Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

...

20.00 WIB. Malam semakin larut.

Lampu utama ruang keluarga dimatikan, menyisakan cahaya hangat dari lampu sudut dan layar televisi yang terus berganti-ganti menampilkan acara. Suasana apartemen terasa jauh lebih hidup dibanding beberapa hari terakhir.

Celine duduk santai di atas sofa sambil memeluk bantal.

Sedangkan Evelyn selonjoran di atas karpet tebal, bersandar pada sofa sambil memegang sebungkus keripik. Sesekali suara kunyahan mereka bercampur dengan suara televisi.

Untuk malam ini Evelyn merasa sedikit tenang. Sedikit. Karena sisanya masih dipenuhi kecemasan. Matanya menatap layar TV. Namun pikirannya entah ke mana. Kasus mall. Kurir misterius. Wanita yang ditemukan tewas di lift. Dan kejadian di toilet kampus tadi siang. Semua itu berputar-putar di kepalanya.

"Aduh..." gumamnya pelan.

Celine melirik. "Kenapa si?"

Evelyn memasukkan keripik ke mulutnya. Diam beberapa saat. Lalu...

"Cel."

"Kenapa?"

"Kalo misalnya..." Evelyn berpikir sejenak. "MISALNYA ya."

"Iya?"

"Kalo lo ngerasa ada sesuatu yang nggak beres di sekitar lo..."

"Terus?"

"Lo bakal ngapain?"

Celine mengangkat alis. "Itu pertanyaan random atau curhat terselubung?"

"...curhat terselubung."

"Nah kan."

Evelyn mendesah panjang sebelum akhirnya ia mematikan suara televisi. Celine langsung tahu kalau temannya sedang serius. Jarang-jarang. Biasanya Evelyn lebih sering bercanda daripada berpikir.

"Eve?" ucap Celine penasaran.

Evelyn menggaruk pipinya pelan. "Loe janji dulu jangan bilang gue gila."

"Belum denger ceritanya."

"Janji dulu."

"Yaudah janji."

Barulah Evelyn mulai bercerita.

Tentang alasan sebenarnya ia pindah sementara dari mansion. Tentang berita wanita yang ditemukan meninggal di lift rumahnya sendiri. Tentang bagaimana lokasi kejadian itu tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tentang kurir makanan yang terasa aneh.

Tentang firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan.

Namun ia sengaja tidak menceritakan bagian paling penting. Tentang transmigrasi. Tentang novel. Tentang Altair. Tentang semua hal mustahil yang tidak mungkin dipercaya orang normal. Ia hanya menceritakan bagian yang masih terdengar masuk akal.

Semakin lama mendengar, ekspresi Celine berubah semakin serius. Keripik di tangannya bahkan sudah tidak disentuh lagi.

sedikit terkejut.

Celine menatapnya.

"Kejadian-kejadian akhir-akhir ini emang aneh."

"Hah?" Evelyn.

"Kasus mall itu. Kasus lift itu. Terus kejadian toilet kampus tadi." ucap Celine.

Evelyn langsung menegakkan badan. "Lo juga mikir gitu?"

"Iya." Celine menyilangkan tangan. "Dan yang bikin gue heran..."

"Apa?"

"...jadi lo takut orang itu ada hubungannya sama kasus lift?" tanya Celine akhirnya.

Evelyn mengangguk.

"Entahlah atau mungkin gue cuma overthinking. Tapi rasanya aneh. Sumpah aneh banget."

Celine tidak langsung menjawab. Ia justru terdiam. Berpikir cukup lama.

Sampai akhirnya Evelyn mulai gelisah. "Kenapa? Lo juga ngerasa gue lebay ya?"

"Nggak." Jawaban itu keluar terlalu cepat. Membuat Evelyn "Semuanya ditutup terlalu cepat."

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Bahkan suara AC terdengar jelas.

Celine kemudian melanjutkan. "Kasus mall.

Beritanya hilang dalam sehari.

Kasus lift. Juga sama. Padahal harusnya heboh. Terus kejadian toilet kampus. Jangankan media... Mahasiswa aja hampir nggak ada yang tahu."

Evelyn perlahan menelan ludah. Karena... semua yang dikatakan Celine benar. Terlalu benar.

"Ada yang nutupin?" gumam Evelyn pelan.

"Mungkin. Mungkin juga enggak. Tapi jelas ada sesuatu yang nggak normal."

Celine mengambil ponselnya. Lalu mulai mengetik sesuatu.

"Lo ngapain?" tanya Evelyn.

"Nyari berita lama."

Beberapa menit berlalu.

Tiba-tiba Celine berhenti. Ekspresinya berubah.

"Ev."

"Napa?"

"Coba lihat ini."

Evelyn langsung mendekat. Di layar ponsel terlihat artikel berita lama. Sudah hampir dua tahun lalu. Judulnya sederhana.

Mahasiswa Universitas Argenia Ditemukan Tewas di Area Parkir Kampus.

Evelyn mengernyit.

"Terus?"

"Perhatiin." Celine menunjukkan artikel berikutnya. Lalu artikel berikutnya. Dan berikutnya lagi.

Perlahan wajah Evelyn memucat. Karena semua berita itu... berasal dari kota yang sama. Area yang sama. Dan beberapa di antaranya... terjadi di sekitar kampus mereka.

"Cel..." suara Evelyn mulai mengecil. "Ini..."

"Ya." Celine juga terlihat tidak nyaman. "Awalnya gue kira kebetulan. Tapi kalau dikumpulin..."

Jumlahnya tidak sedikit. Belasan kasus. Dalam kurun waktu beberapa tahun.

