Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Pembantai Dewa

Sang Pembantai Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sarmadi

BANGKIT TANPA WARISAN.
Pemuda jenius terlahir tanpa dantian. di hina dan di hianati. pada suatu hidup dan mati ia baru menyadari diri nya telah merubah jantung di dada nya hingga menjadi jantung abadi. semua itu karena tekat nya hingga membuat rasa takut yang menghiasi hidup nya menjadi Entitas yang tidak berbentuk. hingga menyatu dengan jantung di dada nya. membuat jantung itu dikenal sebagai jantung dao yang tak terhancurkan,
kini jantung dao yang tak terhancurkan itu menggantikan dantian yang tidak ia miliki, dengan jantung dao yang tak terhancurkan, dia mampu bangkit dengan menginjak lautan darah musuh yang menghalangi jalan menjadi yang tak terkalahkan.

👉👉Tolong baca dulu sampai 10 bab, jika tertarik terimakasih. jika tidak pun terimakasih telah membantu karya ini meski tidak sebaik yang lain 🙏🙏🙏 Saya doakan kalian pada sehat, Amiin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarmadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21 pasukan elit klan yujin bergerak, yefan jadi buronan kelas tinggi.

​Melihat apa yang baru saja dilakukan Yefan, Jiun Yi menahan napas seraya menarik napas dingin.

​"Bukankah tindakan yefan yang gila ini akan membuat puluhan keluarga besar murka setengah mati?!" batin Jiun Yi.

​Bagaimana tidak? Di antara ratusan orang yang baru saja dibantai oleh Yefan, terdapat puluhan tuan muda klan berpengaruh serta para pembisnis besar di Kota Kekaisaran yang memiliki latar belakang yang cukup kuat.

​"Lihat komplotanmu! Lihat apa yang dilakukan iblis itu!" teriak Penatua Yan Feng dengan nada melengking penuh kebencian. "Tindakannya telah memprovokasi puluhan keluarga besar sekaligus! Keluarga Ji-mu... apakah kalian sanggup menanggung semua kekacauan ini?!"

​BOOM! BOOM!

​Alih-alih menanggapi gertakan itu, Jiun Yi tanpa ragu melayangkan tamparan keras ke kepala Penatua Yan Feng dan Yunan Zili hingga keduanya terkapar pingsan seketika.

​"Hmph! Apa gunanya Keluarga Ji-ku menduduki peringkat kedua jika tidak sanggup mengatasi sekelompok klan penjilat?" dengus Jiun Yi dingin sambil menatap perahu kertas di genggamannya.

Setelah ​Beberapa saat berlalu. Setelah amarahnya sedikit mereda, Yefan yang dilingkupi duka mendalam mulai memapah jasad ibunya yang telah terbujur kaku. Ia melangkah perlahan menuju Desa Fulmun dengan berjalan kaki, sepenuhnya mengabaikan luka-luka parah yang merobek tubuhnya sendiri.

​Di sepanjang perjalanan, Yefan sesekali terbatuk hebat, memuntahkan darah segar yang tanpa sengaja membasahi wajah sang ibu. Dengan tergesa-gesa dan penuh rasa bersalah, Yefan segera menyapu dan membersihkan noda darah itu. Namun, menatap raut wajah pucat sang ibu yang masih menyisakan ketakutan dan penderitaan membuat hati Yefan kian teriris-iris.

​"Ibu... kau sudah terlalu banyak menderita... Aku memang anak tak berguna..." batin Yefan pilu.

​Jiun Yi yang berjalan membuntutinya dari belakang hanya bisa terdiam dalam keheningan. Meskipun di dalam lubuk hatinya ia sangat membenci Yefan atas apa yang telah dilakukan nya terhadap adiknya, kini hatinya sedikit tersentuh saat menyaksikan sendiri tragedi memilukan yang beruntun menimpa Yefan.

​Setelah menempuh perjalanan yang terasa panjang, Yefan akhirnya tiba di depan gerbang Desa Fulmun. Niatnya hanya satu: memakamkan jasad ibunya di samping makam sang ayah.

​Namun, tepat di ambang gerbang desa, Yefan menghentikan langkahnya. Di sana, seluruh warga Desa Fulmun telah berkumpul rapat memblokir jalan.

