Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi itu, Alina berdiri di depan pintu kamar sambil menatap Lorenzo yang masih duduk di atas ranjang.
Pria itu sudah mengenakan kaus longgar. Rambutnya masih sedikit berantakan, sementara satu tangannya memegang gelas air yang tadi diberikan Alina. Kejadian beberapa menit lalu masih terasa seperti mimpi buruk.
Alina buru-buru mengusir pikiran itu. Ia sudah berpakaian rapi dengan kemeja berwarna pink pudar dan rok berwarna mocca. Tas kerja tergantung di bahunya.
"Jangan banyak bergerak," pesan Alina sambil merapikan tali tas. "Obatmu sudah aku taruh di meja. Sarapan juga sudah disiapkan."
Lorenzo menatapnya. "Kamu mau pergi?"
"Aku kerja."
"Seharian?"
Alina mengangguk. "Ya. Aku sudah cuti seminggu karena menemanimu di rumah sakit. Kalau hari ini tidak masuk, nanti pekerjaanku menumpuk."
Lorenzo mengernyit. "Kamu tega meninggalkan orang sakit sendirian?"
Alina mengangkat alis. "Orang sakit yang tadi pagi menuduhku ingin membunuhnya?"
"Itu karena kamu benar-benar hampir membunuhku."
"Aku sudah minta maaf."
"Belum cukup."
Alina menghela napas. Ia mendekati meja, memastikan obat Lorenzo masih berada di tempatnya.
"Kalau begitu aku minta maaf sekali lagi."
Lorenzo menatapnya tanpa berkedip.
"Maaf." Alina mengulanginya dengan nada lebih lembut.
Alina menahan napas.
**“Laki-laki ini kalau sedang sakit ternyata cerewet juga.”**
"Kalau begitu nanti sore aku minta maaf lagi." Tanpa menunggu jawaban, Alina berbalik.
Lorenzo langsung memanggilnya. "Alina."
Wanita itu menoleh. "Hm?"
"Kamu pulang jam berapa?"
Alina berpikir sebentar. "Seperti biasa. Sore."
"Jangan terlalu malam."
Alina menatapnya beberapa detik. Ada sesuatu yang terasa aneh. Biasanya Lorenzo tidak pernah peduli ia pulang jam berapa. Bahkan selama tiga tahun pernikahan mereka, pria itu bisa melewati satu hari penuh tanpa bertanya apakah istrinya sudah makan atau belum. Sekarang baru ditinggal kerja sehari sudah mulai mengatur jam pulang.
Alina mengangkat bahu. "Iya."
Wanita itu kemudian berjalan keluar. Namun baru beberapa langkah, suara Lorenzo kembali terdengar.
"Alina."
Wanita itu berhenti lagi. "Apa?"
"Jangan lupa makan siang."
Alina menatap Lorenzo dengan ekspresi sulit dipercaya.
Lorenzo sendiri terlihat santai. "Apa?"
"Tidak apa-apa." Alina menggeleng kecil. Lalu, ia pergi.
Begitu pintu rumah tertutup, Lorenzo menatap kosong ke arah pintu tersebut. Suasana rumah mendadak terasa terlalu sepi. Ia melirik meja, di atasnya ada obat, sarapan, dan air putih.
Bahkan secarik kertas kecil berisi jadwal obat sudah disiapkan. Lorenzo mengambil kertas itu. Tulisan Alina terlihat rapi.
Di bagian bawahnya ada tulisan kecil.
[Jangan sok kuat. Kalau sakit, bilang.]
Sudut bibir Lorenzo bergerak sedikit. "Dia memang suka mengatur."
Namun kalimat tersebut terdengar jauh lebih lembut daripada yang seharusnya.
Sementara itu, Alina sudah tiba di kantor. Gedung milik keluarga Romano menjulang tinggi di tengah kawasan bisnis kota. Namanya terpampang besar di bagian depan, tetapi bagi Alina, tempat itu tidak pernah terasa seperti milik keluarganya sendiri.
Di sini, ia hanyalah seorang karyawan biasa. Tidak ada yang tahu bahwa wanita yang setiap pagi duduk di meja kerja paling belakang itu adalah istri Lorenzo Romano.
Dan Alina memang sengaja merahasiakannya. Ia tidak ingin mendapatkan perlakuan khusus. Tidak ingin orang mendekatinya hanya karena status.
Lagipula, jauh lebih menyenangkan menjadi karyawan biasa. Ia bisa makan di kantin tanpa harus menjaga sikap. Bisa ikut tertawa ketika rekan kerja mengeluhkan atasan. Bisa bergosip tanpa harus khawatir seseorang tiba-tiba menyebut nama keluarganya sendiri.
