Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Bab 01: Pertemuan setelah bertahun-tahun

Aroma manis mentega, vanila, dan adonan yang terpanggang sempurna selalu memenuhi sudut rumah kontrakan sempit itu setiap pagi. Di dalam dapur yang merangkap sebagai ruang kerja darurat, seorang wanita tengah sibuk meratakan krim putih di atas permukaan kue tart dua tingkat.

Bening Azalea, di usianya yang menginjak 29 tahun, tetap memiliki pesona yang sulit diabaikan. Rambut hitam lurusnya yang panjang diikat asal ke belakang, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang berkulit bersih. Sepasang bola mata hitamnya yang jernih, dipadukan dengan bulu mata lentik alami, selalu memancarkan kesan anggun sekaligus rapuh di saat yang bersamaan. Statusnya sebagai single parent selama enam tahun terakhir telah menempa kelembutan itu menjadi sebilah dinding pertahanan yang kokoh. Demi menghidupi putra semata wayangnya, Bening membangun usaha kecil-kecilan menerima pemesanan kue tart ulang tahun dan kue basah untuk berbagai acara.

"Mama... Kai mau bantu hias boleh ya?"

Sebuah suara cempreng yang menggemaskan memecah keheningan dapur. Bening menoleh, dan seketika itu juga senyum tulus terbit di bibirnya yang ranum. Di ambang pintu dapur, berdiri seorang anak laki-laki berusia enam tahun. Rambutnya ikal alami, berantakan namun menggemaskan, dengan sepasang bola mata berwarna coklat terang yang selalu bersinar penuh rasa ingin tahu. Kaivandra Saputra. Hartanya yang paling berharga di dunia ini.

"Ayo sini sayang, anak pintar. Kita pasang pita di pinggiran kuenya ya," sahut Bening lembut, mengulurkan tangan untuk membantu Kai naik ke atas kursi kecil agar tingginya mencapai meja dapur.

Dengan jemari kecilnya yang menggemaskan, Kai dengan sangat hati-hati menempelkan pita merah muda di sekeliling pondasi kue. Setelah selesai, bocah itu memiringkan kepalanya, mengagumi hasil kerjanya sendiri.

"Mama, ini pesanan untuk acara apa?" tanya Kai polos, mendongak menatap ibunya.

"Ini acara ulang tahun pernikahan, sayang. Ada pelanggan Mama yang ingin merayakan hari bahagia mereka," jawab Bening sambil merapikan sisa-sisa buah stroberi di atas meja.

Kai terdiam sesaat. Sepasang mata coklatnya beralih menatap detail hiasan di atas kue tart tersebut, sebuah replika siluet keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak yang saling bergandengan tangan di bawah pohon. Pemandangan itu mendadak membuat dada kecil Kai dipenuhi rasa penasaran yang sudah lama ia simpan.

"Kalau ulang tahun pernikahan Mama kapan?" tanya Kai tiba-tiba.

Pertanyaan itu seketika membuat gerakan tangan Bening membeku. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

"Terus... sebenarnya Papa di mana, Ma? Kemana Papa pergi kok tidak pulang-pulang? Teman-teman Kai di sekolah semuanya diantar jemput sama papanya..." Kai menunduk, memainkan ujung kaosnya dengan raut wajah muram.

Dada Bening mendadak terasa sesak, seolah dihantam oleh batu besar. Selama enam tahun ini, setiap kali Kai bertanya tentang sosok sang ayah, Bening selalu memberikan jawaban klise yang sama, 'Papa sedang berada di tempat yang sangat jauh untuk bekerja'. Namun, seiring bertambahnya usia Kai, jawaban itu jelas tidak lagi memuaskan rasa ingin tahu sang anak. Bening tahu dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa ayah kandung Kai adalah seorang pria luar biasa kaya yang mengusirnya karena sebuah fitnah kejam yang direkayasa oleh kakek Kai sendiri.

Menghindari tatapan mata putranya yang menuntut jawaban, Bening buru-buru menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai suaranya agar tidak bergetar. Dia berpura-pura melirik jam dinding dengan panik.

"Astaga, sudah jam 10 sayang! Ayo, kita harus buru-buru mengantar kue ini kepada pemesan," ujar Bening mengalihkan pembicaraan dengan nada yang dibuat ceria. "Nanti pulangnya Mama belikan es krim rasa coklat kesukaan Kai. Mau?"

Mendengar kata es krim, binar sedih di mata coklat Kai langsung sirna, berganti dengan binar antusias anak-anak yang murni. "Ayo Mama! Yey, beli es krim!" seru Kai sambil melompat turun dari kursi.