​"Itu dia! Dialah Yefan! Si pembawa sial yang menyebabkan kematian Kepala Desa dan hampir memusnahkan desa kita!" teriak salah seorang warga dari tengah kerumunan.

​Rupanya, kabar mengenai pertempuran sengit Yefan saat merebut jasad ibunya telah sampai ke telinga mereka.

​"Ya, benar! Itu orangnya! Keparat! Pergi dari Desa Fulmun! Cepat pergi dan jangan pernah kembali!" teriak warga desa bersahut-sahutan secara serentak. Mereka mulai melempari Yefan dengan batu, kotoran, hingga makanan busuk.

​Yefan hanya berdiri terpaku, menatap mereka dengan sorot mata yang di penuhi akan kesedihan dan keputusasaan. "Apakah... apakah semua malapetaka ini memang karena diriku?" batin Yefan hancur saat menyadari Kepala Desa telah tewas dan desanya nyaris rata dengan tanah.

​Tiba-tiba, kerumunan warga dengan cepat membuka jalan. Dua orang pria melangkah keluar seraya menggotong sebuah peti mati kayu.

​Setibanya di hadapan Yefan, mereka meletakkan peti mati itu begitu saja di hadapan nya.

​"Yefan! Ini peti mati jasad ayahmu!" bentak salah seorang dari mereka. "Kami tidak sudi menerima pendosa sepertimu yang hampir memusnahkan Desa Fulmun! Cepat pergi dari sini!"

​Pria itu adalah seorang tabib tua—pria pengobat tradisional yang dahulu pernah berjuang keras membantu keluarga Yefan saat berusaha mencabut tanduk hitam yang menancap di dada ayah Yefan.

​"Pergi!" teriak tabib tua itu sekuat tenaga. "Kau tahu?! Kau telah menyinggung Keluarga Yujin dengan membunuh pewaris mereka! Dan sekarang, kau bahkan menyandera Penatua Yan Feng serta Tuan Muda Yunan Zili! Keberadaanmu di desa ini tidak lebih dari sebuah kutukan bagi kami! Keluarga Yujin pasti akan membalas dendam dan menghancurkan tempat ini bila kau berada di desa kami! Pergi dari sini! Kami tidak ingin terlibat dalam dosamu!" teriak nya

​Yefan tertegun seketika. Hatinya membeku melihat perlakuan warga yang tega membongkar makam dan mengeluarkan peti mati ayahnya sendiri. Kakek tabib tradisional yang dulu bertetangga dekat dengannya kini menatapnya dengan kebencian mendalam—bahkan melampiaskan kebencian itu pada jasad ayahnya serta sang ibu.

​Amarah Yefan sempat membakar dadanya saat melihat makam ayahnya digali begitu saja. Namun, Yefan sadar bahwa ia tak bisa melakukan apa pun. Meskipun dengan kekuatannya saat ini ia sanggup menghabisi seluruh warga desa, mereka pada dasarnya tidak bersalah. Mereka hanya rakyat biasa yang ingin hidup tenang, sementara dirinyalah yang telah membawa malapetaka ke tempat ini.

​Dilandai rasa bersalah yang begitu besar, Yefan dengan tubuh gemetar menggendong jasad sang ibu di lengan kirinya dan memikul peti mati sang ayah di pundak kanannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik pergi—meninggalkan Desa Fulmun diiringi sorak makian, teriakan murka, dan hinaan dari orang-orang yang membencinya.

​Jiun Yi yang menyaksikan seluruh adegan memilukan itu hanya bisa terdiam dan mengikuti Yefan dari kejauhan.

​Sementara itu, di sebuah kediaman megah di Kota Kekaisaran—tepatnya di Aula Utama Keluarga Yujin.

​"Brengsek! Akan kubuat hidupmu lebih buruk dari kematian!" jerit seorang pria setengah baya penuh murka.

​BOOM!

​Aura puncak Alam Transenden meletus hebat, menghancurkan meja ukir dan barang-barang berharga di dalam aula hingga menjadi abu.

