Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 #Dibalik Album kenangan

Siang itu, terik matahari menghantam bumi tanpa ampun. Udara di luar terasa menyengat, namun di dalam dapur rumah sewa Bening, suasananya jauh lebih membakar. Aromanya dipenuhi harum manis vanila dan mentega yang baru selesai dipanggang.

Bening bergerak cepat. Jari-jemarinya yang lihai sibuk menata ratusan kue basah berwarna-warni yang menggoda selera ke dalam kotak-kotak dus besar. Hari ini ia mendapat pesanan dalam jumlah banyak yang harus siap tepat pukul satu siang.

Sebelumnya, Bening sudah mengirimkan pesan singkat kepada Bu Anisa, wali kelas Kaivandra. Ia menyampaikan permohonan maaf tidak bisa menjemput Kai seperti biasa karena harus menyelesaikan pesanan kue. Biasanya, jika Bening benar-benar terdesak, ia akan meminta tolong Bu Anisa untuk menjaga Kai sebentar di sekolah atau meminta bantuan Erika saat jam istirahat kantor. Namun kini, keberadaan Gibran membuat dadanya jauh lebih tenang. Setidaknya, Bening tahu pasti bahwa putra kecilnya berada di tangan yang aman.

Ciiiit...sreek...

Suara gesekan ban mobil di atas kerikil halaman depan rumahnya sempat terdengar, namun Bening terlalu fokus pada kue-kuenya. Sampai akhirnya, suara cempreng nan riang yang sangat ia kenal memecah kesibukan dapur.

"Assalamualaikum, Mama...!"

Bening terperanjat pelan, buru-buru memutar tubuhnya. "Waalaikumsalam, Sayang... Kamu pulang ke mari?"

Kaivandra berlari kecil mendekatinya dengan seragam sekolah yang masih melekat rapi. "Iya, Mama! Kai mau bantu Mama! Tadi Bu Guru bilang Mama lagi sibuk banget buat pesanan kue, jadi Kai minta Papa buat antarkan Kai pulang ke rumah Mama."

Tepat saat kalimat itu selesai diucapkan, sebuah bayangan tinggi menjulang muncul di ambang pintu dapur sederhana milik Bening. Gibran berdiri di sana. Mengenakan kemeja formal tanpa jas dengan lengan yang digulung hingga siku, kehadiran pria berkarisma itu terasa begitu kontras dengan nuansa dapur Bening yang bersahaja.

Bening menarik napas dalam-dalam, menguasai detak jantungnya yang mendadak berantakan. Ia mengalihkan pandangannya dari Gibran, lalu menunduk menatap putranya.

"Kai... ajak Papa duduk di ruang tamu depan ya, Nak. Terus Kai masuk kamar untuk ganti baju dulu," bisik Bening halus.

"Iya, Mama! Papa, ayo!" Kai menarik-narik ujung kemeja Gibran.

Gibran berbalik melangkah mengikuti langkah kecil putranya. Namun, sebelum benar-benar meninggalkan area dapur, matanya sempat tertambat pada Bening yang berpura-pura sibuk mengelap meja dapur, sengaja menghindari tatapan matanya.

"Papa duduk di kursi sini dulu ya, Kai mau ganti baju dulu di kamar," pamit Kai riang sebelum menghilang di balik pintu kamar.

"Iya, Jagoan. Pelan-pelan ganti bajunya," sahut Gibran lembut. Pria itu menyandarkan punggungnya pada sofa kain sederhana di ruang tamu yang bersih dan rapi.

Di kamar, Kai sibuk melepas seragamnya. Sementara itu di dapur, Bening menatap cangkir keramik polos di atas meja. Bagaimanapun kerasnya hati Bening, rasa hormatnya sebagai tuan rumah tetap menguasai. Gibran adalah tamu, dan lebih dari itu... Gibran adalah pria yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.

Bening menyeduh secangkir kopi panas. Tanpa sadar, jemarinya bergerak refleks mengukur takaran bubuk kopi dan gula. Otaknya tidak perlu berpikir; memorinya sudah mengunci resep itu rapat-rapat selama bertahun-tahun.

Dengan nampan kayu kecil, Bening melangkah menuju ruang tamu. Suara lengkah kakinya membuat Gibran mendongak.

Bening meletakkan cangkir kopi yang berasap tipis itu di atas meja kayu.

"Silakan diminum, Mas," ucap Bening datar, sengaja memanggilnya dengan sebutan lama yang terlepas begitu saja. Namun Bening cepat-cepat menambahkan dengan nada formal dan dingin untuk membentengi dirinya. "Tapi maaf, itu hanya bubuk kopi biasa dari warung. Bukan bubuk kopi mahal yang biasa Kamu minum di kantor atau di rumahmu."

Bening terdiam sejenak, lalu kalimat berikutnya meluncur begitu saja tanpa bisa ia tahan.

