Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Mobil Adrian berhenti secara mendadak di halaman rumah mewah dengan decitan ban yang kasar.
CIIIIIIIITH!
Adrian menyeret dan kembali memanggul Sasi yang melemah masuk menerobos pintu utama.
Tubuh Sasi yang sudah kehabisan tenaga hanya
bisa terkulai dalam cengkeraman Adrian, matanya sembap oleh air mata yang tak henti-hentinya menetes.
Fitria menyambut kedatangan mereka di lorong dengan raut wajah berapi-api, penuh dendam atas kekacauan tadi pagi.
Wajah cantiknya terdistorsi oleh amarah yang membakar dada.
Fitria berseru penuh kebencian mendorong Adrian untuk bersikap keras
"Hukum dia, Mas!! Dia wanita kurang ajar yang tidak tahu diri!!"
Dengan rahang mengeras dan emosi yang tak lagi terkendali, Adrian membawa Sasi masuk ke dalam kamar dan membanting pintu rapat-rapat.
BRAM!
Suara hempasan pintu itu menggelegar menembus keheningan ruangan. Adrian melemparkan Sasi ke lantai dekat kaki ranjang.
Sasi meringkuk ketakutan, napasnya tersengal-sengal menatap Adrian yang tampak seperti iblis kesetanan.
Rambut Sasi berantakan, dan seragam kerjanya yang kotor makin menguatkan rasa tidak berdaya di dalam dirinya.
"Aku sudah katakan jangan pernah mencoba kabur dari rumah ini, Sasi!!" gertak Adrian dengan suara menggelegar, dadanya naik turun memburu.
Fitria ikut melangkah masuk ke kamar. Bukannya menenangkan, Fitria justru memanaskan suasana dengan mengambil ikat pinggang kulit tebal milik Adrian dari lemari lalu menyerahkannya ke tangan suaminya.
"Pukul dia, Mas! Kasih pelajaran biar dia sadar diri siapa yang berkuasa di rumah ini!" bisik Fitria penuh racun, matanya menyalang puas menatap Sasi yang bergetar hebat di bawah lantai.
Sasi memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram karpet tebal di bawahnya dengan jemari yang menggigil.
Bayangan kekerasan Hendrik kembali berkelebat di benaknya, berbenturan dengan kenyataan pahit bahwa kini ia terancam disiksa oleh pria yang seharusnya melindunginya.
Adrian mengayunkan ikat pinggang kulit tebal itu tanpa belas kasihan dan mencambuk Sasi!
CRASH! CRASH!
Suara lecutan kulit menghantam tubuh Sasi bergema kencang di dalam kamar yang tertutup rapat.
Jeritan kesakitan dan tangis histeris Sasi pecah menembus dinding ruangan, berbaur dengan rasa perih yang menjalar membakar kulitnya.
"Aaghh! Sakit! Ampun, Adrian! Sakit!!" jerit Sasi histeris, melingkarkan kedua tangannya di kepala dan meringkuk rapat di atas lantai dingin demi melindungi wajahnya.
Setiap kali gesper dan tali kulit itu menyambar tubuhnya, bayangan kejam Hendrik dan luka memar pemerkosaan yang belum pulih kembali beradu dengan siksaan fisik yang baru.
Rasa hina, takut, dan kehancuran batin melahap sisa-sisa kesadarannya hingga napasnya tersengal parah.
Fitria berdiri di sudut kamar dengan senyum puas dan sorot mata penuh kegelapan, berseru menyemangati suaminya
"Bagus, Mas! Hajar terus!! Biar dia tahu rasanya tidak punya sopan santun!!"
Fitria melipat tangan di dada, matanya membelalak lebar memancarkan rasa dendam yang terbalaskan saat melihat Sasi terbaring tak berdaya meraung-raung di bawah kaki suaminya.
"Pukul lagi, Mas! Biar perempuan ini sadar diri kalau dia cuma tumpangan di rumah kita!" racik Fitria terus memprovokasi, tanpa peduli bahwa darah dan lebam baru mulai membayangi seragam kerja Sasi yang kotor.
Air mata Sasi merembes deras membasahi marmer lantai.
Di tengah rasa perih luka cambukan yang membakar dadanya, Sasi menatap Adrian yang berdiri menjulang di hadapannya dengan tatapan parau, hampa, dan penuh kebencian mendalam—menyadari bahwa sangkar emas ini telah berubah menjadi neraka tempat jiwanya dihabisi tanpa ampun.
