Bab 4 #Rahasia yang luruh

Tiga hari telah berlalu sejak kedatangan Gibran Aditama yang mendadak di teras rumah sederhananya namun bagi Bening Azalea, setiap detik terasa seperti siksaan yang berjalan lambat. Ketakutan, kecemasan, dan kegelisahan telah menjadi bayangan hitam yang terus mengikuti ke mana pun dia melangkah.

Di dalam dapur kecilnya, Bening mencoba memfokuskan diri pada pesanan kue tart mini yang harus diselesaikannya. Namun, tangannya yang memegang kantong spuit berisi krim coklat terus bergetar halus. Pikirannya sama sekali tidak ada di sini.

“Bagaimana kalau Mas Gibran menyelidikiku? Bagaimana kalau dia menemukan kebenaran?” Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.

Bening sangat tahu kapasitas seorang Gibran Aditama. Bagi pria dengan kekuasaan dan kekayaan tak berseri seperti mantan suaminya itu, membalik telapak tangan jauh lebih sulit daripada menggali informasi tentang rakyat jelata seperti dirinya. Semuanya pasti terasa sangat mudah bagi Gibran. Uang bisa membeli informasi apa saja di kota ini.

Pluk.

"Emmh.."

Bening mendesah frustrasi saat melihat hiasan mawar krim di atas kue tartnya kembali hancur, tidak simetris. Ini sudah ketiga kalinya dia terpaksa mengerok dan merevisi hiasan kue yang sama karena konsentrasinya buyar total.

"Fokus, Bening... kamu harus fokus demi Kai," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menghapus bayangan mata coklat tajam Gibran dari benaknya.

Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dadanya yang bergemuruh. Bagaimana jika Gibran tahu? Bagaimana jika pria itu bertindak nekat dan menjemput paksa Kaivandra di sekolahnya dengan mengerahkan para pengawal berbadan besar?

Bening menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir pikiran buruk itu. “Tidak, tidak mungkin. Kaivandra anak yang pintar dan waspada. Dia tidak akan mudah mau ikut dengan orang asing, sekalipun orang itu mengaku sebagai ayahnya,” batin Bening, mencoba mencari sedikit rasa aman di tengah kepanikannya yang tak berdasar.

Namun, ketenangan rapuh yang sedang coba dibangun Bening seketika hancur berkeping-keping saat ponsel di atas meja dapur berdering nyaring. Layarnya menampilkan nama wali kelas Kaivandra.

Jantung Bening mencelos. Dengan tangan gemetar, dia menggeser tombol hijau ke telinganya. "Halo, Assalamualaikum, Bu Guru?"

"Waalaikumsalam. Bu Bening! Tolong segera datang ke Rumah Sakit Medika Sentosa sekarang! Kaivan... Kaivandra pingsan setelah makan siang di kelas, dia sesak napas parah!" Suara sang guru di seberang telepon terdengar sangat panik dan dipenuhi isak tangis ketakutan.

Deg!

Dunia Bening serasa runtuh seketika. Seluruh pasokan oksigen di paru-parunya menguap. Tanpa membuang waktu untuk menjawab, Bening langsung mematikan sambungan telepon. Dia menyambar tas selempangnya asal, melepas apron yang masih melekat di tubuhnya, dan berlari keluar rumah sekencang yang dia bisa. Dia bahkan tidak peduli dengan pintu rumah yang lupa dia kunci dengan benar. Pikirannya hanya dipenuhi oleh satu nama, Kaivandra.

Sepanjang perjalanan di dalam taksi, Bening tidak berhenti merapal doa di tengah tangisnya yang pecah. Begitu taksi berhenti di lobi IGD rumah sakit, Bening langsung menghambur keluar, mengabaikan tatapan orang-orang saat dia berlari menyusuri koridor rumah sakit yang beraroma obat-obatan tajam.

Di depan pintu ruang penanganan, dia melihat Ibu Anisa guru Kaivandra, sedang berjalan bolak-balik dengan wajah pucat pasi.

"Bu Anisa! Bagaimana keadaan Kai? Apa yang terjadi dengan putra saya?!" tuntut Bening dengan napas memburu dan air mata yang mengalir deras di pipinya.

Ibu Ambar langsung memegang tangan Bening dengan rasa bersalah yang teramat besar. "Maafkan saya, Bu Bening... Maafkan kelengahan kami. Tadi saat jam istirahat makan siang, Kaivandra bertukar bekal makanan dengan teman sebangkunya. Kaivandra tidak tahu... dia tidak tahu kalau di dalam lauk makanan temannya itu ada kandungan udang yang dihaluskan..."