Kebetulan hari ini adalah hari Minggu, jadi Kai tidak bersekolah. Bening memang sudah biasa mengajak putra kecilnya ikut serta saat mengantar pesanan jika tidak ada yang menjaga di rumah. Setelah memastikan kue tart tersebut dikemas dengan aman di dalam kotak khusus, Bening menggandeng tangan Kai keluar rumah. Mereka menaiki taksi, membelah jalanan kota yang cukup padat menuju ke sebuah kafe ternama di kawasan elite, tempat sang pelanggan telah menunggu.

Proses penyerahan kue berjalan lancar. Sang pelanggan sangat puas melihat hasil kerja Bening yang rapi dan indah. Setelah menerima pembayaran, Bening bernapas lega. Dia melangkah keluar dari kafe ber-AC tersebut, kembali menyambut udara luar yang agak terik sambil terus menggandeng erat tangan Kai.

"Kita jadi beli es krim kan, Mama?" Kai mendongak, memastikan janji ibunya tidak menguap begitu saja.

"Jadi, sayang. Ayo kita cari kedai es krim di seberang jala..."

Kriiing...

Kalimat Bening terputus saat ponsel di dalam tas selempangnya berdering nyaring. Bening merogoh tasnya dan melihat layar ponsel. Itu dari pelanggan lain yang biasa memesan kue dalam jumlah besar padanya. Kesempatan besar yang tidak boleh ia lewatkan demi menyambung hidup.

"Sebentar ya, Kai. Mama angkat telepon penting dulu. Kai tetap disini berdiri di sebelah Mama, jangan ke mana-mana," pesan Bening sungguh-sungguh.

Kai mengangguk patuh, berdiri diam di samping ibunya yang mulai sibuk berbicara di telepon, mendiskusikan detail pesanan kue dengan nada profesional. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba, embusan angin jalanan yang cukup kencang bertiup, menyambar topi pet biru yang bertengger di kepala Kai.

Wusss! Topi itu terbang beberapa meter ke arah jalan raya.

"Ah, topi Kai!" ucap bocah itu spontan.

Tanpa berpikir panjang tentang bahaya yang mengintai, insting anak-anak Kai mendorongnya untuk berlari mengejar topi kesayangannya yang mendarat di atas aspal jalan raya. Dia tidak melihat bahwa dari arah kanan, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik tengah melaju dengan kecepatan sedang.

CIITTTTTTT!

Suara decitan ban yang bergesekan keras dengan aspal memekik telinga. Mobil mewah itu mengerem mendadak, menyisakan jarak hanya beberapa jengkal dari tubuh kecil Kai yang langsung terduduk di aspal karena syok.

"KAIVANDRA!"

Bening menjatuhkan ponselnya begitu saja ke tanah. Jantungnya serasa copot dari tempatnya. Wajahnya memucat pasi seputih kertas saat melihat putranya hampir saja tergilas roda mobil. Dengan seluruh kekuatan yang tersisa, Bening berlari secepat kilat ke tengah jalan dan langsung berlutut, mendekap tubuh Kai yang gemetar ke dalam pelukannya.

"Kai! Sayang, kamu tidak apa-apa? Ada yang luka? Bicara sama Mama, sayang!" Bening memeriksa seluruh tubuh Kai dengan tangan yang bergetar hebat. Beruntung, putranya selamat dan tidak terluka secara fisik, hanya syok berat. Bening segera membawa putranya menepi.

Sementara itu, di dalam kabin mobil mewah yang sejuk, atmosfer mendadak berubah tegang. Di kursi belakang, duduk seorang pria dengan setelan jas formal rancangan desainer ternama yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Gibran Aditama. Sang CEO Aditama Group yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh di dunia bisnis. Di usianya yang ke-33 tahun, ketampanannya semakin matang dengan rahang tegas dan tatapan mata yang selalu mengintimidasi siapapun.

Gibran mengernyitkan dahi dalam, merasa waktu berharganya yang sangat efisien telah diganggu oleh insiden bodoh.

"Apa sekarang jalan raya sudah beralih fungsi menjadi taman bermain?" gumam Gibran dengan nada suara yang rendah namun sarat akan kekesalan yang dingin.

Toni, asisten pribadi setianya, tampak berkeringat dingin di kursi depan. "Maaf, Pak. Ada seorang anak kecil yang tiba-tiba berlari ke tengah jalan untuk mengejar topinya."

Gibran menghela napas berat, berniat meminta Toni untuk segera mengabaikan kejadian itu dan kembali menjalankan mobil karena dia ada rapat penting dengan dewan direksi. Namun, sebelum kata-kata itu keluar dari mulutnya, sepasang mata tajam Gibran menangkap sosok wanita yang sedang memeluk anak kecil itu.

