Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Cek Seharga Semalam

Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.

Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.

Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu jatuh cinta padaku.

Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.

Dan malam ini, setelah dua tahun berlalu, dia membeliku dengan selembar cek.

"Ada seorang pria yang ingin mengajak Anda makan malam setelah acara ini, Nona Nirmala."

Jari telunjukku masih menekan tuts terakhir ketika pelayan itu meletakkan sebuah amplop putih di atas piano. Nada rendah dari grand piano menggantung di udara, lalu tenggelam di antara denting gelas kristal dan bisik para tamu.

Di dalam ballroom lantai dua Aveline Grand Hotel, ratusan kuntum bunga merah menjulur dari vas-vas tinggi. Kelopaknya tipis dan melengkung, seperti kaki laba-laba yang sedang mencengkeram cahaya lilin.

Spider lily.

Bunga yang seharusnya cantik, tetapi selalu mengingatkanku pada kehilangan.

Aku mengangkat wajah. Topeng renda hitam masih menutupi separuh wajahku, cukup untuk menjaga rahasia perempuan di balik nama Nirmala.

"Makan malam?" tanyaku.

Pelayan itu mengangguk canggung. "Beliau bilang Nona boleh menentukan harganya sendiri."

Bisikan di meja terdekat berhenti. Beberapa kepala berbalik. Dua perempuan dengan gaun berkilau saling pandang, lalu salah satunya mengangkat ponsel seolah sedang membalas pesan. Lensa kameranya justru mengarah kepadaku.

Raka muncul dari sisi panggung sebelum aku sempat membuka amplop.

"Siapa yang menyuruhmu membawa itu?" Suaranya tetap sopan, tetapi rahangnya mengeras.

"Tamu, Pak Raka."

"Tamu yang mana?"

Pelayan itu menunduk. "Beliau meminta agar namanya tidak disebutkan."

Aku menyentuh lengan Raka. "Tidak apa-apa."

"Larasati, ini pestaku. Tidak ada orang yang berhak mempermalukanmu di sini."

Nada suaranya membuat beberapa tamu kembali berpura-pura sibuk. Raka Mahendra memang bisa tersenyum saat memberi peringatan. Mungkin itu sebabnya Aksara Entertainment tumbuh sebesar sekarang tanpa perlu pemiliknya meninggikan suara.

"Tadi kamu juga menolak berdansa denganku," katanya lebih pelan. "Setidaknya izinkan aku mengusir orang ini."

"Aku menolak karena kakiku sakit, bukan karena ingin merusak ulang tahunmu."

"Kalau begitu, duduklah. Aku panggil dokter hotel."

"Raka." Aku tersenyum agar penolakanku tidak melukainya lebih dalam. "Terima kasih. Tapi aku bisa mengurus diriku sendiri."

Sorot matanya redup sesaat. Dia selalu tahu bahwa kalimat itu bukan sekadar tentang kakiku.

Aku mengambil amplop putih tadi. Kertas tebal di dalamnya meluncur ke pangkuanku.

Dua miliar rupiah.

Angka itu cukup besar untuk membuat para pemburu gosip menahan napas. Namun yang membuat darahku berhenti mengalir bukanlah deretan nolnya.

Tanda tangan di sudut kanan bawah hanya terdiri dari dua goresan tegas.

Arkana Wardhana.

Ujung jariku mendadak dingin.

Nama itu pernah kutulis sebagai wali di setiap formulir sekolah, lalu tercetak di akta pernikahanku sebagai suami. Nama yang sama juga hidup dalam mimpi burukku, di antara jeritan ibu dan bayangan tubuh kakakku yang jatuh.

"Larasati?" panggil Raka.

Aku melipat cek itu sekali, sangat rapi. "Boleh pinjam pulpen?"

Raka tidak langsung memberikannya. "Kamu mengenal pria itu?"

"Lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri."

Aku mengambil pulpen dari saku jasnya. Dari dompet kecil di samping bangku piano, kutarik selembar uang seribu rupiah. Kutulis nomor kamar Hotel Serenata di tepi uang itu.

2708.

"Tolong berikan ini kepadanya," kataku kepada pelayan. "Katakan aku sangat tertarik pada tawarannya. Tapi malam ini, aku ingin membeli waktunya lebih dulu."

Wajah pelayan itu memucat.

Tawa tertahan meletup dari satu meja. Kamera-kamera ponsel kini tak lagi disembunyikan. Dalam hitungan menit, potongan adegan ini bisa masuk ke grup WhatsApp, akun gosip, lalu infotainment pagi.

Bagus.

Kalau Arkana datang untuk merampas harga diriku di depan umum, aku akan memastikan seluruh ruangan melihat harga dirinya kubeli dengan uang seribu rupiah.

"Tidak perlu mengantarkannya."

Suara itu datang dari belakang barisan tamu.

Tubuhku mengenalinya lebih dulu daripada telingaku. Bahuku kaku. Napasku tertahan tepat di bawah tulang rusuk.

Orang-orang membuka jalan tanpa diminta.

