Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:758.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Jena sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen ketika pintu ruangannya tiba-tiba terbuka setelah diketuk beberapa kali. Ia langsung mengangkat kepala. Alisnya berkerut saat melihat Dion berdiri di ambang pintu.

“Dion?”

Dion tersenyum santai, lalu masuk tanpa banyak basa-basi.

“Lagi sibuk?”

Jena melirik meja kerjanya yang penuh berkas. “Menurutmu?”

Dion tertawa kecil. “Aku cuma mau ngobrol sebentar.”

Jena menghela napas. Mereka memang bekerja di perusahaan yang sama, tetapi selama ini hubungan mereka biasa saja. Bahkan, hampir tidak pernah ada urusan pekerjaan yang membuat Dion perlu datang langsung ke ruangannya.

“Kalau soal pekerjaan, ngomong saja.”

“Bukan soal pekerjaan.”

Jena menatapnya curiga. “Lalu?”

Dion malah duduk santai di kursi depan meja Jena. “Soal perjodohan kita.”

Jena terdiam beberapa detik, kemudian terkekeh. “Serius?”

“Aku serius.”

“Dion, kamu datang ke sini cuma untuk membahas itu?”

“Iya.”

Jena bersandar di kursinya. Senyum tipis menghiasi wajahnya, seolah baru saja mendengar lelucon paling lucu hari itu. “Menurutku, kamu sedang bermimpi.”

Dion mengangkat alis. “Kenapa?”

“Karena sampai mati pun, aku nggak akan mau menikah sama kamu.”

Senyum Dion perlahan memudar. “Jena, jangan bercanda.”

“Aku nggak bercanda.”

Jena kembali menunduk, mengambil sebuah berkas, lalu membukanya. “Jadi, kalau tidak ada urusan pekerjaan, silakan keluar. Aku masih banyak kerjaan.”

Dion masih diam menatapnya. “Kamu benar-benar nggak mau mempertimbangkannya?”

Jena mengangkat wajah. “Tidak.”

Jawabannya singkat, tegas, tanpa sedikit pun keraguan.

Dion menghela napas, tetapi bukannya pergi, ia justru tersenyum tipis. “Baiklah. Kita lihat nanti.”

Jena mendengus. “Lihat apa?”

“Siapa tahu suatu hari nanti kamu yang berubah pikiran."

Jena tertawa kecil. “Kalau itu yang kamu tunggu, sepertinya kamu harus menunggu sampai kiamat. "

Dion berdiri sambil terkekeh. “Baik. Aku ingat ucapanmu."

Setelah Dion pergi, Jena menggeleng-gelengkan kepala. “Dasar orang aneh. Dalam mimpi pun, aku ogah nikah sama kamu."

Ia kembali fokus pada pekerjaannya, tanpa menyadari bahwa di balik sikap santai Dion tadi, ada keseriusan yang tidak bisa dianggap sebagai candaan.

Jena menatap layar komputernya dengan kesal. Sejak Dion datang ke ruangannya dan membahas perjodohan itu, pikirannya tak bisa tenang.

"Semua gara-gara Papanya." Ia mendengus kesal.

Papanya benar-benar punya ide gila dengan menjodohkannya dengan Dion. Tapi sepertinya, ini saran dari Juwita, ia yakin itu. Juwita pasti sudah bisa memperkirakan kalau nanti, perusahaan akan jatuh padanya, apalagi Papanya bilang 6 tahun lagi, saat usianya 65, dia ingin pensiun. Makanya Juwita ingin menikahkan Dion dengannya. "Dasar wanita licik! Bisa-bisanya Papa nurut banget sama dia. Aku harus buat Papa jatuh cinta pada perempuan lain, biar dia ninggalin ja lang itu."

Sebenarnya Jena ingin langsung mendatangi ruangan Papanya dan memprotes habis-habisan. Namun, sebelum berdiri dari kursinya, ia teringat pesan Mamanya.

Jangan terlalu menentang Papa kamu. Bagaimanapun, dia tetap Papa kamu. Kamu harus tetap menjaga hubungan baik dengannya. Kalau sampai hubungan kalian renggang, Juwita adalah orang yang paling akan bahagia.

Jena mengembuskan napas panjang, yang dikatakan Mamanya benar.

“Ya sudah. Jangan dilawan.”

Ia menyandarkan tubuhnya kembali sambil berpikir keras. Kalau menolak terang-terangan, Papanya pasti akan semakin memaksa. Lalu, bagaimana caranya menghentikan perjodohan itu tanpa harus berkonflik dengan Papa?

Beberapa detik kemudian, sebuah ide muncul di kepalanya. Jena tersenyum tipis.

“Kalau begitu, aku harus cari jalan lain.”

Ia langsung mematikan komputer, mengambil tasnya, lalu berjalan menuju ruangan Andika.

Namun, begitu pintu terbuka, langkah Jena seketika terhenti. Di dalam, ada Juwita. Perempuan itu sedang duduk santai di sofa sambil menemani Andika.

Jena menahan napas. "Ya ampun... pemandangan macam apa ini?" gumamnya pelan.

Rasanya baru beberapa detik melihat mereka saja sudah cukup membuat perutnya mual.

Juwita langsung tersenyum ketika melihat Jena.

“Jena, kamu datang? Sini, duduk dulu. Pas banget, kami sedang ingin makan siang. Tante bawa makanan dari rumah, ayo kita makan bersama."

