Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Satu bulan telah berlalu sejak insiden di Lumiere Bakehouse, dan atmosfer di antara Alana dan Gema benar-benar telah berubah secara permanen. Tidak ada pertengkaran hebat, tidak ada adu argumen yang penuh emosi, dan tidak ada lagi air mata yang terbuang sia-sia. Alana hanya membangun sebuah dinding kaca yang amat tebal transparan, terasa begitu dekat, tetapi sama sekali tak bisa disentuh oleh Gema.
Sebulan ini, Alana benar-benar menutup rapat setiap celah yang coba dimasuki oleh suaminya. Gema pernah mencoba mengajak ngobrol di meja makan rumah, sengaja menunggunya pulang di ruang tengah hingga larut malam, atau sekadar menawarkan tumpangan ke toko, tetapi Alana selalu menolaknya dengan kehalusan yang mematikan. Reaksi Alana selalu konsisten: sangat sopan, formal, dan datar. Bagi Alana, mendedikasikan seluruh fokus dan energinya untuk Lumiere Bakehouse adalah benteng pertahanan terbaik demi menjaga kewarasan jiwanya, sekaligus memastikan dirinya selalu menjadi Bunda yang penuh kasih dan utuh untuk Tania.
Hari ini, kediaman megah milik keluarga besar Gema tampak begitu ramai.
Puluhan kendaraan mewah terparkir berderet di sepanjang jalan kompleks perumahan elit tersebut. Acara pengajian besar diselenggarakan oleh ibu mertua Alana untuk memperingati hari kematian Kirana. Aroma minyak wangi cendana, sayup-sayup lantunan ayat suci, dan riuh rendah bisikan para tamu memenuhi ruang tamu luas yang telah disulap menjadi area pengajian berkarpet tebal.
Di sudut area saung taman belakang yang sejuk, Alana berdiri anggun dengan balutan busana muslimah berwarna krem lembut. Jemari lentiknya cekatan memeriksa boks-boks kue katering yang baru saja tiba dari toko kuenya sendiri.
"Mbak Alana," panggil Maya pelan seraya mendekatinya membawa nampan berisi cangkir-cangkir teh manis hangat. "Peralatan katering dari toko sudah rapi semua di dapur dalam. Mbak mau istirahat dulu sebentar? Wajah Mbak kelihatan capek banget."
Alana menyunggingkan senyum tipis, lalu menggeleng halus. "Aku tidak apa-apa, Maya. Terima kasih ya. Kamu tolong pastikan saja jus buah segar di meja tengah tidak kehabisan."
"Siap, Mbak. Tapi... Mbak Alana sudah tahu belum kalau di depan ada orang tua Mbak?" bisik Maya dengan raut cemas yang tak bisa disembunyikan.
Gerakan tangan Alana yang sedang merapikan pita boks kue sempat terhenti sejenak, namun dengan cepat ia menguasai emosinya kembali. "Iya, aku tahu. Terima kasih informasinya, Maya."
Saat Alana melangkah menuju pintu samping untuk masuk ke area dalam rumah, sosok Gema mendadak menghadang jalurnya. Pria itu tampil rapi dengan baju koko putih dan peci hitam. Wajah Gema menyiratkan rasa bersalah mendalam yang terus menggerogoti jiwanya selama satu bulan terakhir.
"Alana," panggil Gema berat. Matanya menatap tajam ke arah Alana, mencoba mencari secercah kehangatan yang dulu selalu menyambutnya. "Kamu dari tadi di belakang terus? Ayo masuk ke dalam, duduk di samping saya dan Tania."
Alana menghentikan langkahnya, menjaga jarak dua tapak dari posisi berdiri Gema. Pandangannya lurus dan tenang.
"Tidak perlu, Mas," sahut Alana halus. "Saya harus memantau anak-anak katering di belakang agar penyajian makanan untuk tamu-tamu Mama tidak terlambat. Tania sudah bersama Risa dan Mama di dalam, kan?"
"Alana, staf kamu sudah banyak di sini," sela Gema, nada suaranya menyiratkan keputusasaan yang tertahan. "Kamu itu istri saya, bukan kepala katering di acara ini. Orang-orang di dalam bertanya-tanya kenapa kamu tidak kelihatan duduk di samping saya."
"Kalau ada yang bertanya, Mas tinggal jawab saja saya sedang memastikan konsumsi berjalan lancar," jawab Alana sangat datar. "Ini acara besar Mama, saya hanya ingin memastikan semuanya sempurna."
"Alana, tolong..." Gema maju satu langkah, menurunkan volume suaranya hingga menyerupai bisikan memohon. "Satu bulan ini kamu benar-benar membuang saya. Kamu tidak pernah ajak saya bicara kalau tidak penting, kamu selalu menghindar kalau saya mendekat. Sampai kapan kamu mau bersikap seperti ini sama saya?"
