Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Pinggir Ibu Kota
Tiga minggu berlalu sejak Tim Vanguard menguasai mantra kuno di Menara Bayangan. Hari-hari mereka dipenuhi latihan tanpa henti, memoles eksekusi mantra baru hingga menyatu dengan naluri bertarung.
Sore itu, angin segar berembus di halaman utama Akademi Grandoria.
Udara cerah dan riuh suara para murid yang berlatih membuat suasana terasa begitu damai. Namun, kedamaian itu mendadak buyar ketika seekor burung merpati sihir mendarat terengah-engah di jendela ruang kerja Kepala Sekolah Alaric, membawa surat bersegel merah darurat dari penjaga perbatasan ibu kota.
Monica, yang sedang mendampingi Elena dan Danis mengasah panah di lapangan, langsung dipanggil naik ke menara utama bersama seluruh anggota tim.
"Ada laporan dari Distrik Barat, tepat di perbatasan desa industri," ujar Kepala Sekolah Alaric, menunjukkan peta perkamen yang ditandai dengan lingkaran tinta hitam. "Beberapa pos penjaga ditemukan hampa. Tidak ada tanda-tanggung pertempuran fisik, tetapi seluruh vegetasi di sekitar pos mati mengering dalam semalam."
Kazuma menajamkan tatapannya. "Miasma racun khas milik Ordo Umbra?"
"Tepat," jawab Alaric berat. "Ini bukan serangan skala besar, melainkan infiltrasi senyap.
Seseorang sedang menanam batu pemancar Miasma untuk melemahkan benteng perlindungan sihir yang mengelilingi ibu kota dari luar."
"Biar kami yang memeriksa dan membereskannya, Kepala Sekolah," tegas Monica tanpa ragu. Ia mengencangkan ikatan kuncir kuda rambut hitamnya dan memegang tongkat safirnya yang kini siap memancarkan pendar emas.
"Ini kesempatan terbaik untuk menguji formasi baru kami di medan nyata."
Alaric mengangguk pelan. "Tetap waspada. Jangan memancing pertempuran terbuka jika kondisi tidak memungkinkan."
Tanpa membuang waktu, Tim Vanguard melesat menunggangi kuda sihir menuju Distrik Barat. Perjalanan memakan waktu hingga malam tiba.
Begitu mereka memasuki kawasan hutan pinus di pinggir desa industri, suasana berubah mencekam. Dedaunan pinus yang tadinya hijau tampak hitam membusuk, dan kabut tipis berbau belerang mulai merayap di atas permukaan tanah.
"Danis, aktifkan Shadow Walk," bisik Monica seraya memberi sinyal berhenti kepada timnya. "Cari keberadaan batu pemancar Miasma dan pastikan apakah ada musuh yang menjaga tempat ini."
"Serahkan padaku," sahut Danis singkat. Tubuhnya meliuk dan seketika menyatu sempurna dengan bayangan pepohonan, meluncur tanpa suara sedikit pun ke dalam kegelapan malam.
Hanya butuh waktu lima menit bagi Danis untuk kembali. Ia muncul secara tiba-tiba di samping Reno, membuat prajurit bertameng itu sedikit terkejut.
"Di depan sana ada sebuah altar portabel kecil buatan Ordo," lapor Danis pelan. "Dijaga oleh sepuluh prajurit bayangan berkubah hitam. Tampaknya mereka baru saja selesai mengaktifkan kristal penyerap mana."
Monica menatap empat rekannya, memberi kode tangan untuk membentuk formasi penyergapan cepat.
"Elena, sapu pemanah mereka dari kejauhan dengan Starfall.
Reno dan Kazuma, masuk dari tengah untuk menarik perhatian utama. Danis, hancurkan kristalnya saat mereka terdistraksi. Aku akan mengaktifkan Celestial Sanctum untuk menetralkan kabut beracun ini."
"Mengerti!" jawab mereka serempak.
Seketika, pertarungan singkat namun presisi pecah di tengah hutan pinus yang mati. Elena melepaskan anak panah cahayanya yang membelah kegelapan malam bagai bintang jatuh, merobohkan para penjaga di garis belakang.
Reno menerjang maju dengan perisai emasnya, memantulkan semua serangan sihir hitam musuh, disusul oleh semburan api Hellfire Phoenix milik Kazuma yang membakar habis barisan prajurit bayangan tersebut.
Di saat bersamaan, Monica menghentakkan tongkat safirnya ke tanah.
"Arcana Domain: Celestial Sanctum!"
Kubah cahaya emas murni mengembang seluas puluhan meter, seketika menyapu bersih kabut Miasma beracun dan memulihkan tanah yang membusuk menjadi segar kembali. Danis memanfaatkan momentum itu untuk menebas kristal pemancar Miasma hingga hancur berkeping-keping.
Pertempuran selesai dalam hitungan menit tanpa ada satu pun anggota Tim Vanguard yang terluka. Namun, saat Monica mendekati puing kristal yang hancur, ia menemukan sebuah gumpalan kain hitam terukir huruf sihir kuno yang membara redup.
Gumpalan kain itu memancarkan pesan sihir singkat yang menggema tipis di telinga Monica:
"Pengalih perhatian yang bagus, anak-anak akademi... Sampai jumpa di gerbang utama saat rembulan memerah."
Monica mengepalkan tangannya. Infiltrasi ini hanyalah tes kecil dari musuh untuk mengukur kecepatan reaksi mereka.