Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.
Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN
Di atas lantai marmer toko yang dingin, Bian masih terduduk lemas. Punggungnya bersandar pada tiang utama bangunan yang kini terasa asing dan mencekam. Di sekelilingnya, keheningan merayap begitu cepat. Salma berdiri beberapa langkah di depannya, menatap sekeliling toko yang sepi dengan raut wajah campur aduk antara panik, tidak percaya, dan kebencian mendalam yang berkecamuk di dalam dada.
Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel di dalam genggaman Bian yang lemah kembali bergetar nyaring. Layarnya menyala, menampakkan nama "Pak Heru - Mandor Proyek Cabang Dua".
Bian memandangi nama itu dengan tatapan kosong. Jantungnya berdegup kencang, membawa firasat buruk yang kian pekat. Dengan sisa tenaga yang ada, Bian menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa menyapa.
"Halo? Pak Bian?" Suara berat dan kasar Pak Heru terdengar dari balik telepon, diiringi helaan napas berat. "Pak, saya cuma mau kasih tahu. Hari ini sama kemarin anak-anak tukang tidak ada yang kerja di lokasi proyek cabang dua, Pak."
Tangan Bian makin erat mencengkeram ponselnya. "Kenapa tidak kerja, Pak Heru? Kan target pengerjaan minggu ini harusnya penyelesaian bagian atap dan keramik depan!"
"Ya mau bagaimana lagi, Pak Bian?" potong Pak Heru dengan nada ketus.
"Bahan bangunan habis total dari dua hari lalu. Semen, pasir, besi rakitan, sampai cat dasar semuanya belum ada pengiriman baru dari toko material. Saya sudah telepon toko bangunan tempat biasa Bapak pesan, tapi orang toko bilang pesanan ditahan karena belum ada pelunasan tagihan termin kedua dari pihak Pak Bian. Tukang-tukang saya tidak bisa kerja kalau cuma megang cangkul kosong, Pak!"
Duar!
Dada Bian serasa dihantam godam besar. Tagihan termin proyek cabang kedua... ia lupa bahwa tenggat pembayaran toko bangunan jatuh minggu ini. Selama ini, pembayaran termin proyek cabang dua selalu ditopang oleh potongan keuntungan swalayan utama dan suntikan dana yang biasa disiapkan oleh Husna. Kini, setelah fasilitasnya dicabut dan rekeningnya dibekukan, proyek itu resmi mati berdirinya.
Rasa marah, malu, dan frustrasi membakar seluruh kepala Bian. Rasanya ia ingin sekali berteriak dan mengamuk, meluapkan seluruh emosi gila yang menyiksa dadanya sejak pagi.
"Pak Heru!" bentak Bian dengan suara pecah bergetar. "Kalau memang tidak ada bahan, ya sudah! Hentikan saja dulu semua pembangunannya! Suruh semua tukang pulang! Hentikan semuanya!"
"Oho... ya sudah kalau begitu kemauan Bapak," jawab Pak Heru santai tanpa beban. "Berarti proyek resmi mangkrak ya, Pak. Tapi ingat, Pak Bian, sisa ongkos harian tukang untuk minggu ini tetap harus dilunasi. Nanti saya kirim rinciannya."
Klik.
Panggilan terputus secara sepihak. Bian melempar ponselnya ke lantai hingga terdorong beberapa meter. Ia mencengkeram rambutnya sendiri dengan kedua tangan, mengerang frustrasi di tengah toko yang hampa.
Belum sempat rasa syoknya mereda, langkah kaki yang ragu-ragu terdengar mendekat dari arah pintu belakang ruangan operasional. RikomSupervisor Operasional Swalayan yang sejak tadi diam dia mengurusi pembayaran gaji karyawan berjalan keluar. Wajah Riko terlihat teramat pucat dan serba salah.
Di tangannya, Riko memegang sebuah amplop putih polos yang sudah tertutup rapi.
Riko berhenti tepat di depan Bian, lalu perlahan-lahan membungkukkan tubuhnya dan meletakkan amplop putih itu di atas lantai, persis di sebelah Bian.
"Pak Bian..." ucap Riko pelan, matanya tidak berani menatap langsung wajah bosnya. "Ini... surat pengunduran diri saya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, Pak. Tapi melihat situasi toko dan proyek cabang dua yang sudah tidak menentu seperti ini, saya tidak bisa bertahan lagi. Saya harus cari pekerjaan lain untuk nafkahi keluarga saya."
Bian mendongak perlahan, menatap Riko dengan pandangan hampa. "Kamu juga... mau tinggalkan saya, Riko? Kamu supervisor kepercayaan saya..."
