Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Dengan Bos Mafia

Cinta Terlarang Dengan Bos Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.

​Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.

​DOR!

​Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEHILANGAN YANG MENGHANCURKAN

​Detik itu juga, dunia Haidar seolah runtuh. Saat ia hendak mengangkat tubuh Elara ke atas ranjang, matanya menangkap pemandangan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Darah segar, merah pekat dan nyata, merembes dari sela-sela pakaian Elara, mengalir turun membasahi betis hingga menetes ke mata kakinya yang pucat.

​"TIDAK!" raung Haidar, suara itu sarat akan keputusasaan yang luar biasa.

​Ia tidak membuang waktu. Tanpa bertanya dua kali, Haidar mengangkat tubuh Elara ke dalam dekapannya dengan sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang memegang permata yang bisa hancur kapan saja. Wajah Elara yang semula cantik kini memucat pasi, bibirnya gemetar menahan nyeri yang menusuk rahimnya.

​Haidar berlari keluar kamar, melewati Soraya yang masih terduduk lemas di lantai lorong dengan wajah pucat.

​"Bawa mereka pergi!" teriak Haidar kepada para pengawal dengan suara yang mengguncang dinding mansion. "Usir wanita itu—Soraya dan Sinta—jauh-jauh dari kehidupanku! Jika aku melihat wajah mereka di sekitar mansion ini satu detik lagi, aku tidak akan segan untuk menghabisi mereka!"

​Soraya menjerit ketakutan saat ditarik kasar oleh para pengawal, sementara Sinta yang baru saja naik ke lantai dua mematung melihat genangan darah di lantai, wajahnya berubah pucat pasi menyadari konsekuensi dari tindakannya.

​Haidar tidak menoleh lagi. Ia menerjang menuruni tangga, menuju SUV hitam yang mesinnya sudah menderu menyala di pelataran mansion. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia membaringkan Elara di kursi belakang, menyelimutinya dengan jaket tebalnya sendiri untuk menutupi noda darah yang terus mengalir.

​"Bertahanlah, Elara... kumohon, bertahanlah untukku," bisik Haidar di sela napasnya yang memburu.

​Ia sendiri yang memutar kemudi, menginjak pedal gas dalam-dalam hingga ban mobil berdecit keras di atas aspal. Iring-iringan mobil pengawal melesat mengikuti di belakang, membelah jalanan kota dengan kecepatan penuh. Haidar terus menatap kaca spion, memastikan Elara masih bernapas, sementara pikirannya hanya dipenuhi satu ketakutan terbesar: kehilangan satu-satunya cahaya yang selama ini ia perjuangkan.

​Laju mobil SUV hitam itu membelah jalanan bagai kilat, menerobos setiap persimpangan tanpa memedulikan klakson kendaraan lain. Di kursi belakang, rasa sakit yang membakar rahim Elara makin tak tertahankan. Jemari halusnya yang bergetar hebat meremas kuat ujung kemeja Haidar.

​"Sakit... sakit sekali, Haidar..." rintih Elara dengan suara yang hampir tak terdengar. Wajahnya yang kian memucat pasi dibasahi peluh dingin, matanya tertutup rapat menahan derita yang luar biasa.

​"Bertahanlah, sayang... Sebentar lagi kita sampai, kumohon bertahanlah," bisik Haidar. Suaranya yang biasa dingin dan dominan kini pecah, menyuarakan kepanikan yang teramat sangat. Pria itu terus menggenggam erat tangan Elara, mengusap keningnya seraya menginjak pedal gas makin dalam.

​Begitu mobil berhenti di depan ruang gawat darurat rumah sakit terbesar di pusat kota, Haidar langsung membopong tubuh Elara dan berteriak memanggil bantuan. Tim medis berdatangan membawa brankar, melarikan Elara yang tak sadarkan diri ke dalam ruang tindakan intensif.

​Haidar dipaksa menunggu di luar. Berjam-jam lamanya pria itu berdiri mematung di depan pintu yang tertutup rapat. Tangan kekarnya yang bernoda darah kering menempel di dinding dingin, dadanya naik turun menahan gemuruh emosi yang menghancurkan jiwanya.

​Hingga akhirnya, pintu ruang operasi terbuka. Dokter keluar dengan wajah serba salah dan menunduk dalam.

​"Tuan Haidar..." dokter itu menarik napas berat. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Nona Elara dan pendarahannya berhasil dihentikan. Namun... pendarahan yang dialaminya terlalu hebat akibat benturan keras. Kami sangat menyesal... kami tidak bisa menyelamatkan calon buah hati Anda."

​Kata-kata itu menghantam Haidar bagai godam raksasa. Dunia di sekitarnya seketika hening. Bos mafia yang ditakuti seluruh kota itu terhuyung mundur satu langkah, menyandarkan punggungnya pada dinding lorong hospital yang dingin.

​Mata gelapnya membelalak kosong. Anak yang sangat ia tunggu, bukti cintanya bersama Elara yang hendak ia jaga dengan seluruh nyawanya... telah lenyap begitu saja sebelum sempat melihat dunia.

1
Ira safitri
sangat bagus 🥰🥰
Waaaaaa_: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!