Begitu Alina memasuki ruang kerja, beberapa orang langsung menyapanya.
"Alina!"
Wanita itu menoleh. "Ya?"
"Nanti makan siang bareng, ya!"
"Boleh."
"Alina, laporan yang kemarin sudah selesai?"
"Sudah aku kirim lewat email."
"Alina, kamu tahu nggak ...?" Seorang rekan kerja bernama Clara tiba-tiba menarik kursinya mendekat. Nada suaranya turun.
Alina langsung tahu. Ada gosip. Ia meletakkan tas.
"Apa?"
Clara melirik kanan-kiri sebelum berbisik. "Kamu tahu Adrian dari direktur keuangan?"
Alina mengangguk. "Iya. Dia kenapa?"
Clara mendekat. "Katanya dia sering pulang tengah malam, tapi bukan karena lembur."
Alina langsung mengangkat alis dan mulut terbuka berbentuk bulat. Dia tahu maksud arah pembicaraan Clara.
Clara mengangguk cepat. "Katanya dia punya apartemen lain."
Alina menahan senyum. "Terus?"
"Dan katanya bukan cuma satu orang yang pernah melihat dia keluar dari sana."
Alina menopang dagu. "Wah."
Hanya satu kata. Namun itu cukup untuk membuat Clara semakin bersemangat. "Aku dengar sekretarisnya juga tahu."
"Yang mana?"
"Yang baru."
"Oh."
Alina mengangguk-angguk seolah sangat serius. Padahal pikirannya sudah mulai ke mana-mana.
Kantor ini memang luar biasa. Kalau sedang bekerja, semua orang terlihat profesional. Begitu jam istirahat tiba, rahasia perusahaan bisa keluar lebih cepat daripada kopi dari mesin otomatis.
Clara menepuk lengannya. "Tapi jangan bilang siapa-siapa dulu, ya."
Alina memasang wajah polos. "Aku orangnya paling bisa menjaga rahasia."
Clara menatapnya. Alina balas menatap. Keduanya kemudian tertawa kecil.
Alina memang seperti itu. Ia mudah bergaul dengan siapa saja. Tidak terlalu kaku, tetapi juga tidak asal bicara. Ia tahu kapan harus bercanda dan kapan harus diam. Karena itu, banyak orang nyaman berada di dekatnya. Termasuk mereka yang suka membawa cerita-cerita yang seharusnya tidak sampai ke telinga orang lain.
Baru beberapa menit kemudian, seorang pria dari bagian pemasaran ikut bergabung. "Ngomongin Adrian?"
Clara mengangguk. "Iya."
Pria itu langsung menarik kursi. "Aku punya cerita yang lebih menarik."
Alina menahan tawa.
**“Nah. Dimulai lagi.”**
"Apaan?" tanya Clara.
Pria itu menurunkan suara. "Katanya ada transaksi perusahaan yang sengaja dibuat dua kali."
Alina yang tadinya santai mulai memperhatikan. "Dua kali?"
"Iya. Satu transaksi masuk secara resmi, satu lagi lewat perusahaan cangkang."
Clara mengerutkan kening. "Serius?"
"Ini masih dalam tahap penyelidikan."
Alina tidak langsung berkomentar. Ia mengambil gelas air mineral dan meneguknya perlahan.
Sebagai karyawan biasa, ia sudah cukup lama bekerja di perusahaan itu untuk tahu bahwa tidak semua gosip adalah omong kosong. Ada yang hanya bumbu kantor. Ada pula yang ternyata memiliki sedikit kebenaran. Dan beberapa rahasia yang ia dengar bahkan jauh lebih gelap daripada gosip perselingkuhan seorang direktur.
Alina memilih tidak ikut campur. Selama tidak menyentuh dirinya, ia tidak peduli. Ia datang untuk bekerja, mendapatkan gaji, lalu pulang. Sesederhana itu.
Namun, pagi itu ada satu hal yang terus muncul di pikirannya. Lorenzo.
Alina berhenti mengetik dan mengerutkan kening.
**“Ah, sudahlah. Dia sudah dewasa. Bisa mengurus dirinya sendiri.”
**
Di rumah, orang yang sedang dipikirkan Alina justru sedang duduk di ruang keluarga sambil menatap ponselnya. Lorenzo mencari satu nama.
Sebastian. Temannya sekaligus pengacara yang selama ini mengurus berbagai urusan hukumnya. Ia menekan tombol panggil. Tidak sampai beberapa detik, sambungan tersambung.
"Hallo?"
"Sebastian, aku Lorenzo."
"Aku tahu." Suara Sebastian terdengar santai. "Ada apa? Aku baru mau menghubungimu."
"Batalkan pengajuan perceraian."
Hening beberapa detik. Kemudian terdengar suara kursi bergeser dari seberang.
