Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengasuh Manis Sang Direktur

Pengasuh Manis Sang Direktur

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengasuh
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.

Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.

Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**

Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.

Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.

Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.

Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35

Balas Dendam Roy

Sekar

Jumat malam, aku membantu Yuni menjual pakaian rumahan di pasar malam pinggiran Surabaya.

Kami belum punya produk sendiri. Yuni meminjam satu sisi lapak sepupunya untuk belajar melayani pembeli, mencatat ukuran yang paling laku, dan mengamati cara pedagang menata lampu. Bayu sudah menjelaskan dua petugas berpakaian biasa ditempatkan di sekitar pasar. Aku menyimpan tombol darurat di layar utama ponsel.

"Den Nara serius sekali," kata Yuni.

"Karena Sukir dan Roy belum selesai."

"Bukan karena dia ingin tahu semua lelaki yang mampir?"

Aku menyerahkan kantong kepada pembeli agar tidak menjawab.

Malam berjalan ramai. Kami menjual tujuh potong, salah mencatat satu ukuran, lalu memperbaikinya sebelum pembeli pergi. Kesalahan kecil itu justru membuatku belajar lebih banyak daripada rencana di kertas.

Seorang ibu menawar terlalu rendah dan Yuni hampir menyerah. Aku menghitung modal, lalu menawarkan potongan kecil bila dia membeli dua. Dia setuju. Seorang mahasiswi meminta warna yang tidak tersedia, jadi aku mencatat nomor WhatsApp dan pilihannya sebagai riset, bukan janji pesanan.

"Kau ternyata cocok jualan," kata Yuni.

"Karena saya tahu rasanya uang sedikit harus cukup untuk banyak kebutuhan."

Kami memotret susunan lapak, menulis model paling sering disentuh, dan menghitung laba setelah biaya sewa meja. Hasilnya tidak besar, tetapi nyata. Aku membayangkan label milik kami sendiri tergantung di sana suatu hari nanti.

Di kejauhan, seorang perempuan berjaket abu-abu beberapa kali terlihat dekat kios minuman. Dia petugas yang diperkenalkan Bayu sebelum pasar dibuka. Mengetahui keberadaannya membuatku tenang tanpa merasa diikuti.

Menjelang pukul sepuluh, pedagang mulai membereskan barang. Yuni pergi ke ujung lorong mengambil kardus. Aku menjaga lapak sendirian selama beberapa menit.

Tiga lelaki berhenti di depanku.

Roy berada di tengah.

Bekas kemarahan lama langsung terlihat di matanya. Dua temannya berdiri menutup sisi kiri dan kanan lapak.

"Lama tidak ketemu," katanya. "Sekarang jadi pedagang?"

Tanganku meraih ponsel di bawah meja.

"Pergi."

"Galak sekali. Waktu di gang kau bikin muka saya kena cabai. Bos kaya itu juga bikin saya dipermalukan polisi."

"Karena Mas menyerang saya."

"Malam ini kita hitung utangnya."

Aku menekan tombol darurat. Layar bergetar sekali, tanda lokasi terkirim ke grup keamanan dan polisi sektor.

Aku tidak langsung lari. Sisi kanan tertutup temannya, sementara belakang lapak hanya terpal. Aku menggeser tubuh perlahan ke arah lorong utama yang masih ramai.

"Kalau mau bicara, di sini saja," kataku keras. "Banyak saksi."

Roy tersenyum. "Kau pikir mereka berani?"

Beberapa pedagang menoleh. Aku sengaja menjatuhkan gantungan pakaian. Bunyi logam menarik lebih banyak perhatian.

"Yuni!" teriakku.

Salah satu teman Roy melangkah ke arah ujung lorong. Aku mengangkat ponsel.

"Lokasi sudah terkirim. Polisi sedang datang."

"Bohong."

"Coba tunggu."

Aku terus bergerak. Roy mengikuti, marah karena aku tidak menunjukkan ketakutan yang dia inginkan.

"Majikanmu tidak ada malam ini," katanya.

"Mas mengawasi saya?"

"Kau keluar tiap Jumat, pulang lewat gerbang timur. Mudah."

Pernyataannya membuat tengkukku dingin. Ini bukan pertemuan kebetulan. Dia mempelajari jadwal, mungkin sejak sebelum Bayu menambah penjagaan.

"Semua ucapan Mas direkam." Ponsel kugenggam mengarah keluar.

Roy menamparnya. Tali pengaman di pergelangan membuat ponsel hanya terayun dan tetap merekam.

"Belajar juga kau," ejeknya.

"Dari kesalahan Mas."

