Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Mengira Itu Kamu

Aku Mengira Itu Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang

Selesai daurah, aku pulang ke rumah.

Entahlah, kali ini aku justru tidak ingin segera kembali ke pondok. Kepalaku terasa pening. Terlalu banyak hal yang berputar di dalam pikiranku.

Salah satunya tentang wanita itu.

Sorot matanya terakhir kali kulihat masih terbayang-bayang. Ada sesuatu di sana. Seperti harapan. Seperti ia sedang menunggu sesuatu dariku.

Tapi, ah...

Kenapa aku memberinya harapan setelah aku tahu bahwa dia bukan Aisyah yang selama ini berta'aruf denganku?

Bukankah seharusnya aku menjaga jarak?

Bukankah seharusnya setelah mengetahui semuanya, aku segera mengakhiri kemungkinan itu sebelum perasaan tumbuh semakin jauh?

Aku malah melakukan sebaliknya.

Aku justru membuka sebuah kemungkinan baru.

Kuhela napas panjang, lalu kusisir rambutku dengan tangan. Aku bersandar di sofa, menatap langit-langit rumah.

"Apa sebenarnya yang sedang aku lakukan?" gumamku pelan.

Aku sendiri tidak tahu jawabannya.

Yang kutahu, sejak pertemuan itu, ada sesuatu yang berubah dalam diriku.

Dan yang paling membuatku takut adalah... aku mulai penasaran dengan wanita itu.

Suara pintu terbuka. Aku langsung tahu, pasti kakakku.

“Lho, Lam. Tumben pulang,” sapanya begitu masuk.

“Assalamu’alaikum, Kak,” jawabku sambil menyalaminya.

“Wa’alaikumussalam.”

Kakakku tidak langsung pergi. Ia justru memperhatikan wajahku beberapa saat, seolah sedang mencari jawaban dari kepulanganku yang tiba-tiba.

“Kangen, Kak. Makanya aku pulang,” kataku, mencoba meyakinkannya.

Tapi dari sorot matanya, aku tahu dia tidak sepenuhnya percaya.

“Kalau tahu kamu pulang, Kakak pasti masak spesial. Capcay kuah, kesukaanmu.”

Aku hanya tersenyum kecil.

Aku kemudian masuk ke kamar. Setelah beberapa hari tinggal di pondok dengan segala kesibukan daurah, kamar ini terasa begitu tenang. Aku mulai membereskan beberapa barang yang berserakan.

Dari dapur terdengar suara denting wajan dan spatula yang beradu. Sesekali tercium aroma bawang putih yang ditumis.

Sepertinya kakakku benar-benar memasak.

Setelah selesai beres-beres, aku keluar dan menuju dapur.

“Bantu apa, Kak?”

“Potongin ini.”

Aku mengambil pisau dan mulai membantu menyiapkan makanan.

Beberapa saat kami bekerja dalam diam. Hanya terdengar suara wajan dari depan dan suara pisau yang sesekali mengenai talenan.

“Adit bentar lagi pulang,” kata kakakku tiba-tiba, memecah kesunyian.

Aku mengangguk.

“Hmm.”

Tak lama kemudian terdengar suara pintu dibuka.

“Assalamu’alaikum!”

Aku dan kakakku menjawab hampir bersamaan.

“Wa’alaikumussalam.”

“Abaaaang!”

Adit langsung menghampiriku dan memelukku dari belakang.

“Ih, lebay,” kataku sambil berusaha melepaskan tangannya.

“Kan udah lama ndak ketemu.”

Aku terkekeh kecil.

“Baru juga beberapa hari.”

“Beberapa hari itu lama, Bang.”

Kami akhirnya makan bersama. Adit sesekali melontarkan candaan yang tidak penting, lalu kutimpali seadanya. Kakakku pun beberapa kali ikut tertawa.

Suasananya hangat.

Sederhana.

Seperti rumah yang sudah lama tidak kutinggali.

Namun di tengah tawa mereka, pikiranku masih saja melayang ke tempat lain.

Ke sorot mata wanita itu.

Aku terdiam sejenak.

“Bang?”

Suara Adit membuatku tersadar.

“Hm?”

“Kenapa bengong lagi?”

“Ndak apa-apa. Makan saja.”

Adit mengangkat alis, lalu kembali menyantap makanannya.

Aku melirik kakakku.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Tapi dari caranya memandangku, aku tahu satu hal.

Kakakku menyimpan banyak pertanyaan.

Dan sepertinya, cepat atau lambat, aku harus menjawabnya.

Setelah selesai membereskan dapur, aku menuju ruang tamu dan mengambil sebuah buku. Kubuka beberapa halaman, mencoba memusatkan perhatian pada tulisan di hadapanku.

Dari dapur masih terdengar suara air mengalir. Kakakku sedang mencuci piring.

Adit sudah kembali ke kamarnya.

Aku memang belum pernah bercerita kepada kakakku tentang ta'aruf yang ditawarkan Ustadz Syaiful. Bahkan sedikit pun belum.

Entah kenapa aku belum siap menceritakannya.