​Lima orang tetua yang berdiri di sekelilingnya tunduk gemetar ketakutan menyaksikan kewibawaan dan amarah sang Patriak, Yujin Huo. Meskipun sang Patriak hanya berada di Alam Transenden puncak, Tapi di genggamannya terdapat Token Leluhur generasi terdahulu—sebuah simbol kekuasaan tertinggi sebagai Pemimpin Klan. Siapa pun yang menentang titahnya dapat dieksekusi seketika menggunakan kekuatan token tersebut. Itulah mengapa wibawa Patriak begitu ditakuti, meskipun tingkat kultivasinya berada di bawah para tetua.

​"Patriak... Dari hasil penyelidikan kami, Keluarga Ji tampaknya ikut campur dalam dendam berdarah ini melalui Tuan Muda Jiun Yi," ujar salah seorang tetua seraya membungkuk hormat.

​"Keluarga Ji..." gumam Yujin Huo dengan pancaran niat membunuh yang pekat. Namun, ia dengan cepat meredam gejolak itu. Ia cukup tahu diri dan gentar akan reputasi serta prestise Keluarga Ji yang menyandang gelar klan terkuat nomor dua di Kota Kekaisaran.

​Meski demikian, Yujin Huo sama sekali tidak berniat menghentikan perburuan terhadap Yefan—selama mereka tidak membahayakan keselamatan Tuan Muda Jiun Yi.

​"Kerahkan seluruh pasukan elit klan! Cari bocah bermarga Ye yang telah membunuh putraku serta menyandera Kakak Yan Feng dan putraku Yunan Zili!" teriak Yujin Huo kepada seorang komandan berzirah perak. "Pastikan kalian membawa Yefan hidup-hidup ke hadapanku! Biar aku sendiri yang akan mengulitinya!"

"Dan ingat," lanjut Yujin Huo dengan penekanan dingin, "jangan sekali-kali menyentuh Tuan Muda Jiun Yi jika ia pasang badan melindungi Yefan! Cukup tahan dan batasi pergerakannya saja!"

​"Lalu bagaimana dengan Keluarga Ji kelak, Patriak?" sela sang penasihat klan dengan raut cemas.

​"Tidak perlu khawatir," gumam Yujin Huo sinis. Dengan aturan kota yang tertera di dekrit kaisar,"Keluarga Ji tidak akan pernah menyerang klan kita secara terbuka. Mereka hanya sedang bermain politik—memanfaatkan dendam pribadi Yefan untuk menguji atau melemahkan kekuatan klan kita. Selama kita tidak melukai Tuan Muda mereka, Keluarga Ji tidak punya alasan resmi untuk berperang dengan keluarga yujin demi untuk menguasai tanah sumber daya klan kita!"

"Cepat laksanakan!"

​"Siap! Kami akan melaksanakan titah Patriak!" jawab sang komandan berzirah perak dengan penuh keyakinan.

​Meskipun Yefan dikabarkan sanggup menumbangkan Penatua Yan Feng yang berada di Alam Roh awal, sang komandan tetap merasa diri nya mampu untuk menagkap yefan. Sebab dari laporan yang diterima, Yefan telah menderita luka-luka yang sangat parah setelah pertarungan tersebut. Terlebih lagi, ia tidak akan bergerak sendirian, melainkan membawa delapan ratus pasukan elit di bawah komando nya untuk memburu pemuda itu.

​Di sudut lain Kota Kekaisaran, terdapat sebuah taman rindang yang dikelilingi pohon-pohon tua yang bayangan nya menyelimuti separuh kolam besar berisikan ikan beraneka warna. Seorang pria paruh baya tampak sedang menikmati waktunya memancing sambil mendengarkan laporan rahasia dari bawahannya.

​Entah apa informasi detail yang disampaikan oleh sang bawahan, pria paruh baya itu tiba-tiba menyunggingkan senyuman tipis.

​"Patriak Yujin Huo rupanya cukup berwawasan..." gumam pria itu pelan.

​"Lalu, apakah kita perlu bergerak untuk membantu, Tuan?" tanya sang bawahan.

​"Tidak perlu," jawab pria itu tenang sambil memainkan perahu kertas di tangan nya, "Dari pesan yang kuterima, bocah bermarga Ye itu sangat licik... dan memiliki kemampuan yang aneh,"lanjut nya-setelah mengetahui jiun yi terpaksa menjadi budak nya dan keluarga ji tidak bisa berbuat apa apa dengan nya

Cukup awasi pergerakannya secara diam-diam." perintah nya.