Wajahnya berubah. Waktu bicara hampir habis. Aku harus bertahan beberapa detik lagi.

"Saya tidak butuh majikan untuk bilang jangan sentuh saya."

"Kita lihat."

Tangannya meraih lengan. Aku memutar tubuh sehingga jari-jarinya hanya mencengkeram kain luar. Dengan tangan lain, aku menarik peluit kecil dari tas dan meniup sekuat tenaga.

Suara nyaring memecah pasar.

Roy mengumpat dan mencoba merampasnya. Aku menendang keranjang plastik ke kakinya, lalu mundur ke arah kerumunan.

Dua lelaki berpakaian biasa muncul dari sisi berbeda. Salah satunya Bayu.

Petugas perempuan berjaket abu-abu tiba bersamaan dan menarikku keluar dari jangkauan. Dia berdiri di depanku. Bayu memberi perintah singkat kepada petugas kedua, membagi tiga ancaman tanpa kekacauan.

Roy mengayunkan siku. Bayu menghindar, mengunci tangan ke belakang, lalu membawanya berlutut tanpa menendang. Temannya menjatuhkan botol kaca dari balik jaket. Petugas segera menjauhkan pecahan dari kerumunan.

Sebuah pisau lipat ditemukan pada teman lainnya, masih tertutup. Melihat benda itu, aku sadar bergerak ke keramaian dan menunggu pengamanan telah menyelamatkanku dari hasil yang jauh lebih buruk.

"Lepaskan," katanya.

Roy menoleh, terlambat. Bayu mengunci lengannya tanpa memukul, sementara petugas lain menahan salah satu teman. Teman ketiga mencoba lari, tetapi pedagang menutup lorong dengan meja lipat.

"Jangan keroyok!" teriak Bayu. "Polisi sedang menuju lokasi. Semua tetap jadi saksi."

Aku mundur sampai punggung menyentuh tiang. Seluruh tubuh baru mulai gemetar setelah bahaya terkendali.

Yuni berlari datang. "Sekar! Kau luka?"

"Tidak. Hanya ditarik."

Dia memeluk bahuku, lalu memaki Roy sampai Bayu menyuruhnya menyimpan tenaga untuk memberi keterangan.

Sirene terdengar. Polisi masuk melalui jalan pasar dan memisahkan semua pihak. Kamera tubuh petugas Bayu merekam sejak Roy mendekat. Tombol darurat mencatat waktu, sementara pedagang menyimpan video.

Petugas perempuan memotret bekas cengkeraman pada lenganku dengan persetujuanku. Yuni menghitung uang dan barang agar tidak ada tuduhan lain yang mengaburkan perkara. Pengelola pasar menyerahkan rekaman pintu masuk yang menunjukkan Roy menunggu hampir satu jam.

Aku memberi keterangan, termasuk ucapan tentang jadwal pulang dan gerbang timur. Polisi mencatatnya sebagai indikasi pengintaian. Bayu tidak mengambil alih jawabanku, hanya memberikan nomor laporan lama ketika diminta.

"Mbak bersedia melanjutkan pengaduan?"

Aku memandang Roy. Membiarkannya pergi tidak pernah membuatku aman.

"Bersedia."

Yuni menggenggam tanganku. "Aku ikut jadi saksi."

Roy masih mencoba berbohong.

Dia mengaku hanya datang membeli pakaian dan kami sengaja menjebaknya. Polisi meminta satu per satu saksi menceritakan tanpa saling menyela. Tiga pedagang mengulang kalimat ancamannya dengan susunan hampir sama. Rekaman ponselku menangkap pukulan pada perangkat dan pengakuannya soal mengawasi jadwal.

Teman Roy yang membawa pisau mulai menyalahkannya. Teman satunya mengaku dibayar untuk menakut-nakuti, bukan berbelanja. Kebohongan mereka runtuh bukan karena nama Adiwijaya, melainkan karena terlalu banyak bukti yang berdiri sendiri.

Bayu menunjukkan surat pengaduan lama. "Ini pengulangan terhadap korban yang sama. Kami meminta risiko keselamatan dicatat."

Petugas mengangguk dan menjelaskan bahwa keputusan penahanan mengikuti pemeriksaan serta bukti, bukan permintaan pihak kaya. Kalimat itu penting. Aku ingin Roy diproses karena tindakannya, bukan karena siapa yang datang melindungiku.

"Saya cuma menagih utang. Dia kenal saya."

"Utang apa?" tanya petugas.

Dia tidak bisa menjawab.

