Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.
Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.
Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 : Di antara amarah dan kelembutan.
Suara mesin mobil memecah keheningan malam yang dingin. Mobil berlapis baja itu berhenti berat di halaman mansion yang luas. Pintu terbuka dan Damian melangkah masuk, aura dinginnya langsung memenuhi ruangan. Kemeja hitam lengan digulung hingga siku memperlihatkan urat tegang dan bekas memar, sarung tangan kulit hitam masih terpasang di tangan kanannya, gagang pistol menonjol jelas di pinggang. Wajahnya datar keras, rahangnya terkunci kuat, tubuhnya masih membawa bau hujan bercampur asap rokok yang tajam.
"Tuan..." sapa para pelayan serempak sambil menunduk dalam.
Belum sempat Damian menjawab, bayangan kecil berlari mendekat secepat kilat.
"Om Don!!" Leon memeluk kakinya erat sekali, wajahnya cemberut kesal, matanya berkaca‑kaca tak rela. "Om pulang! Wanita itu jahat! Dia duduk di sofa Mommy! Mengusir aku! Bilang Om sekarang bagian tim dia!"
Damian mengerut dahi, satu tangannya mengusap kepala bocah itu, "Pelan‑pelan. Wanita siapa?"
"Wanita baru yang Om nikahi!" Leon mendongak menatap tegas. "Namanya... Cacing!"
Hening seketika menyelimuti ruangan. Para pelayan menahan senyum nyaris pecah, bahu mereka bergetar tertahan namun tak satu pun berani bersuara atau mendongak.
Damian meluruskan punggung perlahan, sorot matanya menggelap tajam menyapu sekeliling ruangan.
"Di mana dia?" suaranya rendah, serak, berat dan menekan.
Leon langsung menunjuk ke arah tangga dengan semangat berapi‑api. "Di atas! Di kamar, Om!"
Kepala pelayan, Madam Rosa, buru‑buru maju mendekat dengan wajah pucat pasi.
"Tuan..." ucapnya hati‑hati. "Nyonya Celine belum turun untuk makan malam. Sudah kami ketuk pintunya dua kali sejak pukul tujuh tadi... tapi tak ada jawaban sama sekali dari dalam."
Rahang Damian mengeras semakin kuat. Di keluarga ini, makan malam bersama adalah kewajiban mutlak, apalagi untuk istri yang baru sehari masuk ke rumah ini.
Ia melepas dan melempar sarung tangan kulitnya ke pelayan di sampingnya. "Siapkan makan malam. Sekarang!"
Langkahnya cepat dan berat menaiki anak tangga satu per satu. Bunyi ketukan sepatu kulitnya terdengar nyaring, seirama dengan degup jantung semua orang yang menunduk gemetar di bawahnya.
Sesampainya di depan pintu kamar yang tertutup rapat, ia mengetuk pintu itu keras dan tak sabar.
Tok. Tok.
"Celine." Namanya diucapkan rendah, penuh amarah yang sudah ditahan di ujung lidah. "Buka pintunya. Sekarang!"
Tidak ada jawaban, hanya keheningan yang berat. Rahang Damian makin mengeras, sabarnya menipis. Satu detik. Dua detik.
BRAK!!
Pintu kayu tebal itu terdorong keras hingga engselnya bergetar hebat. Luca dan pengawal di belakang langsung menunduk dalam, tak berani melirik sedikit pun.
Di dalam, di ruangan dengan cahaya temaram, Celine meringkuk sendirian di atas ranjang besar itu, memeluk bantal erat seakan itu satu‑satunya perlindungannya. Gaun tidur sutra hitamnya kusut, rambutnya berantakan menutupi separuh wajah. Napasnya teratur, namun alisnya tetap mengerut, seolah bahkan dalam tidur pun ia tak berhenti mencemaskan sesuatu. Di bawah matanya terlihat jelas bayangan gelap, tanda kelelahan yang tak lagi bisa disembunyikan.