"Tapi tenang saja... takarannya persis sesuai selera Mas Gibran. Dua sendok makan bubuk kopi, tidak kurang dan tidak lebih, dengan takaran gula yang pas. Tidak terlalu pahit, dan tidak terlalu manis."

Begitu kalimat itu selesai diucapkan, Bening membeku. 'Astaga, apa yang baru saja kukatakan?' batin Bening merutuki dirinya sendiri. Ia baru saja membocorkan pada Gibran bahwa setelah tujuh tahun berpisah dan terbuang, ia masih mengingat detail terkecil tentang pria itu di luar kepala.

Wajah Bening bersemu merah karena malu dan penyesalan. Ia buru-buru memutus interaksi sebelum Gibran sempat membalas.

"Silakan diminum jika berkenan. Aku harus bergegas menyelesaikan pekerjaanku di belakang," ujar Bening cepat, langsung berbalik untuk melarikan diri ke dapur.

"Bening..."

Langkah Bening terhenti seketika saat suara berat Gibran memanggil namanya.

Gibran menatap punggung Bening dengan ekspresi wajah yang diusahakan tetap datar, namun matanya memancarkan rasa takjub yang luar biasa. "Terima kasih," bisiknya pelan.

Bening hanya mengangguk singkat tanpa menoleh lagi, lalu menghilang ke area dapur.

Gibran meraih cangkir hangat itu. Ia menyesap cairannya perlahan. Rasa pahit dan manis yang sempurna menyentuh lidahnya, rasa yang persis sama seperti yang selalu ia nikmati tujuh tahun lalu setiap pagi sebelum berangkat kantor.

Sesapan kopi itu terasa menyiram ego keras yang selama ini membakar dadanya. Di saat yang sama, rasa rindu yang teramat dahsyat membuncah meremukkan pertahanannya. 'Bagaimana bisa wanita yang mengkhianatiku masih menyimpan ingatan sedetail ini tentang diriku?' batin Gibran dengan dada yang berdenyut nyeri.

"Papa...! Lihat, Kai bawa sesuatu!"

Seruan riang Kai kembali memecah keheningan. Bocah itu sudah berganti pakaian santai, berlari kecil sambil membawa sebuah album foto tebal berpita biru. Album yang tampak sudah sering dibuka, namun dirawat dengan sangat hati-hati.

"Apa ini, Sayang?" tanya Gibran, meletakkan cangkir kopinya.

Kai memanjat naik ke atas sofa, duduk tepat di samping Gibran dan membuka album itu di atas pangkuan papanya. "Ini album foto Kai dari bayi sampai sekarang, Papa! Mama yang selalu foto dan simpan di sini. Papa kan sudah lama tidak pulang, jadi Papa pasti belum tahu wajah Kai saat masih bayi, kan?"

Jantung Gibran serasa berhenti berdetak. Pria itu memandangi lembar demi lembar foto di dalamnya. Matanya berkaca-kaca saat melihat foto Kaivandra yang baru lahir, sosok bayi merah mungil yang menangis di atas kasur rumah sakit yang sederhana. Ada foto Kai saat pertama kali bisa duduk, foto Kai tertawa dengan satu gigi yang baru tumbuh, dan foto-foto ulang tahun Kai yang hanya dirayakan dengan sepotong kue kecil buatan Bening.

Gibran meremas pinggiran album itu. Rasa bersalah menghantam dadanya seperti hantaman batu besar. Selama enam tahun, ia melewatinya. Ia tidak ada di sana saat Kai belajar berjalan, ia tidak ada saat Kai sakit di tengah malam.

Namun, di lembar pertengahan, ibu jari Gibran terhenti. Napasnya tertahan.

Di sana, terpajang sebuah foto Bening saat sedang hamil besar. Wanita itu duduk di sebuah kursi kayu sederhana, mengenakan daster longgar. Bening tampak begitu cantik, anggun, dan bercahaya dalam kehamilannya, meski raut lelah tak bisa disembunyikan dari wajahnya.

Foto itu kembali menyentak ego dan logika Gibran hingga hancur berkeping-keping. Bayangan kelam mendadak memenuhi pikirannya, 'Saat Bening mengandung Kai sebesar ini... saat Bening berjuang mempertaruhkan nyawa melahirkan putra kami di rumah sakit... siapa yang menemaninya? Siapa yang menggenggam tangannya saat ia kesakitan?'

Jawabannya adalah tidak ada. Bening berjuang sendirian dalam kemiskinan dan keterbuangan karena fitnah yang ia percaya bulat-bulat.

"Papa..." Kai memutus lamunan panjang papanya, menepuk pelan lengan kemeja Gibran. "Tadi Bu Guru bilang, nanti waktu liburan ke kebun binatang ada Lomba Kostum Keluarga paling kompak! Tapi kita kan belum punya baju kembaran, Pa..."

