Indonesia
NovelToon NovelToon
Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:225.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.

Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.

Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?

Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelajaran yang gagal : 34

“Gimana, Mi? Putra kita dibolehin beli Iguana itu tidak?” Yarash menurunkan tangan dari pundak dan singgah di pinggul Saniya, bertahan di sana.

Saniya bukannya tidak merasakan gerakan pelan memijat punggung bawah dekat pinggul. Ia memilih diam, berusaha bersikap tenang.

“Mami pikir-pikir dulu, boleh kan, Abang?” godanya ingin mengetes sesabar apa Ardan.

Kesabaran si bungsu yang penampilannya mirip orang-orangan sawah itu, ternyata lebih tipis dari lembaran tisu.

“Sus Suci! Ambil tok tok, kita lobohin lumah Gun-gun!” titahnya menahan tangis, pelupuk mata sudah seperti penampung air yang siap tumpah.

Jika ditempat umum, Ardan jarang tantrum, dia masih ingat tempat yang bukan lingkungan sehari-harinya.

Yarash berbisik tepat ditelinga putranya yang melirik tajam ibu tiri. “Rayu Mami, pasti dikasih beli Iguana nya.”

“Gak mau. Tipu-tipu Mami.” Ardan memeluk leher papinya, menggigit ujung telinga menyalurkan rasa kesal sekaligus gemas.

Yarash yang merasa geli, menundukkan kepala agar telinganya tidak lagi digigit Ardan.

Duk.

Aduh … otomatis Saniya mengadu, sakitnya tidak seberapa tetapi dia terkejut kepalanya terantuk kening pria yang langsung mengusap-usap rambutnya.

Yarash mengusap-usap sambil meniup bagian kepala dekat garis dahi yang tadi terkena keningnya. “Maaf, Mami. Papi gak sengaja.”

‘Kenapa terasa berbeda? Seperti bukan mengajari Ardan tentang bertanggung jawab ketika melakukan sesuatu, nadanya lebih ….’ Saniya mengenyahkan pikiran aneh yang sempat terlintas.

“Gapapa, Mas — Pi,” ia tergagap dan gugup. Terlebih tangan Yarash masih betah mengusap rambutnya.

“Lihat kan, Mami gak marah sewaktu Papi gak sengaja nyakiti kepalanya. Mami orangnya pemaaf, asal kita mau minta maaf dan mengakui kesalahan,” Yarash kembali berbisik.

Ardan cepat belajar, dan perkataan ayahnya disertai contoh nyata membuatnya langsung percaya.

Balita yang masih memeluk leher ayahnya, tiba-tiba melepaskan begitu saja, lalu mencondongkan badan dengan gerakan cepat.

Dug!

“Ini sakit, hiks hiks.” Dia ingin melakukan hal sama seperti ayahnya, tetapi terlalu bersemangat dan tidak memperkirakan seberapa kuat benturan.

Pelajaran meminta maaf pun tidak berjalan mulus, si bungsu mengadu keningnya sakit dan benar sedikit memerah.

Saniya juga merasakan sakit pada pelipis yang dihantam kening Ardan. Ia bergeser sedikit sampai berdiri berhadapan dengan suaminya, dan memiliki alasan melepaskan belitan tangan, kini terlepas.

“Abang Ardan, maaf ya udah buat kening Abang sakit.” Saniya berjinjit, terpaksa tangannya berpegangan pada lengan atas Yarash yang terasa keras, lalu meniup-niup warna kemerahan dahi balita memasang wajah mengiba.

Sebelah tangan Ardan berpegangan pada pundak ayahnya, kepalanya menunduk menikmati tiupan pelan dan usapan sayang di pipi.

‘Ini anak belajar dari mana memanfaatkan keadaan sebaik mungkin?’ hatinya menyimpan rasa kesal, putranya mudah sekali menarik perhatian Saniya.

“Abang mau maafin Mami, kan?” Saniya menurunkan tumit, menyudahi berjinjit, dan tangannya tak lagi memegang lengan sang suami.

“Mau, tapi beli Gun-gun ya?” sorot matanya sendu, dan buliran bening mengalir ke pipi.

Saniya tersenyum masam, dia masuk jebakan putra kecilnya. “Kita tanya dulu ke abangnya, bagaimana cara merawat, dan apa saja pakan Iguana nya, oke?”

Ardan duduk tegak dalam gendongan papi. Telapak tangan sempit berkuku ujung menghitam karena tanah — memukul dadanya.

“Aldan abang, dia Om-om!” ia bersungut-sungut menyuarakan protes seraya melirik pria yang berdiri tidak jauh.

Lirikan Ardan ditanggapi senyum lucu karyawan toko, baru disadarinya jika balita cerdas itu sedang menunjukkan sikap posesif.

“Oh iya, maaf Mami lupa,” Saniya memasang ekspresi lembut.

“Mami telus-telus lupa, udah tua ya?” sahutnya cepat, masih menunjukkan sikap bossy.

Yarash terkekeh, ia memalingkan wajah melihat ke lain tempat, jangan sampai kena omel putranya sendiri.

“Om, Iguana makannya apa saja, ya?” Saniya bertanya formal, mengalihkan pembicaraan.

“Baby iguana adalah hewan herbivora murni yang makan sayuran hijau segar dan sedikit buah sebagai pelengkap, Bu,” jawab karyawan toko dengan nada sopan, lalu dia lanjut menjelaskan tentang perawatannya.

