Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.
Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.
Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.
Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.
Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.
Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Enam
“Apa kamu mau kita putus?” tanya Azka. Suaranya terdengar begitu tenang.
Namun, bagi Vania, kalimat itu seperti petir yang menyambar tepat di siang bolong.
“A-Apa?” tanya Vania dengan suara terbata.
Azka menghela napas. Tangannya masih memegang ponsel, sementara tatapannya kosong menatap meja makan.
“Aku tanya, kamu mau kita putus?” ulang Azka.
“Azka, kamu serius ngomong begitu?” Bukannya menjawab Vania justru balik bertanya.
“Kenapa tidak?” Azka juga balik bertanya.
Vania terdiam beberapa detik. Selama ini, meskipun hubungan mereka memang tidak pernah berjalan mulus, Vania tahu satu hal. Azka masih mencintainya.
Pria itu selalu kembali kepadanya. Selalu menjelaskan keadaan. Selalu meminta pengertian.
Bahkan ketika Azka menikahi Raisa, Vania masih yakin bahwa posisi di hati pria itu tidak akan pernah tergantikan. Namun, pagi ini, Azka justru mempertanyakan hubungan mereka.
“Aku cuma bilang kamu sibuk sama istrimu, bukan berarti aku mau putus,” ujar Vania akhirnya.
Azka mengusap kening. “Kalau begitu jangan membuat kesimpulan sendiri.”
“Aku cemburu, Azka!” seru Vania.
“Aku tahu.”
“Terus kamu malah bilang mau putus?”
“Aku capek, Vania," ucap Azka.
Kalimat itu membuat Vania kembali terdiam. Reatha yang duduk di seberang Azka sebenarnya tidak berniat mendengarkan.
Namun, bagaimana mungkin ia tidak mendengar? Suara Azka cukup jelas. Terlebih saat nama Vania disebut.
Reatha menundukkan kepala. Jemarinya memainkan ujung sendok. Ia merasa seperti orang ketiga yang tidak seharusnya berada di meja makan itu. Padahal secara hukum, dialah istri Azka.
“Azka,” suara Vania kembali terdengar, “kamu berubah sejak pulang dari liburan.”
Azka mengerutkan kening. “Aku berubah bagaimana?” tanyanya.
“Kamu lebih sering diam. Kamu juga jarang menghubungiku. Kamu tak membujukku saat aku marah seperti biasanya," jawab Vania.
Di seberang sana, terdengar suara isak tangis Vania yang semakin jelas. Azka yang semula terlihat kesal, perlahan terdiam.
“Vania ...," panggil Azka. Tangisan itu tidak berhenti.
“Kenapa kamu menangis?” tanya Azka.
Vania menarik napas panjang, tetapi suaranya tetap bergetar.
“Apa kamu lupa dengan janjimu pada abangku?” tanya Vania.
Pertanyaan itu seketika membuat tubuh Azka kaku. Tatapannya berubah. Nama Beni langsung melintas dipikirannya.
Nama itu seperti membuka kembali sebuah luka lama yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
Azka masih ingat semuanya. Hari ketika hidupnya hampir berakhir di tengah derasnya air. Saat itu, Azka sedang berada dalam kondisi yang sangat buruk. Ia bahkan tidak peduli lagi apakah dirinya akan hidup atau mati.
Namun, Beni datang. Sahabatnya itu mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan Azka. Beni menarik tubuhnya keluar dari air, berusaha membuatnya tetap sadar meskipun dirinya sendiri nyaris kehabisan tenaga.
Sejak hari itu, Azka tahu bahwa ia memiliki utang kehidupan kepada Beni. Sayangnya, beberapa waktu kemudian, dokter menemukan penyakit yang menggerogoti tubuh sahabatnya tersebut. Kanker.
Beni hanya mampu bertahan beberapa waktu. Dan di atas ranjang rumah sakit, tiga tahun lalu, Beni menggenggam tangan Azka dengan tenaga yang tersisa.
“Kalau suatu hari aku nggak ada, tolong jaga Vania," ucap Beni saat itu dengan terbata.
Azka masih ingat bagaimana ia mengangguk waktu itu. “Aku janji.”
Janji sederhana. Namun bagi Azka, itu bukan janji yang bisa dilupakan begitu saja. Beni pernah menyelamatkan hidupnya.
Dan Azka merasa tidak akan pernah mampu membalasnya selain dengan menjaga satu-satunya orang yang ditinggalkan sahabatnya itu. Adiknya, Vania.
Sejak saat itu, hubungan mereka semakin dekat. Awalnya hanya karena sebuah janji. Namun, Vania kemudian jatuh cinta. Dan entah sejak kapan, Azka pun terbiasa berada di sisi wanita itu.
“Azka ....” Suara Vania kembali terdengar di telepon. “Kamu lupa?”
Azka menutup matanya sejenak. “Tidak," jawabnya singkat.
“Jadi kenapa kamu seperti ingin meninggalkanku?” tanya Vania.
“Aku tidak pernah bilang ingin meninggalkanmu.”
“Tapi kamu bilang kita bisa putus!” seru Vania.
“Karena kamu terus menuduhku.”
“Aku takut kehilangan kamu!” suara Vania meninggi. “Aku cuma takut kamu benar-benar jatuh cinta sama dia!”