Gibran dengan cepat mengusap sudut matanya yang basah, berusaha tersenyum hangat pada putranya. "Tenang saja, Jagoan. Nanti Papa yang belikan baju kembarannya, ya?"

"Horeee!" Kai melompat turun dari sofa, lalu berlari ke arah dapur. "Mama...! Mama sudah selesai belum? Ayo kita pergi belanja membeli baju kembar sama Papa!"

Bening berjalan keluar dari dapur sambil melepas apron apron mikronya yang bernoda tepung. "Sayang... Mama dan Kai kan punya banyak baju di rumah. Kita bisa pakai baju yang warnanya sama, nanti biar Papa menyesuaikan warna bajunya saja..."

"Tidak, Bening," potong Gibran tegas. Pria itu berdiri dari sofa, menatap Bening lurus dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ini acara penting bagi anak kita. Kita beli yang baru."

Deg.

Mendengar frasa anak kita meluncur begitu alami dari bibir Gibran, dada Bening berdesir nyeri yang teramat sangat. Kata-kata itu... kata-kata yang selama enam tahun ini sangat ia rindukan, kata-kata yang dulu ia impikan akan diucapkan Gibran saat menyambut kelahiran buah hati mereka.

Bening menahan napas sejenak, mati-matian mengontrol ekspresi wajahnya agar tetap tenang dan tidak menumpahkan air mata di depan mereka.

Gibran yang melihat perubahan kecil pada raut wajah Bening langsung mengalihkan pandangan pada Kai, mengusap lembut kepala putranya.

"Ayo kita pergi belanja sekarang, Jagoan. Kita pasti akan menang di lomba kostum nanti," ujar Gibran dengan senyum tipis.

Kaivandra bersorak riang sambil melompat-lompat gembira, menggenggam tangan Gibran dan Bening sekaligus, memaksa kedua orang tuanya untuk berjalan berdampingan.

1
sunaryati jarum
Sudah ada jagoan tidak perlu malam pertama,masih banyak malam/Drool//Drool//Drool/
sunaryati jarum
Selamat sudah sah
sunaryati jarum
Kalian bakal terseret Rama dan Astari
Lisa
Happy wedding Gibran & Bening..bahagia selalu ya..
Ariany Sudjana
congrats yah Gibran dan bening, tetap waspada yah
sunaryati jarum
Emak kira Kai dan ibunya diberi pengawalan yang ketat, ternyata tidak.untung Kai cerdas dan pemberani,serta ingat nasehat ibunya
sunaryati jarum
Astaga kirain ulah Astari, ternyata ulah dokter.Dokter Arfan seharusnya kamu senang Bening bahagia dan Kai memiliki orang tua utuh yang saling mencintai
sunaryati jarum
Semoga segera Kai segera diketemukan
sunaryati jarum
Memangnya berhasil, Gibran tidak bodoh dia memiliki pengawal berlapis untuk istri dan putranya.Jika kau lakukan rencana busukmu bukan Gibran yang hancur tapi kalian sendiri
Ariany Sudjana
skak mat, kamu keceplosan ngomong rencana jahat kamu sendiri Arfan? Gibran masih ada yang harus ditangkap tuh, Astari dan suaminya, suruh Toni bertindak, supaya Astari dan Rama masuk penjara sekalian
Ariany Sudjana
katanya Gibran CEO, punya anak buah, masa ga bisa menemukan keberadaan pelaku penculikan kaivandra?
bening juga bodoh, percaya sekali sama Arfan, padahal hatinya iri dan dengki
Lisa
Ternyata dokter Arfan ini jahat juga mau merebut Bening..Gibran kamu harus selidiki siapa dalang di balik kasus itu.
Lisa
Cpt Gibran tolong Kai..bisa kambuh tuh alerginya..
Ariany Sudjana
Gibran ini bodoh, sudah tahu situasi belum aman,kok percaya sekali sama orang lain, katanya punya anak buah yang bisa di andalkan, kok kecolongan sih
sunaryati jarum
Apa bukan orang tua kandungnya Gibran? Atau dulu ada trauma dengan orang tidak punya?
Ariany Sudjana
dasar Rama bodoh, percaya sekali dengan omongan pelacur murahan yang ga tahu diri dan serakah .... semoga rencana jahat mereka bisa dipatahkan Gibran
Lisa
Moga aj Gibran mengetahui rencana jahatnya Rama..
Ariany Sudjana
betul sekali, kamu harus tegas bening, menurut kamu berteman, tapi beda dengan Arfan, ybs berharap jadi suami kamu
Ariany Sudjana
harusnya bening tegas, bicara sama Gibran, posisi Arfan itu teman atau apa, supaya Gibran tidak salah paham
Anto D Cotto
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!