Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Mungil Kesayangan Ceo Muda

Gadis Mungil Kesayangan Ceo Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Teen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.

​Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.

​Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Rahasia Paling Besar dan Undangan di Meja Makan

​Pagi di SMA Garuda terasa jauh lebih heboh dari biasanya bagi Alexa. Matahari belum terlalu tinggi, namun di sudut lorong kelas belas, gelagat Alexa sudah memancing kecurigaan luar biasa dari ketiga sahabatnya. Gadis mungil itu terus melirik ke kiri dan ke kanan, menarik napas panjang, lalu membuangnya kasar seolah sedang membawa beban seberat satu ton di pundaknya.

​"Ca, kamu kalau mau latihan senam pernapasan jangan di depan loker sekolah dong. Aneh tahu tak?" celoteh Safi sambil merapikan seragamnya.

​Rin dan Melati yang berdiri di sebelah Safi melipat tangan di dada. Rin menyipitkan matanya tajam, menatap Alexa dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sebagai sahabat yang paling peka, Rin tahu ada yang sama sekali tidak beres dengan "Si Botol Yakult" ini selama beberapa hari terakhir.

​"Ikut aku sekarang. Ke atap sekolah," bisik Rin tegas tanpa kompromi.

​"E-eh? Ke atap? Mau ngapain? Panas tahu!" elak Alexa dengan suara cemprengnya yang mendadak gagap.

​"Tidak ada alasan. Sekarang," pangkas Melati dengan lembut namun tak bisa dibantah, sambil menggandeng lengan mungil Alexa bersama Safi.

​Beberapa menit kemudian, di atas atap sekolah yang sepi dengan angin pagi yang berembus pelan, Alexa dikepung oleh ketiga sahabatnya. Rin berdiri di depan sambil bersedekap dada, Safi menyandarkan tubuh di pagar besi, sementara Melati menatapnya penuh rasa prihatin.

​"Oke, Alexa Pramudya. Mengaku sekarang atau jus stroberi kamu selama seminggu aku sita," ancam Rin langsung ke inti masalah. "Kamu menyembunyikan sesuatu yang besar dari kita, kan? Muka kamu dari kemarin udah kaya orang dikejar utang bank."

​Alexa menelan ludahnya kaku. Matanya bergerak gelisah. Ia memandangi wajah Rin, Safi, lalu Melati satu per satu. Rasa bersalah karena telah menyembunyikan kenyataan pahit ini mendadak membuncah di dadanya. Lagipula, Alexa memang paling tidak bisa menyimpan rahasia sendirian—otak kecilnya terasa mau meledak jika tidak meluapkan kekacauan hidupnya ini pada ketiga sahabat terbaiknya.

​"Tapi... tapi kalian janji dulu!" suara Alexa melengking pelan, jarinya menunjuk kaku ke udara. "Sumpah demi boba rasa Taro favorit kita semua, kalian gak boleh sebarin ini ke siapa-siapa! Bahkan ke anak-anak kelas sebelah atau ibu kantin! Janji?!"

​"Aiyo, janji lah! Kami kan sahabat kau, bukan lambe turah sekolah," sahut Safi gemas. "Cepatlah cerita, Ca! Aku dah penasaran sangat ni!"

​Rin dan Melati mengangguk mantap, menepuk dada mereka sebagai tanda janji setia.

​Alexa menarik napas sangat dalam, memejamkan mata bulatnya rapat-rapat, lalu menjerit pelan tapi cepat dalam satu tarikan napas.

​"AKUMAUDIADAKANACARAPERTUNANGANMINGGUDEPAN!"

​Keheningan seketika melanda atap sekolah. Angin pagi berembus membawa kebingungan.

​Rin berkedip dua kali. "Coba diulang. Pake spasi dan titik koma, Ca."

​Alexa membuka matanya, menunduk lesu sambil memayunkan bibirnya hingga beberapa sentimeter. "Aku... aku mau bertunangan minggu depan. Aku dijodohkan."

​"APA?!"

​Jeritan tiga suara membelah angkasa atap sekolah. Safi hampir saja melompat terkejut, Rin melotot sempurna hingga matanya yang oriental terbuka lebar, sementara Melati menutupi mulutnya dengan kedua tangan karena sangat syok.

​"Kamu... dijodohkan?!" pangkas Melati tidak percaya. "Ca, kamu kan masih SMA! Masih kelas tiga! Sama siapa?!"

