Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.
"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.
Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.
Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.
"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35: Sel Tahanan dan Uang Jaminan
Pukulan kedua tidak pernah jatuh.
Dua tangan menangkap lengan Laras dari belakang. Seorang tetangga memeluk bahunya, sementara pengikut Reno menahan gagang kunci inggris. Laras meronta sampai alat itu terlepas dan membentur lantai.
"Lepasin gue!"
"Sudah, Laras! Dia sudah jatuh!"
Reno masih sadar. Ia mengumpat sambil menekan kain ke sisi kepalanya. Temannya menyeretnya menjauh menuju pintu bengkel ketika suara sirene terdengar dari jalan besar.
Laras berhasil melepaskan satu tangan. Pandangannya menangkap cutter di atas meja kerja.
Ia meraihnya.
"Kurang ajar lo ke Nadia!"
Ia baru maju dua langkah ketika tiga orang sekaligus menahannya. Cutter direbut sebelum sempat menyentuh siapa pun. Seorang tetangga memelintir pergelangan tangannya cukup keras untuk membuat benda itu jatuh.
"Mau bunuh orang, lo?" teriak pengikut Reno.
"Gue mau bikin dia nggak bisa nyakitin perempuan lagi!"
Ucapan itu keluar dalam kemarahan, bukan rencana yang sempat diwujudkan. Polisi datang beberapa detik kemudian dan melihat Laras masih berusaha melepaskan diri, Reno terluka, serta dua alat berada di lantai.
Tidak ada penjelasan yang bisa membuat pemandangan itu tampak ringan.
Ambulans membawa Reno ke rumah sakit untuk dijahit dan diperiksa. Ia sadar sepanjang perjalanan, tetapi pengikutnya terus meneriakkan bahwa Laras mencoba membunuhnya.
Polisi meminta semua orang mundur. Kunci inggris dan cutter difoto, diberi tanda, lalu dimasukkan sebagai barang yang berkaitan dengan kejadian.
Di antara kekacauan, Bu Iis melihat lembar uang beterbangan menuju selokan. Ia mengumpulkan amplop serta kartu ATM, memasukkannya ke kantong plastik bersih, dan meletakkannya di rak tinggi agar tidak diambil siapa pun.
"Ini tadi dibawa orang mobil hitam," katanya kepada petugas. "Saya lihat dia taruh di meja sebelum ribut."
Petugas mencatat keterangannya dan memotret kantong itu di tempat. Karena pihak Reno tidak mengaku kehilangan dan benda tersebut tidak dipakai untuk memukul, petugas meminta agar kantong tetap disimpan sampai pemilik serta tujuannya diklarifikasi.
Laras dibawa ke Polsek dengan tangan gemetar dan noda oli di baju. Di dalam kendaraan, amarahnya turun begitu cepat hingga menyisakan ruang kosong.
Nadia tidak pernah meminta ini.
Pak Darto akan pulang ke bengkel yang dipenuhi polisi.
Rayhan akan mendengar bahwa semua nasihat tentang kendali yang ia berikan selama ini tidak mampu dipatuhi Laras sendiri.
Di Polsek, petugas mencatat identitasnya, meminta keterangan awal, dan menjelaskan bahwa dugaan penganiayaan dengan alat dapat membuatnya ditahan selama pemeriksaan. Laras mengatakan Reno datang membawa uang untuk membungkam Nadia, tetapi ia menolak menguraikan pengalaman Nadia tanpa persetujuannya.
"Jadi motifnya apa?" tanya petugas.
"Dia mengaku menyakiti teman gue. Gue hilang kendali."
"Ada laporan dari teman Anda?"
"Nggak ada."
Petugas menatapnya lelah. "Kalau tidak ada laporan dan korban yang terlihat di tempat ini justru pihak yang Anda pukul, proses kami dimulai dari kejadian yang ada di depan mata."
Laras memahami ketidakadilan itu, tetapi juga memahami bahwa tangannya sendiri menciptakan bukti paling jelas.
Ia dimasukkan ke ruang tahanan sementara sambil menunggu pemeriksaan lanjutan dan kabar kondisi Reno.
Sebelum pintu ditutup, seorang polisi perempuan memeriksa bahwa Laras tidak membawa benda tajam lain dan memberinya kesempatan menghubungi keluarga. Laras menolak menelepon Pak Darto karena tahu ia sedang berada di jalan.