Langkah Damian yang tadinya berat penuh amarah mendadak terhenti. Kekakuan di bahunya perlahan luruh. Amarah yang tadi membara meredup pelan, berganti tatapan gelap yang tak terbaca.
"Tuan..." bisik Luca ragu dari ambang pintu.
Damian tak menoleh. Ia mengangkat satu tangan memberi isyarat untuk keluar dan menutup pintu.
Pintu tertutup pelan. Kini tinggal mereka berdua dalam keheningan yang hanya diisi suara hujan yang mulai turun lagi di luar jendela, mengetuk pelan kaca jendela.
Damian melangkah mendekat, berhenti tepat di tepi ranjang. Menatap wanita yang dua puluh empat jam lalu dipaksa menikah dengannya hanya demi uang operasi ibunya. Wanita yang hari ini berani menantang aturannya, melawan keluarganya, dan kini jatuh tertidur karena kelelahan menanggung semuanya sendirian.
Ia menghela napas pelan dan tak membangunkannya. Sebaliknya, ia menarik kursi kulit dari meja samping, menyeretnya pelan sekali hingga tak menimbulkan bunyi, lalu duduk tepat di samping ranjang. Lengan kekarnya bertumpu di sandaran kursi, kedua kakinya terjulur santai. Matanya tak beralih sedetik pun dari wajah Celine yang damai namun tampak begitu rapuh.
Bayangan hitam di bawah matanya. Bibirnya pucat. Alis yang bahkan saat terlelap pun tak bisa rileks.
"Kelelahan," batinnya mengakui pelan.
Hujan di luar semakin deras. Sesekali kilat menyambar, sekejap menerangi wajah Celine sebelum kembali gelap. Damian mengangkat tangannya, jari‑jari yang biasa memegang senjata, menumpahkan darah, kini tampak ragu. Akhirnya ujung jarinya hanya menyapu pelan sehelai rambut yang menutupi pipi wanita itu. Sentuhannya begitu ringan, begitu hati‑hati, seakan takut sedikit saja ia menyentuh, ia akan hancur berkeping‑keping.
"Bodoh..." gumamnya pelan, hampir berbisik. "Baru sehari jadi Nyonya Salvatore, sudah berani bikin kacau."
Namun nadanya tak tajam. Tak marah. Hanya... lelah, dan entah kenapa sedikit terasa lembut.
Waktu berlalu seperti detik yang terasa begitu lama. Damian tetap duduk di sana, menjaga dalam diam. Hingga akhirnya bulu mata Celine bergetar halus. Ia mengerutkan dahi, merasa diperhatikan, hingga akhirnya matanya terbuka perlahan dan matanya langsung menatap sepasang mata hitam pekat Damian yang menatapnya lurus dari jarak sedepa, tak berkedip.
Celine tersentak kaget, refleks mundur hingga punggungnya menabrak sandaran ranjang, menarik bantal mendekat ke dadanya sebagai tameng.
"K‑Kau?!" suaranya serak parau, berat baru bangun tidur. "Kapan kau kembali?"
Jantungnya berpacu cepat. Ia bahkan tak ingat kapan matanya terpejam. Yang terakhir ia ingat... ia merasa sangat lelah dan mengantuk setelah selesai mandi.
Damian tetap diam di tempat, tak bergerak sedikit pun. Hanya bersandar santai, kedua tangannya bertaut di depan perut.
"Satu jam lalu," jawabnya datar, tenang tanpa nada meninggi. "Tapi sepertinya kau tertidur karena kelelahan. Jadi aku tidak tega membangunkan."
Tatapannya menyapu lembut sosoknya yang masih meringkuk di atas ranjangnya.
"Sepertinya istirahatmu sudah cukup, Amore..." sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang sulit diartikan, hampir tak terlihat di cahaya temaram. "Jadi... bagaimana kalau kita lakukan malam pertama kita sekarang?"
-
-
-
Bersambung...