Arkana berdiri di sana dengan celana hitam dan kemeja berwarna gading. Bukan hitam. Bukan abu-abu gelap yang selalu dipakainya saat ingin membuat seluruh ruangan takut.

Kemeja terang berarti dia peduli pada malam ini.

Atau pada siapa yang akan ditemuinya.

Wajahnya nyaris tidak berubah sejak dua tahun lalu. Tatapannya tetap dingin, rambutnya tetap tersisir rapi, dan jam perak di pergelangan kirinya masih menjadi satu-satunya benda yang berani memantulkan cahaya dari tubuhnya.

Hanya matanya yang berbeda.

Mata itu berhenti pada jari-jariku, turun ke cek yang kulipat, lalu menelusuri gaun hitamku sampai ke sepatu hak tinggi yang mulai menyiksa pergelangan kaki kanan.

Dia masih ingat kaki yang mana.

Tentu saja dia ingat. Arkana tidak pernah melupakan kelemahanku. Dia hanya memilih kapan akan menggunakannya.

Raka melangkah setengah langkah ke depanku. "Pak Arkana. Saya tidak tahu Anda termasuk tamu malam ini."

"Hotel ini milikku."

"Pesta ini milikku."

Keheningan jatuh seperti pintu besi.

Arkana tidak memandang Raka. "Dan Larasati akan pergi bersamaku."

Suara bisik-bisik terdengar dari beberapa arah.

Aku berdiri, menahan nyeri di pergelangan kaki, lalu berjalan melewati Raka. Setiap langkah terasa seperti menginjak serpihan kaca. Aku tetap tersenyum sampai berdiri di depan pria yang pernah mengajariku cara berjalan dengan kepala tegak.

Kuselipkan uang seribu rupiah itu ke saku kemejanya.

"Tuan Arkana datang sendiri rupanya."

Otot di rahangnya bergerak. Hanya sedikit, tetapi aku melihatnya.

Aku merapatkan tubuh dan melingkarkan kedua tangan ke lehernya. Aroma tembakau, kayu cedar, dan sesuatu yang hanya kumiliki dalam ingatan memenuhi paru-paruku.

Sakitnya datang tanpa izin.

"Aku sangat tertarik," bisikku di dekat telinganya. "Dengan seribu rupiah, apakah Tuan bersedia menemaniku semalam?"

Tangannya melingkar di pinggangku. Keras. Rapat. Seolah dua tahun terakhir hanyalah sebuah pintu yang baru saja dia banting di belakang kami.

"Aku juga," jawabnya.

Sebelum aku sempat melepaskan pelukan, dia mengangkat tubuhku sedikit agar kakiku tak lagi menapak. Tangan satunya merampas cek dari jemariku.

Kertas bernilai dua miliar itu dia robek menjadi empat bagian.

Potongannya jatuh di antara kami seperti kelopak putih.

"Pak Arkana," Raka memperingatkan.

Untuk pertama kalinya Arkana menoleh kepadanya. "Jangan sentuh milikku."

"Dia bukan barang."

"Aku tahu." Tatapan Arkana kembali kepadaku. "Tapi malam ini dia memilihku."

Aku tertawa pelan. "Kau baru mengingatnya malam ini?"

Senyum tipisnya tidak mencapai mata. "Aku tidak pernah lupa."

Dia membawaku keluar ballroom sebelum tepuk tangan, bisikan, dan bunyi kamera sempat berubah menjadi keributan.

***

Pintu mobil terkunci begitu aku terduduk di kursi belakang.

Sekat gelap naik, memisahkan kami dari sopir. Jakarta bergerak di balik kaca, basah oleh hujan yang baru reda. Cahaya gedung SCBD meleleh di atas jendela seperti garis-garis emas yang tidak sempat kugenggam.

"Buka pintunya," kataku.

Arkana duduk di seberangku. "Kau menyuruhku datang ke kamar 2708."

"Aku berubah pikiran."

"Kau selalu begitu. Mengundangku mendekat, lalu menghunus pisau saat aku lengah."

Aku menatap saku kemejanya. Uang seribu rupiah tadi masih terlihat di sana. "Takut?"

"Padamu?"

Dia bergerak sebelum aku sempat berkedip. Satu telapak tangannya menahan sandaran di samping kepalaku, sementara tangan lain mengangkat daguku.

"Tidak pernah."

Bibirnya menyentuh bibirku.

Bukan ciuman. Itu hukuman atas dua tahun tanpa kabar, dua tahun panggilan yang tidak pernah kulakukan, dua tahun malam-malam ketika aku membenci diriku sendiri karena masih mengingat cara pria ini menarik napas.

Aku mendorong dadanya. Telapak tanganku bertemu otot keras di balik kemeja gading.

Dia langsung berhenti.

Keningnya menyentuh keningku. Napas kami saling memburu.

"Katakan kau ingin aku berhenti, Ara."

Aku seharusnya mengatakannya.

Sebaliknya, jemariku mencengkeram kerah kemejanya dan menariknya kembali.

"Jangan panggil aku begitu."

"Kalau begitu lepaskan aku."

Aku tidak melepaskannya.

Kali ini akulah yang menciumnya.