“Kalau titip disini tiga atau empat hari dulu sampai kandangnya siap di bikin, apa bisa?” Yarash juga ikut bertanya.

“Boleh, Pak,” jawab sang karyawan.

“Bilang gak boleh, gituuuu!” Ardan yang protes. “Aku tu mau bawa pulang sekalang, Pi!”

Yarash mengeratkan gendongan balita yang menggoyangkan pantatnya.

“Belum bisa, Nak. Iguana nya butuh rumah lebih besar biar dia gak stress, terus supaya makannya lahap,” jelasnya bersabar.

“Kan bisa tidul baleng kita,” ia masih belum menyerah.

“Nanti kalau ketimpah badan kamu, Papi atau Mami pas bobok, gimana? Saniya pun membantu membujuk si keras kepala.

“Ya udah tidul sama cucuku aja,” Ardan teringat rumah Kecoanya.

“Kandang Coro kurang besar untuk Iguana, Ardan. Dia bakalan gak bisa bergerak bebas. Sabar sebentar ya, kan cuma tiga hari.” Yarash mencium pipi tembem sebelah kanan.

Hem ….

Setengah hati Ardan akhirnya setuju, wajahnya masih masam, enggan tersenyum.

Saniya pun mencoba mencari jalan keluar. “Sekarang Abang foto dulu saja sama Iguana nya, biar nanti bisa dikasih lihat ke lek Lawi, mang Suip, Mbak dan simbok.”

“Mau, mau! Om, om ….” Ardan langsung senang, dia memanggil karyawan toko. “Masukin aku ke sana!”

“Gak boleh, Nak!” cegah Yarash, bisa trauma kelima baby iguana seandainya Ardan bergabung disana.

Usul yang dikira membawa jalan keluar, malah menjadi tugas berat membujuk si banyak mau.

“Fotonya di depan kandang saja, ya? Itu pas banget, Bang — Iguana nya lagi tiduran di batang kayu. Ayo cepat!” Saniya berseru antusias.

Ardan melupakan kekesalan, dia mau berfoto tanpa masuk kandang, tetapi menolak dipakaikan baju.

“Aku tu gak malu. Bialin ih!” dia cuma mau pakai kacamata, tidak berminat mengenakan celana.

Suci pun mengalah, membidik banyak foto anak asuhnya yang bergaya sok keren — jari jempol dan telunjuk menyanggah dagu, lalu kacamata bertengger di atas kepala. Terakhir, Ardan minta bangku agar bisa pose memeluk kandang Iguana bak Cicak merayap di dinding.

Akhirnya selesai juga urusan membeli hewan peliharaan, Saniya yang membayar menggunakan kartu kreditnya.

Ardan sibuk melihat-lihat hasil bidikan pengasuhnya, tidak peduli dengan hal lainnya. Dia yang kelelahan, kini digendong Suci.

Sebuah notifikasi pesan masuk ke aplikasi ponsel Saniya, dan pemiliknya langsung mengambil handphone, berniat memeriksa.

“Ternyata benar-benar beda ya, nada notifikasinya dengan yang bunyi beruntun tadi …?”

.

.

Bersambung.

1
Fera Susanti
pahit Tatiana..sepahit omongan kamu😔
Betri Betmawati
racun itu tita minum lh biar hilang semua nya😁😁 canda
memang ayah dan suami idaman banget ya mas yarash
Betri Betmawati
mungkin kah benih cinta mulai tumbuh?
Iccha Risa
cerewet banget lah si tita ini, ramuan mujarab ibu tiri Yo pasti manjur, tenang ga pahit dikasih madu tuh....
Iccha Risa
waduhh rasanya pecah kali ni pala, pada nangis sih anaknya
Iccha Risa
ciwit ciwit itu mah bang iyakan , bocil ini kan jahill 🤣
Sugiharti Rusli
semoga saja resep minuman yang Saniya buat berdasarkan resep dari mantan art di rumah ortunya dulu cocok buat si Tita yah,,,
Sugiharti Rusli
terkadang yah hal" yang seperti apa yang Tatiana alami tuh memang butuh sentuhan seorang ibu, meski di sana juga ada art perempuan juga sih,,,
Sugiharti Rusli
ampun bocil, sotoy beud banget yah dia dan mana kalo dikasih tahu ga terima pulak yah😝😝😝
Bang Fay
biar dia minum dulu baru kasih tau yg buat ibu tiri nya
Betri Betmawati
itu mas yarash cemburu kah
itu nada sepesial tau mas yarash
Engkar Sukarsih
aduh...aduh Abang ganteng Ardan,bikin gemes banget 🤗🤗🤗itu botol bukan di kompres ke perut.malah di pukul - pukul ke perut 😌😌😌😌
lyani
betul
Sartini 02
ceritanya sangat menarik
sryharty
makanya mas yarash jangan main nyosor aja,,jadi deg2 ser kan mami sani nya
sryharty
ada yg cemburu neh
Moms Rafi-alhusaini 🌺
udh kaya tempat posyandu pada nangis 🤣🤣
Moms Rafi-alhusaini 🌺
rame banget 🤣🤣
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
duh kira2 di buang gak pas tau kalo saniya yang buat .. ngerepotin ya anak tiri nakal ini ...dah besar sih jadi mudah di doktrin sama ibu kandung nya yang jahat
Moms Rafi-alhusaini 🌺
sekarang nangisnya panggil mami Saniya 🤣
sutiasih kasih: sdh ada nyaman si ardan ke mami saniya....
tpi gengsinya msih setinggi monas🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!