Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.
Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.
Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 — TULANG DEWA
Jurang Neraka Lapisan Ketiga menyuguhkan lanskap yang jauh lebih gelap dan menusuk tulang. Dinding-dinding di sekitar lorong tersebut bukanlah bebatuan biasa, melainkan tumpukan kerangka raksasa yang menjulang setinggi gunung.
Lu Chen dan Xue Ling berlari kencang membelah lorong, sementara dua puluh Penegak Langit masih menguntit ketat di belakang mereka.
LOKASI: MAKAM TULANG DEWA TARGET: ARTEFAK 1 - TULANG DEWA EFEK: UNTUK MENETRALKAN RACUN LANGIT 30%
"Kita harus cepat masuk," seru Lu Chen di tengah deru napasnya. "Ibu sangat membutuhkan ini untuk meredam racun di tubuhnya."
Xue Ling menatap gerbang makam yang tertutup rapat. Di atas permukaannya terukir sebuah peringatan kuno: YANG SERAKAH AKAN DIMAKAN KEBINASAAN.
Baru saja mereka hendak melangkah mendekat, DUAR! Sambaran petir dahsyat ditembakkan oleh salah satu Penegak Langit dari kejauhan.
Lu Chen memutar tubuhnya dengan sigap. "TINJU TIGA ALAM: 30%!"
BOOM! Benturan energi itu memantulkan petir kembali ke udara.
"Cepat masuk!" teriak Lu Chen. Mereka berdua melompat menerobos gerbang batu.
Seketika itu juga, gerbang makam menutup rapat dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. KRAAAK!
DALAM MAKAM TULANG DEWA
Suasana di dalam makam begitu pekat oleh kegelapan. Satu-satunya sumber penerangan berasal dari pendaran fosfor yang keluar dari kerangka-kerangka raksasa di sekeliling ruangan.
Lantai makam dipenuhi oleh hamparan tulang belulang manusia, dewa, dan iblis yang melebur menjadi satu.
Tiba-tiba, tumpukan tulang itu bergemeretak bergerak. Ribuan kerangka bangkit berdiri secara serentak.
MUSUH: TENTARA TULANG JUMLAH: 1000 LEVEL: TAHAP JIWA
"Klasik sekali," desis Xue Ling dingin sambil mencabut tiga bilah pedangnya. "Dungeon kuno selalu menyuguhkan sambutan seperti ini."
Lu Chen maju ke garis depan. Ia menahan niat membunuhnya, memilih opsi melumpuhkan: "Tinju Manusia" untuk mematahkan sendi, "Es Dewa" untuk membekukan pergerakan, dan "Kabut Iblis" untuk mengaburkan pandangan.
Seratus tentara tulang tumbang dalam sekejap. Namun, sembilan ratus lainnya kembali merangsek maju tanpa kenal lelah.
"Jumlahnya tidak ada habisnya!" gerutu Lu Chen, napasnya mulai memburu. Desiran darah iblis enambelas persen mendadak merangkak naik mendekati batas tujuh puluh persen.
"Lu Chen, tahan emosimu!" seru Xue Ling memperingatkan. "Altar utamanya ada di tengah!"
Mereka menerobos barisan kerangka dengan susah payah. Di pusat ruangan makam, sepotong tulang putih bersih melayang anggun di atas sebuah pilar batu.
ARTEFAK: TULANG DEWA PEMILIK ASLI: DEWA PENCIPTA PERTAMA EFEK: PEMURNIAN ABSOLUT
Baru saja tangan Lu Chen terulur hendak menyentuhnya, lantai makam merekah lebar.
ROAR!
Sesosok penjaga raksasa bangkit dari dalam tanah: Penjaga Makam - Tulang Dewa. Tingginya mencapai dua puluh meter dengan mahkota tulang yang mengerikan di kepalanya.
"SIAPA YANG BERANI MENYENTUH BENDA SUCI TUANKU?!" raungnya menggelegar.
Pertempuran langsung meletus. Xue Ling melesat cepat, "PEDANG SALJU: BADAI 99!" namun sang penjaga menepisnya dengan hantaman tangan raksasa. DUAR! Xue Ling terpental jauh ke dinding. "Kekuatannya luar biasa!"
Lu Chen maju menggantikannya. "Biar aku yang hadapi."
Ia melepaskan Tinju Tiga Alam. BOOM! Serangan itu menghantam telak dada sang penjaga, namun tulangnya tidak sedikit pun retak.
Sebaliknya, sang penjaga dengan cepat mencengkeram tubuh Lu Chen. "MATI KAU, PENYUSUP!"