Mungkin karena kakakku adalah satu-satunya saudara perempuan yang kumiliki. Dan sampai sekarang, ia sendiri belum menikah.

Aku tidak pernah benar-benar tahu alasan pastinya.

Setiap kali ada yang bertanya, dia hanya tersenyum dan mengatakan belum waktunya.

Tapi sebagai adiknya, aku punya dugaan sendiri.

Mungkin dia merasa masih memiliki tanggung jawab terhadap kami. Terlalu sibuk memikirkan adik-adiknya sampai lupa bahwa dirinya juga berhak memikirkan kehidupan sendiri.

Aku menghela napas pelan.

Halaman buku di tanganku sudah berganti beberapa kali, tetapi tidak satu pun kalimat yang benar-benar masuk ke kepalaku.

Pikiranku justru kembali kepada percakapan dengan Ustadz Syaiful.

Tentang Aisyah.

Tentang wanita yang ternyata bukan Aisyah yang selama ini kukira.

Dan tentang sorot mata itu.

Suara langkah kaki terdengar dari arah dapur.

Kakakku datang dan duduk di sampingku.

“Baca apa?”

Aku mengangkat buku sedikit.

“Buku biasa.”

“Hmm.”

Dia diam.

Aku kembali menatap buku.

Beberapa detik berlalu.

Lalu kakakku berkata pelan, “Lam.”

“Ya?”

“Kamu benar-benar baca buku?”

Aku menoleh.

Kakakku tersenyum tipis.

“Kenapa?”

“Dari tadi halamanmu hampir nggak berubah.”

Aku spontan melihat buku di tanganku.

Ternyata benar.

Aku bahkan tidak tahu sudah berapa menit aku menatap halaman yang sama.

Kakakku menyandarkan tubuhnya ke sofa.

“Kamu kalau sedang banyak pikiran memang begitu.”

Aku terdiam.

Dia tidak langsung bertanya lebih jauh. Hanya menatapku sejenak, seolah memberi kesempatan agar aku sendiri yang mulai bercerita.

Aku menutup buku perlahan.

Mungkin memang tidak ada gunanya terus bersembunyi.

“Kak…”

“Hm?”

“Aku mau cerita sesuatu.”

Senyumnya menghilang. Kini wajahnya benar-benar serius.

“Cerita saja.”

Aku menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya, aku merasa mungkin sudah waktunya menceritakan tentang ta'aruf itu kepada kakakku.

Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya mulai bercerita.

“Awalnya, Ustadz Syaiful pernah menyarankan aku untuk ta'aruf dengan keponakannya, Kak. Namanya Aisyah.”

Kakakku mendengarkan tanpa menyela.

“Beliau bahkan sengaja mengirimku ke pondok tempat Aisyah berada. Waktu itu aku pikir… mungkin itu memang bagian dari rencana beliau.”

Aku berhenti sebentar.

“Tapi ternyata aku malah bertemu dengan Aisyah yang lain.”

Kakakku sedikit mengernyit.

“Aisyah yang lain?”

Aku mengangguk.

“Iya. Namanya sama. Dan aku sempat mengira dialah Aisyah yang dimaksud Ustadz Syaiful.”

Aku menundukkan pandangan.

“Sampai akhirnya aku tahu kalau dia bukan orang yang selama ini dimaksud.”

“Lalu?”

Aku terdiam beberapa saat.

Inilah bagian yang paling sulit untuk kuucapkan.

“Setelah tahu dia bukan Aisyah yang sebenarnya… aku malah mengajaknya untuk ta'aruf.”

Kakakku langsung menatapku.

Aku tersenyum kecut.

“Padahal ta'aruf yang pertama bahkan belum selesai.”

Ruang tamu mendadak terasa lebih sunyi.

Aku meletakkan buku yang sejak tadi hanya menjadi alasan agar pikiranku terlihat sibuk.

“Aku juga nggak tahu kenapa aku melakukan itu, Kak.”

Aku mengusap wajahku pelan.

“Seharusnya setelah tahu semuanya, aku menjaga jarak. Menjelaskan bahwa ada kekeliruan dan kembali menyelesaikan urusan yang pertama.”

Aku menarik napas.

“Tapi aku justru membuka kemungkinan baru.”

Kakakku masih diam.

Aku tahu dari tatapannya bahwa dia sedang mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi di kepalaku.

“Dan sekarang aku bingung,” lanjutku pelan. “Aku nggak tahu apakah aku benar-benar ingin mengenalnya karena memang ada sesuatu yang kurasakan… atau karena sejak awal aku sudah salah mengira dia sebagai Aisyah yang dimaksud Ustadz Syaiful.”

Kakakku akhirnya menghela napas.

“Lam…”

Aku menatapnya.

“Menurutmu, kamu sedang mencari jawaban… atau sedang mencari pembenaran?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam.

Untuk beberapa saat, aku tidak mampu menjawab.

Karena mungkin, jauh di dalam hati, aku sendiri belum tahu.

1
MF015
menarik novelnya 👍
R
Nama yang sama orang yang berbeda😄
Dini
Agak mendayu, bagai riak kecil yang akhirnya menjadi akhir perpisahan bersama teman-temannya.

jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!