​"Baik, Tuan."

​Seketika, sosok bawahan tersebut lenyap menyatu dalam bayangan kegelapan.

​"Yefan... Kuharap kau tidak menyalahkanku karena telah menjadikanmu sebagai bidak catur dalam permainan ini," gumam pria paruh baya itu seraya kembali melemparkan umpan pancingnya ke kolam.

​Beberapa hari kemudian...

​Kota Kekaisaran yang begitu luas mendadak digemparkan oleh kabar mengenai seorang pemuda bermarga Ye. Nama pemuda itu menjadi buah bibir setelah ia membunuh tuan muda Yulin Zou sang pewaris, serta menyandera pewaris berikut nya dan Penatua Yan Feng saudara kandung pemimpin klan.

​Semua orang terkejut akan keberaniannya memprovokasi klan sekelas Keluarga Yujin. Di setiap kedai makan, toko senjata, paviliun, hingga kedai teh, topik utama perbincangan hanyalah pemuda bermarga Ye tersebut. Bahkan di tiang-tiang utama jalanan, papan pengumuman, hingga pepohonan kota, terpampang lukisan wajah Yefan sebagai buronan kelas atas dengan imbalan fantastis: satu juta Tael perak bagi siapa saja yang berhasil menangkapnya dalam keadaan hidup.

​Tak berhenti di situ, puluhan klan dan keluarga besar lainnya turut memasang sketsa wajah Yefan dengan harga buronan yang tak kalah tinggi. Mereka adalah faksi-faksi yang kehilangan para tuan muda mereka akibat pembantaian di tangan Yefan sebelumnya.

​Kini, Kota Kekaisaran mendidih. Para kultivator dari berbagai klan, tentara bayaran, hingga masyarakat biasa di pinggiran kota berbondong-bondong merencanakan perburuan demi mengincar hadiah satu juta Tael Perak. Meski rasa takut membayangi mereka akibat cerita reputasi kekuatan mengerikan Yefan yang telah tersebar, keserakahan akan harta membuat mereka membutakan mata atas segala konsekuensinya.

​(Bersambung)

1
Ed Troivan
plagiat kau
Rozer Cros: diam Diam diam, 🥹
total 3 replies
Fajar Fathur rizky
bikin yefan jadi alkemis tingkat tinggi yang mana kaisar tianming sendiri harus berlutut dan memberi hormat bikin nanti yefan bantai klan yujin dan hancurkan kaisar itu beserta keluarganya kaisar itu
Fajar Fathur rizky
cepat bikin yefan bantai jendral
Rozer Cros
mksh kk ketitik nya.
aku cuma mau jelasin. ini karya hasil Kranggan ku sendiri kk, dan ga PP kalo KK ga percaya juga. dan terimakasih atas dukungan nya untuk karya ini meski tidak sebaik yang lain. 🙏🙏
intsomi: itu buzzer,jangan di liat komenannya,abaikan saja
total 5 replies
Ed Troivan
Author plagiat, ngga bakal ditamatin
Ed Troivan
Pasti ini karya plagiatmu lagi author tolol, kau bisa-bisanya menerjemahkannya lalu kau ubah nama tokoh-tokohnya makanya nggak kau lanjut novel Sang Penakluk... 👍
Rozer Cros: terima kasih kk udah dukung karya ini meski tidak sebaik yang lain. semoga sehat selalu kk
total 1 replies
Ed Troivan
kok rantaul
Ed Troivan: nggak bertanggung jawab lu Thor
total 4 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
Fajar Fathur rizky
nanti bikin yefan bantai keluarga yunjin dengan cara paling kejam dan sadis
Fajar Fathur rizky
cepat bantai yanfeng bikin ranah kultivasi yefan langsung naik ke ranah yang lebih tinggi dari ranah yanfeng
Farhan Sadewa
gereget BNR lihat tingkah laku Yulin zou ini 🤭
Ed Troivan: Author tolol
total 1 replies
Farhan Sadewa
membuat penassran
Farhan Sadewa
penuh misteri👍
Ed Troivan: penuh misteri🤣 author gak jelas. palingan ilang lagi nanti karena nggak bisa plagitin lagi
total 1 replies
Farhan Sadewa
penasarn
Farhan Sadewa
jadi penasaran🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!