Gibran terpaku. Seluruh otot di tubuhnya mendadak menegang.

Rambut panjang hitam itu... siluet tubuh anggun itu... Meskipun dari arah samping, Gibran tidak akan pernah bisa melupakan sosok wanita yang pernah mengisi hari-harinya, wanita yang tujuh tahun lalu pergi meninggalkannya dengan cap sebagai peselingkuh gila harta.

Bening?

Nama itu bergaung di dalam kepala Gibran, memicu badai emosi lama yang campur aduk antara kemarahan, luka, dan kerinduan yang terpendam sedalam lautan. Mengabaikan protokol keamanan dan jadwal rapatnya, Gibran justru mendorong pintu mobil dan keluar. Langkah kakinya yang dibalut sepatu pantofel mahal melangkah tegas, memecah keheningan ketegangan di pinggir jalan.

Di sisi lain, Bening masih sibuk membantu putranya berdiri. Dia membersihkan noda debu jalanan yang menempel di baju kaos Kai, memastikan sekali lagi bahwa tidak ada goresan di kulit putranya. Saat itulah, sepasang sepatu mahal berhenti tepat di hadapannya. Aura dominan yang sangat familier dan menyesakkan dada mendadak menguar di udara.

Bening membeku. Perlahan, dia mendongak.

Jantung Bening seolah berhenti berdetak saat matanya bertemu pandang dengan sosok pria yang berdiri menjulang di depannya. Gibran Aditama. Mantan suaminya. Pria yang sangat dia cintai dulu, dan sialnya, masih sangat dia cintai sampai detik ini meski pria itu telah membuangnya karena badai fitnah.

"Maaf, Pak... Maaf saya lepas kendali. Putra saya hanya mengejar topinya yang terbang. Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini," ucap Bening buru-buru kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Suaranya bergetar, mencoba menyembunyikan kepanikan yang luar biasa. Dia berlagak tidak mengenal siapa pria yang berdiri di hadapannya saat ini.

Gibran tidak mendengarkan ucapan maaf itu. Sepasang mata elangnya terpaku pada wajah Bening yang masih secantik dulu, namun terlihat lebih matang dan... lelah. Namun, sedetik kemudian, perhatian Gibran teralih sepenuhnya. Pandangan matanya turun, menatap sosok anak kecil yang kini sedang mendekap erat pinggang Bening dengan ketakutan.

Jantung Gibran mendadak berhantam keras di dalam dadanya saat menatap wajah anak itu.

Anak laki-laki itu memiliki kemiripan dengannya. Rambut ikalnya Dan yang paling membuat Gibran tersentak adalah sepasang bola mata coklat terang milik anak itu. Warna mata yang sangat langka. Warna mata yang persis sama dengan milik Gibran sendiri, dan juga milik ayahnya. Tidak salah lagi, itu adalah ciri khas genetik keluarga Aditama.

Gibran membuka mulutnya, hendak melayangkan pertanyaan yang berputar di kepalanya. "Bening... siapa anak ini?" suaranya terdengar berat dan menuntut.

Mendengar pertanyaan itu, alarm bahaya di kepala Bening berbunyi sangat nyaring. Ketakutan terbesar dalam hidupnya kini menjadi kenyataan. Gibran tidak boleh tahu tentang Kai. Jika Gibran tahu, maka mantan mertuanya yang kejam pasti akan mengendus keberadaan Kai dan merebut putranya.

Sebelum Gibran sempat berucap lebih jauh atau menyentuh putranya, Bening segera menghindar.

"Permisi, Pak. Sekali lagi saya minta maaf," potong Bening dengan suara dingin yang dipaksakan.

Tanpa menunggu balasan dari Gibran, Bening segera berbalik, menggendong Kai dengan terburu-buru dan berjalan setengah berlari menjauh dari sana, Bening sempat berhenti sejenak untuk mengambil ponselnya yang tadi terjatuh, lalu benar-benar menghilang di antara kerumunan pejalan kaki di trotoar.