Beberapa dinyatakan kecelakaan. Beberapa bunuh diri. Beberapa hilang tanpa jejak. Namun setelah dibaca berurutan... terlihat pola yang membuat merinding. Seolah ada sesuatu yang terus terjadi berulang.

Suasana ruang keluarga yang semula hanya dipenuhi suara televisi kini berubah menjadi sunyi. Artikel-artikel berita yang baru saja mereka baca masih terpampang di layar ponsel Celine.

Semakin dipikirkan, semakin membuat merinding. Evelyn bahkan sudah mulai membayangkan berbagai kemungkinan buruk. Sampai akhirnya-

ток.

ток.

ток.

Suara ketukan pintu terdengar dari arah depan apartemen.

" 11

Dua gadis itu langsung membeku. Refleks. Tanpa berpikir panjang. Evelyn

langsung bergeser dan memeluk lengan Celine erat-erat. Bahkan terlalu erat.

"C-Cel..."

"Hah?!" Celine sampai kaget. "Kenapa meluk gue?!"

6

279

"Ada yang ngetuk!"

"Ya emang pintu fungsinya buat diketuk!"

"Tapi timing-nya serem banget cok!"

ток.

ток.

ток.

Ketukan itu kembali terdengar. Evelyn semakin merapat.

"Celine."

"Apa lagi?"

"Kalau gue mati..."

"Jangan mulai."

"Tolong kasih tau Raya kalau gue kangen dia."

"WOI!" Celine langsung menepuk kepala Evelyn pelan.

Meski begitu... jujur saja dirinya juga mulai agak waswas.

Apalagi setelah satu jam terakhir mereka membahas pembunuhan dan berita-berita misterius.

Namun Celine berusaha tetap tenang. Ia menarik napas panjang. "Lihat sisi positifnya."

"Apa?" Evelyn.

"Ini private floor." Celine

"Iya..." Evelyn

"Mana mungkin orang sembarangan bisa naik ke sini." Celine.

Evelyn berpikir sejenak. Lalu mengangguk. Masuk akal. Setidaknya sedikit.

"Lo ada pesen makanan?"

"Nggak."

"Paket?"

"Nggak."

"Teman?"

"Temen gue cuman lo disini."

"Oke. Itu agak ngenes."

Akhirnya mereka berdiri.

Perlahan menuju pintu. Dan sebagai langkah antisipasi yang menurut Evelyn sangat cerdas... ia mengambil tongkat baseball yang disimpan di dekat sofa.

Melihat itu, Celine langsung memegang dahinya. "Lo serius?"

"Kalau ada pembunuh gue pukul."

"Kalau ternyata petugas apartemen?"

"...gue minta maaf."

Mereka berjalan pelan. Sangat pelan. Seolah pintu itu menyimpan rahasia besar di baliknya.

Evelyn bahkan memegang tongkat baseball seperti tokoh utama film zombie. Celine yang melihatnya hanya bisa menghela napas. "Kenapa gue temenan sama orang ini..."

Sesampainya di depan pintu, Celine mengintip melalui peephole. Lalu ekspresinya berubah datar. "Hah."

"Apa?"

"Kayaknya bukan pembunuh."

"Lalu?"

"Lebih mirip bapak-bapak."

"Hah?"

Perlahan Celine membuka pintu. Dan benar saja. Seorang pria paruh baya berdiri di sana mengenakan seragam petugas maintenance apartemen. Di tangannya terdapat kotak peralatan lengkap. Obeng, tang, tester listrik, dan beberapa alat lainnya.

Pria itu tampak sedikit bingung melihat dua penghuni apartemen yang berdiri tegang seperti sedang menghadapi teroris.

6

"Selamat malam, Nona."

"Eh..."

"Saya dari bagian maintenance."

Evelyn masih memegang tongkat baseball.

"Maintenance?"

"Iya." Petugas itu menunjukkan data pada tabletnya. "Siang tadi ada laporan lampu kamar mandi mati di unit ini."

Hening.

Dua detik.

Tiga detik.

Empat detik.

Lalu Evelyn berkedip. Sekali. Dua kali. Kemudian matanya membesar.

"Oh."

Celine langsung menoleh.

"Oh?"

"Oh iya..."

"Oh iya?"

"Itu laporan gue."

Wajah Celine perlahan berubah. Seperti gunung berapi yang siap meletus.

"JADI..."

"Iya."

"INI..."

"Iya."

"LAPORAN LO SENDIRI?!"

Evelyn langsung nyengir bersalah.

"Hehe."

"Hehe katanya!"

Celine hampir saja benar-benar mengampar sahabat barunya itu. Mereka sudah ketakutan setengah mati. Sudah membahas pembunuh berantai.

Sudah siap menghadapi psikopat.

Ternyata yang datang hanyalah bapak teknisi yang ingin memperbaiki lampu kamar mandi. Petugas itu sendiri tampak berusaha menahan senyum.

"Mohon izin masuk, Nona."

"Oh iya, silakan Pak."

Evelyn buru-buru minggir. Petugas itu masuk dan langsung menuju kamar mandi.

Sementara Celine masih berdiri di tempat dengan tatapan tidak percaya.

"Eve."

"Hm?"

"Kalau suatu hari gue ubanan lebih cepat..."

"Hah?"

"Itu salah lo."

Evelyn langsung tertawa kecil. "Maaf. Untung bukan pembunuh."

"Iya sih." Celine

"Kalau pembunuh bawa obeng sama tang sih kreatif juga." Evelyn.

Celine memejamkan mata. Benar-benar tidak habis pikir. Namun beberapa menit kemudian... suasana yang tadinya mencekam perlahan kembali santai.

Suara peralatan dari kamar mandi terdengar sesekali. Dan untuk pertama kalinya malam itu... mereka bisa bernapas sedikit lega.

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!