat di tangannya.
Seketika, suara percakapan yang sangat jernih memenuhi seluruh ruangan ballroom yang megah itu.
“...Zaskia, pastikan truk kontainer itu menabrak mobil Sean di tol sampai hancur lebur! Kita tidak boleh biarkan pria Singapura itu lolos membawa bukti kejahatan kita...”
"Tenang saja, Evan. Aku sudah menyewa sopir truk bayaran. Kecelakaan itu akan terlihat seperti tragedi maut biasa. Setelah Sean mati, Rafa akan kehilangan pelindung satu-satunya...”
Suara Evan dan Zaskia menggema dengan sangat jelas di hadapan ratusan tamu undangan penting, pejabat, dan para sosialita kota yang hadir di pesta tersebut. Rekaman itu adalah percakapan rahasia mereka saat merencanakan pembunuhan berencana dan rekayasa kecelakaan lalu lintas terhadap Sean beberapa waktu lalu.
****
Seketika, bisikan-bisikan riuh memenuhi ruangan. Para tamu undangan saling berpandangan dengan terbelalak. Wajah Nena Apriandini mendadak pucat pasi seperti mayat hidup; ia memegang dadanya sendiri, merasa seolah lantai di bawah kakinya runtuh. Evan Wirya Negara tertegun, tubuhnya kaku tidak bisa berkata apa-apa. Sementara Zaskia... wanita itu menatap Sean dengan mata melotot lebar, tubuhnya bergetar hebat, dan seluruh sisa-sisa kepongahannya hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.
"Tidak... itu... itu bohong! Itu rekaman palsu! Fitnah!" teriak Zaskia histeris, ia mencoba membela diri dengan suara yang mulai pecah. "Jangan dengarkan dia! Dia sakit jiwa! Dia sudah diguna-guna!"
"Palsu kamu bilang?" suara Sean memotong dengan tajam, suaranya naik satu oktaf penuh amarah. "Aku sudah menyerahkan bukti digital asli ini kepada pihak kepolisian, disertai dengan pengakuan dari sopir truk yang kalian bayar! Permainan kalian sudah berakhir, Zaskia!"
Sebelum Zaskia sempat berteriak lagi, pintu utama ballroom kembali terbuka untuk kedua kalinya. Kali ini, sepasang pintu itu terbuka lebar menampakkan beberapa orang petugas kepolisian berseragam lengkap yang masuk dengan langkah tegap, dipimpin langsung oleh seorang perwira tinggi kepolisian.
Namun, bukan hanya polisi yang datang.
Di samping sang perwira polisi, sesosok wanita melangkah masuk dengan kepala tegak. Pakaian tahanannya telah dilepas, digantikan oleh pakaian sederhana yang bersih. Wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya memancarkan ketegaran dan keadilan yang mutlak.
Rafa Sasmita.
****
Zaskia, Nena, dan Evan terperangah hebat. Mata mereka nyaris keluar dari soketnya saat melihat Rafa berjalan masuk ke dalam ballroom mewah tersebut tanpa ada borgol di tangannya. Kehadiran Rafa seolah menjadi malaikat pencabut nyawa bagi istana kebohongan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
"Rafa...?" bisik Zaskia dengan suara yang sangat lemah, menggelengkan kepalanya berulang-ulang, menolak percaya pada apa yang dilihat oleh kedua matanya sendiri. "Bagaimana mungkin... Kamu... Kamu seharusnya berada di dalam penjara!"
Rafa berhenti di samping Sean. Ia menatap Zaskia dengan sorot mata yang tenang, dingin, namun menyimpan kekuatan yang luar biasa besar.
"Kalian pikir manipulasi hukum, suapan kepada penyidik, dan rekayasa bukti bisa mengubur kebenaran selamanya, Zaskia?" suara Rafa terdengar tenang namun sangat menusuk, menggema di seluruh ruangan. "Kalian salah besar. Kebenaran tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun yang kalian miliki."
Perwira polisi melangkah maju mendekati altar pernikahan, menunjukkan sebuah surat resmi kepada Evan dan Zaskia. "Evan Wirya Negara dan Zaskia Mulandari. Berdasarkan bukti baru yang valid, surat penahanan atas nama Rafa Sasmita telah resmi dibatalkan demi hukum karena terbukti seluruh tuduhan tersebut adalah rekayasa dan fitnah. Dan kalian berdua... dinyatakan sebagai tersangka atas kasus percobaan pembunuhan, penculikan, perusakan barang bukti, dan persekongkolan jahat!"