Mendengar kata udang, lutut Bening seketika lemas. Dia hampir saja terjatuh ke lantai jika tidak berpegangan pada sandaran kursi koridor.

Kaivandra memiliki alergi seafood yang teramat parah. Satu suapan kecil saja bisa membuat tenggorokannya menyempit dan memicu syok anafilaksis yang mengancam nyawa. Dan alergi ekstrem itu... adalah warisan genetik yang sama persis seperti yang dimiliki oleh Gibran Aditama. Gibran juga akan langsung sesak napas jika tidak sengaja mengonsumsi udang.

Ketakutan Bening berada di titik tertinggi. Dia mencengkeram dadanya yang terasa sangat sesak karena cemas yang luar biasa.

Tak lama kemudian, pintu IGD terbuka dan seorang dokter paruh baya keluar. Bening langsung buru-buru menghampirinya. "Dokter, bagaimana anak saya?"

Dokter itu menghela napas lega, lalu tersenyum tipis. "Ibu adalah ibunya? Beruntung sekali anak Ibu sangat cepat dibawa ke sini setelah gejalanya muncul. Penanganan pertamanya tepat. Kami sudah menyuntikkan obat untuk meredakan pembengkakan di saluran napasnya. Saat ini kondisinya sudah selamat dan stabil, hanya saja dia masih sangat lemah dan harus menjalani rawat inap selama beberapa hari ke depan untuk observasi."

Mendengar kalimat dokter itu, pertahanan Bening runtuh. Dia menangis tersedu-sedu, namun kali ini adalah tangis kelegaaan yang luar biasa. "Terima kasih, Dokter... Terima kasih banyak."

Ibu Anisa kembali mendekat, membungkuk berkali-kali di depan Bening dengan mata berkaca-kaca. "Bu Bening, saya benar-benar minta maaf karena tidak mengawasi anak-anak dengan benar saat makan."

Bening menghapus air matanya, lalu menggeleng pelan sambil memegang bahu sang guru. "Tidak apa-apa, Bu Anisa. Ini murni musibah, anak-anak memang suka bertukar makanan tanpa tahu bahayanya. Yang paling penting sekarang Kaivandra sudah selamat. Terima kasih karena sudah bergerak cepat membawanya ke sini."

****

Di belahan kota yang lain, kontras dengan suasana rumah sakit yang penuh tangis, atmosfer di dalam ruangan besar di lantai teratas gedung pencakar langit Aditama Group terasa begitu sunyi dan menegangkan.

Gibran Aditama duduk di kursi kebesarannya di balik meja kerja mahoni yang megah. Wajahnya sedingin es, namun matanya menatap tajam pada Toni yang berdiri tegap di depannya. Di atas meja, terdapat sebuah map dokumen berwarna coklat yang masih tertutup.

"Laporkan semuanya, Toni. Jangan ada satu detail pun yang terlewat," perintah Gibran, suaranya terdengar rendah namun sarat akan otoritas yang mutlak.

Toni menarik napas dalam sebelum mulai membuka catatannya. "Baik, Pak. Sesuai perintah Anda, tim kami telah melakukan penyelidikan mendalam mengenai latar belakang Nyonya Bening Azalea selama tujuh tahun terakhir. Dan hasil pertamanya..." Toni menjeda kalimatnya sesaat, menatap langsung ke mata atasannya. "Mengenai status pernikahan yang dikatakan oleh Nyonya Bening tempo hari... itu adalah kebohongan."

Satu alis Gibran terangkat. "Kebohongan?"

"Benar, Pak. Dari informasi dan data sipil yang kami kumpulkan dari seluruh KUA maupun catatan sipil di wilayah tempat tinggalnya hingga kota-kota sekitarnya, nama Nyonya Bening Azalea tidak pernah terdaftar di pernikahan manapun setelah bercerai dari Anda. Status hukumnya hingga hari ini masih belum menikah."

Mendengar hal itu, sebuah kedutan samar muncul di rahang Gibran. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang dingin. “Sudah kuduga, kamu berbohong, Bening,” batinnya penuh kemenangan.

"Lalu, bagaimana dengan anak itu?" tanya Gibran lagi, condong ke depan, menuntut inti dari seluruh penyelidikan ini.