"Apa?"
Lorenzo memijat pelipis. "Batalkan."
"Perceraian kamu dengan Alina?"
"Iya."
Sebastian terdiam cukup lama. Nada suaranya berubah serius. "Sebentar? Kamu tidak sedang bercanda, kan?"
"Aku tidak bercanda."
"Tapi semua dokumennya sudah selesai."
"Aku tahu."
"Permohonan sudah aku siapkan. Tinggal diajukan."
"Jangan ajukan."
Sebastian mengembuskan napas panjang. "Lorenzo, seminggu yang lalu kamu sendiri yang meminta aku menyelesaikan semuanya secepat mungkin."
"Aku berubah pikiran."
"Berubah pikiran?"
"Iya."
Sebastian tertawa kecil karena tidak percaya. "Sejak kapan kamu jadi mudah berubah pikiran atas segala hal yang sudah yakin kamu putuskan?"
Lorenzo bersandar di sofa. Ia tidak mungkin mengatakan alasan sebenarnya. Apalagi alasan utama ia ingin membatalkan perceraian bukan karena tiba-tiba jatuh cinta. Ia hanya ingin mengetahui lebih banyak tentang Alina.
Tentang apa yang sebenarnya dipikirkan istrinya selama ini. Dan tentang apa yang selama ini tidak pernah ia lihat.
Lorenzo menarik napas. "Sesepuh keluarga melarang."
Sebastian langsung diam. "Oh."
Jawabannya terdengar seperti orang yang baru saja menemukan potongan puzzle yang hilang. "Jadi keluarga tahu?"
"Mereka tidak mengizinkan adanya perceraian. Sejak awal mereka memang tidak setuju."
"Dan sekarang kamu menyerah?"
Lorenzo mengusap wajah. "Anggap saja begitu."
Sebastian terkekeh. "Ini pertama kalinya aku melihat Lorenzo Romano menyerah."
"Sebastian."
"Iya?"
"Jangan banyak komentar."
"Oke, oke." Suara kertas terdengar dari seberang. "Aku akan hentikan prosesnya."
"Pastikan tidak ada pengajuan ke pengadilan."
Sebastian masih terdengar penasaran. "Tapi aku tetap ingin tahu satu hal."
"Apa?"
"Semalam kamu kecelakaan. Hari ini kamu membatalkan perceraian. Apa ada hubungannya apa?"
Lorenzo diam sejenak. "Tidak ada."
"Benarkah?"
"Ya, benar."
Sebastian menghela napas. "Aku sudah berteman denganmu terlalu lama untuk percaya jawaban sesingkat itu."
Lorenzo mendengus. "Urus saja dokumennya."
"Baik."
Sebelum sambungan ditutup, Sebastian kembali berkata, "Lorenzo."
"Hm?"
"Kalau kamu memang berubah pikiran, pastikan kali ini jangan berubah pikiran lagi."
Lorenzo tidak langsung menjawab. Matanya bergerak menuju tangga yang mengarah ke kamar. Bayangan Alina pagi tadi muncul lagi.
Wajahnya merah karena malu. Tubuh yang mendadak menegang ketika tangannya melingkar di pinggang wanita itu.
"Setelah kejadian tadi pagi," gumamnya, "aku justru tidak yakin siapa yang lebih perlu perlindungan dalam pernikahan ini."
"Apa?" Sebastian masih mendengar.
Lorenzo segera berdeham. "Tidak ada."
"Barusan kamu ngomong sesuatu."
"Aku bilang, kerjakan saja."
"Oke."
Sambungan telepon berakhir. Lorenzo meletakkan ponselnya. Ia bersandar dan mengembuskan napas. Perceraian yang seminggu yang lalu begitu ia inginkan kini sudah ia hentikan.
1. dia selingkuh selama pernikahan, berniat menceraikan istrinya demi menikahi wanita lain, membiarkan istrinya diperlakukan semena-mena dikeluarganya, tapi tidak dihargai dirumah, 2.Alin dibuat bertahan 3 tahun dengan suami yang dingin, tidak menghargai istri dan selingkuh dengan pacarnya, sekaligus tekanan dari keluarga suami, tidak punya Sandaran, mengurus rumah dan sekaligus masih bekerja dikantor suami yang mana entah itu privat / disembunyikan.
coba kesampingkan humor tentang membaca pikiran, yg aku tangkap dari rumah tangganya itu semua, rasanya terlalu mudah dimaafin, padahal untungnya cuma Alin gak cinta, dan Lorenzo gak celap celup. sisanya kalo dipikir sakit ya
nyesel lho klo beneran Lorenzo lari k wanita lain, apalagi dia skarang mulai menyukai kaaaamu....