​"Ingat tak pria tua beruang es yang aku ceritain kemarin-kemarin? Yang hampir nabrak aku pakai mobil mewahnya?" bisik Alexa pasrah, wajahnya memerah padam. "Dia orangnya. Namanya Exel Dirgantara. CEO umur dua puluh delapan tahun!"

​"EXEL DIRGANTARA?!" jerit Rin kali ini benar-benar kehilangan kendali diri. Rin yang berdarah Jepang-Indonesia itu langsung mengguncang-guncang bahu mungil Alexa. "Maksud kamu Exel Dirgantara yang pemilik Dirgantara Group itu?! Yang sering masuk majalah bisnis internasional dan mukanya tampan banget tapi dingin kaya es Kutub Utara?!"

​"Tampan dari mananya!" protes Alexa heboh, melepaskan cengkeraman Rin. "Dia itu galak! Kaku! Muka ditekuk mulu kaya kanebo kering! Aku ditumbalkan sama orang tuaku demi janji kakek-kakek kami dulu!"

​Safi memegangi kepalanya yang mendadak pusing mencerna informasi gila ini. "Gila... betul-betul macam drama Melayu TV3! Kau nak tunangan sama CEO kaya raya, Ca?! Tapi... kau tak kena paksa nikah muda kan?"

​"Gak," jawab Alexa lesu. "Acaranya cuma pertunangan privat. Cuma dua puluh sampai tiga puluh orang saja. Dan kami udah sepakat... ini cuma formalitas enam bulan! Setelah enam bulan berpura-pura di depan orang tua, kami bakal putus dan batalin semuanya."

​Melati bernapas lega, merangkul tubuh mungil Alexa dengan penuh kasih sayang. "Ya ampun, kasihan banget sahabat imut kita ini... Pasti berat banget ya buat kamu, Ca."

​"Banget, Melati!" rengek Alexa seraya menyandarkan kepalanya di bahu Melati. "Makanya aku cerita ke kalian. Tapi ingat ya, jangan sampai ada yang tahu di sekolah! Kalau anak-anak tahu si Botol Yakult ini mau tunangan sama om-om CEO, aku mau pindah ke planet Mars aja!"

​"Tenang, rahasia kamu aman sama kita," tegas Rin, meski ada kilatan jahat penuh godaan di matanya. "Tapi jujur ya, Ca... dalam enam bulan ini hidup kamu pasti bakal riuh banget. Menghadapi CEO es batu kaku begitu tuh butuh kesabaran ekstra."

​"Bakal aku bikin pusing itu Om Es Batu pakai suara cemprengku!" ancam Alexa dendam, disambut tawa geli dari ketiga sahabatnya.

​Sementara itu, di sebuah restoran steak mewah tak jauh dari kawasan perkantoran Sudirman, keheningan yang mahal menyelimuti meja VIP. Exel Dirgantara sedang menikmati makan siangnya bersama Achmad.

​Exel memotong wagyu steak-nya dengan gerakan yang sangat presisi dan elegan. Wajah ketsnya tetap datar, tak tersentuh oleh hiruk-pikuk suasana di luar. Namun, Achmad yang duduk di seberangnya tidak bisa berhenti tersenyum-senyum sendiri sambil memandangi layar tabletnya.

​"Gua potong gaji lu kalau lu senyum-senyum gak jelas begitu lagi," ancam Exel dingin tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya.

​Achmad tertawa pelan, meletakkan tabletnya di meja. "Aduh, Bos. Jangan galak-galak amat kenapa sih. Gua ini lagi membaca laporan persiapan acara pertunangan privat lu minggu depan di rumah keluarga lu."

​Exel menghentikan gerakan pisau dan garpunya sejenak. "Semua sudah diatur?"

​"Beres 100%," jawab Achmad bangga. "Dekorasi simpel elegan, katering kelas atas, keamanan diperketat biar gak ada media satu pun yang tahu. Hanya keluarga inti lu, keluarga Pramudya, dan beberapa kerabat sangat dekat. Total undangan cuma dua puluh lima orang."

​"Bagus," tukas Exel singkat seraya melanjutkan makan siangnya.

​"Tapi ada satu hal menarik, Cel," celeduk Achmad lagi sambil menopang dagunya, menatap sang CEO penuh selidikk. "Nyonya Maria—Mama lu—tadi pagi telepon gua. Katanya nanti malam keluarga Pramudya diundang makan malam resmi di kediaman Dirgantara. Ya... semacam pemanasan sebelum acara pertunangan resmi."