Toni membuka lembar berikutnya dari dokumen tersebut dengan ekspresi yang berubah menjadi sangat serius. "Mengenai kelahiran putranya yang bernama Kaivandra Saputra... Nyonya Bening melahirkan di sebuah klinik kecil yang berjarak cukup jauh dari pusat kota. Kami berhasil mendapatkan salinan dokumen rekam medis kelahirannya secara legal."

Toni melangkah maju, meletakkan selembar kertas putih di hadapan Gibran. "Tanggal kelahiran putranya tertera dengan sangat jelas di sana, Tuan Muda. Kaivan Saputra lahir pada tanggal 19 Desember."

Deg.

Gibran sontak tertegun. Sepasang mata elangnya terpaku, menatap tajam deretan angka tanggal lahir yang tercetak di atas kertas tersebut. Tanggal 19 Desember.

Otak cerdas Gibran langsung bekerja dengan sangat cepat, menarik mundur memori dan garis waktu masa lalunya. Ingatan tentang hari terkutuk di hotel itu kembali berputar. Kejadian itu terjadi di akhir bulan april dan mereka berdua resmi berpisah dan menandatangani surat cerai di pengadilan pada awal bulan Mei.

Gibran mengepalkan tangannya di atas meja hingga urat-urat di lengannya menonjol dengan jelas. Jika anak itu lahir di bulan Desember, dan mereka berpisah di bulan Mei... itu artinya usia kandungan Bening saat mereka bercerai sudah berjalan sekitar satu sampai dua bulan.

Fakta medis itu menghantam kepala Gibran seperti godam besar. Itu artinya, saat proses perceraian yang berjalan dengan sangat cepat dan sepihak itu terjadi tujuh tahun lalu... Bening sudah mengandung anaknya. Kandungan yang tidak pernah dikatakan oleh wanita itu kepadanya sampai hari ini.

"Pak Gibran... jika dihitung dari masa gestasi normal, garis waktunya sangat akurat dengan masa-masa terakhir pernikahan Anda dengan Nona Bening," tambah Toni hati-hati, seolah tahu badai besar akan segera meledak di ruangan ini.

Brak!

Gibran menggebrak meja kerjanya dengan sangat keras hingga vas bunga kecil di sudut meja bergetar. Dia berdiri dari kursinya, napasnya memburu dengan hebat akibat amarah yang luar biasa yang mendadak membakar seluruh kesadarannya. Wajahnya memerah padam, diselimuti oleh kombinasi rasa syok, murka, dan pengkhianatan yang berlipat ganda.

"Bening... beraninya kamu...!" desis Gibran dengan suara yang bergetar menahan amarah yang meledak-ledak.

Dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Selama tujuh tahun ini, dia hidup dalam lubang penderitaan dan kebencian karena perselingkuhan yang dilakukan Bening. Namun sekarang, dia harus menerima kenyataan yang lebih gila, wanita itu telah menyembunyikan darah dagingnya, membesarkan pewaris tunggal keluarga Aditama di sebuah rumah sederhana tanpa seijinnya.

"Kamu sudah mengkhianati cintaku dulu, Bening... dan sekarang kamu dengan culas menyembunyikan anakku dariku?!" teriak Gibran berang, tatapannya menembus kaca jendela besar yang menampilkan pemandangan kota di bawahnya.

"Toni! Siapkan mobil sekarang juga! Kita seret wanita itu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!" perintah Gibran murka, melangkah lebar meninggalkan meja kerjanya dengan aura membunuh yang sangat pekat. Kebohongan Bening telah runtuh, dan Gibran bersumpah tidak akan melepaskan wanita itu lagi kali ini.

