Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Reinkarnasi Menjadi Usia 15 Tahun — Part 3
Ruangan itu sunyi.
Bukan sunyi yang nyaman seperti di kamarnya yang disinari matahari pagi. Ini adalah sunyi yang berat, sunyi yang sengaja diciptakan. Dinding kayu yang tebal meredam semua suara dari luar. Tidak terdengar suara ayam, tidak terdengar suara ibu di dapur. Hanya terdengar detak jam kayu tua di sudut ruangan dan napas dua orang yang ada di dalamnya.
Yamada berdiri di depan pria yang disebut sebagai ayahnya. Pria yang menurut memori sisa tubuh ini seharusnya adalah sosok yang hangat, tapi sekarang terasa seperti seorang hakim.
Pria itu tidak langsung berbicara.
Tatapannya terus mengamati Yamada seolah sedang mencari sesuatu. Bukan mencari luka, bukan mencari apakah anaknya sudah sehat. Tatapannya meneliti, membedah, seperti seorang pandai besi yang menatap pedang retak untuk mencari di mana letak cacatnya. Dari ujung rambut yang masih berantakan, ke mata yang terlihat terlalu tenang, ke cara berdirinya yang terlalu santai, ke mantel yang sedikit kebesaran.
Yamada membalas tatapan itu dengan tenang. Atau setidaknya, dia berusaha terlihat tenang. Di kehidupan sebelumnya, dia adalah ahli dalam terlihat tenang padahal di dalam kepala sedang berpikir, "kapan ini selesai, aku ingin tidur".
Ayahnya mencurigakan.
Suara pemilik tubuh yang asli terdengar di dalam pikirannya. Suara itu kecil, cemas.
Ayah tidak pernah menatapku seperti itu sebelumnya. Biasanya Ayah menatapku seperti... seperti anak kecil. Sekarang dia menatapku seperti melihat orang asing.
Yamada mendengar itu, tapi dia tidak menjawab di dalam hati. Dia tidak bisa. Ayahnya ada tepat di depannya.
"Jadi," kata Yamada akhirnya, memecah keheningan yang terlalu lama. Dia memutuskan untuk mengambil inisiatif, karena diam terlalu lama juga merepotkan. "Apa yang terjadi? Kenapa Ibu bilang Ayah ingin bicara soal sesuatu yang penting?"
Pria itu masih tidak menjawab. Dia perlahan menyandarkan tubuhnya yang tegap pada kursi kayu besar di belakang meja. Kursi itu berderit pelan.
"Namamu Yamada."
"Ya." Yamada mengangguk. Itu satu-satunya hal yang mereka berdua sepakati.
"Usiamu lima belas tahun."
Yamada mengangguk lagi. "Aku tahu. Atau setidaknya, tubuh ini lima belas tahun."
"Aku bukan sedang bertanya." Suara pria itu datar, tapi ada tekanan di dalamnya. "Aku sedang memastikan apa yang masih kau ingat."
Kalimat itu membuat Yamada sedikit terkejut. Memastikan apa yang masih diingat. Jadi ayahnya sudah menduga ada yang salah dengan ingatan anaknya.
Pria itu mengambil sebuah benda kecil dari atas meja yang penuh dengan kertas dan peta. Gerakannya pelan, hati-hati, seolah benda itu sangat berharga dan berbahaya pada saat yang sama.
Sebuah kristal transparan. Ukurannya tidak lebih besar dari kepalan tangan anak kecil. Bentuknya tidak beraturan, seperti pecahan es yang tidak pernah mencair. Di dalamnya, ada kabut tipis berwarna putih yang bergerak-gerak pelan, seperti asap.
Yamada langsung memperhatikannya. Matanya yang malas tiba-tiba fokus. Ada sesuatu tentang kristal itu yang menarik perhatiannya. Bukan karena indah, tapi karena terasa... hidup.
"Ini adalah Kristal Jiwa." Pria itu mengatakannya dengan suara pelan, hampir seperti berbisik.
Kristal Jiwa?
