Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.
Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
— NADIRA TIDAK DIAM LAGI
Begitu suara mobil Arga menghilang dari halaman, suasana rumah berubah.
Nadira baru saja hendak menuju kamar ketika Bu Ratih berdiri dari sofa.
“Nadira.”
Nadira berhenti.
“Iya, Bu?”
“Jangan merasa menang.”
Nadira menoleh.
“Aku tidak sedang berlomba dengan siapa pun.”
Rani yang berdiri di samping ibunya langsung menyela.
“Jangan pura-pura tidak tahu.”
“Tahu apa?”
“Kau sengaja membuat Kak Arga membenci kami.”
Nadira tertawa kecil karena tidak percaya.
“Aku?”
“Iya!”
Rani maju selangkah.
“Sejak kau datang, Kak Arga selalu membela mu.”
Nadira menatapnya tenang.
“Karena aku istrinya.”
“Dulu Kak Arga selalu ada untuk kami!”
“Dan sekarang dia tetap ada.”
Nadira menghela napas.
“Tapi dia punya istri. Wajar kalau hidupnya berubah.”
Bu Ratih langsung berkata,
“Kamu yang membuatnya menjauh!”
Nadira menatap mertuanya.
“Tidak, Bu.”
Nada suaranya mulai tegas.
“Yang membuat Arga menjauh adalah perlakuan Ibu dan Rani sendiri.”
Bu Ratih terdiam.
“Kalian menyuruhku bekerja supaya aku tidak betah.”
Nadira menghitung dengan jarinya.
“Kalian menyuruhku mengurus pekerjaan rumah yang bukan tanggung jawabku.”
“Bukan seperti itu—”
“Kalian menuduhku soal gelang.”
Bu Ratih tidak bisa menjawab.
“Kalian bahkan membawa mantan Arga ke rumah hanya untuk membandingkanku dengannya.”
Nadira menatap mereka berdua.
“Dan sekarang kalian menyalahkanku karena Arga marah?”
Rani menangis karena kesal.
“Kak Nadira selalu merasa paling benar!”
“Tidak.”
Nadira menggeleng.
“Aku hanya sudah lelah disalahkan untuk sesuatu yang bukan kesalahanku.”
Bu Ratih menunjuk Nadira.
“Jangan kurang ajar kepada Ibu!”
Nadira terdiam sesaat.
Kemudian menjawab dengan tenang,
“Saya tidak kurang ajar.”
“Saya hanya mulai menghargai diri saya sendiri.”
Kalimat itu membuat Bu Ratih terdiam.
Nadira melanjutkan,
“Saya sudah berusaha menghormati Ibu sejak pertama kali masuk rumah ini.”
“Saya diam ketika diperlakukan seperti pembantu.”
“Saya diam ketika Rani menuduh saya.”
“Saya diam ketika Ibu membawa Livia ke rumah.”
“Tapi diam bukan berarti saya tidak punya batas.”
Rani mengusap air matanya.
“Jadi kamu mau melawan kami?”
Nadira tersenyum tipis.
“Kalau membela diri dianggap melawan, maka iya.”
Rani terdiam.
Bu Ratih semakin marah.
“Arga pasti akan bosan membelamu suatu hari nanti.”
Nadira menatapnya lurus.
“Mungkin.”
Ia tidak terlihat takut.
“Tapi kalau suatu hari Arga berhenti membelaku, saya tetap tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan saya.”
Bu Ratih terdiam.
Nadira kemudian berjalan menuju tangga.
Namun sebelum naik, ia berhenti.
“Satu hal lagi, Bu.”
Bu Ratih menatapnya.
“Jangan pernah membawa perempuan lain untuk dibandingkan dengan saya lagi.”
Nadira tersenyum kecil.
“Karena saya juga tidak pernah meminta Arga membandingkan Ibu dengan ibu saya.”
Rani langsung menatap Nadira dengan kesal.
Nadira naik ke lantai atas.
Untuk pertama kalinya, Bu Ratih dan Rani tidak bisa berkata apa-apa.
Di dalam kamar, Nadira duduk di tepi tempat tidur.
Tangannya sedikit gemetar.
Bukan karena takut.
Tetapi karena untuk pertama kalinya ia berani mengatakan semua yang selama ini ia tahan.
Ia mengambil napas panjang.
“Aku tidak mau diam lagi.”
Sementara itu, jauh di luar rumah…
Arga sedang dalam perjalanan pulang.
Dan ia sama sekali tidak tahu bahwa selama dirinya pergi, sesuatu yang jauh lebih besar baru saja terjadi di rumah.
Namun kali ini Nadira tidak menyesal.
Karena ia tahu satu hal.
Ia bukan lagi Nadira yang selalu memilih diam demi menjaga perasaan orang lain.