Episodes
1 Bab 01: Pertemuan setelah bertahun-tahun
2 Bab 2 #Luka masalalu yang kembali terbuka
3 Bab 3 #Dinding kebohongan
4 Bab 4 #Rahasia yang luruh
5 Bab 5 #Kebenaran yang menuntut
6 Bab 6 #Pertemuan penuh luka
7 Bab 7 #Rela dibenci
8 Bab 8 #Pahit dibalik kenangan manis
9 Bab 9 #Rasa yang masih ada
10 Bab 10 #Rasa kosong
11 Bab 11 #Benih baik di tanah yang subur
12 Bab 12 #Bayangan di balik layar
13 Bab 13 #Impian yang Patah
14 Bab 14 #Agenda tahunan TK merpati
15 Bab 15 #Kehangatan yang semu
16 Bab 16 #Retakan diatas kebencian
17 Bab 17 #Keraguan yang pecah
18 Bab 18 #Luka diantara Kita
19 Bab 19 #Dibalik Album kenangan
20 Bab 20 #Cemburu yang membakar
21 Bab 21 #Racun yang ditebar
22 Bab 22 #Benteng Pelindung
23 Bab 23 #Ada Rahasia besar
24 Bab 24 #Kepanikan di pagi hari
25 Bab 25 #Kurir Istimewa
26 Bab 26 #Jejak yang Terkuak
27 Bab 27 #Bayang Rindu
28 Bab 28 #Perang dingin
29 Bab 29 #Detik Detik Kebenaran
30 Bab 30 #Dekapan penyesalan
31 Bab 31 #Benteng penolakan
32 Bab 32 #Bau busuk yang tercium
33 Bab 33 #Rahasia yang terkunci
34 Bab 34 #Masih saling mencinta
35 Bab 35 #Topeng yang terkuak
36 Bab 36 #Di balik senyum yang retak
37 Bab 37 #Puing-puing yang menyatu
38 Bab 38 #Retaknya sebuah tahta
39 Bab 39 #Dekapan di penghujung malam
40 Bab 40 #Senyum yang kembali pulih
41 Bab 41 #Kehangatan yang kembali utuh
42 Bab 42 #Haus
43 Bab 43 #Hati yang terbakar
44 Bab 44 #Semut di muka
45 Bab 45 #Ten days
46 Bab 46 #Gaun Biru
47 Bab 47 #Rencana busuk di hari bahagia
48 Bab 48 #Aksi Jagoan
49 Bab 49 #Kedok Yang Terbongkar
50 Bab 50 #SAH
51 Bab 51 #Malam pertama
Episodes

Updated 51 Episodes

1
Bab 01: Pertemuan setelah bertahun-tahun
2
Bab 2 #Luka masalalu yang kembali terbuka
3
Bab 3 #Dinding kebohongan
4
Bab 4 #Rahasia yang luruh
5
Bab 5 #Kebenaran yang menuntut
6
Bab 6 #Pertemuan penuh luka
7
Bab 7 #Rela dibenci
8
Bab 8 #Pahit dibalik kenangan manis
9
Bab 9 #Rasa yang masih ada
10
Bab 10 #Rasa kosong
11
Bab 11 #Benih baik di tanah yang subur
12
Bab 12 #Bayangan di balik layar
13
Bab 13 #Impian yang Patah
14
Bab 14 #Agenda tahunan TK merpati
15
Bab 15 #Kehangatan yang semu
16
Bab 16 #Retakan diatas kebencian
17
Bab 17 #Keraguan yang pecah
18
Bab 18 #Luka diantara Kita
19
Bab 19 #Dibalik Album kenangan
20
Bab 20 #Cemburu yang membakar
21
Bab 21 #Racun yang ditebar
22
Bab 22 #Benteng Pelindung
23
Bab 23 #Ada Rahasia besar
24
Bab 24 #Kepanikan di pagi hari
25
Bab 25 #Kurir Istimewa
26
Bab 26 #Jejak yang Terkuak
27
Bab 27 #Bayang Rindu
28
Bab 28 #Perang dingin
29
Bab 29 #Detik Detik Kebenaran
30
Bab 30 #Dekapan penyesalan
31
Bab 31 #Benteng penolakan
32
Bab 32 #Bau busuk yang tercium
33
Bab 33 #Rahasia yang terkunci
34
Bab 34 #Masih saling mencinta
35
Bab 35 #Topeng yang terkuak
36
Bab 36 #Di balik senyum yang retak
37
Bab 37 #Puing-puing yang menyatu
38
Bab 38 #Retaknya sebuah tahta
39
Bab 39 #Dekapan di penghujung malam
40
Bab 40 #Senyum yang kembali pulih
41
Bab 41 #Kehangatan yang kembali utuh
42
Bab 42 #Haus
43
Bab 43 #Hati yang terbakar
44
Bab 44 #Semut di muka
45
Bab 45 #Ten days
46
Bab 46 #Gaun Biru
47
Bab 47 #Rencana busuk di hari bahagia
48
Bab 48 #Aksi Jagoan
49
Bab 49 #Kedok Yang Terbongkar
50
Bab 50 #SAH
51
Bab 51 #Malam pertama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!