Suara pemilik tubuh yang asli terdengar penasaran, ketakutannya sedikit terlupakan karena rasa ingin tahu. Aku pernah dengar dari Ayah. Kristal Jiwa dipakai untuk melihat kondisi seseorang. Tapi Ayah bilang itu benda yang sangat langka, hanya dimiliki oleh tabib istana atau bangsawan.
Yamada tidak menjawab suara di dalam kepalanya. Dia tetap menatap kristal itu.
Pria itu meletakkan kristal tersebut di atas meja, tepat di tengah-tengah antara dirinya dan Yamada. Cahaya matahari pagi yang masuk dari jendela memantul di permukaannya.
"Dua hari lalu, kau ditemukan di dekat Hutan Elaria."
Nama itu asing bagi Yamada yang pendatang, tapi tubuhnya bereaksi. Bulu kuduknya sedikit berdiri.
Yamada mengerutkan kening, memainkan perannya sebagai anak yang baru bangun dari koma.
"Hutan? Hutan Elaria?"
"Ya." Ayah itu mengangguk.
"Apa aku pergi ke sana? Aku tidak ingat." Yamada bertanya, dengan nada yang dibuat sebingung mungkin.
Pria itu diam sejenak, matanya tidak lepas dari Yamada, mencari kebohongan di wajahnya.
"Kau pergi bersama beberapa anak dari desa. Reno, Mira, dan Jio."
Yamada menatapnya. Nama-nama itu tidak ada artinya bagi Yamada yang pendatang, tapi di dalam kepalanya, Yamada yang asli bergumam, Teman-temanku...
"Kenapa? Untuk apa kami pergi ke hutan?" Yamada melanjutkan pertanyaannya.
"Kalian ingin mencoba masuk ke bagian luar hutan. Mencari jamur bulan, katamu. Atau mungkin hanya iseng, menguji nyali." Pria itu menghela napas, napas seorang ayah yang kecewa tapi lega karena anaknya selamat. "Kau tahu aturannya. Anak-anak dilarang mendekati Hutan Elaria tanpa pengawasan orang dewasa. Hutan itu bukan hutan biasa."
Yamada menunggu. Dia tahu akan ada 'tapi'.
"Namun sesuatu terjadi di sana."
"Apa?" Yamada bertanya, kali ini dengan rasa penasaran yang tulus.
"Semua anak kembali ke desa menjelang sore. Mereka berlari, ketakutan."
Yamada menunggu kelanjutannya.
"Tidak ada yang terluka. Secara fisik. Tapi mereka semua mengatakan hal yang sama. Mereka mendengar suara aneh dari dalam hutan, lalu cahaya terang, lalu mereka tidak ingat apa-apa dan sudah berada di pinggir hutan."
"Tapi aku?" Yamada menunjuk dirinya sendiri.
"Kau tidak kembali bersama mereka." Pria itu menatap Yamada dalam. "Kau ditemukan tidak sadarkan diri. Jauh lebih dalam dari tempat mereka berada. Di tempat yang seharusnya tidak bisa dicapai oleh anak-anak."
Yamada menyipitkan mata. Jantungnya mulai berdetak sedikit lebih cepat.
"Di mana? Di mana aku ditemukan?"
"Di tengah lingkaran sihir."
Untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan itu, ekspresi Yamada yang dibuat-buat tenang itu benar-benar berubah. Alisnya terangkat.
"Lingkaran sihir?"
"Ya." Pria itu tidak bercanda. Dia mengambil selembar kertas perkamen yang sudah agak menguning dari tumpukan di mejanya dan menggesernya ke arah Yamada.
Di atasnya terdapat gambar sebuah lingkaran dengan pola yang sangat rumit. Lingkaran di dalam lingkaran, dengan simbol-simbol yang tidak pernah Yamada lihat sebelumnya. Simbol-simbol itu bukan huruf, tapi lebih seperti gabungan antara rumus matematika dan tulisan kaligrafi kuno. Garis-garisnya saling terhubung dengan presisi yang luar biasa.