Alana tidak menghindar, namun tatapan matanya begitu hampa dan berjarak. "Saya tidak membuang siapa pun, Mas Gema. Saya hanya menjalankan peran saya seperti biasa. Mas fokus saja pada tamu-tamu Mas dan acara peringatan Mbak Kirana. Saya permisi dulu."
Tanpa menunggu tanggapan Gema, Alana berjalan melewati pria itu begitu saja. Gema mengepalkan tangannya di udara kosong, merasakan hantaman rasa dingin yang menancap makin dalam di dadanya.
Saat Alana melangkah ke area ruang keluarga utama yang dipenuhi para tamu wanita, suasana yang tadinya riuh mendadak agak menyurut. Di sofa utama, tampak dua wanita paruh baya sedang duduk berdampingan Mama mertuanya dan Ibu kandungnya. Di sebelah mereka, duduk seorang pria paruh baya bersahaja dengan kemeja batik Papa kandung Alana.
Ibu Alana wanita yang selalu tampil mencolok dengan perhiasan emas dan riasan tebal langsung melempar tatapan menyindir begitu melihat keberadaan Alana.
"Nah, ini dia baru kelihatan hidungnya!" seru Ibu Alana dengan suara cukup keras, memotong percakapan para tamu di sekitarnya. "Dari tadi Mama cari-cari kamu, Alana! Orang tua datang bukannya disambut di depan, malah keluyuran tidak jelas di belakang."
Papa Alana mendongak, menatap putri sekundernya dengan pendar kerinduan dan senyum hangat. "Alana..."
Alana melangkah mendekat, mengabaikan nada ketus ibunya. Ia membungkuk, mencium tangan papanya dengan takzim, lalu mencium tangan ibunya dan mama mertuanya.
"Maaf, Pa, Ma. Alana baru selesai mengecek persiapan makanan katering di belakang," ucap Alana santun.
"Alasan terus!" potong Ibunya tajam, mengibaskan tangan yang dipenuhi gemerincing gelang emas. "Kamu itu memang tidak pernah berubah. Dari dulu kalau ada acara keluarga besar selalu saja berlagak paling sibuk sendiri.
Harusnya kamu duduk manis di sini, dampingi suami kamu, bukannya malah sok sibuk urus kue! Malu-maluin keluarga saja!"
Papa Alana mengerutkan keningnya rapat-rapat. Pria tua itu menatap istrinya dengan raut tidak suka yang jelas. "Mama ini bicara apa, sih? Di depan orang banyak kok malah menyalahkan anak sendiri? Alana itu bantu urus konsumsi acara ini, harusnya dipuji, bukan dimarahi."
"Papa tidak usah ikut campur!" sergah Ibunya ketus, menoleh ke arah Papa Alana dengan tatapan galak. "Papa itu tidak tahu apa-apa! Anak ini dari dulu memang sukanya cari perhatian! Dulu waktu Kirana masih ada, dia selalu iri. Sekarang Kirana sudah tidak ada, sifatnya masih saja tidak berubah."
Kalimat beracun itu terlempar begitu saja di tengah keriuhan acara, membuat beberapa tamu wanita di sekitar mereka saling berbisik. Mama mertua Alana tampak serba salah dan mencoba meredakan situasi.
"Sudah, Jeng... tidak apa-apa," tutur Mama mertua Alana lembut. "Alana ini anak yang sangat rajin dan bertanggung jawab. Makanan katering dari tokonya selalu dipuji tamu-tamu kita."
"Ah, Jeng ini terlalu memanjakan Alana!" sahut Ibu Alana dengan tawa sumbang yang dipaksakan. "Dia itu kalau tidak ditegur makin ngelunjak. Beda jauh sama almarhumah Kirana yang dulu selalu penurut dan paham tata krama."
Alana berdiri tegak di tengah lingkaran itu. Wajahnya tidak memerah karena malu, matanya pun tidak berkaca-kaca. Hatinya sudah terlalu kebas oleh hinaan yang sama selama puluhan tahun. Senyum formal yang sangat tipis terukir di bibirnya.
"Terima kasih atas tegurannya, Ma," ucap Alana sangat tenang, suaranya jernih tanpa ada getaran emosi sedikit pun. "Alana ke belakang lagi untuk memastikan hidangan penutup sudah disiapkan."
Sikap Alana yang teramat tenang di tengah caci maki itu justru membuat suasana terasa kian canggung. Ia berbalik arah dengan kepala tegak, membiarkan orang-orang melihatnya bukan sebagai korban yang malang, melainkan sebagai wanita yang telah berdiri kokoh di atas kakinya sendiri.
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....