Jena memaksakan senyum. “Tidak perlu repot-repot. Lagian saya tidak berminat dengan makanan anda. Takut."

Juwita mengernyit.

"Takut ketularan virus lakor." Jena tersenyum miring.

"JENA!" bentak Andika.

"Mas, sudahlah." Juwita mengusap lengan suaminya. "Aku bisa faham kok, kenapa Jena benci banget sama aku."

Hoek! Jena rasanya pengen muntah.

“Jena, kamu kelihatannya capek," Juwita sok peduli. "Jangan terlalu banyak bekerja. Kamu itu harus jaga kesehatan. Perempuan jangan terlalu sibuk kerja, harus jaga diri juga, perawatan, shoping, jalan-jalan, harus banget itu. Mendingan kamu buru-buru nikah deh, biar ada yang nafkahin, jadi gak perlu terlalu sibuk kerja."

"Tenang aja, saya memang ingin segera nikah kok."

Andika langsung menatap putrinya, kaget Jena tiba-tiba bilang ingin segera menikah.

"Benarkah?" Juwita kembali memastikan, ada senyum di wajahnya.

"Jadi, siapa yang kamu pilih, Angga atau Dion?" tanya Andika.

"Bukan keduanya."

Kening Andika langsung mengernyit, begitu pun dengan Juwita. "Lalu?"

"Jena punya calon sendiri."

Ruangan itu mendadak sunyi.

"Kamu punya pacar?"

"Ya kali wanita secantik Jena gak punya pacar, Pah. Wanita yang mukanya hasil oplas saja bisa merebut laki orang, apalagi Jena yang kayak bidadari ini." Ia tersenyum tipis. "Banyak Pah yang ngantri."

Wajah Juwita berubah kesal karena sindiran Jena.

"Siapa?"

"Nanti Jena kenalin sama Papa."

Andika mulai terlihat penasaran.

“Minggu depan, Jena bawa dia ke rumah. Jena mau dia kenalan dengan Papa dan Mama.”

Juwita saling pandang dengan Andika.

“Jena... kamu serius?” tanya Juwita.

"Aku ngomong sama Papa, bukan sama kamu."

Juwita mendengus, tangannya mencengkeram erat pinggiran sofa.

"Ya sudah, aku kesini cuma mau bilang itu. Permisi." Jena balik badan lalu keluar.

1
aisyah
tapi aku nggak kasihan, gimana dong 🤭🤣
Oma Gavin
akhirnya juwita sudah memanen karma nya tinggal tunggu waktu mati saja sayang nya belum tobat habis ini pasti naura diajak ikut andhika bikin jena marah dan ngga mau lagi ketemu ayah nya
Putusri Martini
ceritanys menarik 👍👍
Sugiharti Rusli
apalagi dia sudah bercerai dari mama Asri, paling yang akan terganggu si Jena kan si Naura punya perasaan lain sama Budi
Sugiharti Rusli
meski bukan putri kandungnya, tapi Naura dirawat sejak lahir oleh Andika
Sugiharti Rusli
tapi sepertinya kalo si Juwita akhirnya berumur pendek sèpertinya Andika akan mengajak tinggal bersamanya lagi
Sugiharti Rusli
ternyata si Naura masih memiliki kakek-nenek dari pihak ibunya, jadi dia ga sendirian juga yah
Sugiharti Rusli
memang sih sebuŕuk apapun si Juwita bagi orang lain, di mata anak" nya mereka tetap sayang padanya,,,
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Kasihan juga Juwi...mungkin Naura ikut dgn Andika
Eli Rahma
HIV
Opi Sofiyanti
kupikir pancreas tuh cm buat cowok.. 🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
karma bagi pelakor 😡😡😡
ntar Naura ikut Andika jangan sampai Dia juga jadi pelakor dalam Rumah Tangga Jena😡😡😡
Agus Tina
Aku kok nggak kas8han sama Juwita, ayo Andika saidara2 Juwita yg sudah kau tolong masukan mereka ke perusahaan sama sekalintidak mau menolong Juwita, itu karma buat Juwita. Tp mauku buat mereka melakukan kesalahan thor habis itu airih Jena pecat mereka
🌷Vnyjkb🌷
over alkohol pas LC tu,
🌷Vnyjkb🌷
susuknya lompat🤭😜😜
Diana Fitri.N
semangat kak semangat up nya 🥰
Kar Genjreng
kebanyakan diet makan kurma kali ya jadinya sakitnya gitu,,,,, saudaranya pada ga mau dekat lagi karena Juwita sudah hidupnya tidak seperti dulu,,,,ketika hidupnya bergelimang. mirip semut ngerubungi seperti gula,,, begitu sudah tak berdaya dan kismin. pada menjauh takut ketularan miskin,,,,maka jangan terlalu
bangga karena bnyak saudara. atau teman kala senang kala susah menjauh 🤔😮
ryuka
kasian ga kasian diihh tapi mungkin ini karmu juwita
Asih Rahmadhani Bohara
kasian banget sbnrnya sama Jena.. padahal udh jelas2 Naura bukan anaknya. msh aja peduli sampai skrg.. udh d khianati juwita berkali2.. msih aja ada rasa iba.. udh cocok banget bu asri mnta cerai
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
yaa pasti karena selama ini juwita sombong dan tak perduli sama keluarga nya. makanya saat juwita sakit, mereka ganti tak perduli dengan keadaan juwita. sekarang baru tahu kan? gimana rasanya di abaikan juwita...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!