Riko menghela napas panjang, mengangguk pelan. "Maafkan saya, Pak Bian. Terima kasih atas kesempatan kerjanya selama ini. Sisa uang kas brankas yang tadi sudah pas untuk bayar gaji teman-teman dan gaji saya hari ini. Kunci brankas dan kunci pintu utama toko sudah saya taruh di meja kasir."
Riko membungkuk sekilas sebagai tanda penghormatan terakhir, berbalik arah, lalu melangkah lebar menuju pintu keluar kaca.
Klek.
Pintu kaca swalayan tertutup rapat. Langkah kaki Riko menjauh di halaman parkir, meninggalkan kesunyian yang amat memekakkan telinga.
Kini, swalayan megah yang dulu selalu ramai oleh riuh pembeli, dentang mesin kasir, dan kesibukan para karyawan, berubah menjadi tempat yang mati. Tidak ada lagi suara musik latar toko, tidak ada lagi tegur sapa ramah karyawan, dan tidak ada lagi lalu lalang troli belanjaan.
Hanya ada Bian yang terduduk hancur di atas lantai, dan Salma yang berdiri kaku di tengah lorong toko.
Di sekeliling mereka berdua, rak-rak swalayan berdiri menjulang tinggi.
Bahan-bahan makanan dan kebutuhan pokok masih terpajang sangat banyak dan komplit. Beras bertumpuk rapi di sudut, minyak goreng kemasan berkilauan di bawah pendar lampu, berbagai produk susu, camilan, hingga barang pecah belah tertata utuh semuanya melimpah ruah, namun tak ada satu pun manusia yang datang untuk membelinya.
Semua bahan makanan yang melimpah ini kini terasa bagai pajangan tak berguna di dalam museum kehancuran Bian.
Salma menatap deretan rak yang penuh itu dengan napas yang makin memburu. Rasa cemas dan kebingungan mulai menggerogoti akalnya.
"Mas..." panggil Salma dengan suara bergetar, sirna sudah gaya angkuh dan galaknya. "Ini... gimana, Mas? Semua karyawan sudah keluar. Supervisor kamu sudah kabur. Proyek cabang dua mangkrak. Terus toko ini mau diisi siapa? Siapa yang mau jualan?"
Bian tidak menjawab. Ia tetap menunduk, menatap marmer dingin di bawah lututnya.
"Mas Bian! Jawab Salma!" jerit Salma, melangkah mendekat dan menendang pelan kaki Bian. "Uang tabungan Salma seratus lima puluh juta ada di toko ini! Sekarang tokonya tutup dan sepi begini, gimana cara uang Salma balik?! Gimana nasib kita, Mas?"
Bian perlahan mengadah, menatap Salma dengan tatapan yang amat dingin, hampa, dan tak lagi bernyawa.
"Kamu mau uangmu balik?" bisik Bian dengan suara parau yang amat menyeramkan. "Ambil saja beras itu, Salma. Ambil minyak goreng di rak itu. Makan semua barang-barang di toko ini sampai uangmu kembali."
"Mas Bian! Kamu gila ya?!" teriak Salma histeris, air mata panik mulai menetes melintasi pipinya. "Salma butuh uang tunai! Salma tidak butuh beras atau minyak goreng ini! Kita mau makan apa besok kalau tidak ada uang tunai?! Kita mau bayar apa-apa pakai apa?."
Bian tertawa pelan sebuah tawa getir yang dipenuhi keputusasaan mendalam. "Uang tunai? Uang kas toko sudah habis kamu desak buat bayar gaji karyawan tadi! Uang sawitku dibekukan Husna! Toko ini mati! Kita tidak punya uang tunai sepeser pun lagi, Salma!"
Salma mundur beberapa langkah, memegang dadanya yang terasa sesak luar biasa. Tatapannya liar menyapu seluruh ruangan toko swalayan yang sunyi senyap. Kehidupan mewah yang ia bayangkan, status sebagai nyonya besar yang dihormati, serta limpahan harta dari suami barunya, runtuh sepenuhnya menjadi tumpukan barang dagangan yang tak bisa dicairkan menjadi uang.
Di tengah sunyinya swalayan yang megah namun mati itu, dua insan yang tadinya diselimuti keserakahan dan pengkhianatan kini terjebak bersama. Dipagari oleh ribuan bahan makanan yang komplit namun tak berdaya, Bian dan Salma akhirnya menyadari bahwa roda pembalasan dendam Husna telah berputar sempurna meninggalkan mereka berdua dalam kemiskinan dan kehampaan yang tak bertepi.
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒
udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
apa itu kehalangan?