Indonesia
NovelToon NovelToon
Hutang Harta Berujung Cinta

Hutang Harta Berujung Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Ia dijodohkan dengan anak orang kaya di kampungnya. Pria lumpuh dengan latar belakang yang tak enak di dengar. Anak tunggal dari orang terkaya di kampung itu. Cap play boy yang suka mempermainkan wanita melekat sangat kuat di nama si cowok.

Namun, Aulia tetap menerima pernikahan itu karena hutang ayahnya yang besar. Iya. Singkatnya, pernikahan itu karena hutang keluarga yang besar, yang tidak bisa ayahnya kembalikan.

Namun, siapa sangka kalau hidup akan berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode *7

Pada akhirnya, suasana diantara mereka berdua pun kembali membaik. Lia sedikit-sedikit mengalihkan pikiran Zihan dengan bercerita tentang masa lalunya saat tinggal di rumah tantenya. Hingga cerita tentang pernikahan perjodohan yang sepupunya jalani pun ia keluarkan.

"Jadi, sepupu kamu juga udah nikah, Lia? Dan pernikahannya itu juga karena dijodohkan?"

Zihan kelihatan menanggapi dengan serius. Sepertinya, ia sangat tertarik dengan cerita yang Lia ceritakan.

"Iya, kak Zihan. Kakak sepupu aku juga menikah karena perjodohan. Dan sekarang, mereka hidup sangat bahagia. Ditambah, hadirnya dua anak kembar tampan yang mungil itu. Uh ... mereka kelihatan semakin sangat bahagia." Lia berucap sambil tersenyum karena membayangkan anak kembar dari kakak sepupunya yang tiba-tiba membuat ia merasa rindu.

Sementara Zihan yang melihat wajah bahagia dari Lia, langsung memasang wajah sedih. Sedih karena sadar diri, kalau ia tidak akan bisa membahagiakan Lia seperti yang kakak sepupu Lia rasakan.

"Tapi sayang, pernikahan kita pasti akan jauh berbeda dari mereka, Lia. Meskipun sama-sama dijodohkan, tapi suami kakak sepupumu itu sempurna, bukan? Tidak sama seperti aku yang cacat ini."

Seketika, ucapan itu membuat Lia langsung membeku. Dia pun terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bergerak menoleh untuk melihat Zihan yang ada di belakangnya sekarang.

"Kamu ... kenapa selalu ngomong gitu, kak Zihan? Selalu kekuranganmu yang kamu katakan. Kenapa tidak pernah berpikir setiap sisi kelebihan yang kamu punya. Karena setiap orang itu punya sisi kelemahan juga kekurangan mereka masing-masing kok."

Zihan menatap lekat wajah Lia. Ia melihat mata Lia yang sepertinya menyimpan kesedihan juga kekesalan saat ini.

"Aku hanya bicara sesuai kenyataan, Lia. Menikah dengan aku itu sama saja dengan menjerumuskan diri ke sumur kesepian. Karena aku tidak akan pernah bisa menjadi suami seutuhnya. Ketidaksempurnaan ini menjadi penghalang terbesar untuk aku bisa membahagiakan istriku."

Lia tidak tahu harus bicara apa. Nada sedih itu juga ikut membuat hati Lia merasa sedih. Hanya saja, ia tidak tahu bagaimana cara agar bisa menghibur Zihan. Dan, membuat Zihan tidak terus-terusan berpikir negatif. Karena masih banyak hal positif yang bisa Zihan pikirkan agar dia bisa merasa bangga dengan dirinya sendiri.

"Lia, aku minta maaf karena telah mengikat kamu di sini bersama denganku. Masa depanmu yang cerah langsung terkubur dalam akibat menikah denganku. Aku sungguh ... minta maaf."

"Kak Zihan jangan ngomong gitu. Aku kan sudah bilang padamu, kalau kebahagiaan itu tidak berdasarkan fisik aja. Kebahagiaan itu sederhana. Hati nyaman aja udah bisa bikin seseorang bahagia." Lia berucap dengan nada berapi-api karena terlalu serius.

Tidak hanya itu, tanpa sadar ia dengan erat memegang tangan Zihan yang kini sedang berada di atas pangkuan Zihan. Lia yang merasa kalau ucapan Zihan itu tidak benar, langsung mengeluarkan pendapat dengan penuh semangat.

Tanpa ia sadari jika ia sedikit melampaui batasnya. Dia memberikan harapan yang besar untuk Zihan sekarang. Padahal, dia sendiri tidak menginginkan itu terjadi. Karena tidak ada sedikit perasaan cinta yang bisa ia rasakan untuk Zihan saat ini.