Sasi yang kondisi fisiknya sudah terpuruk akibat trauma pemerkosaan Hendrik dan lecet-lecet luka sebelumnya, tidak sanggup menahan rasa sakit fisik dan batin dari cambukan tersebut.
Setelah lecutan bertubi-tubi yang menyiksa, tubuh Sasi gemetar hebat.
Bisikan minta ampun yang keluar dari bibirnya yang pucat perlahan meluruh menjadi hembusan napas yang makin lemah.
Rasa pening yang amat sangat menghantam kepalanya, hingga pandangannya berubah menjadi gelap gulita.
Sasi ambruk dan pingsan tak sadarkan diri di atas lantai dingin dengan luka memar baru yang merembeskan rasa sakit.
Melihat tubuh Sasi yang tergeletak tak berdaya bagai mayat, ayunan tangan Adrian seketika terhenti.
Ikat pinggang kulit di genggamannya terlepas begitu saja, jatuh membentur lantai dengan suara kencang.
Napas Adrian memburu hebat, dadanya naik turun saat kesadarannya kembali perlahan.
Matanya membelalak menatap jemarinya yang gemetar, lalu beralih pada sosok wanita muda yang terbaring kaku tak bergerak di hadapannya.
Rasa terkejut dan penyesalan mendalam seketika menyapu habis amarah yang tadi membakar benaknya.
"Sasi?" bisik Adrian dengan suara parau yang kehilangan keperkasaannya.
Fitria yang berdiri di sudut ruangan sempat terperanjat, namun dengan cepat menyunggingkan senyum dingin.
"Halah, paling dia cuma pura-pura pingsan biar kamu kasihan, Mas. Biarkan saja—"
"DIAM, FITRIA!" bentak Adrian dengan nada suara yang begitu rendah dan sarat akan ancaman berbahaya.
Adrian berlutut di samping tubuh Sasi yang dingin.
Tangannya merengkuh bahu wanita itu, mengangkat kepalanya yang terkulai pasrah.
Wajah Sasi pucat pasi, dan jejak air mata kering masih tersisa di pipinya, berpadu dengan luka cambukan memerah di balik pakaiannya.
Rasa bersalah yang teramat besar menghantam dada Adrian hingga membuatnya sesak.
Bayangan peringatan Dokter Maya tentang kondisi psikologis dan trauma fisik Sasi kembali berputar hebat di kepalanya—dan kini, ia justru baru saja menambah siksaan itu dengan tangannya sendiri.
Adrian segera menyusupkan tangannya ke bawah tubuh Sasi, lalu membopong tubuh wanita yang tak sadarkan diri itu ke dalam pelukannya.
Langkah kakinya yang lebar dan terburu-buru membawa Sasi menuju kamar utama.
Melihat suaminya justru memperlakukan Sasi dengan lembut, amarah Fitria kembali meledak di lorong.
"Mas! Mau kamu bawa ke mana perempuan itu?!" teriak Fitria dengan suara melengking penuh kecemburuan dan kekesalan. "Dia cuma pura-pura! Kenapa kamu malah membawanya ke kamar utama lagi?!"
Adrian tak menoleh sedikit pun. Ia mengabaikan semua jeritan Fitria, melangkah masuk ke dalam kamar utama, lalu membanting pintu rapat-rapat demi mengunci gangguan dari luar.
Dengan penuh kehati-hatian, Adrian meletakkan tubuh Sasi yang kaku dan pucat di atas ranjang berukuran besar.
Ia berlutut di tepi tempat tidur, menatap wajah polos wanita muda yang kini terpejam rapat dengan sisa-sisa air mata di pipinya.
"Sasi, maafkan aku. Maaf, Sasi." bisik Adrian parau.
Penyesalan dahsyat meremas dadanya hingga terasa sesak.
Matanya kemudian tertuju pada seragam kerja Sasi yang robek akibat lecutan gesper tadi.
Di balik robekan kain itu, membayang luka sabetan memerah yang membengkak, berpadu memilu dengan memar-memar kebiruan bekas kekejaman Hendrik yang belum sempat sembuh.
Pemandangan itu membuat tangan Adrian gemetar hebat.
Ia menyadarkan dirinya, lalu bangkit berdiri menuju lemari.
Adrian mengambil kotak P3K yang tersimpan di sana, sekaligus memilihkan sehelai piyama kain yang lembut dan bersih milik Sasi dari dalam laci.