Semua kemarahan yang kusimpan pecah di antara bibir kami. Arkana menahan tengkukku, membalas dengan lapar yang sama buruknya. Kancing teratas kemejanya terlepas di bawah jemariku. Tangannya menyusuri punggungku, lalu berhenti sejenak di atas ritsleting gaun.

"Masih mau aku berhenti?"

"Aku tidak pernah memintamu berhenti."

Mata gelap itu menelanjangiku lebih cepat daripada tangannya.

Aku membenci bahwa tubuhku masih hafal sentuhannya. Membenci panas yang menjalar saat bibirnya turun ke leherku. Membenci caranya menahan pinggangku seolah aku bisa hilang lagi bila pegangannya longgar satu detik saja.

Namun saat tubuh kami akhirnya menyatu di balik kaca gelap dan lampu kota yang berlari, tidak ada kebencian yang tersisa di mulutku.

Hanya namanya.

"Kana."

Dia menutup mata sesaat, seperti seseorang yang baru menerima luka paling dalam sekaligus obatnya.

Setelahnya, suara hujan kembali terdengar.

Arkana merapikan gaunku tanpa bicara. Gerakannya teliti, hampir lembut, bertolak belakang dengan bekas merah yang ditinggalkan jemarinya di pinggangku. Dia memasang kembali tali sepatuku yang lepas, tetapi aku menarik kaki sebelum dia sempat menyentuh pergelangan yang sakit.

Wajahnya kembali dingin.

"Kali ini cara apa lagi yang kau siapkan untuk menjatuhkanku?"

Kalimat itu memadamkan sisa panas di kulitku.

Aku menatapnya. "Kalau aku benar-benar ingin menjatuhkanmu, kau tidak akan melihatnya datang."

"Aku tahu. Itu sebabnya aku masih menunggu."

"Menunggu apa?"

"Kau mencoba lagi."

Mobil berhenti di depan Hotel Serenata.

Petugas pintu berlari membawa payung, tetapi Arkana sudah turun lebih dulu. Saat pintu di sisiku terbuka, tangannya terulur.

Aku tidak mengambilnya.

Kakiku menyentuh aspal basah. Nyeri menusuk pergelangan kanan sampai lututku nyaris lemas. Arkana memegang lenganku, tetapi kutepis.

"Jangan sentuh aku."

"Kakimu cedera."

"Itu bukan urusanmu."

"Segala sesuatu tentangmu adalah urusanku."

Aku menatap kemeja gadingnya yang kini kusut. Di balik saku dadanya, selembar uang seribu rupiah masih tersimpan. Balas dendam kecilku tampak menyedihkan di sana.

"Kalau begitu, urus satu hal untukku," kataku.

Dia menunggu.

"Jangan halangi gugatan cerai yang akan kuajukan."

Hujan menetes dari ujung payung petugas hotel. Sebuah mobil melintas, bannya membelah genangan dan meninggalkan desis panjang di belakang kami.

Arkana tidak berkedip. "Tidak."

"Aku tidak meminta izinmu. Pengacaraku akan mengirimkan berkasnya."

"Kirim seratus kali kalau kau mau. Jawabanku tetap sama."

"Kita sudah hidup terpisah dua tahun."

"Kita tetap menikah."

"Kita tidur bersama malam ini bukan berarti semuanya kembali seperti dulu."

"Aku tahu."

Jawabannya terlalu tenang. Aku justru ingin menamparnya.

"Lalu apa yang kau mau dariku?"

"Semua yang dulu menjadi milikku."

"Perempuan yang dulu kau kenal sudah mati."

Arkana memandangku lama. Ada sesuatu bergerak di matanya, cepat dan gelap, sebelum seluruh wajahnya kembali membatu.

"Kalau begitu," katanya pelan, "mengapa dia masih memanggil namaku saat aku menyentuhnya?"

Tanganku terangkat, tetapi berhenti di udara.

Aku tidak memberinya kepuasan melihat air mataku. Dengan satu gerakan, kulepas kedua sepatu hak tinggiku. Ujung gaun kuangkat sedikit, lalu aku berjalan tanpa alas kaki menuju pintu hotel.

Setiap langkah mengirim nyeri dari pergelangan kaki ke dada. Aku terus berjalan.

"Larasati."

Aku tidak menoleh.

Di dalam lift, bayanganku terlihat kacau pada dinding kuningan. Topeng renda masih menempel di wajah, lipstikku pudar, dan satu bekas merah mengintip di leher. Seorang perempuan yang dibeli dua miliar rupiah seharusnya tampak mahal.

Aku hanya tampak kalah.

Sesampainya di kamar 2708, aku melempar sepatu ke lantai dan berjalan ke jendela. Hujan telah berubah menjadi gerimis. Di bawah sana, Arkana berdiri di tepi trotoar tanpa payung, tepat di tempat aku meninggalkannya.

Beberapa detik kemudian dia masuk ke mobil.

Mesinnya tidak dinyalakan.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit.

Mobil hitam itu tetap di sana.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak tahu siapa sebenarnya yang sedang menunggu siapa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!