Entah memang tidak ada, atau Lia yang belum menyadari hatinya. Tapi satu hal yang pasti, Lia masih terikat akan pernikahan paksa yang ia jalani sekarang.

Sementara Zihan yang melihat keseriusan Lia, langsung terdiam membeku. Dengan tubuh yang sulit untuk ia gerakkan, Zihan merasa detak jantungnya begitu cepat. Entah kenapa, ia merasa getaran yang berbeda muncul di dalam hatinya.

'Ya Tuhan. Apa ini? Kenapa aku bisa merasakan hal yang sudah lama tidak aku rasakan sebelumnya. Hal yang telah mati bersama perginya Diana buat selama-lamanya dari hidupku, dan dari dunia ini. Rasa itu ... sungguh nyata. Rasa yang tidak ingin aku rasakan karena rasa bersalah atas apa yang sudah terjadi pada Diana.' Zihan berucap dalam hati sambil terus menatap Lia.

Beberapa saat terus diam. Akhirnya mereka saling menyadari apa yang sedang terjadi. Lia yang langsung bangun dari jongkoknya sambil melepas tangan Zihan, berusaha menyembunyikan rona wajah karena malu akan apa yang baru saja ia lakukan. Sementara Zihan sendiri, juga berusaha terlihat biasa saja dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Ee .... " Keduanya sama-sama ingin mengatakan sesuatu. Tapi, karena serentak, mereka pun kembali terlihat canggung saat ini.

Suasana diam kembali tercipta karena niat yang sama barusan.

Hingga beberapa saat kemudian, Zihan yang kembali memulai ulang pembicaraan.

"Sebaiknya, kita masuk sekarang. Hari sudah semakin siang," ucap Zihan dengan suara agak pelan.

"Iy-- iya." Lia hanya menjawab satu kata saja. Karena saat ini, hatinya yang entah kenapa bisa gugup itu tidak mengizinkan ia bicara banyak.

....

Sore hari siang berikutnya, Lia tidak menemukan Zihan saat ia bangun dari tidur siangnya. Ini hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Karena itu, ia merasa agak cemas dan bimbang.

Setelah tidak menemukan keberadaan Zihan di tempat yang biasanya Zihan datangi, Lia langsung mencari mbok Yah yang kini sedang berada di dapur.

"Mbok, kak Zihan ... pergi ke mana ya? Kok gak ada di rumah sekarang?"

Mbok Yah yang sedang berberes di dapur pun langsung menghentikan pekerjaannya.

"Den Zihan ke rumah sakit, Non Lia. Hari ini adalah jadwal Den Zihan buat kontrol kesehatan."

"Oo .... Mm ... jadi, kak Zihan masih kontrol kesehatan ya?"

"Iya, Non. Sebulan sekali, Den Zihan harus periksa ke dokter agar sakitnya gak kambuh ke kondisi yang sangat sakit."

"Maksudnya, mbok bagaimana?" Lia berucap dengan nada agak kaget sekaligus prihatin.

Mbok Yah yang tadinya masih berdiri, sekarang langsung mengajak Lia untuk duduk di kursi meja makan. Kelihatannya, mbok Yah ingin bercerita soal keadaan Zihan pada Lia. Sedangkan Lia yang sangat ingin tahu akan keadaan Zihan pun langsung duduk tanpa pikir panjang lagi.

Mbok Yah pun langsung memulai ceritanya untuk menceritakan apa saja yang selama ini sudah Zihan alami. "Non Lia, Den Zihan itu tidak seperti yang Non Lia lihat sekarang. Karena yang Non Lia lihat itu Den Zihan yang kuat tanpa sakit sedikitpun, bukan? Tapi pada kenyataannya, Den Zihan itu sering merasa sakit, perih atau nyilu di bagian pinggang hingga ke kakinya. Karena itu, dia harus periksa ke dokter agar rasa itu tidak terasa sangat sakit."

"Ap-- apa? Apakah kondisi kak Zihan sebegitu parahnya, Mbok?"

"Lebih parah dari yang non Lia bayangkan. Den Zihan hidup dengan ketergantungan obat sekarang. Jika pikirannya kacau, maka tubuhnya akan segera merespon dengan cepat."

"Tapi ... sayangnya, non Lia tidak akan melihat sisi lemah dari Den Zihan. Karena Den Zihan adalah tipe pria yang sangat pintar menyembunyikan kelemahan yang dia miliki. Karena itu, Non Lia gak akan tahu hal itu jika bibi tidak memberitahukan kepada, Non."

1
sunaryati jarum
Sadar diri namanya buruk,takut jika usahanya tidak dilirik masyarakatnya karena citramu buruk.Cerdik juga.
sunaryati jarum
Baru mampir
Green_Rose: yuhu... moga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!