"Setidaknya sebutkan satu orang yang bisa datang," kata petugas.
Laras menyebut nama Rayhan, lalu langsung menyesal. Anak itu seharusnya berada di sekolah, memikirkan ujian dan ITB, bukan berdiri di kantor polisi karena kegagalan Laras mengendalikan diri.
Ruang tahanan berbau lembap dan disinfektan. Hanya ada bangku semen serta sebotol air. Laras duduk dengan kedua tangan di antara lutut, menatap noda hitam di kukunya. Setiap kali menutup mata, ia melihat kunci inggris terangkat untuk kedua kalinya.
Pukulan pertama terjadi karena amarah. Pukulan kedua, kalau sempat jatuh, akan menjadi keputusan.
Kesadaran itu membuat perutnya mual.
Orang pertama yang dihubungi bukan Pak Darto. Bu Iis menemukan nomor Rayhan pada kertas jadwal obat Mbah Surti yang ditempel dekat kasir dan meneleponnya dari bengkel.
Rayhan sedang mengikuti pelajaran tambahan ketika ponselnya bergetar.
"Laras dibawa polisi," kata Bu Iis tanpa pembuka. "Dia mukul pelanggan sampai masuk rumah sakit."
Guru di depan kelas masih menulis rumus ketika Rayhan berdiri. Ia menjelaskan keadaan keluarga dengan kalimat sependek mungkin dan menyerahkan ponsel agar guru bisa berbicara langsung kepada Bu Iis.
Izin keluar diberikan dengan syarat Mbah Surti mengonfirmasi lewat telepon dan Rayhan mengirim kabar setelah sampai. Ia memenuhi semuanya, bahkan saat jari-jarinya terasa dingin.
Dalam bus, ia menelepon rumah sakit tempat Reno dibawa, Polsek, lalu Om Hendra. Ia tidak menelepon Laras berulang kali karena tahu ponselnya pasti disimpan petugas. Setiap tindakan dipilih agar kepanikan tidak menghabiskan waktu.
Baru ketika kaca bus memantulkan wajahnya, Rayhan sadar rahangnya sakit karena terus mengatup.
Kursi Rayhan bergeser keras. Ia meminta izin kepada guru, menghubungi Kelvin di jalan, lalu naik kendaraan pertama menuju Polsek.
Kelvin sudah menunggu di depan dengan Om Hendra.
"Sebelum lo masuk, jangan ancam siapa pun," kata Kelvin.
"Gue tahu."
"Muka lo bilang sebaliknya."
Om Hendra menyerahkan nama seorang kenalan yang memahami prosedur pendampingan. "Tanya statusnya, pasal yang disangkakan, dan apakah bisa diajukan penangguhan penahanan. Jangan menjanjikan uang kepada petugas. Semua lewat kuitansi dan proses tertulis."
Rayhan mengangguk. Wajahnya terlalu tenang untuk anak enam belas tahun yang baru mengetahui orang terdekatnya berada di tahanan.
Di meja pelayanan, ia menanyakan kondisi Reno lebih dulu. Jawabannya: luka kepala sudah dijahit, tidak dalam keadaan kritis, masih diobservasi. Setelah itu ia meminta salinan informasi penahanan dan syarat permohonan jaminan.
"Kamu keluarga?" tanya petugas.
"Saya tinggal satu keluarga sejak kecil. Pak Darto masih di jalan. Saya urus yang bisa diurus sampai beliau datang."
Ia menyerahkan dokumen identitas, nomor orang dewasa penjamin, serta bukti alamat. Om Hendra membantu menyiapkan permohonan tertulis. Uang tunai yang dibawa Rayhan tidak otomatis membuka pintu sel; uang itu hanya bisa dicatat sebagai bagian jaminan bila permohonan disetujui.
"Dan persetujuan pihak korban akan sangat membantu," jelas petugas. "Kalau mereka mau damai, posisi Laras lebih ringan. Kalau tidak, proses tetap jalan."
Rayhan meminta penjelasan apa yang dimaksud damai. Petugas menerangkan bahwa pernyataan dari Reno dapat memengaruhi penangguhan dan penyelesaian perkara, tetapi luka, saksi, serta benda yang diamankan tetap tercatat.