Tepat di saat kritis, Segel Tiga Alam di leher Lu Chen memanas hebat. Sebuah suara lembut bergema di dalam kesadarannya: “Jangan dilawan dengan kekerasan. Pahami esensinya.”
Lu Chen menutup matanya rapat-rapat. Ia meredam amarahnya, mencoba merasakan getaran dari tulang tersebut.
Tulang dewa itu memancarkan frekuensi yang sama persis dengan satu persen darah dewa yang mengalir di nadinya.
"Maaf," bisik Lu Chen lirih. "Aku hanya meminjamnya sebentar. Untuk menyelamatkan ibuku."
CAHAYA!
Satu persen darah dewa di dalam tubuhnya beresonansi sempurna dengan artefak di hadapannya.
KRAK! Cengkraman tangan sang penjaga melonggar dan terlepas dengan sendirinya.
Penjaga makam itu menatap Lu Chen lekat-lekat. "Aura sang Pencipta..." bisiknya takjub.
Ia perlahan berlutut. "Ambil benda itu. Tapi gunakan dengan kebijaksanaan."
Lu Chen menggenggam Tulang Dewa tersebut. SSHUUU!
Sensasi terbakar langsung menjalar dari telapak tangannya ke seluruh tubuh, berpadu dengan hawa dingin yang menenangkan jiwa.
STATUS UPDATE: TULANG DEWA: TERIKAT RACUN LANGIT: -30% (TERETAKAN) DARAH DEWA: 1% -> 3% DARAH IBLIS: 70% -> 67% (SEIMBANG)
Lu Chen memuntahkan setetes darah berwarna keemasan, namun ia tersenyum lebar. "Aku berhasil..."
BOOM!
Dinding makam mendadak runtuh berkeping-keping. Lima Penegak Langit berhasil menyusup masuk dari celah reruntuhan.
"Anak haram itu berhasil mendapatkan artefak!" teriak sang pemimpin pasukan. "Bunuh dia sekarang juga!"
Pertempuran pecah menjadi dua ronde.
Ronde pertama, Lu Chen masih beradaptasi, sempat menerima beberapa tebasan luka.
Ronde kedua, setelah energi Tulang Dewa menyatu utuh dengan nadinya, ia melepaskan kekuatan penuh. "TINJU TIGA ALAM: 40%!"
DUAR!
Gelombang kejut dahsyat melontarkan kelima Penegak Langit itu keluar makam, sementara tulang-tulang mereka retak seketika.
Lu Chen memegang dadanya yang bergemuruh. "Aku... bisa mengendalikannya dengan baik."
Xue Ling bangkit mendekat, menatap takjub. "Kau... menjadi jauh lebih tenang dari sebelumnya."
"Karena aku tahu persis siapa yang harus kulindungi," jawab Lu Chen mantap.
Mereka berdua segera berlari keluar melalui jalur pelarian bawah tanah, sementara bangunan makam tersebut runtuh sepenuhnya di belakang mereka.
DI LUAR MAKAM
Malam hari di dalam sebuah gua persembunyian yang sunyi.
Lu Chen menempelkan Tulang Dewa itu langsung ke permukaan Segel Tiga Alam di dadanya. Artefak tersebut melebur, mengubah bentuk segel itu menjadi pola baru yang lebih kompleks: Segel Tiga Alam + Tulang.
Xue Ling dengan telaten merawat luka-luka di punggung Lu Chen. "Kita masih membutuhkan dua artefak lagi: Hati Manusia dan Taring Iblis."
Lu Chen mengangguk tegas. "Berikutnya adalah Hati Manusia. Kudengar artefak itu berada di Kota Manusia Buangan di Lapisan Keempat."
Tiba-tiba, Segel di dadanya kembali membara hebat. Sebuah bayangan visual melintas cepat di dalam kepalanya:
Shen Yue tampak terikat oleh rantai petir yang menyiksa di sebuah ruang bawah tanah di Penjara Langit.
"IBU!" jerit Lu Chen histeris.
Bayangan itu lenyap seketika.
Xue Ling segera memegang kedua bahu Lu Chen erat-erat. "Fokus! Itu hanya ilusi yang sengaja dikirim oleh Langit untuk memancing emosimu."
Lu Chen mengepalkan tinjunya hingga kerikil di genggamannya hancur berkeping-keping. "Aku harus bergerak lebih cepat."
Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar tabuhan gendang perang yang menggelegar. Pasukan Iblis pimpinan Mo Tian ternyata juga tengah bergerak menuju Lapisan Keempat.
"Perang perebutan artefak yang sesungguhnya telah dimulai," ucap Xue Ling serius.
Lu Chen berdiri perlahan, matanya menyala tajam namun terkendali.
"Kalau begitu... kita ambil artefak itu lebih dulu dari mereka."