Terpopuler

Comments

Lisa

Lisa

Aku mampir Kak

2026-08-04

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 01: Pertemuan setelah bertahun-tahun
2 Bab 2 #Luka masalalu yang kembali terbuka
3 Bab 3 #Dinding kebohongan
4 Bab 4 #Rahasia yang luruh
5 Bab 5 #Kebenaran yang menuntut
6 Bab 6 #Pertemuan penuh luka
7 Bab 7 #Rela dibenci
8 Bab 8 #Pahit dibalik kenangan manis
9 Bab 9 #Rasa yang masih ada
10 Bab 10 #Rasa kosong
11 Bab 11 #Benih baik di tanah yang subur
12 Bab 12 #Bayangan di balik layar
13 Bab 13 #Impian yang Patah
14 Bab 14 #Agenda tahunan TK merpati
15 Bab 15 #Kehangatan yang semu
16 Bab 16 #Retakan diatas kebencian
17 Bab 17 #Keraguan yang pecah
18 Bab 18 #Luka diantara Kita
19 Bab 19 #Dibalik Album kenangan
20 Bab 20 #Cemburu yang membakar
21 Bab 21 #Racun yang ditebar
22 Bab 22 #Benteng Pelindung
23 Bab 23 #Ada Rahasia besar
24 Bab 24 #Kepanikan di pagi hari
25 Bab 25 #Kurir Istimewa
26 Bab 26 #Jejak yang Terkuak
27 Bab 27 #Bayang Rindu
28 Bab 28 #Perang dingin
29 Bab 29 #Detik Detik Kebenaran
30 Bab 30 #Dekapan penyesalan
31 Bab 31 #Benteng penolakan
32 Bab 32 #Bau busuk yang tercium
33 Bab 33 #Rahasia yang terkunci
34 Bab 34 #Masih saling mencinta
35 Bab 35 #Topeng yang terkuak
36 Bab 36 #Di balik senyum yang retak
37 Bab 37 #Puing-puing yang menyatu
38 Bab 38 #Retaknya sebuah tahta
39 Bab 39 #Dekapan di penghujung malam
40 Bab 40 #Senyum yang kembali pulih
41 Bab 41 #Kehangatan yang kembali utuh
42 Bab 42 #Haus
43 Bab 43 #Hati yang terbakar
44 Bab 44 #Semut di muka
45 Bab 45 #Ten days
46 Bab 46 #Gaun Biru
47 Bab 47 #Rencana busuk di hari bahagia
48 Bab 48 #Aksi Jagoan
49 Bab 49 #Kedok Yang Terbongkar
50 Bab 50 #SAH
51 Bab 51 #Malam pertama
Episodes

Updated 51 Episodes

1
Bab 01: Pertemuan setelah bertahun-tahun
2
Bab 2 #Luka masalalu yang kembali terbuka
3
Bab 3 #Dinding kebohongan
4
Bab 4 #Rahasia yang luruh
5
Bab 5 #Kebenaran yang menuntut
6
Bab 6 #Pertemuan penuh luka
7
Bab 7 #Rela dibenci
8
Bab 8 #Pahit dibalik kenangan manis
9
Bab 9 #Rasa yang masih ada
10
Bab 10 #Rasa kosong
11
Bab 11 #Benih baik di tanah yang subur
12
Bab 12 #Bayangan di balik layar
13
Bab 13 #Impian yang Patah
14
Bab 14 #Agenda tahunan TK merpati
15
Bab 15 #Kehangatan yang semu
16
Bab 16 #Retakan diatas kebencian
17
Bab 17 #Keraguan yang pecah
18
Bab 18 #Luka diantara Kita
19
Bab 19 #Dibalik Album kenangan
20
Bab 20 #Cemburu yang membakar
21
Bab 21 #Racun yang ditebar
22
Bab 22 #Benteng Pelindung
23
Bab 23 #Ada Rahasia besar
24
Bab 24 #Kepanikan di pagi hari
25
Bab 25 #Kurir Istimewa
26
Bab 26 #Jejak yang Terkuak
27
Bab 27 #Bayang Rindu
28
Bab 28 #Perang dingin
29
Bab 29 #Detik Detik Kebenaran
30
Bab 30 #Dekapan penyesalan
31
Bab 31 #Benteng penolakan
32
Bab 32 #Bau busuk yang tercium
33
Bab 33 #Rahasia yang terkunci
34
Bab 34 #Masih saling mencinta
35
Bab 35 #Topeng yang terkuak
36
Bab 36 #Di balik senyum yang retak
37
Bab 37 #Puing-puing yang menyatu
38
Bab 38 #Retaknya sebuah tahta
39
Bab 39 #Dekapan di penghujung malam
40
Bab 40 #Senyum yang kembali pulih
41
Bab 41 #Kehangatan yang kembali utuh
42
Bab 42 #Haus
43
Bab 43 #Hati yang terbakar
44
Bab 44 #Semut di muka
45
Bab 45 #Ten days
46
Bab 46 #Gaun Biru
47
Bab 47 #Rencana busuk di hari bahagia
48
Bab 48 #Aksi Jagoan
49
Bab 49 #Kedok Yang Terbongkar
50
Bab 50 #SAH
51
Bab 51 #Malam pertama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!