​Exel menghela napas panjang, meletakkan pisaunya ke atas piring dengan bunyi dentang pelan. "Kenapa harus ada acara makan malam lagi? Bukannya kemarin lusa sudah cukup?"

​"Ya beda dong, Pak CEO! Kemarin kan di restoran, sekarang di rumah lu sendiri," goda Achmad. "Lagian, Mama lu kangen mau ketemu sama calon menantu mungilnya yang cempreng itu. Gua dengar, Nyonya Maria bahkan masak beberapa menu khusus sendiri lho demi menyambut si Botol Yakult."

​Exel menatap Achmad kaku. "Jangan panggil dia dengan sebutan konyol itu."

​"Lah? Lu sendiri kan yang bilang kemarin dia itu bising dan pendek?" kekeh Achmad. "Oiya, gua dapet bocoran juga dari asisten Pak Surya Pramudya. Katanya nanti malam... Alexa mau minta izin sesuatu yang bikin Papanya pusing."

​Dahi Exel berkerut tipis. "Minta izin apa?"

​"Gua juga gak tahu pasti. Tapi feeling gua sih... ada hubungannya sama kehidupan sekolahnya," jawab Achmad sambil menaik-turunkan alisnya. "Siap-siap aja nanti malam rumah lu yang sepi kaya kuburan itu dibuat ramai lagi sama kelakuan calon tunanganmu itu."

​Exel tidak membalas. Ia merapikan jasnya yang tak berkerut sedikit pun, lalu menyesap air mineralnya. Di dalam hatinya, Exel bersiap membentengi diri dari segala kekacauan yang kemungkinan besar akan dibawa oleh gadis mungil itu nanti malam.

​Malam harinya, kediaman megah keluarga Dirgantara tampak bersinar anggun di bawah lampu-lampu kristal yang hangat. Di ruang makan utama yang mewah, Meja makan panjang sudah dihiasi hidangan lezat dan aromanya memenuhi seluruh ruangan.

​Exel duduk di salah satu sisi meja, mengenakan kemeja kasual hitam berkelas yang lengannya digulung rapi. Di sebelahnya duduk Hendra dan Maria yang tampak sangat bahagia. Achmad juga hadir di sana, berdiri di dekat area pantry atas perintah Maria yang menganggap Achmad sudah seperti keluarga sendiri.

​Tak lama kemudian, kepala pelayan menyambut kedatangan keluarga Pramudya. Surya dan Sarah melangkah masuk dengan senyuman hangat, diikuti oleh Alexa yang berjalan pelan di belakang mereka.

​Malam ini, Alexa mengenakan dress kasual berwarna krem dengan pita manis di bagian kerah. Rambut panjangnya dikuncir setengah, memancarkan kesan imut dan menggemaskan. Namun, raut wajahnya tampak gelisah, jemari mungilnya saling bertautan kaku.

​Begitu mata bulat Alexa bertabrakan dengan mata cokelat gelap milik Exel, Alexa refleks memayunkan bibirnya tipis—sebuah gestur permusuhan otomatis yang membuat Exel hampir saja menggeram pelan.

​"Selamat datang, Surya, Sarah, dan Bidadari Cantik Alexa!" sapa Maria sangat ramah, langsung berdiri dan memeluk hangat Alexa.

​"Malam, Tante Maria... Om Hendra," ucap Alexa sopan dengan suara yang sengaja dipelankan agar tidak terdengar cempreng dan merusak suasana.

​"Mari duduk, Sayang. Mama sudah siapkan makanan kesukaan anak muda," ajak Maria penuh kasih.

​Acara makan malam dimulai dengan sangat hangat. Kedua pasang orang tua itu saling bercengkerama dengan akrab, sementara Exel hanya menanggapi seperlunya jika ditanya. Di seberangnya, Alexa sibuk mengunyah daging panggangnya dengan sangat tenang—sebuah pemandangan langka yang membuat Exel sedikit heran. Kenapa budak SMA ini mendadak pendiam? batin Exel curiga.

​Saat hidangan penutup berupa panna cotta disajikan, Alexa mendadak menegakkan tubuhnya. Gadis itu menelan ludahnya kaku, lalu melirik Papanya dengan tatapan memohon.

​Surya menghela napas terkekeh, menggeleng-gelengkan kepala. "Hendra, Maria... sebenarnya anak gadis kami ini ada satu permintaan khusus untuk acara pertunangan minggu depan. Tapi dari tadi dia takut mau bilang."

