Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Estella menelan ludahnya rapat-rapt. Tenggorokannya terasa kaku, dan rasa pahit menjalar hingga ke ujung lidahnya. Pertanyaan dingin dari Lucian menggantung di udara ruangan bawah tanah yang remang-remang itu, menuntut jawaban jujur tanpa kebohongan.
Mampus gue! Kalau gue bilang tahu dari novel yang pernah gue baca, dia pasti makin ngira gue gila atau agen rahasia! batin Estella panik.
Estella memaksakan sebuah senyuman tipis, matanya berkedip cepat mencoba menyusun kebohongan seaman mungkin.
"A-anuuu... itu... aku pernah denger!" ujar Estella dengan nada suara yang agak bergetar. "Aku pernah dengar nama itu dari desas-desus orang-orang di klub malam... atau di mana gitu, aku lupa persisnya! T-tapi aku beneran gak tahu kalau nama Vex Noir itu ternyata kamu, Ganteng! Sumpah demi apa pun, aku cuma asal sebut waktu leher aku kamu cekik tadi!"
Estella menghembuskan napas pelan, merasa alasan spontannya sudah cukup masuk akal dan aman untuk menyelamatkan lehernya. Ia memasang raut wajah sepolos mungkin, berharap Lucian akan mempercayai kebohongan darurat tersebut.
Namun, tidak ada sedikit pun perubahan pada raut wajah Lucian. Iris matanya yang sehitam jelaga tetap menatap Estella tanpa ekspresi, seolah-olah sedang membaca setiap kebohongan yang terpancar dari mata gadis itu.
SRET.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Lucian merogoh saku celananya dan mengeluarkannya. Sebuah pisau lipat perak bermata ganda yang sangat tajam memantulkan cahaya redup lampu pijar. Dengan satu jentikan jemarinya yang terampil, bilah pisau itu terbuka dengan bunyi KLIK yang teramat nyaring dan dingin.
Jantung Estella seketika berdesir kencang, darah di seluruh tubuhnya serasa membeku.
Lucian berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mendekati tempat Estella terikat. Setiap helaan napas pria itu memancarkan hawa maut yang kental. Ia mencondongkan tubuhnya, lalu menggunakan bagian datar dari bilah pisau perak yang dingin itu untuk mengusap pelan pipi mulus Estella.
Sensasi besi dingin yang menempel di kulit pipinya membuat Estella merinding hebat. Tubuhnya menegang kaku, tak berani bergeming satu milimeter pun karena takut pisau tajam itu akan menggores wajahnya.
Lucian mendekatkan wajahnya ke telinga Estella. Hembusan napasnya yang dingin terasa menembus tengkuk gadis itu saat ia berbisik dengan suara deep voice yang teramat datar dan penuh kekejaman murni:
"Karena kau sudah tahu nama itu... maka kau yang menjadi target berikutnya."
DEG!
Kalimat itu terucap bagaikan vonis mati dari malaikat pencabut nyawa. Estella merasakan lutut dan kakinya yang terikat pada kursi mulai gemetaran hebat. Ketakutan yang membakar jiwanya menjalar cepat ke seluruh saraf. Ramalan novel itu kini berada tepat di depan matanya eksekusi mati Estella Aurora telah resmi dimulai!
Meskipun kakinya tremor tak terkontrol dan peluh dingin menetes dari dahi hingga ke lehernya, jiwa nekat Estella menolak untuk pasrah begitu saja. Ia mencoba menguasai rasa paniknya, menatap balik iris mata Lucian yang berada begitu dekat darinya.
"T-tunggu! Tunggu dulu, Lucian!" bujuk Estella dengan nada memohon yang dibuat sehalus dan semanis mungkin, walau suaranya sedikit pecah karena ketakutan.
"Jangan main potong-potong dulu dong! Maksudku... pikirin baik-baik! Kal-kalau kamu bunuh aku sekarang, rugi besar tahu! Aku ini bisa berguna buat kamu. Aku anak tunggal keluarga Aurora, aku punya banyak uang, aku bisa bantu sembunyiin jejak kamu, atau apa aja deh! Lagipula... masak iya kamu tega bunuh cewek cantik yang suka sama kamu ini?"
Estella mencoba menyunggingkan senyuman ringis, matanya menatap pasrah pada bilah pisau yang masih menempel rapat di pipinya. "Kasih aku kesempatan hidup dikit lagi ya, Ganteng? Tolong banget ini mah..."
Ujung pisau lipat yang menempel di pipi Estella ditekan sedikit lebih dalam cukup untuk memberikan sensasi dingin yang menyengat tanpa menggores kulit mulusnya. Hawa maut di dalam ruangan itu mendadak melipatganda, seolah-olah seluruh oksigen ditarik keluar dari sekitar mereka.
"Kau berani menawar denganku?" desis Lucian amat tajam dan menusuk.
Suara deep voice-nya bergetar penuh ancaman implisit yang begitu pekat, membuat darah di seluruh tubuh Estella serasa tersedot habis seketika. Sensasi merinding hebat menjalar dari tengkuk hingga ke ujung kakinya yang masih tremor di bawah kursi.
"E-engga gitu! Sumpah, engga gitu, Ganteng!" potong Estella panik setengah mati. Ia memejamkan mata sebentar, lalu memberanikan diri menatap iris sehitam jelaga milik Lucian dari jarak yang teramat dekat.
"Aku janji! Demi apa pun, aku gak bakal pernah cepuin nama itu atau semua rahasia kamu ke siapa pun! Kepolisian, keluarga aku, atau teman-teman aku... gak akan ada satu orang pun yang tahu!" lanjut Estella dengan napas yang memburu ketakutan.
Estella menelan ludah yang mengganjal keras di tenggorokannya. Mengingat batas waktu kematiannya yang kian menetas, jiwa nekatnya kembali mengambil alih. Dalam kondisi leher di ujung tanduk begini, harga diri sudah tidak ada harganya sama sekali!
"Lagipula... visi dan misi aku buat jadi pacar kamu kan belum tercapai!" celetuk Estella dengan senyum meringis yang teramat pasrah. "Masa aku udah mati duluan sebelum sempat nyicipin rasanya jadi ceweknya Lucian Voss? Rugi besar di akhirat nanti!"
Lucian tidak bergeming. Tatapannya tetap datar, tajam, dan penuh penilaian yang membekukan. Tidak ada raut terhibur sedikit pun di wajah sempurnanya.
Melihat ekspresi kulkas dua pintu yang tak kunjung melunak itu, Estella makin gencar mengeluarkan kartu as terakhirnya.
"Aku bakal nurut apa aja! Beneran, demi Tuhan!" seru Estella dengan suara yang sedikit cempreng karena panik. "Apa pun yang kamu suruh, aku lakuin! Kamu butuh orang buat bersih-bersih noda darah bekas buruan kamu? Aku siap! Kamu butuh orang buat nyiapin kopi tiap pagi? Boleh! Jadi babu kamu pun aku rela, asal leher aku jangan dipotong dulu! Tolong banget, Ganteng... bayangin punya babu cantik dan kaya raya kayak aku, di mana lagi kamu bisa dapat garansi premium begini?!"
Estella menatap Lucian dengan binar mata memohon yang paling memelas yang bisa ia bentuk, menunggu keputusan dari sang eksekutor yang memegang penuh kendali atas hembusan napasnya.