"Seperti ini. Aku menyuruh Reno menggambarkannya dari ingatannya sebelum dia lupa. Ini yang mereka lihat di sekitarmu saat mereka meninggalkanmu."
Yamada memperhatikan gambar tersebut, mengambil kertas itu dan mendekatkannya ke matanya. Dia tidak mengerti bahasa yang tertulis di dalam lingkaran. Tulisan itu asing, melingkar, berputar-putar.
Namun anehnya...
Dia mengerti struktur gambarnya.
Bukan sekadar memahami bentuknya indah atau rumit. Otaknya yang malas itu tiba-tiba bekerja dengan cara yang berbeda. Dia bisa melihat hubungan setiap simbol, seperti melihat sebuah papan sirkuit elektronik.
Bukan sekadar memahami bentuknya.
Dia bisa melihat alurnya. Dia bisa melihat logikanya.
"Ini bukan lingkaran sihir biasa." Gumam Yamada tanpa sadar. Suaranya pelan, hampir seperti dia berbicara pada dirinya sendiri.
Ayahnya yang sedang mengamati, langsung terdiam, tubuhnya menegang.
"Kau tahu? Kau bisa membaca lingkaran itu?"
Yamada menunjuk bagian tengah lingkaran yang paling rumit, bagian yang memiliki tujuh simbol yang saling mengunci.
"Bagian ini berfungsi sebagai pusat. Core. Tempat energi dikumpulkan. Lihat, semua garis mengarah ke sini, seperti sungai yang bermuara ke danau."
Kemudian jarinya berpindah ke empat simbol di sekeliling pusat, yang dihubungkan oleh garis lurus.
"Yang ini seperti penghubung. Atau konverter. Mengubah energi mentah menjadi sesuatu yang bisa dipakai. Seperti... adaptor."
Lalu ke sisi luar lingkaran yang memiliki pola berulang yang mirip dengan rantai.
"Sedangkan pola ini... pola rantai ini..." Yamada berhenti. Matanya menyipit, mencoba menafsirkan fungsi dari pola yang paling luar. Otaknya berputar cepat.
"...berfungsi seperti pemindah. Atau pemanggil. Sebuah gerbang. Untuk memindahkan sesuatu dari satu tempat ke tempat lain. Atau memanggil sesuatu dari tempat lain ke sini."
Ruangan itu kembali sunyi. Sunyi yang lebih berat dari sebelumnya.
Ayahnya berdiri. Kursinya terdorong ke belakang dengan suara berderit keras.
"Kau bisa membacanya?" Suaranya tidak lagi datar. Ada nada terkejut, tidak percaya, dan... takut.
Yamada menatapnya, baru sadar bahwa dia sudah mengatakan terlalu banyak.
"Aku hanya melihat polanya. Strukturnya masuk akal. Seperti melihat rumus."
"Tidak mungkin." Pria itu menggelengkan kepalanya, menatap Yamada seperti melihat hantu. "Kau tidak pernah belajar sihir. Aku melarangmu belajar sihir. Ibumu juga melarangmu. Sejak kecil, kau bahkan tidak pernah diizinkan menyentuh buku sihir. Kau hanya belajar cara bertani dan cara menggunakan pedang kayu."
Yamada terdiam. Informasi baru. Jadi pemilik asli tubuh ini memang buta soal sihir.
Benar. Suara Yamada yang asli membenarkannya di dalam kepala, dengan suara yang juga bingung. Aku bahkan tidak pernah melihat lingkaran seperti itu. Ayah selalu bilang sihir itu berbahaya, jangan dipelajari.
Yamada kembali melihat gambar tersebut, mencoba menutupi kepanikannya dengan rasa penasaran.
"Kalau begitu..." Dia menunjuk bagian tengah yang paling gelap, yang tadi dia sebut sebagai pusat. Di sana ada sebuah simbol kecil yang berbeda dari yang lain, simbol yang terlihat seperti mata yang terpejam.