​Maria membelalakkan matanya gembira. "Oya? Permintaan apa, Alexa Sayang? Bilang saja, Tante pasti kabulkan!"

​Alexa memajukan tubuhnya sedikit, memandangi Maria dan Hendra, lalu secara tak sengaja matanya melirik ke arah Exel yang kini sedang menatapnya tajam penuh rasa ingin tahu.

​"E-anu, Tante... Om..." buka Alexa ragu-ragu, suara cemprengnya mulai kembali ke nada aslinya. "Acara pertunangan minggu depan kan... katanya privat banget ya? Cuma keluarga dekat aja..."

​"Iya, betul," jawab Hendra mantap.

​"Boleh gak... kalau Alexa minta izin untuk undang sahabat-sahabat terdekat Alexa?" cicit Alexa pelan, jemari tangan mungilnya saling meremas. "Mereka cuma bertiga kok! Rin, Safi, sama Melati. Mereka itu sahabat terbaik Alexa dari awal masuk SMA. Alexa udah cerita soal perjodohan ini ke mereka tadi pagi, dan mereka udah sumpah gak bakal bocorin ini ke siapa-siapa!"

​Mendengar hal itu, gerakan tangan Exel yang sedang memegang sendok dessert mendadak terhenti. Alis tebal sang CEO menukik tajam.

​"Kamu membocorkan rahasia ini ke teman-teman sekolahmu?" pangkas Exel dengan suara rendah, dingin, dan penuh dengan penekanan yang menekan.

​Alexa seketika mendongak, merasa tersudut oleh nada bicaranya Exel. Rasa takutnya mendadak berganti jadi kejengkelan khas anak muda.

​"Mereka bukan cuma 'teman sekolah'! Mereka itu sahabat aku!" balas Alexa heboh dengan suara cempreng khasnya yang melengking, lupa kalau ia sedang di depan orang tua. "Aku udah kenal mereka bertahun-tahun! Lagian mereka bukan tipe orang yang suka sebar berita hoaks atau gosip murah! Mereka bisa dipercaya!"

​"Tetap saja itu berisiko," potong Exel kaku, menatap lurus ke mata bulat Alexa. "Acara ini dibuat privat untuk menghindari kebocoran ke publik dan media. Semakin banyak anak sekolah yang tahu, semakin besar kemungkinan hal ini tersebar."

​"Ih! Kamu kok nuduh sahabat aku yang enggak-enggak sih?!" seru Alexa tak terima, tangannya bertengger di pinggang tanpa sadar. "Rin itu anaknya diam-diam tapi canggih, Safi itu baik banget walau logatnya kental, Melati apalagi! Mereka gak bakal sebarin! Kenapa sih Om Es Batu ini selalu suudzon sama orang?!"

​"Exel! Jaga bahasamu pada calon tunanganmu," tegur Hendra tegas, meski di dalam hatinya ia sedikit terhibur melihat putranya yang kaku digertak oleh gadis mungil ini.

​Maria justru tersenyum sangat lebar. Ia mengabaikan ketegangan antara Exel dan Alexa, lalu memegang lembut tangan mungil Alexa di atas meja.

​"Tentu saja boleh, Alexa Sayang!" ucap Maria penuh kehangatan, membuat Exel dan Alexa sama-sama terkejut.

​"Ma?" sela Exel tak percaya.

​"Kenapa, Exel? Ini kan acara pertunangan kalian berdua," ujar Maria membela Alexa. "Alexa berhak mengundang sahabat-sahabat terbaiknya untuk menyaksikan hari bahagianya. Lagipula, tiga orang tidak akan membuat ruangan jadi penuh, kan?"

​"Tante Maria memang yang terbaik se-dunia!" jerit Alexa kegirangan, matanya berbinar-binar luar biasa. Ia bahkan sempat melayangkan lirikan kemenangan yang sangat mengejek ke arah Exel.

​Exel mengepalkan tangannya di bawah meja, mengeraskan rahangnya. kekalahan pertamanya dari gadis mungil ini terasa sangat menyebalkan.

​Di sudut ruangan, Achmad menutupi mulutnya dengan telapak tangan, bahunya terguncang-guncang menahan tawa yang hampir meledak melihat bos besarnya kalah telak oleh seorang murid SMA.

​"Terima kasih ya, Tante, Om," lanjut Alexa gembira. "Aku janji sahabat-sahabat aku bakal jaga sikap dan gak bakal bawa kamera atau bikin rusuh!"

​"Sama-sama, Cantik," sahut Sarah, mama Alexa, ikut tersenyum lega.