Azka terdiam. Reatha yang sejak tadi duduk di hadapannya tanpa sengaja mengangkat wajah. Tatapan mereka sempat bertemu. Namun, Azka segera memalingkan pandangannya.
“Aku tak akan lupa dengan janjiku, Vania,” ucap Azka akhirnya.
Suara Vania terdengar semakin lirih. “Kalau begitu kenapa kamu membuatku menangis selama tiga hari ini?”
Azka mengerutkan kening. “Tiga hari?”
“Iya.” Vania terisak. “Kamu tahu nggak, selama tiga hari ini aku terus menunggu?”
Azka diam.
“Aku setiap saat melihat layar ponselku. Aku berharap kamu menghubungiku. Aku berharap kamu bilang kamu merindukanku. Aku bahkan berharap kamu meminta maaf karena sudah membuatku marah.”
Suara Vania pecah. “Tapi kamu nggak datang.”
Azka menarik napas panjang. Rasa bersalah muncul di wajahnya. “Maafkan aku.”
Vania tidak menjawab.
“Aku benar-benar sibuk," ucap Azka selanjutnya.
“Sesibuk itu sampai tidak bisa menghubungiku?”
“Aku—”
“Bahkan satu pesan pun tidak ada, Azka!" seru Vania.
Azka mengusap wajah. “Maaf.”
Tangisan Vania kembali terdengar.
Azka terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Nanti setelah sarapan aku ke sana.”
“Benarkah?” tanya Vania.
“Iya.”
“Kamu nggak bohong?” tanyanya lagi.
“Tidak.”
Vania terdiam. Lalu terdengar suara kecil dari seberang. “Aku belum makan dari kemarin.”
Azka langsung mengernyit. “Apa?”
“Aku nggak selera makan.”
“Vania.”
“Aku pikir kamu sudah melupakanku," ucap Vania lirih.
Azka menghela napas panjang. “Jangan bicara begitu.”
“Tapi kamu membuatku merasa seperti itu.”
Azka berdiri dari kursinya. “Aku ke sana.”
“Sekarang?”
“Iya.”
“Tapi kamu belum selesai sarapan.”
“Nanti saja.”
Azka meraih kunci mobil yang terletak di atas meja. “Aku belikan bubur ayam kesukaanmu.”
Vania akhirnya terdengar sedikit lega. “Benarkah?”
“Iya.”
“Azka ....”
“Sekarang jangan menangis lagi.”
“Tapi—”
“Janji?”
Vania diam sebentar. “Iya.”
“Bagus.” Azka langsung memutuskan sambungan telepon. Tidak ada lagi pembicaraan. Ia mengambil dompet dan kunci mobil, lalu berjalan begitu saja meninggalkan meja makan.
Reatha hanya bisa menatap punggung pria itu. Azka bahkan tidak mengatakan apa pun kepadanya. Tidak ada, “Aku pergi dulu.” Atau “Kamu di rumah saja.”
Bahkan tidak ada satu tatapan pun. Pintu depan rumah akhirnya tertutup. Beberapa detik kemudian, suara mesin mobil terdengar. Semakin jauh. Lalu menghilang.
Reatha masih duduk sendirian di meja makan. Nasi goreng yang tadi terasa begitu enak tiba-tiba kehilangan rasanya.
Ia menatap kursi kosong di hadapannya. Kursi yang beberapa menit lalu ditempati Azka. Pria itu tadi tertawa, memuji masakannya. Bahkan sempat bercanda tentang menjadi pelanggan tetap.
Untuk sesaat Reatha hampir lupa kalau dirinya bukanlah Raisa. Hampir lupa kalau pernikahan ini hanya sebuah kesepakatan. Lupa hati Azka sebenarnya sudah dimiliki wanita lain.
Reatha tertawa kecil. Bukan karena lucu. Melainkan karena merasa bodoh pada dirinya sendiri.
“Hahaha ....” Ia menundukkan kepala. “Kenapa aku jadi begini, sih?”
Jarinya perlahan menggenggam sendok yang masih berada di atas meja.
“Apa yang kamu harapkan dari pernikahan ini, Reatha?” Senyumnya perlahan menghilang. “Kamu cuma pengantin pengganti.”
Matanya mulai berkaca-kaca. “Kamu juga istri yang sebenarnya nggak diharapkan.”
Reatha menarik napas dalam-dalam. Ia menatap ke arah pintu yang baru saja dilewati Azka. Tidak ada seorang pun di sana.
“Jangan baper.” Ia mengusap sudut matanya cepat-cepat. “Jangan terbawa suasana.”
Reatha kemudian berdiri. Ia membawa piring sarapan ke dapur sambil berusaha tersenyum.
“Azka cuma baik karena kamu adalah istrinya."
Langkahnya terhenti. “Bukan karena dia menyukaimu.” Reatha mengangguk pelan, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri. “Jadi, jangan berharap apa-apa.”
Ia mengembuskan napas. “Ayo, Reatha.”
Senyumnya kembali ia paksakan. “Jadi dirimu lagi.”
Karena semakin cepat ia mengingat siapa dirinya, semakin kecil kemungkinan hatinya terluka.