Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).
Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.
Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Keesokan harinya saat matahari mulai meninggi, pintu kamar Farra masih terkunci rapat. Barra yang sudah terbalut seragam rapi dan siap berangkat kuliah memilih duduk bersila di atas lantai, tepat di depan pintu kamar istrinya.
Dengan suara yang terdengar lembut dan parau, Barra kembali berbisik. "Farra... Sayang, aku siap-siap mau berangkat kuliah. Buka pintunya sebentar saja, ya? Kita berangkat bareng ke kampus."
Barra menunggu dalam hening, namun tak ada tanda-tanda kunci pintu berputar. Pria itu menghela napas berat, menahan rasa sesak di dadanya.
"Maafin aku atas kesalahpahaman kemarin, Farra. Tolong jangan skip sarapan kamu, ya. Kasihan si kembar di dalam," lanjut Barra dengan nada memohon. "Hari ini kamu istirahat saja di rumah. Nanti di kampus aku yang minta izin ke dosen, aku bilang kamu sedang kurang sehat. Aku berangkat dulu ya, Istriku..."
Setelah memastikan tidak ada jawaban, Barra melangkah berat meninggalkan rumah mertuanya menuju kampus.
Tak lama setelah deru mobil Barra menghilang dari halaman, pintu kamar akhirnya terbuka. Farra melangkah turun ke meja makan dengan mata yang masih sembab dan perut buncitnya yang kian menguatkan kesan lelah.
Fendi Aurelie dan istrinya yang sedang menikmati kopi pagi langsung menyambut putrinya. Sambil mendampingi Farra menyantap sarapannya, sang Papi mulai menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Fendi menceritakan bagaimana Barra semalam datang dengan wajah panik, menjelaskan posisi Indira yang memanfaatkan urusan pekerjaan Firma Hukum Pratama untuk sengaja mendekatinya, serta bagaimana Barra langsung mengusir wanita itu begitu Farra pergi.
Namun, kejujuran cerita dari sang Papi tidak lantas meluluhkan kebekuan hati Farra. Pengaruh emosi dan sensitivitas hormon kehamilan yang tinggi membuat Farra tetap memelihara rasa sakit hatinya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Farra menyelesaikan sarapannya, berdiri, lalu kembali melangkah ke lantai atas untuk mengunci diri di dalam kamar.
Sementara itu di area koridor kampus saat jam istirahat, atmosfer di sekitar Barra terasa amat mencekam. Barra duduk menyendiri di salah satu sudut bangku dengan raut wajah dingin dan tatapan kosong, mengabaikan kebisingan mahasiswa lain.
Melihat kesempatan itu, Indira yang merasa bersalah—sekaligus tak ingin kehilangan muka dan akses bisnis—dengan berani melangkah mendekati Barra.
"Barra... aku mau minta maaf soal kejadian kemarin di kantor kamu," ujar Indira dengan raut wajah yang dibuat penuh penyesalan. "Aku benar-benar nggak ada maksud buat bikin rumah tangga kamu dan Farra bermasalah. Kertas dokumen itu cuma mau aku—"
Bahkan sebelum Indira menyelesaikan kalimatnya, Barra langsung berdiri. Tanpa sudi menatap wajah Indira sedikit pun, Barra melangkah menjauh, memperlakukan wanita itu bagaikan angin lalu yang tak berwujud.
Gabriella yang berdiri tak jauh dari sana bersama Ben menyaksikan adegan tersebut dengan bersedekah tangan. Dengan senyum sinis melintas di bibirnya, Gabriella melangkah maju mendekati Indira yang terpaku malu karena diabaikan.
"Wah, wah... masih punya muka ternyata buat muncul di depan Barra?" cemooh Gabriella dengan nada suara cukup keras hingga memancing perhatian beberapa mahasiswa di sekitar koridor.
Indira menoleh tajam, melipat tangannya di dada. "Ini urusan profesional antara firma hukum Papi aku sama keluarga Saputra. Kamu nggak usah ikut campur, Gabriella."
Gabriella tertawa renyah, tatapannya menyalang penuh penghinaan. "Urusan profesional atau modus murah? Nggak usah sok polos deh, Indira. Semua orang di sini juga tahu kamu itu cuma parasit yang mencoba merusak pernikahan Barra dan Farra!"
Kata 'parasit' yang meluncur pedas dari mulut Gabriella seketika membuat wajah Indira memerah padam menahan malu dan amarah di tengah bisik-bisik mahasiswa lain yang mulai mengelilingi mereka.