​Makan malam itu berlanjut dengan suasana yang makin ramai. Walau Exel memilih bungkam dan hanya melemparkan tatapan dingin nan membunuh setiap kali Alexa tertawa cempreng, aura ruang makan keluarga Dirgantara yang biasanya dingin mendadak terasa jauh lebih hangat dan bernyawa.

​Saat acara makan malam usai dan keluarga Pramudya bersiap pulang di area teras, Alexa sempat berjalan melewati Exel yang sedang berdiri tegap di dekat pintu utama.

​Ketika kedua orang tua mereka sedang berpamitan di depan mobil, Alexa berhenti dua langkah di samping Exel. Gadis itu berjinjit sedikit, lalu berbisik dengan nada cempreng yang diejek-ejekkan.

​"Wekkk! Aku menang, Om Es Batu! Sahabat-sahabatku tetap bakal datang minggu depan!" bisik Alexa sambil menjulurkan lidahnya tipis.

​Exel menunduk kaku, menatap puncak kepala Alexa yang hanya sebatas dadanya. Bau harum manis seperti buah stroberi murni bertiup dari tubuh gadis itu.

​"Jangan senang dulu, Bocah Cempreng," balas Exel dengan suara sangat rendah di telinga Alexa. "Kalau teman-temanmu sampai buat kekacauan sekecil apa pun di rumahku minggu depan... aku bakal pastikan kamu menyesal."

​Alexa menelan ludah kaku mendengar bisikan dingin itu, namun ia cepat-cepat menutupi kegugupannya dengan mendengus kencang. "Gak akan! Wek!"

​Gadis mungil itu berlari-lari kecil menuju mobil mamanya dengan gaun kremnya yang mengembang cantik. Exel berdiri kaku di teras, memperhatikan mobil Mercedes-Benz putih itu perlahan menghilang menembus kegelapan malam.

​Achmad melangkah mendekati bosnya, menepuk bahu Exel santai. "Gimana, Pak CEO? Masih yakin pertunangan privat minggu depan bakal berjalan tenang dan membosankan?"

​Exel tidak membalas. Ia meraba dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya yang tadi sempat berdesir aneh saat aroma stroberi milik Alexa terhirup olehnya. Pria itu menggelengkan kepala kencang, menepis perasaan asing yang mulai mencoba menyusup ke dalam dinding esnya.

1
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Ya tuhan kirimin satu suami kaya Exel buatkuh /Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: 🤣 Gass lah om mik
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
biar tau rasa, emang enak ngrasain mualnya bumil😂😂
𝐀⃝🥀Weny
musuh menyusun strategi buat menghancurkan Exel, lain halnya dengan Exel yang sibuk mencari cara buat deketin dan mengatasi ngidam bumilnya😂
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
yang sabar ya Exel, turutin aja ngidamnya orang hamil biar anaknya gak ileran😂😂
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Kenapa ga dibikin bangkrut aja mereka 😏 tuman
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: Masih lama apa
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣🤣 Lengkap sudah penderitaan Axel /Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: 🤣/Facepalm/
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
selamat ya Exel baru aja Alexa ketahuan hamil, eeehh.. si orok sudah ngerjain papanya😂
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣🤣 Rame ya Akexa hamidun... Trus gimana tuh sekolah na
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: Waduh mulai ada yg rusuh dong /Slight/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
paman Achmad mesti salting kalo ada safi🤔😁
𝐀⃝🥀Weny
so sweet 🥹🫠
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 5 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Oleh oleh buat akuu manaaa /Applaud/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 5 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
/Cry//Cry/ Masih pagi udah banyak bombai bertebaran ae om mik /Cry//Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: Yg nebar bombai lah
total 4 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Bacana otomatiss pake nada alm Uje dong /Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Pepet terooss paman Ahmad 🤣🤭 /Determined//Determined/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: Dih tega bener 😅
total 4 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Belom beraksi juga mereka 🤔
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: sabar
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Waahh ini nih yg bikin syeruu /Determined//Determined/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Aaaaa jadi pengen makan basoo /Scream//Hunger/
𝐀⃝🥀Weny
dalam sebuah hubungan, komunikasi dan kepercayaan itu lebih penting... semoga kalian bisa melewati badainya...
𝐀⃝🥀Weny
semoga mereka bisa bertahan dan bisa melewati setiap rintangan yang mencoba mengusik hubungan mereka🤲
𝐀⃝🥀Weny
jangan² si Alexa hamil nih🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!