"Kenapa ada simbol ini di pusatnya? Simbol ini tidak terhubung ke mana pun. Dia terisolasi. Seperti... seperti segel. Atau seperti kurungan."
Ayahnya tidak menjawab. Dia hanya menatap Yamada, dengan tatapan yang kini penuh dengan konflik.
Yamada tersenyum tipis, senyum malas yang khas. "Jadi memang ada sesuatu yang kau sembunyikan, Ayah. Kau tahu apa lingkaran ini, kan? Kau tahu apa simbol mata itu."
Pria itu menghela napas panjang, napas yang berat, seolah-olah dia sudah menahan rahasia ini terlalu lama.
"Kau terlalu cepat menyimpulkan sesuatu, Yamada."
"Aku hanya bertanya. Bertanya itu tidak dilarang, kan?" Jawab Yamada santai.
"Dan kau sudah menemukan jawabannya sendiri." Pria itu berjalan mendekati jendela, membelakangi Yamada, menatap ke arah hutan yang samar-samar terlihat di kejauhan.
Yamada menyandarkan tubuhnya ke meja, menunggu.
"Berarti benar, ada yang kau sembunyikan tentang hutan itu dan tentang aku."
Ayahnya menatapnya cukup lama dari balik bahu.
Kemudian dia berbalik dan berkata, dengan suara yang lebih pelan, lebih serius,
"Ketika kami menemukanmu di dalam lingkaran itu, Kristal Jiwa ini berada di sampingmu. Tepat di samping kepalamu, bersinar terang. Padahal kristal ini seharusnya ada di dalam laci mejaku, terkunci. Tidak ada yang bisa mengambilnya selain aku."
Dia mengangkat kristal tersebut. Kristal transparan itu kini berada di dalam genggamannya.
"Dan kristal ini..."
Cahaya samar muncul dari dalamnya. Kabut putih di dalamnya mulai berputar lebih cepat, dan perlahan-lahan berubah warna menjadi kebiruan.
"...menunjukkan sesuatu yang tidak seharusnya ada. Sesuatu yang belum pernah kulihat selama dua puluh tahun aku menjadi penjaga desa ini."
Yamada berdiri lebih tegak. Nalurinya mengatakan bahwa ini adalah inti dari semuanya.
"Apa? Apa yang ditunjukkannya?"
Pria itu menatap kristal itu, lalu menatap mata Yamada. Mata ayah dan anak itu bertemu.
"Jiwamu terdeteksi dua kali."
Hening.
Hening total. Bahkan suara detak jam kayu pun seolah berhenti.
Yamada tidak bergerak. Tidak berkedip. Wajahnya tetap datar, tapi di dalam dadanya, jantungnya berdetak begitu kencang hingga terasa sakit.
Di dalam pikirannya, suara pemilik tubuh yang asli juga terdiam total. Tidak ada gumaman, tidak ada protes. Hanya keheningan yang penuh ketakutan.
"Apa maksudmu?" Yamada akhirnya bertanya, dengan suara yang dia buat sesantai mungkin, meskipun tenggorokannya terasa kering.
"Dua sumber jiwa. Dua frekuensi yang berbeda." Ayahnya menjelaskan, dengan nada seorang ahli yang sedang menjelaskan fenomena aneh. "Satu jiwa... terasa sangat tua, sangat lelah, asing. Dan satu jiwa lagi... terasa muda, familiar. Jiwamu, anakku."
Ayahnya menatap mata Yamada lekat-lekat, seolah-olah dia bisa melihat dua jiwa itu sedang bertarung di dalamnya.
"Seolah-olah ada dua orang yang hidup dalam satu tubuh. Dua kesadaran yang berbagi satu wadah."
Jantung Yamada berdetak lebih cepat. Sangat cepat hingga dia takut ayahnya bisa mendengarnya.
Dia tahu. Suara pemilik tubuh yang asli terdengar pelan di dalam kepala, dengan nada putus asa. Dia tahu tentangku. Dia tahu aku masih di sini. Apakah dia akan mengusirmu? Atau mengusirku?