Aku menunjukkan laporan kejadian sebelumnya dan pesan ancaman yang disimpan Bayu. Polisi mencatat upaya intimidasi serta penyerangan berulang. Karena ada bukti video dan risiko pengulangan, Roy dan dua temannya dibawa untuk pemeriksaan malam itu.

Saat borgol dipasang, Roy menatapku penuh benci.

"Ini belum selesai."

"Ancaman itu juga direkam," jawab petugas.

Kali ini Roy benar-benar diam.

Lampu merah-biru memantul pada terpal lapak. Aku melihat pakaian berjatuhan, uang penjualan masih aman di kotak, dan daftar ukuran terinjak tetapi terbaca. Malam yang seharusnya menjadi langkah kecil menuju usaha hampir dicuri oleh ketakutan lama.

Aku membungkuk memungut daftar itu.

Satu sudut kertas terkena lumpur. Di sana masih terbaca tulisan tentang dua potong dan potongan lima ribu. Catatan biasa itu membuktikan sebelum diserang aku sedang membangun sesuatu. Roy boleh merusak malam, tetapi tidak menentukan akhir rencanaku.

"Lusa kita hitung ulang," kataku.

"Lusa," setuju Yuni. Kesepakatan itu menambatkan pikiranku pada hari setelah ketakutan.

"Biarkan," kata Yuni. "Kau duduk dulu."

"Saya tidak mau dia membuat semua pekerjaan malam ini hilang."

Aku melipat kertas dan menyimpannya.

Bayu sedang berbicara kepada polisi ketika mobil Den Nara berhenti di luar pasar. Dia turun dan berjalan cepat menerobos kerumunan. Wajahnya begitu gelap sampai orang memberi jalan.

Dia melihat Roy lebih dulu, lalu menoleh cepat mencariku. Begitu pandangan kami bertemu, kemarahan di wajahnya pecah menjadi ketakutan telanjang.

"Kau terluka?"

Aku ingin menjawab tidak. Suaraku tidak keluar.

Den Nara berhenti beberapa langkah di depanku, seolah mengingat tidak boleh menyentuh tanpa memastikan. Tangannya terbuka, tetapi dia menunggu.

Aku yang memilih berlari.

"Kar!"

Aku melihatnya, dan seluruh kekuatan yang kupakai sejak Roy datang runtuh sekaligus.

Den Nara membuka kedua tangan. Aku tidak berpikir tentang saksi, status, atau aturan. Aku berlari dan menabrak dadanya.

Lengannya langsung menutup di sekelilingku.

Satu tangan melindungi belakang kepalaku, satu lagi menahan bahu. Pelukannya erat tetapi tidak menyakitkan. Aku mencengkeram kemejanya dan akhirnya membiarkan tubuh gemetar sepenuhnya.

"Aku di sini," katanya berulang. "Kau aman."

Yuni berdiri dekat kami dengan mata basah. Bayu sengaja menghadap polisi, memberi beberapa detik tanpa menjadikan pelukan itu tontonan. Orang-orang pasar kembali mengurus lapak setelah tahu bahaya selesai.

"Saya menekan tombol," kataku di dadanya. "Saya meniup peluit."

"Saya tahu. Kau melakukan semuanya dengan benar."

"Saya takut."

"Kau boleh takut."

Sirene menelan sisa kalimat kami. Aku tetap memegangnya, bukan karena tidak bisa berdiri, melainkan karena malam ini aku memilih tempat paling aman yang kukenal.

Yuni menggenggam daftar penjualan, sementara Bayu menyerahkan salinan bukti lengkap kepada petugas yang mencatat semua ancaman malam itu.

Di belakang kami, sirene meraung dan lampu polisi berkilat di atas pasar yang mulai sepi.

1
sunaryati jarum
Bagus kau sudah bisa melawan ayahmu, yang seharusnya melindungi kamu Sekar
sunaryati jarum
Semoga berhasil
sunaryati jarum
Tuh kan sudah ada yang ngelamar.Apa Ratih suka sama Nara,kok benci sama
sunaryati jarum
Gitu dong angkat.martabatnys dulu agar tidak diremehkan , terutama Ratih.Emak itu ya kok banyak orang meremehkan karena pekerjaannya.Di tempat emak itu pembantu malah dijodohkan putranya.Tetanggaku pembantu pada seorang pejabat dijodohkan pada keponakannya,adik- adik pihak perempuan dibiayai pendidikan hingga kuliah dan bisa bekerja di pemerintahan
sunaryati jarum
Mungkin kalian berjodoh.Sekar kamu jangan menyiksa diri,lambung butuh diisi cukup tubuhmu butuh nutrizi.
sunaryati jarum
Baru mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!