"Jadi bukan bayar lalu semua hilang?"
"Bukan. Jangan salah paham."
"Kalau pihaknya punya pengacara?"
"Mereka berhak. Laras juga berhak didampingi."
Om Hendra menghubungi kenalannya, bukan untuk menekan petugas, melainkan memastikan ada orang dewasa yang memahami dokumen sebelum Rayhan menandatangani apa pun. Rayhan menulis setiap nama dan nomor perkara dalam buku catatan sekolahnya.
Rayhan melihat nama Reno pada berkas.
Untuk pertama kalinya sejak pom bensin, hubungan darah itu terasa seperti senjata yang bisa dipakai balik.
Sebelum menemui Laras, ia kembali ke bengkel bersama satu petugas untuk mengambil dokumen alamat. Bu Iis menyerahkan kantong plastik berisi amplop dan kartu ATM.
"Ini alasan mereka ribut," katanya. "Jangan sampai hilang."
Rayhan memotret posisi kantong dan tanda catatan petugas, lalu menerimanya setelah serah terima dicatat. Ia tidak membuka amplop. Nama bank dan kartu atas kendali Reno sudah cukup membuat pikirannya bekerja.
Di Polsek, Laras berdiri di balik jeruji ketika melihatnya datang.
"Kenapa lo di sini?"
"Karena kamu ditahan."
"Gue tahu. Maksud gue, kenapa bukan Pak Darto?"
"Beliau masih dari luar kota."
"Jangan bilang dulu. Biar gue di sini beberapa hari. Jangan buang uang buat jaminan."
Rayhan mendekat ke jeruji. "Kamu pikir duduk di sel bisa bantu Nadia?"
Laras menunduk. "Gue hampir bunuh orang."
"Tapi nggak jadi. Reno hidup dan sudah dijahit."
"Itu bukan alasan gue bebas."
"Aku nggak bilang bebas. Aku cari supaya kamu bisa menunggu proses di rumah, bukan di sini. Kasusnya tetap ada sampai selesai."
"Kalau Reno nggak mau damai?"
"Aku buat dia mau bicara."
Cara Rayhan mengucapkannya membuat Laras mencengkeram jeruji. "Jangan lakukan sesuatu yang bikin lo masuk ke sini juga."
"Aku nggak akan mukul dia."
"Bukan cuma pukul. Lo suka merasa kalau niatnya melindungi, semua cara jadi boleh."
Rayhan terdiam. Teguran itu mengenai mereka berdua. Laras baru saja membuktikan bagaimana alasan melindungi bisa berubah menjadi kehancuran ketika tidak ada batas.
"Aku akan pakai cara yang bisa dicatat," katanya akhirnya. "Surat, saksi, dan persetujuan."
"Janji?"
"Aku janji nggak akan bikin kamu tambah susah."
Itu bukan jawaban yang sama, dan Laras menyadarinya.
Laras mengangkat mata. Rayhan tidak menangis, tidak meninggikan suara, dan tidak menyalahkannya. Ia berbicara tentang pasal, surat jaminan, kondisi medis Reno, serta orang yang harus dihubungi.
Anak yang dulu selalu menunggu Laras menyelesaikan masalah kini sedang berdiri di luar sel dan menyusun jalan keluarnya.
Perasaan itu menenangkan sekaligus menakutkan.
"Dari mana uangnya?" tanya Laras.
"Bukan hal penting sekarang."
"Buat gue penting."
"Aku pakai uangku dan bantuan prosedur dari Om Hendra. Nggak ada yang disuap."
Seorang petugas memanggil Rayhan untuk menandatangani daftar penerimaan dokumen. Ia berbalik, lalu berhenti ketika pintu depan Polsek terbuka keras.
Pak Darto masuk dengan celana kotor lumpur. Pinggangnya dibalut, satu kaki diperban, dan ia bertumpu pada tongkat pinjaman. Dalam perjalanan pulang, motornya tergelincir ke parit karena ia memaksa melaju setelah menerima kabar.
Ia berjalan pincang menuju meja petugas tanpa memedulikan wajahnya yang menahan sakit.
"Anak saya di mana?" tanyanya.
Semua orang di lorong menoleh ketika Pak Darto melepaskan tongkat dan mencoba melangkah maju dengan kaki yang hampir tidak mampu menahan tubuhnya.